Alana

Alana
Chapter 27



"*Hai ngapain ajak aku kesini?" Tanya gadis kecil kepada seorang anak kecil laki-laki dihadapannya saat ini


Untuk beberapa saat anak itu terdiam dengan wajah murung hingga akhirnya dia membuka suara "A...A...Aku bakal pindah keluar negeri, a...aku nggak bakal bisa jagain kamu lagi jadi kamu harus jadi anak yang kuat yah" Kata anak itu


Alana yang mendengar itu seketika meneteskan air matanya "Hiksss...hiksss...nggak, jangan, pliss aku mohon kamu jangan tinggalin aku" Serunya terisak


"Maafin aku Sas, aku harus pergi ikut orang tua. Karena aku nggak mungkin diizinin tinggal sendiri disini" Balasnya sambil memeluk Alana yang dia panggil dengan sapaan Sasmita untuk menenangkannya


"Kamu harus janji yah bakal nungguin aku balik, pokoknya kamu nggak boleh suka atau jadian sama siapapun kecuali sama Nuga. Kamu mau kan janji" Tanya anak kecil bernama Nuga itu sambil menatap manik mata Alana*


"Huh...huh...huh... 'Nuga' Kenapa gue mimpiin anak kecil itu lagi?" Kata Alana yang terbangun dari tidurnya sambil mengelap air matanya


"Dan kenapa gue sangat sedih saat dia mau ninggalin gue, padahal kan gue nggak pernah kena anak itu atau ada hal yang gue lupain?" Alana terus saja bertanya-tanya tenang mimpinya barusan yang terasa amat sangat nyata. Bahkan ada rasa bersalah yang timbul dihatinya karena menghianati janji untuk terus menunggu Nuga kembali dan tak mencintai orang lain.


.


.


.


Dimas yang berjalan menyusuri koridor kampus selalu menjadi pusat perhatian kaum hawa disekitarnya. Yah kalian tau sendiri pesona seorang Dimas sulit untuk dihindari, namun sayangnya cowok ini terlalu dingin untuk didekati, terlalu jauh untuk digapai dan terlalu sempurna untuk dimiliki. Begitulah kata-kata para kaum hawa perihal Dimas tapi tetap saja bukan Dimas namanya kalau bakal ngeladenin omongan para cewek yang selalu memandangnya dengan tatapan memuja kecuali untuk Alana.


Autor: "Dasar yah si Dimas sialan sok ganteng banget pengen gue jitak tapi nggak tega gimana dong? Hahaha"


Eitss... Lanjut deh nggak usah dengerin gue ngomong


"Wuidihh, yang ditunggu-tunggu akhirnya dateng juga" Celetuk Kelvin


"Ya iyalah dateng, demi Alana apasih yang nggak dilakuin nih anak. Sampai nelfon gue tengah malam buat bantuin dia, pas gue udah setuju nih anak langsung matiin telfonnya kan gue masih mau ngomong" Sindir Aldo dengan wajah dibuat-buat, yang alhasil membuat teman-temannya tertawa namun tidak untuk Dimas. Dia masih stay cool gitu deh.


"Woy Dim lu disindir tuh" Celutuk Alfin disela tawanya.


"Nggak ngerasa gue" Balas Dimas tanpa merasa bersalah.


"Tuh kan gue bilang juga apa nih anak kyak batu. Tuhan dedek dizolimi" Seru Aldo sambil mengangkat tangan layaknya hendak berdoa.


"Hahaha... Dasar lu Do. Masih pagi nih" Seru Vano yang tak kuat dengan guyonan Aldo untung saja dirinya telah terbiasa.


"Najis gue Do" Seru Dimas berdegik jijik.


“Udah-udah mending sekarang kita balik ke topik dulu” Seru Kelvin menghentikan tawa teman-temannya.


“Jadi, lu mau kita bantuin kyak gimana Dim?” Tanya Aldo mulai serius.


“Okey! Jadi gini gue mau lu semua pada bantuin gue buat ngedekor taman tepi sungai dijalan X, gue mau ngasih dia surprise dinner romantis ditepi sungai dan ini harus dilakuin secara rahasia! Gimana pada maukan lu semua bantuin gue?” Terang Dimas menjelaskan rencananya.


“Bentar maksud lu surprise ini hanya akan ada kalian berdua gitu, terus kita pada kemana?” Tanya Alfin dan hanya mendapatkan tatapan dari Dimas


“Etdah nih anak, mulai deh. Udah ketularan si Aldo nih” Celetuk Vano mendengar pertanyaan Alfin barusan.


