
Sudah satu minggu setelah Pram mengaku jika dia adalah orang tua Ana. Setelah itu Pram tidak lagi kembali. Mungkin Pram ingin memberi waktu pada Ana agar gadis itu bisa berpikir lebih jernih.
Namun satu minggu berpikir dan mencoba mempercayai fakta itu, nyatanya Ana tidak bisa. Yang ada dia malah pusing sendiri.
"Ana kenapa? Akhir-akhir ini kok kayak banyak pikiran?" tanya Alan kala melihat Ana yang tidak fokus untuk belajar bersama.
Ditanya seperti itu Ana hanya menggeleng dan tidak ingin Alan mengetahui hal ini. Takutnya Alan lagi-lagi menjauh karena fakta yang mungkin juga mengejutkan baginya. Ana menunggu waktu dan alasan yang tepat untuk mengatakan jika mereka tidak mungkin saudara.
"Kabar orang tua kandung kamu gimana? Kan, 1 minggu lalu kamu bilang ada orang yang ngaku orang tua kamu."
Andai saja Ana fokus untuk belajar. Dirinya tidak perlu menjawab pertanyaan Alan yang memancingnya untuk mengaku. Namun Ana harus berusaha untuk membuat Alan tidak curiga dan menganggap bahwa tidak ada apa-apa.
Untungnya datang Gadis yang bergabung dengan mereka. Hal itu membuat Ana mengalihkan pembicaraan. "Lo kok bawa es jeruk, sih? Alan tuh enggak suka."
"Oh, ya? Yaudah buatin sirup buat pacar lo sana."
Untuk menghindar menjawab pertanyaan yang Alan lontarkan, Ana pun berjalan ke dapur membuatkan segelas sirup. Dia sengaja melama-lama agar Alan jadi lupa. Namun saat kembali dengan segelas sirup ditangan. Hampir saja gelas itu terjatuh kala mendengar ucapan Gadis.
"Satu minggu lalu Pram, bokap lo, datang dan ngaku kalau dia bokapnya Ana. Berarti kalian adik kakak dong?"
Ana hanya terdiam dan menunggu reaksi dari Alan. Apakah cowok itu akan mengucapkan kalimat yang sama seperti kala itu? Nyatanya senyum tipis Alan malah membuat Ana sedikit kesal daripada kalimat kala itu. Mengapa Alan masih tersenyum saat tahu fakta jika mereka adik kakak.
~•~
"An, lo kok biarin gue berdua sama Alan? Lo enggak masalah kalau tiba-tiba Alan malah suka sama gue?" tanya Gadis kala masuk kamar dan mendapati Ana yang tersandar dikepala ranjang dengan tatapan kosong.
Senyum tipis Alan tadi membuat Ana memilih untuk mengurung diri di kamar. Dia tidak mau mendengar atau mendapati reaksi lain dari Alan saat mengetahui hal yang menurut Ana adalah masalah besar. Tapi rasanya tidak bagi Alan. Sepertinya sang kekasih menyukai jika mereka adalah saudara kandung.
"Menurut lo?"
"Sorry, An. Tapi gue rasa lo enggak seharusnya nyembunyiin hal ini dari Alan. Cowok itu juga berhak tahu. Lo pasti enggak denger apa yang Alan ucapin?"
Ana memang tidak tahu Alan berkata apa. Dirinya langsung mengurung diri saat senyum tipis terbit diwajah Alan. Tapi jika ia mendengar apa yang Alan ucapkan, apa dia akan baik-baik saja.
"Harusnya lo kayak Alan. Yang terus berpikir positif dan yakin kalau kalian enggak mungkin saudaraan."
"Gimana gue bisa berpikir positif kalau faktanya udah di depan mata. Gue udah lihat hasil tes dna itu dan benar, gue positif anak Pram. Dengan tahu fakta itu gue enggak bisa berpikir positif dan ngeyakinin diri gue sendiri. Sulit, Dis. Gue bingung juga takut."
Gadis mendekat dan duduk disamping Ana. Digenggamnya tangan Ana yang sudah seperti saudara. "Setahu gue lo pinter di sekolah meskipun enggak belajar. Tapi kok lo masih bingung."
"Maksud lo apaan?"
"Gini, deh. Lo lahir tahun 2003 bulan 6 sementara Alan lahir tahun 2002 bulan 12. Itu tandanya kalian cuma beda 6 bulan. Masa iya kalian saudaraan? Coba deh lo pikir."
Apa yang Gadis ucapkan memang masuk akal. Manusia butuh waktu 9 bulan untuk mengandung. Sementara Alan dan Ana hanya beda 6 bulan. Itu berarti bisa dipastikan jika mereka bukan saudara sedarah.
"Ternyata lo lebih pinter dari gue."
"Akhirnya lo sadar juga."
~•~