Alana

Alana
chapter 2



"Gue boleh minta tolong sesuatu nggak??" Semua anggota OSIS tampak sibuk dengan kegiatan MPLS siswa baru, begitupun dengan Ravid yang menjabat sebagai ketua OSIS.


"Apa yang bisa Gue bantu??" Harris juga tampak begitu sibuk,karena jabatannya sama sama penting dengan jabatan Ravid,yaitu wakil ketua OSIS.


"*Ntar kalau ada siswa baru kesini,Lo urus ya!!".


"Lo mau kemana??".


"Gue ada urusan lain.Lebih tepatnya Gue mau keruang Bu Yanti*!!".


Bu Yanti terkenal dengan kedisplinannya sebagai seorang kepala sekolah.Hal itu menjadi salah satu penunjang SMA Kebangsaan masuk kategori sekolah menengah yang banyak diminati.Meskipun seorang perempuan tetapi kepemimpinan seorang Bu Yanti tidak kalah dengan seorang pemimpin laki laki pada *umumnya.


"Sorry!! Gue nggak sengaja*!!" Harris segera membantu perempuan yang ditabraknya itu membersihkan kertas kertas yang dia bawa.


"Ruang BK dimana ya kak??" Harris mengangkat kepalanya keatas melihat wajah si pembicara,"*Lo??".


"Kak Harris??".


"Lo sekolah disini juga*??" tanya Harris memasang ekspresi tidak percaya


"Iya kak!!".


Dia adalah Alana Smith,cewek cantik yang terkenal dengan kepolosannya,adik kelas Harris saat duduk di bangku SMP.



"Kok Lo tanya tanya ruang BK tadi??" Harris melanjutkan pembicaraan,"Dan ini apa??" tangannya kini memegang kertas yang tadi dipungutnya.


"Ini hasil tes IQ Aku diSMP kak, sekarang Aku mau nganterin keruangan BK"jawab Alana santai.


"Biar Gue yang ngantarin nya!!" tanpa basa basi Harris menarik tangan Alana,"Eh,mau kemana Kak??"Alana hampir saja sok karena tangannya ditarik paksa seperti itu.


"Ikut aja!!!" Harris tetap saja menggenggam tangan Alana, sementara itu Alana berusaha melepaskan genggaman tangan Harris,ia merasa tidak enak saat menjadi bahan perhatian cewek cewek disekolah barunya itu.


Mereka sampai disebuah ruangan,dimana didalam ruangan itu tersusun rapi beberapa meja dan kursi, didindingnya juga terpampang beberapa poster,salah satu posternya ialah poster perangkat OSIS.Ternyata Harris membawa Alana keruang OSIS.


"*Katanya tadi Lo mau ketemu Bu Yanti??".


"Eh,ada Alana*??"sapa Ravid tersenyum kearah Alana,"Hai Kak!!" sapa Alana balik sambil melambaikan tangannya.


"*Gue nanya ******!!".


"Kamu sekolah disini juga*??" tampaknya Ravid lebih suka bertanya daripada bertanya, sementara itu Harris mulai emosi,"*Jawab pertanyaan gue ******!!".


"Apaan sih Lo??Gue lagi ngomong nih sama Alana".


"Nggak apa apa Kak,jawab aja pertanyaan Kak Harris dulu*".


"Aku kan lagi ngomong sama kamu..." Ravid paling tidak suka jika teman bicaranya berganti ganti,"Iya Kak,Aku sekolah disini juga",jawab Alana.


"Tuh,Alana udah jawab pertanyaan Lo!! sekarang giliran Lo jawab pertanyaan Gue!!"bentak Harris.


"Ya...urusan Gue sama Bu Yanti udah selesai lah".


"Emang Lo ada urusan apa sama Bu Yanti??" bukannya menjawab Ravid malah menarik tangan Alana keluar dari ruangan itu,"*Ikut Aku!!".


"Kita mau kemana Kak*??" lagi lagi tangan Alana ditarik paksa oleh seseorang.


"*Woiii!! Mau Lo bawa kemana si Alana??".


"Kita mau kemana sih Kak*??",tanya Alana tak henti semenjak Ravid menarik tangannya keluar dari ruangan OSIS,tapi sampai sekarang tujuan mereka belum juga pasti.


"Udah,ikut aja!!"apakah itu sebuah surprise atau Ravid memang sengaja tidak memberitahu tujuan mereka,tapi Alana tidak suka jika dibawa ketempat yang tidak jelas seperti itu,"Tapi mau kemana Kak??".


Karena terus didesak oleh pertanyaan pertanyaan Alana akhirnya Ravid membuka mulut," *Aku mau nanya sesuatu sama kamu!!".



"Nanya sesuatu?? Nanya apa Kak*??".


 


\\*


 


"Harris!!!" Jenita menjerit saat melihat Harris sedang berdiri didepan pintu ruang OSIS,tangan kirinya memegang gagang pintu seperti Harris akan menutup pintu ruangan itu.


Harris langsung menunjukkan eksperi tidak suka atas kedatangan Jenita,dia seolah olah menunjukkan telinganya mau pecah.


"Hadeh!!"sambil menepuk keningnya,"*Lo lagi!! Lo lagi!!".


"Kamu kenapa sih*???"meskipun sudah berkali kali dicuekin bahkan dikasari Jenita tak bosan bosannya nempel terus sama Harris.


"Lo bisa nggak,jauh jauh dari Gue??".


"*Nggak bisa dong...Kamu kan belahan jiwa Aku.."


"Cish*" rasanya Harris mau muntah mendengar rayuan Jenita.


"Eh, Eh,Harris kamu mau kemana??" Jenita kaget karena Harris sama sekali tidak merespon kehadirannya.


