
Setelah pintu terbuka, Bima terkejut melihat Arkan dan Kaila berada di dalam ruangan OSIS. Yang membuat dia terkejut adalah, mereka yang hanya berdua saja dan pintu nya terkunci.
Mengapa harus di kunci? Berbagai pertanyaan merayap di benak Bima.
"Minggir Lo!" ucap Kaila menubruk bahu Bima dan berlalu pergi.
Sedangkan Arkan, dia hanya diam menatap kepergian Kaila. Dia sudah kelewat batas, entah apa yang dia pikirkan sehingga bisa berbuat seperti ini.
"Arkan, ada apa ini?" Tanya Bima dengan raut bingung nya.
Arkan?? Kaila??
Sulit di percaya, Bima menggelengkan kepalanya, mengusir dugaan yang mustahil terjadi.
"Tidak ada apa apa" jawab Arkan singkat, kemudian ia beranjak menuju ke meja nya, berpura-pura sibuk untuk menghindari berbagai pertanyaan dari Bima.
Bima tidak berhenti begitu saja, dia ikut duduk di depan Arkan. Menatap nya lekat.
"Bagaimana dengan kasus, Dea?" tanya Bima.
Arkan menundukkan kepalanya, memijit batang hidung nya pelan. Arkan merasa sangat pusing, kehadiran gadis yang dulu sangat dia puja membuat berbagai masalah muncul di hidupnya.
"Kaila memang pembawa masalah,semenjak dia ada di sekolah kita ini. Banyak masalah yang muncul" tutur Bima menahan kekesalan.
Pulpen Arkan jatuh, dia menundukkan tubuhnya untuk mengambil pulpennya.
"Apa ini?" pikir Arkan seraya meraih benda itu. Dalam keadaan menunduk, dia meneliti benda yang terlihat seperti kalung.
"Ada apa?" Bima ikut menunduk, dia heran mengapa Arkan terlalu lama menunduk.
Dengan gerakan cepat, Arkan kembali ke posisinya. Dia menyembunyikan kalung itu ke dalam saku nya.
Bima kembali menatap Arkan, menunggu jawaban dari pertanyaan nya yang masih belum Arkan jawab.
"apa?" tanya Arkan membalas tatapan Bima.
Bima pun mencebikkan bibirnya, baru saja dibicarakan Arkan sudah lupa.
"Apa virus Kaila sudah merasuki Lo? kenapa Lo mendadak bodoh seperti ini Arkan?" gerutu Bima.
Arkan menatap nya tajam, ucapan Bima seakan Kaila adalah wanita yang pembawa onar. Meskipun itu benar, tetap saja Arkan tidak akan menyukainya. Setidaknya sejak dia mengetahui Kai adalah Aila nya.
"Hei, Arkan. Kenapa sih. Lo udah kaya sapi kurban sekarang. Melongo, melamun, tidak tahu nasib nya akan seperti apa" ledek Bima.
"Sialan Lo" sungut Arkan.
"Soal Dea dan Kasi, apa yang harus kita lakukan. Apa Lo udah memberi ketegasan pada Kaila?"tanya Bima serius.
Masalah ini harus di tindak lanjuti, jika tidak. Maka murid lain akan beranggapan OSIS tidak lah tegas. Mereka akan melakukan hal yang sama seperti yang Kaila lakukan.
"Gue akan membicarakan ini dengan Dea" ucap Arkan.
"Baiklah, terserah pada lo. Gue yakin keputusan Lo yang terbaik"ujar Bima.
Kaila berjalan menuju ke kelas nya dengan ekspresi yang berbeda. Biasa nya datar, tapi kali ini terlihat sangat kesal.
Saat masuk ke dalam kelas, Jia dan Mia langsung menyusul nya.
"Bagaimana, apa yang Arkan katakan sama Lo?"tanya Jia penasaran.
"Tidak ada, dia hanya memancing emosi gue"jawab Kaila sekenanya.
Jia dan Mia saling membalas pandangan, kemudian kembali menatap pada sahabat mereka.
"Kaila, apa kabar itu benar? Lo menindas Dea dan Kasi?" Ketua kelas menatap Kaila dengan tatapan marah.
Sebelum nya dia sangat membela anggota kelas nya. Menuntut keadilan untuk mereka. Tapi, kali ini ketua kelas merasa malu mendengar apa yang anggotanya lakukan.
