Arkaila

Arkaila
Di mana mana Ada Dia!



Kaila dan teman teman nya duduk di meja outdoor cafe AiKai. Awal nya semua berjalan baik, Kai dan kedua teman nya mengobrol santai. Membahas semua yang menyenangkan. Baik yang terjadi di kelas, atau yang mereka alami di luar sekolah.


"Tahu gak sih, si ketua kelas kaya nya suka deh sama Lo Kai" ujar Jia mulai menggosip.


Mia tampak antusias, sedangkan Kai terlihat biasa saja.


"Iya bener, gue juga ngerasa begitu" sahut Mia.


"Kai Lo lagi sendiri kan?" tanya Jia penasaran.


Kai yang mendapat pertanyaan seperti itu hanya mengangguk pelan. Semenjak kejadian 8 tahun yang lalu, dia sama sekali tidak berniat mencari pacar.


"Astaga...Beneran Kai? Lo jomblo?" pekik Mia dan Jia bersamaan.


Tampang Kai terbilang cantik, bahkan lebih. Mengapa dia memilih untuk jomblo??


Berbagai pertanyaan merasuki pikiran Jia yang super kepo.


"Kenapa Kai? gak mungkin karena gak ada yang suka. Lo itu cantik, banget malah" ujar Jia tak percaya.


"Gue yang gini aja, banyak yang suka"sambung Mia narsis. Dia mendapat lirikan malas dari Jia.


"Emang bener kan" tekan Mia percaya diri.


"Bima saja masih belum Lo dapatin sampai sekarang"


"Yah itu mah beda, dia itu calon imam gue. Buat permanen. Gak papa kali dapat nya di ending saja" kekeh Mia.


Kai terkekeh melihat perdebatan kedua teman nya. Lucu memang, keduanya terus berdebat, namun tidak pernah saling menjauh.


"Eh Kai, Lo serius masih jomblo?" tanya Mia lagi.


Kai mengangguk pasti "Bukan gak laku, tapi ini sebuah pilihan" ucap Kai memperjelas.


"Gue tahu itu" Jia.


"Benar, tentu saja Lo banyak yang naksir" sambung Mia.


"Kenapa gak Lo coba aja deket sama si ketua kelas" usul Jia. Mia mengangguk setuju.


Namun, Kai malah terdiam. Rasa sakit itu kembali terasa di relung hatinya.


Mia menyenggol lengan Jia, mereka melihat Kai mendadak diam dan melamun.


"Kai, Lo ada trauma yah? maaf yah, kita gak tahu" lirih Jia merasa bersalah.


"Iya Kai, maafin kita yah" lirih Mia.


Kai tersenyum, dia menggeleng pelan. "Kalian gak salah kok. Gue emang punya sedikit maslah di masa lalu. Tapi, gue gak bisa cerita sekarang "


"Iya, kita ngerti kok Kai. Kapan Lo siap, Lo cerita sama kita. Kita selalu ada buat Lo" sahut Jia tulus.


"Iya dong, kita kan sahabat " sambung Mia seraya bangkit dari duduk nya.


Mia berdiri di belakang Jia dan Kai. Kemudian memeluk kedua sahabatnya.


"Selamanya, sahabat" gumam mereka secara kompak.


Selepas dari kebahagiaan bagi ketiga gadis itu. Tak jauh dari sana terdapat sekelompok cowo tengah duduk bermain gitar. Mereka duduk di meja Indoor.


"Arkan mana sih?" gerutu Bima, mata nya terus melihat kearah pintu cafe.


"Paling ke jebak macet" sahut salah satu teman nya.


"Gak pernah dia setelah ini" balas Bima.


"Santai aja Bim, bentar lagi dia datang kok" balas yang lain.Bima mengangguk pelan, dia kembali bernyanyi bersama teman teman nya yang lain.


Duaarrr..


"Akkk!!" Kai dan kedua teman nya berteriak mendengar suara petir yang menggelegar di langit.


Tik tik


Hujan pun langsung turun dengan sangat deras. Para pengunjung outdoor bergegas masuk ke dalam cafe.