"Seperti apa sih tipe cewek Harris itu??"gerutu Jenita kesal.


"*Tipe cewek Harris itu ya...nggak kayak Lo!!.".


"Eh*"Jenita kaget saat Ravid tiba tiba saja sudah ada dibelakangnya.


"Sekarang Harrisnya kemana??",tanya Ravid.


Mungkin ucapan Ravid tidak nyambung dengan jawaban yang diucapkan Jenita,tapi begitulah kenyataannya.


Jenita itu cantik dan kaya raya,tapi dia begitu sombong dan suka berkuasa di sekolahnya,dia juga sekali menindas murid murid yang lemah.


"Pokoknya Gue harus harus berhasil dapetin Harris!!".


Ravid meninggalkan Jenita yang masih saja menurutnya seperti orang gila.Ravid mencari Harris keruangan OSIS tapi nggak ketemu,dicari aula juga Harris tidak tampak disana.Sampai akhirnya Ravid melihat Harris sedang melakukan dikelas.


"Woiii!! Lo kenapa??"Harris sedikit kaget saat seseorang menepuk pundaknya,"Lo" namun ia kembali ke posisi awal ketika tau orang itu Ravid.


"*Kayak banyak pikiran aja Lo??".


"Lo ngapain kesini??".


"Ini kelas Gue juga kali!!".


"Bukannya Lo berduaan tadi sama Alana*??"Ravid mengeluarkan sedikit senyuman menanggapi pertanyaan Harris,"*Siapa yang berduaan??".


"Lo sama Alana* !!"jawab Harris.


"Tadi Gue sama *Alana cuma ngomong biasa aja!!".


"Urusan kalian berdua,Gue nggak usah tau*!!"Ravid mengerutkan keningnya,mencoba menerka apa yang sedang dipikirkan sahabatnya itu,"Lo cemburu ya??".Harris segera memasang ekspresi marahnya saat Ravid bertanya seperti itu.


"*Ris,Alana itu.…".


"Gue harus ke aula*!!"Harris bergegas meninggalkan tempat duduknya pergi keluar kelas,serta tidak menghiraukan Ravid yang ingin mengatakan sesuatu.


"Apa yang pengen Gue bilang ini penting Ris!!".


 


\\


 


Harris menuju aula sedikit berlari,hingga ia sampai dengan nafas tersengal sengal.Beruntungya Harris tidak terlambat karena anak anak basket masih belum berkumpul.Seharusnya ia senang,tapi ia justru Kembali memasang ekspresi kesalnya.


"*Lo ngapain disini??".


"Aku dihukum berdiri disini Kak*",jawab Alana.


"Baru aja beberapa hari sekolah,udah bikin ulah aja Lo!!" nada bicara Harris terkesan merendahkan tapi tidak bagi Alana,"*Kak Jenita tadi ngerjain Aku Kak".


"Mending Lo terusin aja hukuman Lo ini*!!".


"Sikap Kak Harris dari dulu nggak pernah berubah ya??".


"Sikap Gue emang ada urusan sama Lo??".


Mungkin karena sudah mengenal Harris cukup lama,membuat Alana terbiasa dengan sikap jutek Harris yang seperti itu.


Usai memikirkan Harris,Alana berencana memikirkan apa yang membuat Jenita bisa mengerjainya, seingatnya tadi dia hanya berjalan berduaan dengan Ravid,tidak mungkin Jenita marah hanya karena itu,Jenita kan menyukai Harris.


"Apa jangan jangan Kak Jenita juga suka sama Kak Ravid??"tiba tiba saja pemikiran itu terlintas dibenaknya,"Nggak mungkin!!" segera memukul mukul pipinya.


Matahari sudah bersinar sangat terik,tetap berdiri di aula lapangan basket tentu saja membuat Alana merasa gerah.Saat ia berniat pergi meninggalkan aula tiba tiba saja Jenita datang menarik rambutnya.


"Kak sakit Kak....!!" rintih Alana.



"Lo mau kemana ha??" Alana semakin kesakitan sebab Jenita semakin memperkuat tarikannya,"*Kak Sakit Kak..!!".


"Hahahaha,nangis terus*!!"bentak Jenita saat Alana mulai mengeluarkan air mata tidak tahan menahan sakit.


Harris yang melihat hal itu dari kejauhan mulai merasa tidak tega dengan Alana.


"*Tuh cewek lama lama Gue kasih pelajaran juga!!".


"Lepasin dia*!!" Harris yang awalnya berniat menolong Alana,kini terhenti di posisinya,wajahnya kembali kesal,entah apakah penyebabnya,"Cish,sebuah drama yang menarik!!".


"Lo nggak usah ikut campur urusan Gue!!" bentak Jenita balik.


"*Lo bisa nggak sih,berhenti menindas orang lemah??".


"Lo nggak berhak ngatur hidup Gue!!!".


"Oh ya..Gue emang nggak berhak ngatur hidup Lo.Tapi Gue berhak ngatur siswa disekolah ini*!!" Jenita secara spontan melepaskan cengkraman tangannya dari rambut Alana,"Gue bisa aduin Lo langsung ke Bu Yanti!!" ancam Ravid.


"*Awas ya Lo!! sekali lagi Lo berani deketin Harris,habis Lo!!".


"Nggak usah ngancam ngancam dia*!!". Jenita meninggalkan aula dengan membawa dendamnya.


"Kamu nggak apa apa??" tanya Ravid memastikan keadaan Alana,"*Nggak apa apa kok Kak!!".


"Makasih ya,karena Kakak udah nolongin aku*" ucapan Alana ternyata tidak terdengar oleh Ravid karena ia tidak sengaja melihat kesudut aula.


"Pintar Lo Vid!!".


 


\\*