
Mungkin jika dulu Ana akan merasa kesal saat ia harus berjalan cukup jauh untuk mencari tukang tambal ban yang buka. Namun kali ini Ana merasa senang karena ia bisa berlama-lamaan dengan Alan. Walau dia tidak bisa menunjukkan kesenangannya itu.
"Tuh kan gak ada tukang tambal ban yang buka," ucap Ana setelah mereka berjalan kurang lebih 500m.
Kemungkinan menemukan tukang tambal ban dijam segini memang kecil. Terbukti dari 5 menit mereka berjalan, tidak menemukan satu pun tukang tambal ban yang buka. "Sabar. Pasti ada."
"Mana? Buktinya gak nemu-nemu. Bentar lagi gerbang sekolah udah ditutup. Aku gak mau telat lagi."
"Bukannya telat itu udah biasa buat kamu?"
"Itu dulu!"
"Udah fix berubah nih?" tanya Alan yang dijawab Ana dengan angkat kedua pundak.
Mereka kembali diam selama beberapa menit. Tidak lama dahi Ana berkerut karena bingung saat Alan menaruh sepedanya di sebuah pohon di pinggir jalan. "Kenapa ditaruh disitu? Gak takut hilang?"
"Mana ada yang mau ambil sepeda butut seperti ini, Ana."
Ana tertawa kecil. Lalu Alan berjalan mendekati Ana dan menggandeng tangan kecil itu. "Naik angkot saja, saya tahu kamu capek jalan."
"Itu angkot Bang Didit," ucap Ana kala melihat angkot biru dengan stiker kucing.
Butuh 1 menit hingga angkot Bang Didit berhenti di depan Alan dan Ana. "Loh, mbak Ana kenapa duduk di belakang?" tanya Bang Didit heran.
"Halo, Bang," ucap Alan sambil tersenyum jail pada Bang Didit.
"Duh masnya kenapa harus milih duduk di depan sih? Pacar saya kasihan duduk di belakang sendirian."
"BANG!! AYO JALAN!! TELAT NIH!!" teriak Ana yang sontak langsung membuat Bang Didit melajukan mobil tercepatnya.
"Emangnya cewek di belakang pacar abang?"
"Masih calon sih, Mas. Tapi saya yakin bentar lagi saya sama dia jadian. Doakan ya, Mas."
"Gimana yah, Bang."
"Gimana apanya, Mas? Masnya tinggal doa, 'semoga abang angkot di sebelah saya ini segera jadian sama cewek di belakang'. Mau saya ejain Mas?"
Alan hanya tersenyum memperlihatkan giginya. Sementara Ana yang mendengar dari belakang, tidak bisa menahan tawanya. Ditutup mulutnya saat tawa sudah tidak bisa ia tahan.
Cittt!!
"Woy, Bang! Yang bener dong bawanya," protes Ana saat ia hampir saja terselungkur ke bawah. Untung saja dia sigap memegang besi di dekat jendela.
"Beraninya mas jadian sama calon pacar saya?"
"Kan masih calon pacar, Bang. Jadi saya gak salah dong?"
Tidak ada jawaban, tapi Alan mendengar isak tangis. "Masnya kan ganteng, bisa cari cewek lain. Kenapa harus mbak Ana?" tanya Bang Didit sambil menghapus air mata yang keluar. Sungguh lucu sekali abang angkot ini.
"Gimana lagi, Bang, saya sukanya sama Ana."
"Buang rasa sukanya, Mas."
"Gak mau, Bang. Rasa saya gak ada kadaluarsanya, jadi gak akan pernah saya buang."
Suara tangis Bang Didit makin kencang saja. Sementara mobil di belakang terus mengklaksonnya. Alan sudah menyuruh Bang Didit untuk menjalankan angkot, namun Bang Didit malah mengencangkan suara tangisnya.
"Alan." Sungguh Alan terkejut tiba-tiba ditowel oleh Ana. "Pergi aja yuk."
Alan mengangguk. Sebelum ia keluar ditaruhnya uang 10 ribu. "Udah, Bang, jangan nangis. Patah hati itu wajar, tapi jangan sampai orang kena imbasnya."
"Bang Didit nangis boongan itu," ucap Ana yang menghancurkan keheningan semenjak mereka berjalan 100 meter dari Angkot Bang Didit.
"Tahu darimana?"
"Air matanya gak keluar."
"Eh iya juga."
Jalan Alan berhenti saat Ana tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Kenapa?"
"Ana telat lagi," jawab Ana dengan wajah murung melihat gerbang sekolah yang sudah ditutup.
"Gapapa, anggap untuk penutupan."
~•~