
Membuka pagar panti Ana disambut oleh Atuk yang sedang bermain dengan anak-anak lain. Mereka langsung memeluk gadis itu. Ana memanglah yang paling tertua di panti. Dia sudah seperti Kakak bagi anak-anak panti. Bahkan Ana lah yang merawat anak-anak itu, terutama Atuk.
Pertama kali Atuk datang ke panti, saat bocah itu berumur 3 tahun. Kedatangan Atuk cukup membuat Ana memiliki hiburan. Bahkan Ana lah yang memandikan dan mengganti baju Atuk setiap hari juga membantu bocah itu untuk membaca dan menulis. Karena itulah, kenapa Atuk yang paling dekat dengannya.
"Kak Ana nggak bawa jajan?" tanya Atuk yang masih memeluk kaki Ana.
Dielusnya rambut bocah itu, "besok, yah. Tadi Kak Ana lupa beliin terang bulan mini buat kamu."
Dengan wajah kesal, Atuk melepaskan pelukannya. Kedua tangannya ditaruh dipinggang dengan bibir yang tertekuk. "Bohong. Pasti Kak Ana udah nggak mau beliin Atuk terang bulan mini. Atuk marah, nanti Atuk bilangin ke Kak Alan," kata Atuk sambil tangannya dilipat di depan dada juga gaya memalingkan muka. Aksi bocah itu sukses membuat Ana tertawa.
Memang sejak masuk semester 2 ini, Ana selalu lupa untuk membelikan terang bulan mini pesanan Atuk tiap 2 hari sekali. Ditambah uangnya yang habis karena harus bayar lks dan kas kelas dari semester lalu yang menumpuk seperti cucian kotornya. Belum lagi harus membayar hutang ke Mas Joko. Udah berapa total hutangnya selama 1 semester kemarin.
"Kak Ana janji besok bawain terang bulan mini rasa keju kesukaan Atuk."
Bocah itu melirik, menatap Ana cukup lama, lalu mengulurkan jari kelingkingnya, "janji?" Ana tertawa dan melingkarkan jari kelingkingnya, "janji."
Setelah selesai menjanjikan terang bulan mini yang entah apa benar akan dibelikan besok, Ana jalan menuju teras. Melepas sepatu dan menaruh di rak sepatu. Baru saja melangkah masuk ke dalam panti, Ana sudah dibuat kaget. Berkali-kali Ana mengucek matanya.
"Ana, kok diem disitu? Sini," ucap Pram sambil tangannya nenyuruh Ana untuk ke arahnya.
Ana mendekat dan duduk di sebelah Pram. Jujur Ana tidak tahu, mengapa Pram bisa ada di panti. Rasanya Ana ingin memeluk dan mengatakan kepada Pram jika dia sudah bisa mengambil gambar yang bagus.
"Pram kok ada di sini?"
"Mau tahu sebuah fakta."
Alis Ana terangkat. Fakta? Pram ngomong tentang apa sih, Ana kan jadi bingung. "Fakta apa Pram?"
Pram tidak langsung menjawab. Laki-laki itu hanya diam menatap wajah Ana lekat-lekat. Jujur, Ana risih saat Pram menatapnya seperti ini. Apa maksudnya coba?
"Kamu anak kandung Bu Sukmi?"
"Iya, dia anak saya."
Belum sempat Ana menjawab, Bu Sukmi datang dari arah dapur sambil membawa segelas minuman. Beliau menaruhnya di atas meja, lalu duduk di hadapan Ana dan Pram. "Ana, beliau adalah donatur tetap panti selama 7 tahun ini."
Mata Ana membulat. Selama itu dan Ana tidak tahu. Jadi, selama ini Pram-lah sering memberikan sembako, barang-barang bekas, dan kebutuhan panti lainnya. Andai Ana tidak masa bodo akan urusan panti, dia pasti sudah mengenal dan dekat dengan Pram.
“Ana kenal kok, Bu. Ini Pram, ayahnya Alan,” kata Ana membuat Bu Sukmi sedikit terkejut.
“Yaampun. Ini ayahnya Alan. Pantas saja Alan juga baik dan selalu bantu saya,” kata Bu Sukmi membuat Pram tertawa dan menyanggahnya. Pram bilang jika Alan sebenarnya tidak sepenuhnya begitu. Kemudian Bu Sukmi pamit untuk ke dapur membiarkan Ana dan Pram berbicara berdua.
Duduk berdua dengan Pram membuat Ana capek. Sejak tadi Ana terus-terusan dibuat tertawa akan cerita dimasa muda Pram yang begitu lucu. Cerita bagaimana awal pertemuan dengan Ibu Alan yang sangat memalukan. “Karena kejadian itu saya malah jadi suka dan mutusin pacar saya.”
“Pasti Tante sering ngungkit Pram yang salah tarik. Kalau Ana jadi pacar Pram dan lihat Pram salah tarik, Ana putusin waktu itu juga.”
“Masalahnya waktu itu pacar saya sayang banget sama saya. Bahkan dia bilang enggak mau putus dan maklumin saya yang salah tarik tangan orang.”
“Bucin banget. Se-famous apa dulu?”
“Lebih dari Alan,” jawab Pram yang membuat Ana tertawa. Alan yang predikatnya anak baru saja sudah bisa membuat dia terkenal satu sekolahan. Mungkin alasan dibalik famousnya Alan karena turunan dari ayahnya.
“Habis itu Pram nikah sama Tante yang Pram salah tarik tangannya? Trus lahir bocah seperti Alan?”
Pram hanya tersenyum. Entah kenapa melihat wajah Ana membuatnya teringat akan gadis cantik yang salah ia tarik tangannya. Gadis yang selalu membuatnya begitu berharga, yang tidak pernah protes apapun.
Mengingat ucapan Alan membuatnya yakin jika kata hatinya tidak salah. Gadis disebelahnya adalah peri kecilnya.
~•~