Jia segera bangkit, mendorong kemarahan ketua kelas menjauh dari hadapan Kaila.
"Sabar dulu ketua! jangan asal marah seperti ini!" ucap Jia.
"Benar ketua, sebelum nya Lo tidak seperti ini. Lo selalu menanyakan apa permasalahan nya dan dimana letak kesalahannya!"sambung Mia.
Semua anggota kelas berdiri mengelilingi meja Kaila dan Jia. Mereka menunggu cerita yang sebenarnya.
"Gue dan Mia ada bersama Kaila ketika kejadian" ucap Jia membuat semua orang terkejut.
"Apa, kalian ada di sana?"
Jia mengangguk, menatap semua teman sekelasnya. Sedangkan Kaila, dia hanya duduk diam membiarkan Jia dan Mia yang akan menjelaskan.
"Tadi, saat kami menuju ke kantin, Dea dan Kasi menghadang Kaila. Memancing perselisihan, kalian tahu karena apa?"
"Karena apa?" Sela Ketua.
"Karena Dea marah Arkan menolong Kaila waktu Kaila sakit" lanjut Jia.
"Apa menurut kalian ini masuk akal? Hanya dengan mereka anggota OSIS, mereka bisa melakukan semua ini pada Kaila?." Sambung Mia.
Brak!
Ketua menggebrak meja, mengepalkan tangan nya kuat.
"Mereka benar benar membuat gue geram! mengapa gosip beredar mencela kelas kita!" geram nya.
"Sudah lah, biarkan saja. Mereka tidak mencela kelas kita, tapi hanya mencela gue!"
Semua orang terkejut, baru kali ini mereka mendengar Kaila berbicara sepanjang itu.
"Tidak bisa Kai, kita harus menuntut mereka. Membuat mereka di tegur oleh kepala sekolah!" Kekeuh ketua. Dia merasa bersalah telah marah tidak jelas pada Kaila sebelum menanyakan yang sebenarnya.
Semua orang di kelas ini tahu, jika ketua kelas memendam rasa kepada Kaila.
"Urusan gue, biarkan gue yang menyelesaikan nya."tegas Kai.
Ketua kelas hendak menjawab,namun di tahan oleh Mia.
"Sudah lah, untuk saat ini. Kita biarkan saja mereka. Yang terpenting, kita tidak menurunkan kualitas kelas kita. Baik dari segi perilaku, maupun dari segi akademi." ucap Mia panjang lebar.
Mereka menghela nafas berat, lalu kemudian mengangguk secara serempak.
Di antara semua kelas yang ada di sekolah ini. kelas 2 IPA 1 lah yang paling terkenal dengan kedisiplinan nya, kekompakannya dan kepintaran nya.
...----------------...
Arkan pergi ke kelas Dea dan Kasi. Menemui dua gadis yang menurutnya di tindas oleh Kaila.
"Maafkan Kaila, gue rasa dia terlalu baru di sekolah ini. sehingga dia tidak menghormati Lo" tutur Arkan.
Dea dan Kasi membelalakkan matanya. Mereka tidak menyangka Arkan akan melakukan hal seperti ini. Dia meminta maaf atas nama Kaila?
"Arkan, apa yang Lo lakukan. Bukan kah Kai ya g membuat salah. Mengapa Lo yang meminta maaf?" tanya Dea heran.
"Tidak masalah, gue sudah berbicara dengan Kai. Gue yakin Lo pasti tahu jika keangkuhan Kai tidak akan mungkin dia mau" jelas Arkan lagi.
"tapi tetap saja Ar, jika Lo yang meminta maaf, masalah Kai tidak akan selesai "sela Kasi.
"Setidak nya Lo bisa mengerti!" lurus Arkan.
Arkan pergi begitu saja, membiarkan Dea dan kasih menggeram kesal
"Sialan, mengapa malah Arkan yang meminta maaf" gerutu Dea.
"Mereka sudah seperti sepasang kekasih saja. Saling meminta maaf untuk kesalahan kekasihnya" ucap Kasi seakan mengompori teman nya.
plok!
Dea memukul bahu Kasi keras, dia tidak suka mendengar perkataan.
"Aww.."ringis Kasi mengusap bahunya.
"Itu tidak mungkin, Arkan memiliki selera yang bagus untuk di jadikan pacarnya!" ucap Dea
Kasi hanya diam, dan mengangguk pelan.