
"Akhirnya ibu keluar juga" Seru Sinta setelah dosen mereka hilang dari pandangan.
"Iya tegang banget dari tadi" Sahut Nadiya dan disetujui yang lain.
"Oh iya Al, Lo ada dapat kado dari Ridho nggak?" Kata Sinta lagi mengingat kemarin dia menemani Ridho mencarikan kado untuk Alana.
"Nggak ada tuh, emang ada yah?" Jawab Alana mengingat tak ada yang mengiriminya kado.
"Mungkin belum dikasih" Seru Nadiya yang diangguki Sinta.
"Atau mungkin nggak jadi dikasih" Celetuk Ika membuat ketiga temannya berbalik ke arahnya dengan kerutan didahi.
"Maksud lo gimana Ka"
"Nggak gue cuman asal ngomong aja Nad" Balasnya sambil cengengesan.
"Woy Alana lo mau kemana?" Teriak Sinta yang melihat kepergian Alana terburu-buru.
Alana tak menanggapi ucapan sahabatnya itu, dia malah berlari keluar kelas seperti sedang mengejar sesuatu. Dan benar saja ternyata orang yang sedang mereka sebut-sebut nongol.
"Ridho tunggu!" Teriak Alana, namun pemuda itu tak kunjung berhenti.
Hingga akhirnya Alana makin mempercepat larinya dan berhasil menarik lengan baju milik Ridho "Huh... Akhirnya berhasil juga gue ngejar lo" Seru Alana sedikit ngos-ngosan.
"Kenapa Al" Tanyanya.
"Do, lo ngga ucapin gue selamat ulang tahun gitu" Balas Alana.
"Oh iya selamat ulang tahun yah, gue cabut dulu Al" Seru Ridho hendak meninggalkan Alana.
"Eitss tunggu dulu"
"Apalagi Al?"
"Kado gue mana?" Kata Alana sambil mengangkat satu tangannya.
Namun bukannya mendapat jawaban, Ridho malah melirik sebentar kemudian berlalu meninggalkan Alana. Melihat sikap Ridho, Alana merasa ada yang salah karena tidak biasanya dia seperti ini atau mungkin emang sedang terburu-buru.
"Nih barang-barang lo udah gue beresin" Seru Sinta sambil menyerahkan tas Alana.
"Makasih yah Sinta" Serunya sambil memeluk sahabat kecilnya.
"Lo kenapa lari gitu sih tadi" Seru Nadiya.
"Oh itu tadi gue ngejar Ridho, kali aja omongan lo bener gitu"
"Terus lo dapat?" Tanya Sinta.
"Udah nggak usah sedih gitu dong, mungkin emang buru-buru" Sahut Sinta menenangkan.
"Eh gue duluan yah" Sahut Ika tiba-tiba.
"Lo nggak ikut kita dulu gitu?" Tanya Nadiya soalnya biasanya setelah kelas mereka akan nongkrong di kantin sambil nunggu jam selanjutnya.
"Nggak deh, gue juga lagi ada urusan"
Setelah Ika hilang dari pandangan mereka. Alana, Sinta dan Nadiya berjalan ke arah kantin untuk sekedar makan atau bertemu pacar mereka yang memang suka nongkrong disana.
.
.
.
Hari terus berganti begitupun dengan sikap Ridho ke Alana. Seperti hari ini, Alana menghampiri Ridho namun pemuda itu selalu beralasan bahwa dirinya terburu-buru. Alana sadar ada yang salah pada Ridho tapi dia bingung harus mulai dari mana. Apakah ini karena dia berpacaran dengan Dimas? bukannya tak ada yang salah dalam hal mencintai dan dicintai. Namun saat ini dia benar-benar merasa bersalah dan merasa kehilangan orang yang selalu mendukungnya. Apa keputusan nya salah? tapi dia tidak bisa membohongi perasaannya kalau yang dia cintai Dimas.
"Hei sayang, kamu kok ngelamun depan kelas gini" Tegur Dimas melihat tingkah Alana yang hanya berdiri mematung didepan kelas seperti punya beban.
"Eh Kak Dimas, udah lama disini?" Tanya Alana yang terkejut.
"Nggak kok baru nyampe, cuman dari tadi aku perhatian kamu kok melamun aja. Lagi ada masalah yah?" Seru Dimas yang merasa ada yang salah dengan sikap Alana hari ini.
"Nggak kok kak, udah yah yuk pulang" Ajak Alana sambil menggandeng lengan Dimas. Yah Alana sudah tak malu lagi melakukannya toh semua orang juga udah tau. Walaupun
banyak yang tetap tak menyukainya tapi itu nggak masalah selama Dimas tetap suka padanya.
.
.
.
.
.
Gue terima kasih banget karena kalian masih setia dengan cerita gue ini. Sampai banyak yang minta buat up tiap hari, tapi bukannya gue nggak mau. Hanya saja kegiatan gue kan bukan ini doang. So gue minta maaf banget tapi please ngertiin gue yah.
Devano Danendra - Muh. Ridho Syaputra