Alana

Alana
Bab 54: Tidak Mungkin



Setelah menaruh surat diatas meja Alan, Ana sama sekali tidak berani untuk keluar kelas. Gadis itu malu jika harus berpapasan dengan Alan. Jika itu terjadi dia bingung harus berbicara apa dan kemungkinan dirinya akan berpura-pura tidak melihat saja.


Menunggu Gisel membawa pesanan makanan membuatnya kesal. Sudah lebih dari lima belas menit tapi Gisel tak kunjung kembali dengan sebungkus nasi campur. Sementara perut Ana sudah berbunyi dan hanya bisa mengisinya dengan air putih.


Tidak merasa jika ditunggu, Gisel malah asyik bergabung dengan Galih dan Alan di kantin. Ketiganya sedang asyik makan sambil membahas seseorang yang sedang kelaparan di kelas.


"Si Ana jadi enggak mau keluar kelas karena takut ketemu lo," ucap Gisel membuat Alan tersenyum.


"Ana polos banget, yah. Cewek kayak gitu enggak boleh lo sia-siain," kata Galih yang hanya dilirik oleh Alan.


Dia juga mengerti jika Ana sangatlah polos. Ditambah dia adalah gadis yang sederhana. Di jaman sekarang mana ada anak yang mau berangkat ke sekolah naik angkot di kota yang ramai. Paling masih bisa diitung dengan jari tangan sama kaki. Karena itulah Alan tertarik dengan Ana. Polos dan sangat sederhana.


Gadis itu tidak pernah meminta hal yang aneh. Hanya diberikan es krim empat lapis saja Ana sudah girang. Mana mungkin Alan bisa menyia-nyiakan gadis seperti itu.


Bisa dikatakan surat yang Ana kasih berhasil membuat ragunya hilang. Dia bisa mengerti mengapa Ana seperti ini. Seorang gadis polos yang baru pertama kali pacaran dan diketahui banyak orang, pasti saja merasa risih. Andai saja Alan bisa berpikir lebih jernih saat Ana sedang marah kala itu. Pasti tidak akan ada jarak diantara mereka.


"Terus, kalian bakal baikan, kan?" tanya Gisel yang sangat berharap Ana dan Alan berbaikan. Sepasang kekasih itu sangatlah serasi. Banyak orang yang menunggu mereka berbaikan dan akan selalu mendukung mereka.


Alan mengangguk. Dia sudah memilih jawaban untuk maju mempertahankan apa yang sudah ia perjuangkan sejauh ini. Seperti kata Galih, dia tidak akan menyiakan gadis polos seperti Ana.


"Ini nasi bungkus buat siapa?" tanya Galih kala melihat sebungkus nasi disebelah Gisel.


Gisel menepuk keningnya dengan sedikit membuka mulutnya, "astaga, gue lupa. Ana pasti nungguin." Dengan cepat Gisel menghabiskan makanan dan minumnya. Kemudian pamit untuk memberi asupan pada Ana.


~•~


Hari ini Ana benar-benar tidak keluar dari kelas. Gadis itu makin malu kala Gisel bilang jika Alan sudah membaca suratnya. Ditambah Gisel yang mengatakan jika dirinya malu bertemu Alan pada orangnya langsung. Ana bakal malu pakai banget jika harus bertemu Alan. Tapi dia juga rindu. Lantas Ana harus bagaimana?


"Ana baru pulang?" Suara itu mengagetkan Ana. Ditambah kaget saat tahu jika pemilik suara itu adalah Pram. Wajah Ana langsung ceria saat melihat Pram.


"Pram kok ada disini?"


"Mau bilang sesuatu. Bisa ngobrol sebentar?"


"Pertama kali lihat kamu, saya ngerasa dia kembali. Bahkan seterusnya, otak saya terus-terusan terisi oleh kamu."


"Maksud, Pram?"


"Udah enam belas tahun lamanya. Enggak nyangka kamu udah sebesar ini."


"Ini inti pembicaraannya kemana, yah?" tanya Ana yang masih tidak paham dengan pembicaraan Pram. Tapi Ana bisa lihat mata Pram berkaca-kaca.


"Kamu anak saya."


Langsung saja Ana terpatung dengan pengakuan Pram yang tiba-tiba. Sebuah kalimat yang sangat Ana tunggu-tunggu selama ini. Tapi mengapa kalimat itu keluar dari bibir Pram. Apakah yang diucapkan oleh Pram adalah sebuah kebenaran.


"Saya tahu ini sulit buat kamu percaya. Tapi itu faktanya."


Mata Ana mulai berair. Gadis itu masih tidak percaya apakah ini nyata atau dia sedang berhalusinasi.


"Pram lagi bercanda, yah?"


"Apa ini patut dijadikan bahan bercandaan? Saya serius. Darah saya mengalir ditubuh kamu. Saya ayah kamu. Saya ayah kamu, Ana. Ini ayah."


Ana langsung berdiri sambil menggeleng-geleng. "Enggak. Enggak mungkin. Pram bukan ayah Ana. Orangtua Ana udah enggak ada."


"Saya memang salah. Tapi saya yakin kamu peri kecil saya yang dulu dengan bodohnya saya taruh disebuah keranjang dengan selimut kuning, kemudian saya tinggal dipanti ini," ucap Pram membuat Ana sangat terkejut.


Melihat Ana yang terkejut akan ceritanya, Pram pun ikut berdiri untuk menenangkan sang putri. Tapi tangannya ditangkis dengan kerasnya.


"Jangan pegang saya!! ANDA BUKAN AYAH SAYA!!" ucap Ana begitu keras lalu masuk ke dalam Panti dengan air mata yang begitu derasnya.


~•~