
Kringggg!!!!!
Bel istirahat pun berbunyi, Kaila dan kedua sahabatnya menghembuskan nafas lega. Pikiran mereka akhirnya plong dan berhenti bekerja keras untuk 30 menit ke depan.
"Ke kantin yuk!" Ajak Mia.
"Yuk, gue laper banget ni. Otak gue menguras semua nutrisi yang gue makan tadi pagi"balas Jia.
Mia dan Kaila melempar senyum, Jia memang seperti itu. Dia sangat suka makan, tapi tubuhnya tak menunjukkan reaksi apapun. Gadis itu selalu saja terlihat langsing.
"Cus lah" seru Kaila.
Mereka keluar dari kelas, melihat beberapa murid berkumpul dan bergosip. Ketiga gadis itu merasa sekolahnya sedikit bising, semua orang berbicara, dan entah membicarakan apa.
"Hei, ada apa ini? Mengapa semua orang berbicara seperti ini?"tanya Jia pada salah satu siswi.
"Kalian tidak tahu, ada anak pindahan. Dia cantik banget, lebih lebih lagi dia berangkat sama Arkan dan bahkan sampai saat ini mereka bersama ke kantin!" jelas siswi itu.
Bersamaan dengan itu, terdengar teriakan Dea yang juga mendengar kabar baru ini.
"Arrrgggg tidak mungkin!!!"
Kaila dan kedua sahabatnya berbalik, melihat Dea yang marah marah pada siswi yang menceritakan pada nya tentang gosip ini.
"Lihat, dia mulai gila. Kaila belum terkalahkan.Tapi sudah ada saingan baru" desis Mia.
"Gue yakin, dia akan gila sebentar lagi" sahut Jia.
Sedangkan Kaila, dia hanya diam saja. Bukan memperhatikan Dea, Kaila malah fokus dengan pikiran nya sendiri.
"Gue penasaran, secantik apa sih tu cewe. Sampai Arkan terpesona" gumam Jia penasaran.
Mengingat sesuatu, Jia dan Mia langsung menatap Kaila. Bukan kah Kalian adalah tunangan Arkan? Dan sebentar lagi mereka akan menikah.
"Apa?" Seru Kaila membalas tatapan kedua sahabatnya.
Kedua sahabatnya tercengir, "Bukan kah Lo adalah tunangan Arkan? Meskipun tidak mengundang kita dalam acara pertunangan Lo. Tapi, Lo gak cemburu?"
"Oh Jia, Lo bego atau bagaimana sih. Bukan kah Lo tahu, mereka itu di jodohkan. Bagaimana mungkin Kaila cemburu" bantah Mia.
"Bukan kah, mereka saling suka di masa lalu?" ujar Jia.
Mia menepuk kening nya, Jia semakin bodoh di mata nya saat ini.
"Ayolah Jia, Lo jangan mengungkit masa lalu. Kaila tidak akan suka lagi pada pria seperti Arkan. Ini hanya sebuah perjodohan!"
Kaila memejamkan matanya, menahan sesuatu yang akan meledak di dalam sana. Kedua nya saling berdebat, dengan topik perdebatan yang tidak masuk akal.
"tapi Mi-"
"Jia. Mia. Stop! Please stop!" teriak Kaila menghentikan kedua sahabatnya. Mereka terdiam, menutup mulut mereka rapat rapat.
"Dea yang gila, kenapa kalian yang berdebat?" Kaila pergi begitu saja.
"Eh Kaila, mau kemana???" Teriak Jia.
"Ini semua gara gara lo!" Dengus Mia, malah menyalahkan Jia. Lalu dia pun ikut pergi menyusul Kaila.
"Kok Lo nyalahin gue sih. Hei tungguin...."
Kaila masuk ke dalam kantin, memesan bakso super pedas dengan porsi jumbo.
Ada apa ini? Mengapa dia begitu marah? Tidak, ini bukan masalah perdebatan Jia dan Mia.
Lalu apa??
Kaila mengedarkan pandangannya, melihat ke sekeliling kantin.
Deg.
Mata nya tanpa sengaja menangkap sosok Arkan. Pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
"Kaila!" Jia dan Mia tiba di kantin. Nafas mereka tersengal karena berlari mengejar langkah cepat Kaila.
"Ini non, pesanan nya"
"Baik, terimakasih Bu" balas Kaila.
Jia dan Mia terbelalak, melihat bakso jumbo super pedas milik Kaila.
