Alana

Alana
Chapter 26



Sesampainya mereka dipinggir pantai, Alana dan Dimas berjalan mencari penjual minuman terdekat. Maklum lah habis bermain air tentu saja rasa dahaga akan menghampiri mereka berdua.


"Makasih yah bu" Sahut Alana sambil menerima pesanannya tadi


"Nih buat lo" Lanjutnya sambil menyerahkan minuman milik Dimas


"Thangks yah" Jawabnya sambil menerima gelas itu


Mereka pun berjalan kembali ke tempat mereka. Dimana mereka akan melihat matahari yang tak lama lagi akan bersembunyi.


"Al, lihat tuh nggak lama lagi sunsetnya kelihatan" Serunya sambil melihat ke arah matahari sore


"Iya kak" Jawabnya mengikuti arah pandang Dimas


"Lo nggak mau gue fotoin gitu?" Tanya Dimas sambil berbalik ke arah Alana


Alana hanya menggeleng tanda menolak


"Gue nggak pengen abadiin momen ini dalam bentuk foto. Kali ini gue hanya ingin menikmati anugrah tuhan cukup dalam ingatan gue"


"Kenapa? Bukannya cewek paling suka yah post foto disosmet"


"Iya tapi menurut gue nggak semua momen harus kita bagikan ke publik" Alana diam sejenak sambi memandang matahari yang perlahan-lahan mulai bersembunyi dan mulai diganti dengan bulan "Terkadang kita juga harus menyimpan sesuatu seorang diri, bayangin aja yah seandainya tadi gue sibuk buat nyari angle foto. Gue nggak bakal bisa menikmati pesona alam yang satu ini dengan maksimal" Jelas Alana tersenyum sambil berbalik ke arah Dimas yang sedari tadi menatapnya


"Mungkin nanti gue bakal ambil gambar tapi tidak untuk saat ini" Lanjutnya


"Oke gue janji bakal ngajakin lo lagi kesini"


"Bener yah awas kalau bohong" Seru Alana yang mendapat anggukan dari Dimas tanda setuju


.


.


.


"Assalamualaikum" Sahut Alana memasuki rumahnya


"Wa'alaaikumssalam" Jawab Wira dan Mia kompak


"Kamu dari mana aja sayang kok pulangnya jam segini?" Tanya Wira saat Alana mencium tangannya


"Maaf yah pah, tadi Alana dari pantai liat Sunset bareng Dimas abis itu mampir sebentar buat nyari makan sama pakaian" Terang Alana sambil duduk di sofa samping Mia


"Terus itu yang kamu bawa apa?" Kali ini Mia yang bertanya sambil menunjukkan paper bag yang ada di tangan Alana


"Oh ini pakaian Alana yang tadi mah" Jawabnya sambi mengangkat paper bag itu


"Bi... Bi... Kesini sebentar" Teriak Mia dari ruang tengah


Sambil berlari kecil yang dipanggil pun sampai didekat majikannya "Iya nyonya ada apa?" Tanyanya sambil membungkuk


"Itu ambil paper bag yang dibawa Alana langsung cuci yah soalnya tadi kena Air laut" Terang Mia


"Baik nyonya, saya ke belakang dulu" Jawabnya kemudian meninggalkan tempat itu


"Oh iya kok papa udah pulang kantor?" Tanya Alana soalnya belakangan ini Wira teramat sering lembur sampai tak pernah makan malam bersama mereka


"Emang kenapa?" Tanya Wira


"Nggak papa sih, hanya saja belakangan ini kan Papa lembur mulu" Jujur Alana


"Yah bagus dong kalau Papa kamu pulang cepet" Celetuk Mia


"Iya juga yah"


"Oh iya Papa hampir lupa emang Dimas udah balik?" Selidik Wira


"Udah kok Pah"


"Dia dari mana aja?"


"Jadi ternyata tuh selama ini Dimas dari luar negeri buat ngantiin papanya yang jatuh sakit untuk ngurusin perusahaannya yang lagi bermasalah gitu pah" Cerita Alana sambil mengingat kembali cerita Dimas sebelumnya


"Kok bisa bermasalah?" Tanya Wira tertarik maklum saja dirinya kagum dengan Dimas yang berani menjalankan perusahaan bermasalah dan tentu saja Mia hanya menyimak


"Jadi tuh ada karyawan yang ngegelapin uang gitu katanya. Terus yah pah saat Om Rizal mau ngeluarin produk baru buat nyelamatin perusahaan, eh dia malah di khianati gitu" Alana menjeda ceritanya


"Produk yang mereka kerjain berminggu-minggu malah diluncurin duluan sama lawan bisnisnya tentu saja hal itu buat papanya kena serangan jantung, tapi untungnya Dimas bisa ngebuat sejenis produk baru gitu terus sukses saat diluncurin dan papanya udah bangun dari komanya beberapa hari yang lalu makanya Dimas bisa balik ke Jakarta . Gitu deh pah singkatnya" Lanjut Alana


