
Hari libur, adalah yang paling di tunggu tunggu oleh orang orang yang sibuk bekerja, apalagi siswa siswi. Mereka sangat menantikan waktu singkat ini.
"Huaaaaa..." Kaila merenggangkan tubuhnya di balkon kamar, menatap bentangan langit yang sangat luas.
"Selamat pagi Kaila, selamat pagi diriku yang bersemangat" gumam nya tersenyum senang.
Semenjak kebersamaan dengan teman teman sekelasnya, Kaila menjadi berubah lebih riang. Meskipun hanya kepada orang orang tertentu.
Kaila sudah tidak terlalu ketus seperti dulu, dia seakan sedang membuka lembaran baru di dalam catatan hidupnya.
Tari dan Fahmi merasa senang, putrinya berangsur kembali. Begitu pula dengan Ferdian. Namun, tidak dengan Viona. Dia malah khawatir dengan perubahan adik nya.
"Bagaimana ini, Kaila sudah hampir kembali." gumam nya khawatir, dia mondar mandir di dalam kamar nya memikirkan apa yang harus di lakukan.
Bagaimana tidak, Kaila sudah kembali dan malam ini keluarga nya akan mengumumkan perjodohan mereka. Kaila dan Arkan.
Di mana Kaila tidak tahu, jika Arkan adalah Alcan nya. Kaila hanya tahu Arkan adalah cowo nyebelin, musuh nya di sekolah.
Entah bagaimana reaksi gadis itu, jika nanti dia mengetahui siapa Arkan.
"Viona!!!!!" teriak seseorang dari luar kamar nya, membuat Viona terlonjak kaget. Dia segera berlari membukakan pintu, dan terkejut melihat siapa yang berteriak.
"Ihh Jessi, kenapa Lo teriak teriak sih di depan kamar gue!" sungut Viona menatap Jessica kesal.
Tanpa rasa bersalah, Jessica melenggang masuk ke dalam kamar Viona, merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk milik Viona.
Viona memutar bola matanya jengah, dia menutup pintu nya dan langsung menguncinya dari dalam. Lalu ikut bergabung dengan Viona.
"Kenapa Lo ke sini? Lo dah jumpa Kaila?"
"Belum, seperti nya dia belum bangun. Tadi, gue hanya jumpa Tante tari" jawab Jessica santai.
Viona mengangguk pelan, kemudian memainkan ponsel nya.
Sedangkan Jessica, dia malah menatap lekat Viona.
"Apa Lo tidak memiliki rasa khawatir?" seru Jessica, dia berpikir Viona akan merasakan apa yang dia rasakan.
Benar, Jessica sedang mengkhawatirkan apa yang akan terjadi nanti malam. Bahagia reaksi Kaila melihat Arkan merupakan putra dari Fiandi dan Amora.
"CK. Lo pikir lu doang yang rasain nya? gue juga kalo. Gue lebih khawatir!" balas Viona.
"Terus gimana dong, kalau Kaila lari lagi gimana?" takut Jessica.
"Tidak akan, dia sudah dewasa, gue rasa dia tidak akan kabur lagi. Tapi, gue hanya berharap Kaila tidak akan menutup diri lagi" tuturnya.
"Huh?" bingung Jessica tidak mengerti apa ya g Viona maksud.
CK.
"Lo gak tahu kan, adek gue saat ini sudah kembali ceria seperti dulu." jelas Viona.
"Terus?"
"Yah, gue takut. Kaila kembali seperti 8 tahu belakang ini, malah bakal lebih parah!" sambung nya.
Sedangkan di kamar sebelah, Kaila baru saja selesai mandi. Dia segera turun untuk sarapan.
"Pagi ayah, pagi Bunda" Kaila menghampiri keduanya, lalu mengecup pipi keduanya dengan penuh kasih.
Tari tersenyum haru, putrinya telah kembali.
"Pagi juga sayang"
"Pagi sayang"
Kaila duduk di depan ayah nya, mengambil piring yang sudah di isi penuh oleh nasi goreng.
Fahmi tersenyum, dia menatap putrinya penuh rasa haru.