Begitu juga dengan Kai dan kedua teman nya.


Kai mengambil tas dan juga ponsel nya yang tergeletak di atas meja. Begitu juga dengan kedua teman nya.


Mereka berlari masuk ke dalam, saat hampir masuk ke dalam. Kai melirik ke atas meja mereka duduk tadi.


"Dompet gue!!" pekik Kai berbalik dan berlari ke meja nya tadi.


Setelah mendapatkan dompet nya, Kai kembali berlari masuk ke cafe.


Brak~


"Aws..." Kai meringis kesakitan. Dia terhenyak di lantai cafe, tubuh nya basa di guyur hujan deras.


Sedangkan orang yang menubruk nya segera membantunya berdiri.


"Sorry gue gak-" ucapan Arkan terhenti saat melihat siapa yang dia tabrak.


"Lo" kaget keduanya.


Brak!


Kai membalas mendorong Arkan yang berjongkok di depan nya. Sehingga pria itu juga sama sama terhenyak di lantai.


"Lo sengaja yah! membuat gue jatuh dan basah terkena hujan!" bentak Kai marah.


Arkan tidak merespon, dia masih menatap Kai dengan tatapan tidak percaya.


"Kai!!" teriak Jia.


Kai menoleh, dia segera bangkit dan membiarkan Arkan terdiam di sana.


"Ya ampun, Lo basah kuyup Kai" Jia membantu memeras ujung baju kaos Kai, agar tidak terlalu banyak menetes.


"Ini, pake ini. Gue pinjem punya pelayan di sini" ucap Mia memberikan pengering rambut pada Kai.


"Terimakasih " Kai menerimanya, kemudian mencari colokan listrik.


Jia dan Mia dengan setia membantu Kai. Mereka tidak tahu mengapa Kai bisa berlama lama di bawah guyuran air hujan itu.


Sedangkan Arkan. Dia masih terdiam, melihat wajah yang tidak asing di mata nya. Bayangan gadis itu mulai terlihat di wajah Kai.


"Arkan ayo, kenapa Lo main hujan begini?" tegur Bima, dia membawakan sahabat nya payung.


Arkan tersentak, dia segera bangun dan pergi bersama Bima lewat pintu belakang cafe.


"Beruntung pelayan ada yang lihat lo. Kalau gak, gue gak tahu mau sampai kapan Lo mandi hujan" omel Bima.


"Ini tuan, handuk dan pakaian ganti milik boss" ucap pelayan cowo memberikan paper bag pada Bima.


Bima menerimanya, kemudian memberikan pada Arkan.


"Ganti baju dulu" titah nya.


Cafe AiKai, adalah usaha kecil kecilan Arkan. Pemuda yang cerdas, tidak mau membuang buang waktunya hanya untuk bersenang senang saja.


Arkan yang masih SMA, sudah memiliki usaha yang cukup maju. Terlihat dari cafe AiKai yang sudah memiliki beberapa anak cabang.


Setelah berganti pakaian, Arkan dan Bima kembali ke depan. Bergabung dengan teman teman geng mereka yang masih bermain gitar.


"Akhirnya Lo datang juga" sambut teman teman yang lain saat melihat Arkan datang.


"Gue kejebak macet, apalagi hujan deras" jawab Arkan.


"Kita ngerti itu bro. Lagian kita juga lagi santai santai aja" balas yang lain.


"Baiklah, kita langsung bahas aja. Pertandingan basket di SMA barat" seru Bima.


"Boleh" sahut yang lain, mereka mengangguk setuju dengan ucapan Bima.


Setelah selesai mengeringkan baju dan rambut Kai. Ketiga cewe itu duduk di salah satu meja yang kosong. Mereka memesan teh hangat untuk Kai, agar dia tidak terkena flu.


"Kenapa sih Kai, Lo bisa kembali ke meja dan membuat tubuh Lo basa gini?" tanya Mia tak habis pikir.


"Dompet gue ketinggalan, makanya gue balik lagi. Terus-" ucapan Kai terhenti. Mata nya menatap lurus ke depan.


Tepat di depan sana Arkan juga menatap kearah nya.