
Bu Eka berjalan dengan satu tangan di pinggang dengan wajah tak bersahabatnya mengelilingi Alan dan Ana. Diputari Bu Eka keduanya pun diam. Menunduk takut walau mereka tersenyum. "Kemarin Ibu udah seneng, kamu gak telat lagi, Ana. Tapi sekarang kenapa telat lagi?"
"Khilaf, Bu."
"Ibu mau denger alasan apa lagi yang kamu buat."
Ana mendongakkan kepala. Seperti biasa dia akan menatap lawan bicara. "Tadi saya sudah berangkat pagi. Tapi ditengah jalan ban sepeda Alan bocor karena kena paku. Trus kami naik angkot, tapi supirnya kalau ngendarain lama. Akhirnya kami jalan kaki."
"Kalian pacaran?" tanya Bu Eka sambil nunjuk Ana dan Alan bergantian. Keduanya kompak mengangguk membuat Bu Eka geleng-geleng kepala.
"Daripada Ibu buang tenaga buat marahin kalian. Sekarang Ibu minta kalian hormat bendera sampai istirahat!"
"Gak ada hukuman lain, Bu?" tanya Ana yang bosan mendapatkan hukuman itu.
"Kamu mau hukuman apa? Hafalan surat pendek?"
Ana menggeleng, "kan Ana terlambat. Bukan bolos pelajaran agama."
Sejenak Bu Eka diam sambil melihati lapangan sekitar. Mungkin mencari sesuatu yang hilang. "Yaudah kalian pungutin tuh sampah-sampah yang dibuang sembarangan. Trus kalau ada tong sampah yang penuh, panggil ob suruh bersihin."
"Siap, Bu," ucap Ana dengan gaya hormatnya. Membuat Bu Eka tersenyum tipis, namun menutupinya dengan segera pergi.
Alan dan Ana pun melakukan hukuman yang diberi oleh Bu Eka. Tak butuh waktu lama, hanya 15 menit hukuman mereka selesai. Setelah mencuci tangan di wastafel depan kamar mandi. Mereka pergi ke kantin.
"Jangan pesen kopi, lagi!" larang Alan namun sudah terlambat. Ana sudah memesan kopi saat Alan berbicara dengan temannya. "Ngapain senyum-senyum? Udah pesen, yah?"
Ana mengangguk, "kamu mau juga? Biar Ana pesenin."
"Nggak!"
Mas Joko datang menaruh secangkir kopi hitam di meja. Seperti biasa, Ana selalu hutang. Entah sudah berapa hutang yang ia simpan di Mas Joko. Jangan-jangan seperti dulu. Bu Sukmi membayar hutang Ana yang ternyata totalnya 120 ribu. Pulang-pulang Ana kena marah hingga tidak diajak bicara sama Bu Sukmi. Sepertinya Ana harus segera membayar hutangnya, sebelum Bu Sukmi mengetahui.
"Emang kenapa? Minum teh terus-terusan juga gak baik."
"Minum kopi terus-terusan juga gak baik. Trus kenapa kamu masih minum?"
"Rutinitas."
Alan beranjak dari kursi dan berjalan pergi ke kantin Pak Nanang. Lalu ia kembali dengan semangkuk soto ayam dengan asap yang masih mengepul. Setelah menaruh semangkuk soto, ia mengambil es teh yang sudah dibuatkan oleh Pak Nanang dan kembali duduk di depan Ana. "Kayaknya enak tuh."
"Mau saya suapin?" tanya Alan sambil meniup sesendok nasi yang masih panas. Ana mengangguk. Ia pun menerima suapan pertama. Suapan dari Alan itu memang beda. Selain bisa buat kenyang perut. Nyatanya juga bisa buat kenyang mata.
"Masuk jam pelajaran kedua aja," kata Alan sembari menyuapi Ana dan dirinya sendiri.
"Kamu kan anak rajin, kok mau bolos pelajaran?"
"Dikelas ada Pak Gofur, males denger ceritanya."
"Gak boleh gitu. Nanti kena karma loh."
Alan tidak menjawab. Cowok itu asyik menyuapi Ana. Dirinya hanya mendapat tidak lebih dari 7 suap. Sisanya ia suapkan pada Ana. Karena Alan tahu, Ana lapar.
"Udah, aku kenyang."
"Emang udah habis," jawab Alan yang membuat mereka berdua tertawa.
Lucu sekali mereka. Pasti nanti jika mereka besar, kisah mereka akan terus dibicarakan.
~•~