
"Sejak kapan lo jadi bedakan?" tanya Gadis kala masuk kamar dan melihat Ana yang sedang merias wajah. Namun saat melihat bedak yang dipegang Ana tidak asing, Gadis langsung mengecek kotak skin care dan make-upnya. Betul saja, itu miliknya.
Setelah merasa bedak itu rata, Ana membalikkan badan dan bertanya pada Gadis. "Gimana? Udah oke?" Bukannya anggukan atau jempol yang ia dapat. Gadis malah menertawainya.
"Sini-sini gue bantu," ucap Gadis sambil melambaikan tangan agar Ana mendekat. Dengan ragu namun tak punya pilihan lain, Ana pun menurut saja.
Langsung saja Gadis mengeluarkan bakat terpendamnya. Walau alat yang ia punya tidak seberapa, tapi bisa dipastikan hasilnya luar biasa. Bakat yang dimiliki Gadis sudah ada sejak ia kecil. Dimana dia yang selalu melihati sang Ibu berdandan. Gadis jadi ingat dia yang diam-diam memakai alat make-up sang Ibu hingga rusak. Andai saja Ibunya masih ada, mungkin dirinya sedang dirias dengan malaikatnya itu.
"Udah selesai. Gue yakin, Alan bakal makin suka sama lo."
~•~
Ini pertama kalinya Ana pergi ke pasar malam. Sejak kecil dirinya selalu menolak jika diajak ke tempat ini karena lebih suka untuk tidur. Entahlah, Ana hanya suka pergi ke mini market buat cari es krim 4 lapis.
Memasuki pasar malam yang penuh sesak, Ana menarik kaos Alan. Gadis itu tidak suka dengan keramaian. Maklum Ana sangatlah introvert. Karena itulah teman Ana sangat sedikit. Tetapi Ana tidak memasalahkan hal itu. Walau temannya sedikit, namun mereka tidak ada yang fake.
Alan tersenyum kecil saat tubuh Ana mendekat padanya. Dia sangat tahu jika Ana merasa tidak nyaman karena pasar malam yang penuh sesak. Untuk menghilangkan rasa tidak nyaman gadis itu, digenggamnya tangan Ana dengan erat. Ana menoleh karena terkejut akan apa yang Alan lakukan. "Biar kamu enggak hilang. Nanti kalau hilang saya bingung harus cari dimana," ucap Alan diakhiri senyuman dan juga wink untuk menggoda Ana.
"Temukan aku dirasa sesalmu," ucap Ana mengingat sebuah quotes yang ia baca lewat instagram Gadis.
Mendengar itu Alan tertawa dan makin menggandeng Ana dengan erat. Dia tidak mau satu orang pun menyenggol Ana. Karena itu Alan selalu waspada dan cekatan menarik tubuh Ana mendekat padanya kala melihat situasi yang waspada.
Wahana pertama yang mereka pilih adalah boom boom car. Selama permainan, Ana merangkul lengan Alan karena saking takutnya. Sementara Alan makin menggoda Ana dengan mengendarai mobil dengan tidak wajar hingga beberapa kali menabrak pemain lain. Sontak saja Ana teriak. Tapi Alan suka karena Ana yang makin erat padanya. Dasar laki-laki, mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Kini mereka berpindah pada bianglala yang tidak begitu tinggi. Ana sudah menarik-narik Alan untuk tidak memainkan wahana yang baginya terlihat tidak cocok untuk usia mereka. Namun sudah telat, kini keduanya terkurung dibalik kotak bianglala yang sudah bergerak menuju atas.
Kala Ana melirik pada Alan, cowok itu terlihat senang sekali. Padahal Ana merasa jika permainan ini biasa saja. Malahan dia malu kala melihat ke bawah dan mendapati hanya anak-anak kecil yang mengantri untuk bermain ini.
"Main ini seru tahu. Dulu sejak tinggal sama Papa, saya sering diajak main bianglala. Kata beliau buat hidup kita seperti bianglala. Kadang diatas kadang juga dibawah. Tapi satu yang tetap sama, kita akan terus bahagia meski berada diposisi mana pun."
~•~
Pulang-pulang mereka terjebak hujan dihalte. Baju yang Ana kenakan tidak begitu tebal hingga angin bisa menembus hingga ke kulitnya. Merasa mulai kedinginan, Ana memeluk boneka yang tadi Alan dapatkan.
Tadi sebelum pulang Alan menghabiskan uangnya hanya untuk mendapatkan sebuah boneka kunang-kunang hanya karena ucapan Ana; "ehh, ada boneka kunang-kunang." Untuk mendapatkan boneka itu, Alan harus menjatuhkan kaleng dengan bola. Satu kali bermain memiliki 3 kesempatan. Nyatanya Alan harus membayar sampai ke-4 kalinya hingga bisa menjatuhkan semua kaleng dan mendapatkan boneka kunang-kunang yang kini berada dalam dekapan Ana.
"Saya agak nyesel dapetin boneka itu," ucap Alan kala melihat Ana yang memeluk boneka dengan erat.
"Kenapa?"
"Coba aja enggak ada boneka itu. Kamu pasti peluk saya."
"Kata siapa?"
"Emangnya enggak?"
Ana menggeleng membuat Alan makin memajukan bibir bawahnya. Melihat Alan pertama kalinya berekspresi seperti itu membuat Ana gemas. "Kamu lucu kalau kayak gitu. Lebih lucu dari boneka kunang-kunang ini."
Dipuji seperti itu Alan jadi tersipu hingga salah tingkah yang makin membuat Ana gemas. "Kamu baru sadar kalau kekasihmu ini emang lucu."
"Idihh. Baru aja dipuji udah kaya langit."
Alan tersenyum dan mengelus puncak kepala Ana sambil sedikit menepuk-nepuknya dengan pelan. "Makasih mau saya ajak jalan hari ini. Makasih juga udah berusaha buat tampil cantik di depan saya. Tapi asal kamu tahu, saya suka kamu bagaimanapun penampilan kamu."
~•~