
“Bu.”
Bu Sukmi membalikkan badannya dan melihat Ana yang sudah siap berangkat sekolah. Akhir-akhir ini anak asuhnya itu sedikit berubah. Tidak pernah lagi kembali tidur setelah shalat subuh dan kadang membantunya memasak jika suasana hatinya bagus.
Ana mendekat saat Bu Sukmi melambaikan tangan padanya. Roti berisi selai nanas itu sudah masuk setengah ke dalam mulut Ana. Bu Sukmi hanya tersenyum melihat wajah Ana yang datar. Bisa ditebak suasana hati gadis itu sedang tidak baik. “Wajahnya kok lesuh gini, sih? Ada apa?” tanya Bu Sukmi sambil memberikan segelas susu yang langsung diteguk oleh Ana.
“Kemarin Ibu kenapa ngaku kalau Ibu kandung aku?” tanya Ana setelah menghabiskan segelas susu. Aksi membersihkan sisa susu dipinggir bibir dengan dasi langsung digagalkan oleh Bu Sukmi. Ana pun nenarik tisu didekatnya dan membersihkan sisa susu.
“Kan, kamu pernah bilang enggak mau tinggal sama orang tua angkat.”
“Oh.”
“Kenapa? Sekarang berubah pikiran? Gapapa, biar Ibu bilang ke Pram.”
“Bilang apa?”
“Kamu bukan anak kandung Ibu. Soalnya Ibu lihat Pram pingin adopsi kamu.”
“Aku?”
“Iya. Ntaar bisa ngerasain adik kakak sama Alan.”
“Ihhh, gamau. Ana berangkat.”
Setelah berpamitan dan tidak lupa meminta uang saku, Ana berjalan ke pintu depan. Saat membuka pintu ternyata Alan sudah menunggunya dibawah pohon ceres. Gadis itu pun memakai sepatunya dengan membelakangi Alan membuat cowok itu bingung. Tidak seperti biasanya Ana bersikap cuek. Biasanya gadis itu terlihat menyembunyikan senyum, namun kini bibir Ana tidak terlihat menyamping sedikit pun. Ditambah selama perjalan ke sekolah, Ana hanya diam. Pertanyaan yang dilontarkan Alan tidak satu pun ada jawaban selain ‘hmm’.
Apa Ana PMS?
~•~
“Hei, Alan,” sapa Gisel saat menemukan Alan di depan kelas. “Si Ana lagi tidur, tuh. Dari jam pelajaran pertama. Kayaknya dia lagi badmood.”
Alan hanya tersenyum lalu masuk ke dalam kelas saat Gisel menyuruhnya. Dirapikan rambut yang nenutupi wajah Ana. Ternyata mata gadis itu terbuka dan menatap Alan dengan aneh.
“Mau ke kantin?”
Bukannya mendapat jawaban, Alan malah dipunggui oleh Ana. Sepertinya benar kata Gisel jika suasana hati gadis itu sedang tidak baik. Dengan hati-hati Alan mengelus lembut rambut Ana. “Ana lagi PMS? Makan dulu, yuk. Biar nggak sakit.”
Ingin bersikap cuek pada Alan dengan menolak ajakan makan di kantin. Namun perut Ana seperti mengiyakan hingga sekarang ia sedang duduk di depan Alan yang tersenyum-senyum melihatinya. Bahkan Alan tak berhentinya bilang, “habisin makanannya. Teh hangatnya jangan lupa diminum, nanti dingin.”
Ana tak habis pikir dengan Alan. Kemarin cowok itu terasa bodo amat padanya dan membiarkannya pulang sendiri. Sedangkan sekarang, Alan sangat perhatian. Ana tidak mau cepat luluh dan harus tetap bersikap cuek. Tapi kalau urusan makan seperti ini Ana tidak bisa menolaknya.
“Eh, kalian ternyata ke kantin. Makan bareng, yah,” ucap Gisel yang datang bersama Galih.
Tidak seperti biasanya, bangku itu sepi. Tak satupun membuka suara untuk bercerita atau sekedar mengeluarkan candaan garing. Gisel yang tidak suka akan suasana itu pun membuka suara dengan berita hangat. “An, lo udah cek belum akun alanalovers?”
Melihat situasi jika Ana tidak akan menjawab pertanyaan Gisel, Alan pun buka suara namun ia urungkan saat Ana mengeluarkan suara.
“Emangnya ada apa sama akun itu? Dihapus? Syukur deh.”
“Bukan. Followersnya nembus 5 ribu. Gila ga tuh?”
Brakkk!!
Setelah menggebrak meja dengan kerasnya hingga membuat pusat perhatian beberapa pasang mata, Ana beranjak dari duduknya dan meninggalkan kantin. Dia begitu kesal jika terus-terusan mendengar tentang akun itu. Ingin sekali Ana tahu siapa dalang dibalik akun alanalovers.
“Ana kenapa?” tanya Galih yang bingung akan sikap Ana.
Pundak Alan terangkat. Dia juga tidak tahu kenapa Ana selalu tidak suka jika Gisel membahas akun alanalovers. Apa ucapan Ana kemarin itu benar soal dia yang malu akan kedekatan mereka yang terkespos. Untuk apa Ana malu sedangkan kedekatan mereka bukanlah aib dan tidak melewati batas. Hanya kedekatan kedua remaja yang sedang bermadu cinta.
Saat pulang sekolah Ana menolak ajakan pulang bersama dan lebih memilih naik angkot Bang Didit. Malamnya saat Alan telpon, Ana juga tidak membalas. Hingga sejauh 3 hari ini Ana selalu diam diboncengan Alan dan ucapan Ana membuat Alan memundurkan langkahnya perlahan.
“Gue enggak mau akun itu posting foto baru. Udah cukup!”
~•~