"Hari ini mau kemana sayang?" tanya Fahmi sekedar membuka obrolan ringan.
"Belum ada rencana ayah, tapi tanya Jia sama Mia aja nanti. Mereka kan sering membuat acara dadakan" jawab Kaila.
Tari mengangguk, dia ikut duduk di samping suaminya.
Seketika itu, air muka Kaila berubah. Mendengar kata teman ayah dan bunda. Pemikiran nya mulai menerawang dan hendak kembali kembali bersedih.
Beruntung Ferdia datang tepat waktu dan mencairkan suasana.
"Tentu saja Kaila akan di rumah, makan malam kita tidak akan seru jika si bontot ini tidak ada!" seru nya dengan nada bercanda.
"Apaan sih, bontot bontot" sungut Kaila.
"Ahaha...Lo kan yang paling bungsu, yah paling bontot lah namanya" kekeh Ferdi.
Kaila memanyunkan bibir nya, menatap kesal pada sang kakak .
"Susah susah, ayo habiskan sarapan nya. Nanti, keburu dingin" suruh Fahmi.
...----------------...
Amora dan suaminya pergi menemui putra mereka yang kini tengah duduk di taman depan rumah mereka.
Menghampiri Arkan yang tengah duduk termenung, entah apa yang pria ini pikirkan.
"Sudah seperti orang punya anak 10 aja kamu, pagi pagi sudah termenung begini" sindir Fiandi.
Mereka duduk di kedua sisi putra mereka, memegang bahu yang terlihat mulai kekar.
"Eh ma, pa. Kalian kapan datang?" kaget Arkan menatap kedua orang tua nya secara bergantian.
"Tuh kan, kamu ini gimana sih. Masi muda tapi udah kaya bapak bapak punya anak 10 aja" cibir Fiandi. Arkan hanya terkekeh pelan.
"Nak, kamu sudah dewasa. Sudah 17 tahun, sebentar lagi kamu akan masuk ke jenjang perkuliahan, bahkan saat ini kamu sudah menjadi pengusaha sukses!" tutur Fiandi.
Arkan mendengarkan dengan mimik wajah serius, dia menyimak apa yang papa nya sampaikan.
"Mungkin ini terlalu cepat, tapi papa sama Mama tidak bisa menunggu lebih lama lagi Arkan" lanjut Fiandi.
"Memang nya apa yang ingin Papa dan mama katakan?"tanya Arkan to the poin.
Fiandi dan istri nya saling membalas pandang. Kemudian, saling mengangguk seolah mengatakan ini waktu yang tepat.
"Papa dan mama berencana menjodohkan kamu sama anak teman papa dan mama" jelas Fiandi.
"Iya nak, dan Mama yakin kamu akan menyukai nya" sambung Amora.
Dahi Arkan mengerut, dia kembali menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Maksud papa sama Mama apa, Arkan tidak mengerti?" tanya Arkan pura pura tidak mengerti.
Huff..
Amora menarik nafas, dia melirik suaminya. Kemudian kembali menatap sang putra. Tangan Amora mengusap rahang tegas yang Arkan miliki.
"Nak, nanti malam akan ada acara makan malam bersama sahabat mama dan papa. Acara makan malam ini bertujuan untuk menyampaikan perjodohan kamu dengan Arkaila Wilson"
Deg.
Jantung Arkan seakan berhenti berdetak, apa yang kakak nya katakan sempat tidak ia percaya. Namun, sekarang papa dan mama nya menyampaikan langsung padanya.
"Pa, ma. Ini beneran?" tanya Arkan tidak yakin.
"Iya nak, kami ingin menikahkan kamu dan Kaila dalam waktu dekat" ulang Amora.
"Baiklah ma, Arkan mau. Tapi-"
Fiandi dan Amora mengerut "Tapi apa nak?"
"Kaila pasti menolak nya" lirih Arkan sedih
"Tidak nak, Tari dan Fahmi pasti bisa mengatasinya. Terpenting itu, kamu setuju" jawab Fiandi.
Seketika itu, Arkan langsung tersenyum senang.
"Kalau begitu, Arkan serahkan kepada papa dan mama" jawab nya dengan senyum lebar nya.