"Wow Dimas hebat yah Al, papa nggak abis mikir aja diusia semuda ini dia udah bisa ngambil tanggung jawab besar kyak gitu. Kamu tuh harus tau ngejalanin perusahan itu sulit banget. Papa aja nih yah kadang harus lembur, nah dia ngadepin perusahaan yang bisa dibilang hampir bangkrut. Papa bangga sama Dimas" Terang Wira panjang kali lebar sambil menikmati buah yang di meja


"Alana juga bangga pah" Celutuk Alana tanpa sadar "Eh, nggak itu..... anu...... maksudnya bukan gitu" Tambah Alana kebingungan


Mia dan Wira pun terkekeh melihat reaksi Alana "Kalau bener juga nggak papa sih Al" Goda Mia tertawa diikuti Wira dan Alana kalin jangan tanya saking malunya tuh wajah udah berubah kayak kepiting rebus


Untuk menyembunyikan rasa malunya Alana lantas berpura-pura ngambek "Ihh... Papa sama Mama nyebelin banget sih" Serunya kemudian berjalan meninggalkan ruang tengah itu


"Al, mau kemana?" Seru Mia


"Ke kamar mah" Jawabnya tanpa membalikkan badan


"Bukannya kamar kamu ke arah sana Al?" Tambahnya setengah tersenyum melihat kelakuan Alana yang hendak ke kamar namun berjalan ke arah dapur


Alana yang menyadari kebodohannya, tanpa banyak bicara langsung mengubah arah jalannya sambil merutuki kebodohan dirinya dalam hati. Dari arah belakang nampak jelas Alana mendengar tawa kedua orang tuanya yang menambah rasa malu pada dirinya sendiri.


.


.


.


Dimas yang baru saja sampai dipekarangan rumahnya langsung berjalan memasuki rumah besar itu dan hendak langsung ke kamarnya.


Setelah membersihkan dirinya Dimas langsung membaringkan diri di kasur king size miliknya sambil menatap langit-langit kamarnya. Namun sebuah notif peringatan dari ponselnya berbunyi.


"Aduhh gue hampir lupa lagi kalau 2 hari lagi Alana bakal ulang tahun, untung gue udah nyetel tanggal pengingatan. Tapi guekan belum ada konsep mau diapain nih" Celetuk Dimas pada dirinya sendiri sambil memikirkan hal yang disukai Alana "Oh iya gue tau mau ngapain" Lanjutnya


Dimas pun saat itu juga langsung menghubungi sahabatnya untuk meminta bantuan. Orang yang dia telfon tentu saja Aldo


Setelah 2 kali percobaan namun tak dapat respon dari Aldo. Dimas mencoba untuk yang ketiga kalinya dan ternyata diangkat


#Via telfon


"Halo Do, lo musti bantuin gue" Seru Dimas langsung


"Hah apaan sih loh telfon gue tengah malam terus tiba-tiba minta dibantuin" Jawab Aldo dengan suara khas orang yang sedang tidur namun diganggu


"Nggak mau tau gue lo pokoknya bantuin gue siapin surprise ulang tahun Alana" Balasnya


"Ulang tahun Alana?" Seru Aldo memastikan


"Iya Aldo lo kok jadi telmi gitu" Kata Dimas tanpa merasa bersalah


"Eh, **** lu yah? bener-bener nelfon gue dijam segini terus minta bantuan buat ulang tahun Alana dan sekarang lu ngatain gue telmi. Bener-bener dah lu Dim" Sahut Aldo tak terima


"Pokoknya bantuin gue! Gue ngga mau tau" Balas Dimas tanpa merasa bersalah


"Oke gue bantuin" Dari nada suara seperti Aldo menyerah maklum dia tau sahabatnya ini suka seenak jidatnya


"Good besok kita omongin lagi detailnya"


Setelah itu Dimas langsung mematikan sambungan telfon sebelah pihak. Kalian pasti bisa bayangin gimana ekspresi Aldo sekarang, karena kalau gue yang jadi dia bakal ngamuk-ngamuk. Bayangin coba ditelfon tengah malam, dimintai tolong dan pas udah di iyain langsung mati gitu aja, kan sebel yah. Emang dasar Dimas nggak punya hati 😭


.


.


.


.


.


**Duh maaf banget yah fakumnya cukup lama. Sorry guys soalnya #DirumahAja bukan berarti nggak punya tugas hehehe. But it's oke kali ini gua mau lanjutin cerita ini.


Mungkin ada yang mau ngasih saran gitu. Gue Kayaknya pengen Alana & Dimas jadian tapi gimana yah, nggak kecepetan gitu?


Yuk bantu saran, tinggalin komentar kalian dikolom komentar dan jangan lupa untuk like cerita gue


See You Guys🙋🙋🙋**