"Kai, Lo beneran makan sebanyak dan sepedas ini??" Tanya Mia.
"Iya" jawab Kaila singkat.
"Gak pedas Kai, cicip gue" Jia mengambil sendok dan bersiap ingin mencicipi kuah bakso Kaila. Namun, di tepis oleh Kaila.
"Kalau mau, beli Sono."
Kaila mulai memakan bakso nya, sengaja memanas manasi Jia yang menatap nya dengan air liur hampir menetes.
"Pelit amat sih..." Rengek Jia yang kembali mencoba mencicipi kuah bakso Kaila.
Namun, lagi lagi Kaila menepisnya. Dia menjauhkan mangkuknya dari jangkauan tangan Jia.
Mia tertawa, melihat ekspresi wajah Jia yang seperti itu.
"Haha...Udah lah Jia, Lo pesan aja gih"
"Gak mau, gue mau coba itu. Enak kaya nya, tapi gue takut gak kuat makan nya nanti. Makanya gue mau coba" gerutunya.
Kaila memakan bakso nya dengan sangat lahap. Sesekali dia terlihat kepedasan, namun dia tetap melahap nya setelah beberapa kali minum lemon tea dingin miliknya.
Sementara itu, di meja yang tidak jauh dari tempat Kaila dan kedua sahabatnya duduk. Arkan tampak acuh dengan tatapan murid murid lain. Mereka terlihat penasaran dengan hubungan Arkan dan siswi baru itu.
Bukan hanya mereka, tapi Bima juga penasaran. Dia sudah lama menjadi sahabat Arkan, tapi dia tidak tahu siapa gadis itu.
Ingin sekali Bima menanyakan pada Arkan tentang siapa dia, namun gadis itu seakan menutup ruanga, agar Arkan tidak bisa di dekati oleh siapapun.
"Bima, kenapa Lo sejak tadi memandang gue seperti itu, apa ada sesuatu yang salah dari penampilan gue?" Tanya Hyuna membuat Bima sedikit gelagapan.
Arkan menatap Bima, dia juga penasaran. Mengapa sahabat nya itu menatap Hyuna.
"Tidak ada apa apa, gue hanya heran. Mengapa cewe secantik Lo, mau dekat sama cowo es batu seperti Arkan" alih Bima, dia membuat topik yang bisa mencairkan suasana.
Hyuna tersenyum, dia menoleh kesamping. Menatap Arkan penuh arti.
"Jika orang melihat nya seperti es batu, maka itu baik. Biar gue saja yang melihatnya sebagai pria hangat"
Bima terkesiap, dia bisa menebak maksud dari perkataan Hyuna. Dia ingin memiliki Arkan.
"Uhmm..Jangan salah paham, gue hanya ingin menjadi sahabat Arkan yang paling memahami nya" sambung Hyuna menjelaskan.
"Oo begitu, tapi menurut gue. Tidak ada yang namanya, laki laki dan perempuan itu bersahabat. Pasti di antara kedua nya memiliki sebuah perasaan suka, entah itu sudah, atau masih"
Arkan yang sejak tadi diam, langsung menatap wajah sahabat nya. Baru kali ini dia mendengar bila berkata puitis seperti itu.
Hyuna bertepuk tangan, dia takjub pada Bima. "Wah, gue gak menyangka, Lo memiliki sahabat yang puitis banget" ungkap Hyuna memegang lengan Arkan, dia bersikap seolah dirinya sangat dekat dengan Arkan, dan semakin membuat kesalahpahaman murid murid menjadi besar.
Banyak diantara mereka, berpikir jika Hyuna adalah kekasih Arkan. Mereka terlihat serasi dan manis. Apalagi Arkan yang jutek dan dingin, kini malah dekat dengan Hyuna begitu saja.
"Mereka pasti berpacaran, gue yakin itu!"
"gue juga berpikir begitu"
Bisik demi bisik, silih berganti di telinga Kaila, semua orang membicarakan Arkan yang tengah berpacaran dengan seorang siswi pindahan.
Kaila memegangi dada nya, dia merasa tekanan Berton ton beratnya, menimpah dada nya, dan membuat dirinya kesulitan bernafas.
"Kai, Lo gak papa?"
Jia terkejut, dia melihat Kaila yang seakan kesulitan bernafas. Dengan segera, Jia menyodorkan minum pada Kaila.
Mia kembali, dengan membawa semangkuk batagor di tangan nya. Dia terkejut, melihat Kaila seperti orang yang terkena asma.
"Kaila kenapa??"