
"Lo makannya kok santai banget?"
Ana mengangkat wajahnya menatap Gadis yang kini menarik kursi didepannya untuk duduk. Tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan itu karena sekarang bagi Ana yang penting adalah mengisi perutnya. Lagipula untuk apa dia harus cepat-cepat selesai sarapan, tidak ada juga yang menunggunya. Malahan dia yang menunggu angkot datang.
Sampai Gadis mengambil nasi dipiring pun dia tak kunjung mendapat jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan. Sementara yang ditanya asyik membersihkan tulang ayam dengan giginya. Sepertinya Ana tidak tahu jika ada yang sedang menunggu gadis itu.
"Kasihan banget si Alan. Yang ditunggu malah asyik sama tulang ayam," celetuk Gadis lalu memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.
Mendengar ucapan Gadis sontak mata Ana membulat. Dengan buru-buru Ana membersihkan tangannya. Diambil tasnya yang menggantung dikursi tempat duduknya tadi. "Awas aja kalau lo bohongin gue," ancam Ana pada Gadis yang hanya dijawab dengan gumaman.
Mengintip dari balik tirai jendela, Ana tersenyum melihat Alan sedang duduk dibawah pohon ceres. Ada kebahagiaan saat melihat cowok itu kembali menunggunya. Tapi ada juga kegugupan untuk menemui.
Alan berdiri kala melihat Ana yang berdiri diteras rumah sambil menatapnya. Tidak bisa dipungkiri rasa rindu begitu besar hingga rasanya ingin berlari dan mendekap gadis itu. Untung Alan bisa menahan dan menggantikannya dengan senyum bulan sabit. "Ayo berangkat. Nanti telat."
~•~
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, keduanya saling diam. Rasa canggung menyelimuti keduanya. Hingga pertanyaan apa kabar? saja sulit untuk keluar.
Namun dibalik kecanggungan itu, ada sebuah keinginan besar untuk berucap aku rindu. Di jarak yang sudah dekat saja masih membuat keduanya saling diam. Sebesar itukah rasa canggung jika jarak pernah terbuat.
Memasuki kawasan sekolah, beberapa pasang mata lansung tertuju pada Alan dan Ana. Tak hanya itu, lensa kamera pun langsung menangkap momen yang lagi-lagi akan viral. Bisik-bisik pun terdengar hingga bisa ditangkap oleh Alan dan Ana.
"Yeah, we back," batin Alan dan Ana.
Turun dari sepeda Ana buru-buru pergi terlebih dahulu. Gadis itu merasa makin canggung saja. Bahkan tidak berani jika harus menatap mata Alan.
"Sengaja biar dikejar."
~•~
Istirahat kali ini Ana sedang menghabiskan waktunya menonton Alan yang sedang latihan futsal. Bukan tanpa sebab Alan menghabiskan waktunya untuk latihan jika bukan karena lomba. Meski tanggal perlombaan masih lama namun ia harus sering berlatih.
Bisa dikatakan jika Alan termasuk pro player. Buktinya cowok itu sudah dipilih untuk mengikuti lomba meskipun baru saja bergabung. Dengan dipilihnya dalam perlombaan, Alan tidak mau mengecewakan pelatih dan juga kawan-kawannya. Maka dari itu mereka sepakat untuk berlatih jika ada waktu kosong.
Meskipun tidak terlalu paham dengan futsal, Ana tetap duduk ditribun untuk menonton Alan dan menunggu cowok itu. Seperti diftv, saat Alan selesai berlatih maka Ana akan memberikan minum. Seharusnya setelah itu Ana mengelap keringat yang terus menetes diwajah Alan. Namun sayang dia tidak membawa tisu.
"Ini nasi campur?" tanya Alan yang membuka kantong plastik berisi sebungkus nasi. Terlihat Alan begitu senang karena perutnya yang sedari tadi meminta diisi. Dengan rakusnya Alan melahap nasi itu membuat Ana tertawa kecil.
Melihat Alan dari jarak dekat seperti ini begitu membuat Ana terasa seperti hidup kembali. Dia tidak lagi merasa kegelapan dan kesepian. Karena kunang-kunangnya sudah mau kembali menemaninya.
Untuk rasa canggung yang menyelimuti mereka tadi, sepertinya mulai memudar. Keduanya sudah berani untuk saling menatap dan berbagi tawa. Terlihat jika diantara mereka benar-benar sudah tidak ada lagi jarak. Bagi mereka jarak hanyalah sebuah rintangan pertama. Disitu akan diuji bagaimana kalian bisa bertahan untuk menyebrangi jarak agar sampai dipelukan. Karena tidak sedikit yang akan memilih untuk membuat jarak itu kian jauh hingga pelukan pun sulit untuk dicapai.
Sebuah hubungan pasti ada rintangan. Kita diuji untuk tetap bertahan atau berpisah. Kita diuji bagaimana menghadapi rintangan itu, dengan sabar atau sebaliknya. Alan dan Ana baru melewati rintangan pertama yang begitu menyulitkan. Tidak tahu bagaimana rintangan selanjutnya akan menggoncang mereka suatu hari nanti.
Notifikasi instagram langsung membuat semua terfokus pada handphone mereka. Sebuah postingan dari akun alanalovers langsung membuat semua heboh. Banyak yang tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Postingan itu berisi sebuah video dengan durasi 15 detik yang memperlihatkan Alan dan Ana yang tertawa bersama. Dibawah postingan itu tertulis caption; "ALANA IS BACK"
~•~