“Enak aja bawa-bawa gue. Emang dasar dianya aja yang bolot” Seru Aldo tak terima.


“Udah deh nggak usah diperpanjang lagi” Potong Kelvin melerai.


“Denger yah Fin baik-baik! Yang namanya dinner romantis pastinya hanya akan ada Dimas dan Alana berdua, kita semua cuman pada bantuin dekornya aja. Sejauh ini paham nggak lo?” Terang Kelvin perlahan-lahan dan mendapat anggukan kepala dari Alfin.


“Emang lu mau ngapain gabung? Jadi nyamuk mau lu” Celetuk Vano.


“Yah nggak lah, males gue ngeliatin orang pacaran” Tolak Alfin.


“Udah ah lanjutin Dim, nggak usah peduliin Alfin” Seru Aldo, emang dasar kalau sudah pindah ke mode serius cowok ini akan jadi lebih serius.


“Kalau gitu gue cabut dulu yah takut Alana nyariin gue” Serunya sebelum meninggalkan teman-temannya.


Sepeninggal Dimas, mereka yang lain masih tetap berada diposisi masing-masing untuk membicarakan hal lain yang tertunda mereka bahas karena kedatangan Dimas. Bukannya mau menyembunyikan sesuatu dari Dimas. Hanya saja ini memang sebaliknya tidak diketahui oleh Dimas.


Melihat Dimas yang telah jauh dari mereka semua, Vano pun mulai angkat bicara “Woy gimana nih, kita kan udah janji juga bakal bantuin mereka?” Seru Vano kebingungan.


“Iya nih, gimana dong? Kita kan nggak mungkin nggak bantuin Dimas” Tanya Aldo ikut kebingung.


“Gini aja, gimana kalau kita alasan ke mereka lagi banyak tugas gitu jadi nggak bisa bantuin” Usul Alfin.


“Gue setuju sama ide lu, ntar biar gue yang ngomong ke cewek gue buat ngasih tau anak-anak yang lain. Gue yakin mereka bakal ngerti.” Sahut Kelvin menyetujui usul Alfin.


“Oke deh gue setuju” Seru Vano.


“Gue juga” Tambah Aldo.


.


.


.


Alana yang baru saja keluar dari kelas bersama ketiga sahabatnya sedang berjalan ke arah perpustakan. Namun langkah Alana ditahan oleh seseorang dari belakang. Lantah gadis itu pun berhenti yang diikuti ketiga sahabatnya.


“Ada apa Do, kenapa nahan gue?” Tanya Alana berbalik.


“Ngg... Gue cuman pengen ngajak lo makan siang. Mau nggak?” Seru Ridho.


Alana lantah melihat kearah sahabat-sahabatnya terlebih dahulu “Gimana guys, gue boleh pergi atau gimana?” Tanya Alana meminta persetujuan.


“Ya udah deh, lu pergi makan aja bareng Ridho ntar abis jam makan siang kita ketemu diperpustakan buat ngerjain tugas esay barusan” Seru Sinta setelah mengecek jam dipergelangan tangannya.


Namun Alana belum langsung menerima ajakan dari Ridho. Dia masih melihat kearah dua sahabatnya yang lain. Merasa mengerti dengan tatapan Alana Nadiya lantas angkat bicara terlebih dahulu.


“Gue, juga setuju usul Sinta. Lagian perpus bakal ditutup setengah jam lagi dan gue sebenarnya emang laper” Sahut Nadiya.


“Gue sih ngikut aja” Jawab Ika tersenyum santai namun sebenarnya ada rasa sedih yang tersirat dari balik senyumnya itu, hanya saja tak dapat mereka lihat.


“Ya udah deh Do, gue mau” Putus Alana.


“Yang lain mau ikut nggak?” Tanya Ridho basa-basi namun mereka hanya menjawab dengan gelengan kepala tanda menolak.


“Okey deh, gue pinjem Alana bentar yah. Gue bakal kembaliin tepat waktu” Seru Ridho sambil menggenggam tangan Alana. Menarik gadis itu ke arah parkiran meninggalkan yang lainnya.


.


.


.


.


.


Hay guys gue hadir lagi nih, Insya Allah bakal update lagi tapi mungkin nggak bakal setiap hari, gue musti ngurus yang lain juga tapi Gue harap kalian tetap bakal nungguin kehadiran Alana.


Jangan lupa like yah❤❤❤


See you 🙋