Arkaila

Arkaila
Pusaka Arkan.



Usai upacara bendera merah putih, siswa siswi berhamburan menuju ke kelas masing-masing. Cuaca panas, membuat mereka tidak betah berada di lapangan terlalu lama.


"Haus banget"ungkap Jia sembari mengibas ngibaskan tangan nya di sekitar lehernya.


Begitu juga dengan Mia dan Kaila, mereka sama sama merasa kepanasan. Udah sampai di kelas dan menyalahkan AC, tapi mereka masih merasa panas.


"Gue haus banget" ujar Kaila seraya bangkit dari tempat duduknya.


"Kemana?" tanya Jia.


"Mau ke kantin, Lo mau titip minum gak?"


"Iya deh, gue mau es lemon tea yah" jawab Jia.


"Gue mau Es teh aja" sahut Mia.


Kaila mengangguk, kemudian bergegas menuju ke kantin. Rasa hausnya terasa semakin menjadi-jadi.


Kaila tiba di kantin, terlihat ada beberapa anak OSIS yang sedang berpatroli di sana. Termasuk Arkan, dia juga sedang memeriksa kantin, apakah ada anak anak pergi ke kantin atau tidak.


Sesuai peraturan di sekolah ini, setelah selesai upacara bendera, mereka tidak di benarkan pergi ke kantin. Jika mereka haus, di dalam kelas sudah di sediakan minuman. Jadi, mereka tidak perlu pergi ke kantin lagi.


"Eh Kaila tuh" gumam Bima.


Arkan menoleh, dia tersenyum tipis ketika matanya bertemu dengan mata cantik Kaila.


"Tumben Lo senyum" sikut Bima.


"Apaan sih" dengus Arkan langsung merubah ekspresi wajahnya, dia tidak mau terlihat mengagumi Kaila di depan teman teman nya.


Kaila melenggang melewati segerombolan kakak tingkat, sekaligus anggota OSIS itu. Dia tidak peduli, saat mereka semua menatap ke arahnya.


"Hai Kai" sapa Bima, dia merentangkan tangan nya untuk menghalangi langkah Kaila.


"Apaan sih, minggir gak!" seru Kaila marah.


"Hei Kai, Lo udah cukup lama di sini. Tidak tahu peraturan sekolah itu bukan alesan lagi untuk Lo!"ucap salah satu teman Arkan.


"Benar" sahut Bima membenarkan.


Sementara itu, Arkan hanya diam menatap ekspresi wajah Kaila yang terlihat sangat kesal.


"Gue hanya sebentar, dan gue sudah ijin dengan ketua kelas gue!" Kaila mencoba melewati Bima, namun pria itu tetap menahan dirinya.


"Lepasin gak!"


Kaila mulai kehabisan kesabaran, dia melirik Arkan yang tidak melakukan apapun kecuali menatap kearahnya.


Seperkian detik kemudian, Kaila memiliki sebuah ide yang sangat bagus. Tanpa di duga oleh Arkan, Kaila malah mendekat kearah pria itu dan memeluknya.


Arkan terkejut, begitu juga dengan teman teman Arkan. Namun, belum sempat keterkejutan mereka hilang, tiba-tiba saja Arkan berteriak.


Bug.


"Arggggg!!!!!!" Teriak Arkan kuat.


Kaila tersenyum, dia bergegas melarikan diri dari anggota OSIS menyebalkan itu.


"Wekk...Rasain, wekk Kaila jangan di lawan" ledek nya menjulurkan lidahnya.


Sedangkan Arkan, dia meringkuk kesakitan sembari memegangi pusakanya. Bima dan teman OSIS nya menatap penuh khawatir pada Arkan.


"Aduhh aduh...Mama, papa .... Pusaka gue" gerutu Arkan kesakitan.


Kaila selesai membeli minuman,dia bergegas melewati Arkan dan teman teman nya. Sebelum, mereka semua berhasil menangkap dirinya lagi.


"Huh" dengus Kaila sebelum berlari meninggalkan kantin.


"Awas Lo yah, gue balas" seru Arkan di sela sela rasa sakitnya.


Kaila tiba di kelas, dia langsung membagikan minum pada kedua teman nya, sesuai dengan pesanan mereka.


"Seger banget" ujar Mia dan Jia setelah meminum minuman dingin itu.


"Eh, btw. Lo gak ketemu geng OSIS di kantin? Biasanya mereka patroli di sana?" tanya Jia penasaran,Kaila lewat dan bebas seperti itu.


"Iya Kai, tumben banget" sahut Mia.


"Kalian lupa yah, anggota OSIS itu. Takut sama gue, mereka mah, kecil..." Kekeh Kaila seraya menjentikkan jarinya, menganggap Arkan dan teman teman nya remeh.


