
“Ana, kok belum berangkat?” tanya Bu Sukmi kala melihat Ana yang masih duduk dibawah pohon ceres. Ana mengangkat wajahnya, menatap Bu Sukmi, lalu mengalihkan pandangan pada jam tangannya. Sudah pukul 6 lebih 10 pagi dan Alan belum datang untuk menjemputnya. Tidak biasanya Ana harus menunggu lama membuat Ana menarik kesimpulan jika Alan tidak akan datang untuk menjemputnya.
“Ini mau berangkat, Bu. Assalamualaikum,” ucap Ana yang kemudian berdiri dan berjalan menuju halte. Langkah Ana terasa berat. Seperti tidak ada semangat untuk berangkat ke sekolah. Ditambah menunggu angkot yang tak kunjung datang membuat wajah Ana makin kesal.
Sambil menopang dagunya Ana berpikir alasan Alan tidak menjemputnya. Apa Alan sakit hingga tidak masuk sekolah? Tapi kemarin Alan terlihat sehat. Bahkan setahu Ana, Alan selalu sehat. Wajah cowok itu selalu cerah bak memancarkan sinar yang membutakan mata. Lalu mengapa Alan tidak menjemputnya?
Ana mendengkus kesal tidak menemukan jawaban ditambah angkot tak kunjung datang. Namun bibir Ana langsung membentuk bulan sabit kala melihat sepeda butut Alan dari kejauhan. Saat jarak Alan mulai dekat dengan halte Ana berdiri, “kena...pa...” ucapan Ana terhenti karena Alan yang melewatinya tanpa menoleh. Awalnya Ana kira Alan sedang bercanda, tapi setelah hitungan ketiga dan tidak ada tanda cowok itu berhenti, Ana menundukkan kepalanya. Menggesek-gesekkan sepatu pada trotoar lalu menendang sebuah kerikil.
Gadis itu mengangkat wajahnya dan menghela napas. Melihat angkot tujuannya datang, Ana melambaikan tangan. Didalam angkot yang cukup ramai, Ana berdebat dengan pikirannya. Namun tak kunjung satu pun yang menjadi pemenang. Hingga bibirnya terbuka dan berkata, “Alan kenapa?”
~•~
Pensil itu terus-terusan diketukkan dimeja. Makin lama bunyi yang dihasilkan makin keras hingga membuat seseorang berdecih kesal. Gadis pun melempar penghapus yang tepat mengenai kepala Ana. Respon Ana malah membuat Gadis bingung. Bukannya mengatahi kata serapah padanya, Ana malah mencari penghapus yang jatuh dibawa meja dan mengembalikannya.
Hal ini membuat Gadis merasa ada yang aneh dengan Ana. Sejak pulang sekolah, muka Ana kusut seperti cucian kotor. Bahkan saat makan malam pun Ana hanya melamun dan memakan nasi satu demi satu secara slow motion. Keanehan Ana membuat Gadis yakin jika Ana memikirkan sesuatu. Dengan sangat hati-hati, Gadis mendorong kursinya mengarah pada meja belajar Ana. Ditiupnya telinga Ana membuat gadis itu merinding geli.
“Jangan ganggu!”
Ditambah dengan ucapan Ana yang singkat membuat Gadis tidak tenang. Biasanya Ana akan menjadi cerewet saat ia usili. Sebagai sahabat sekaligus adik yang baik, Gadis pun bertanya dengan sangat hati-hati. “Ada masalah?”
Menunggu lama tapi Ana hanya menoleh sebentar lalu tatapannya kembali kosong mengarah pada meja belajarnya. Mencoba untuk sabar, Gadis memutar kursi Ana agar menghadap padanya lalu digenggamnya tangan Ana. “Empat tahun mungkin waktu yang pendek, An. Tapi kita udah empat tahun berbagi kamar, berbagi kamar mandi, berbagi pasta gigi, shampo, sabun dan banyak hal lagi menurut gue hubungan kita udah bisa dibilang lebih dari deket. Bahkan kita udah kayak anak kembar. Lo sakit gue juga sakit dan sebaliknya. Mungkin karena itu gue bisa ngerasain apa lo lagi senang, bahagia, sedih ataupun marah.”
“Langsung ke inti. Otak gue gapaham.”
“Apa manfaatnya gue cerita ke lo?”
“Setidaknya dengan cerita rasa yang menjanggal dihati atau pikiran lo bisa terkurangi dan besar kemungkinan orang yang lo ajak cerita bisa kasih solusi. Tuh ada 2 manfaat.”
Setelah mendengar ucapan Gadis, Ana menundukkan kepala. Keinginannya untuk berbagi cerita dengan Gadis sangatlah besar. Namun ia tak tahu harus darimana ia bercerita.
“Siapa yang lagi ada dipikiran lo?”
Ana menunjukkan wajahnya untuk menatap Gadis. “Alan.”
~•~
Seperti saran Gadis yang menyuruhnya untuk memberi waktu pada Alan, kini Ana selalu menunggu hingga Alan datang dan bilang padanya jika sudah tidak butuh waktu untuk sendiri lagi. Namun sudah seminggu dan Alan tak kunjung datang. Membuat Ana bertanya-tanya, berapa banyak waktu yang Alan butuhkan?
Setiap pagi Ana selalu menunggu Alan dibawah pohon ceres hingga ia selalu terlambat. Setiap istirahat Ana selalu menunggu Alan di kelas hingga ia hanya makan selapis roti karena Alan tak kunjung datang. Setiap pulang sekolah Ana selalu menunggu disamping gerbang sambil menggesek-gesekkan sepatunya diaspal. Bukannya suara “Ana, ayo saya antar pulang” tapi malah suara “Ana! Naik angkot abang yuk” yang Ana dapatkan.
Rasanya sangat menyiksa akan jarak yang tak nampak. Ditambah menunggu membuat Ana semakin terasa seperti diborgol hingga tidak bisa melakukan apapun hingga apa yang ia tunggu datang dan membantunya. “Alan. Tolonglah Ana. Ini benar-benar menakutkan.”
~•~