Farhan masuk ke dalam kelas, dia menoleh kearah Kaila yang sedang asik bersama kedua teman nya.


Dengan langkah mantap, Farhan menghampiri mereka.


"Kaila!" Panggil Farhan.


Kaila pun menoleh, menatap bingung pada pria itu.


"Ada apa?" Tanya Kaila. Jia dan Mia juga menatap kearah ketua kelas mereka itu.


"Gue mau tanya, Lo dan Arkan. Apa benar pergi bersama kemarin?"


Mendengar nama Arkan di sebut, perhatian seluruh siswa siswi yang ada di dalam kelas, langsung tertuju pada mereka.


"Memangnya kenapa?" Tanya Jia mewakili Kaila.


"Gue gak nanya sama Lo, gue nanya sama Kaila!"ketus nya menoleh pada Jia sebentar, kemudian kembali menatap pada Kaila. Menunggu jawaban dari gadis yang telah mencuri hatinya.


"Ya, itu memang benar" jawab Kaila sekena nya.


"Mengapa Lo bareng dia, kenapa Lo gak bareng gue aja? -" ucap Farhan yang di hentikan oleh Jia.


"Stop Farhan, sejak kapan ketua kelas IPA 2 ikut campur urusan anggota nya begini?" potong Jia.


"Ketua kelas itu bertanggung jawab dengan anggota nya, bukan urusan anggotanya. Mau sama siapa itu tidak perlu di urusi" tambah nya lagi.


"Ketika kita mendapat ketidak Adilan, ketika kita ribut, ketika kita tidak tahu informasi, di situlah peran ketua. Dan segala sesuatu yang berurusan dengan masalah kelas dan sekolah. Bukan Malasah pribadi " tambah Mia.


Suasana terasa tegang, Farhan terdiam karena ucapan Jia dan Mia. Dia juga sadar, terlalu maju dan membuat dirinya malu.


"Gue hanya khawatir, mereka memberikan sangsi yang tidak wajar pada Kaila. Itu saja. Tidak lebih" tutur Farhan gugup.


"Terimakasih " balas Kaila.


Dengan rasa malu yang sangat, Farhan beranjak ke kursinya. Banyak bisikan dari teman teman sekelasnya yang bertanya tanya mengenai sikapnya saat ini. Beruntung nya, guru segera datang. Pembicaraan itu pun terhenti, setidaknya hingga jam istirahat nanti.


...----------------...


"Apa? Kaila yang menyebabkan Arkan seperti ini?" kaget Dea setelah mendengar cerita Bima.


Saat ini mereka berada di ruangan UKS, Arkan meminta Bima mengantarnya ke sana. Arkan hanya ingin istirahat.


Namun, Dea malah menemuinya dan membuat waktu istirahat Arkan terganggu.


"Arkan, kenapa Lo diem saja sih. kenapa Lo memberikan contoh yang tidak baik!"protes Dea.


"benar Arkan, jika Lo membiarkan dia terus begini, nanti murid lain akan berpikir, jika Lo itu pilih kasih!" sahut Kasi.


"Kalian ini apa apaan sih, Arkan lagi istirahat, mengapa kalian malah ribut!" ucap Bima marah, dia menarik tangan Dea dan Kasi, lalu menyeretnya keluar dari ruangan UKS.


"Bima! lepasin gue, gue mau lihat Arkan."


Bima mendorong keduanya keluar, menatap mereka dengan tajam.


"Lo gak malu apa huh, membuat kekacauan di ruangan UKS. Lo gak mikir, apa kata perawat di sini. kalau dia ngadu ke kepala sekolah gimana?"


Dea terdiam, begitu juga dengan Kasi. Keduanya tidak bisa berkata kata lagi, apa yang Bima katakan memang benar.


"lebih baik, kalian mengurus apa yang bisa kalian urus. Untuk Arkan, di bisa mengurus urusan nya, di tahu mana yang baik atau buruk!"


Setelah mengatakan hal itu, Bima langsung menutup pintu dan berbalik kembali pada Arkan.


"Ihhh....Kenapa sih, mereka semua malah memihak gadis brandal itu."


"Kenapa sulit sekali mendekati Arkan dan memberi pelajaran pada gadis itu!"


Dea mencak mencak tak karuan, semua rencana nya gagal. Usahanya mendekati Arkan juga gagal total.


Dan semua itu, Dea tumpahkan pada Kaila. dia menyalahkan Kaila sebagaimana sumber kegagalan nya.


"Udah Dea, Lo sabar aja. Kita tidak perlu banyak bicara, tapi harus banyak bertindak!" ujar Kasi.


"Lo benar, kali ini gue harus benar benar membuat gadis itu jera!"


"Setuju" sahut Kasi.


Dengan kesal, keduanya pergi dari UKS. Entah rencana apalagi yang harus dia pikirkan untuk Kaila.