Alana

Alana
Chapter 29



“Gue juga janji bakal setia sama lo” Celetuk Dimas tiba-tiba.


Bluss... wajah Alana memerah saat itu juga setelah mendengar celetukan Dimas, bahkan detak jantungnya semakin tak dapat terkontrol. Saat ini juga rasanya Alana ingin ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan jantungnya “Ihh... Apaan sih kak” Seru Alana untuk menetralisir degug jantungnya.


“Kenapa, emang ada yang salah yah?” Tanya Dimas pura-pura tak bersalah.


“Salah la. Ngapain pake acara janji setia segala, kan kita juga nggak ada hubungan apa-apa” Terang Alana, namun terlihat jelas nada kecewa didalamya.


“Emang harus ada hubungan dulu yah?” Tanya Dimas tak berdosa.


“Iya dong harus” Seru Alana dengan suara pelan namun masih dapat didengar Dimas.


“Lo ngomong apa tadi Al? Tanyanya memastikan bahwa yang dia dengar itu tak salah.


“Ng...nggak, gue nggak ngomong apa-apa kok” Seru Alana mengelak.


“Nggak lo pasti boong, gue tadi dengar lo ngomong sesuatu” Kekeh Dimas.


“Gue nggak boong ih” Alana tetap saja kekeh dengan kebohongan dan untung saja Dimas tak memperpanjang semua. Alana bisa bernafas lega saat ini, hampir saja dirinya ketahuan. Memang yah hati dan omongan nggak selamanya sejalan. Buktinya sekarang Alana masih terus saja merutuki kebodohannya yang hampir membuat dia malu.


.


.


.


Setelah mengantarkan Alana pulang, Dimas menghubungi teman-temannya untuk bertemu disalah satu pusat perbelanjaan guna membantunya memilih segala atribut pesta ulang tahun Alana. Tak tanggung-tanggung Dimas bahkan sampai rela keliling untuk mencari segala pernak-pernik yang akan mereka gunakan nantinya.


“Dim, gue rasa udah semua deh” Celetuk Kelvin setelah memeriksa paper bag yang mereka miliki.


“Lo yakin udah semua? Gue nggak mau yah sampai kurang sesuatu” Seru Dimas.


“Udah kok. Ya udah lo periksa aja sendiri biar percaya” Seru Kelvin menyerahkan semuanya ke Dimas untuk diperiksa.


“Udah kali Dim, nggak perlu diperksa juga. Pasti lengkap kok, kan lo tau sendiri Kelvin orangnya perfect gitu. Jadi nggak mungkin lah ada yang kurang” Celetuk Vino.


“Iya bener tuh. Sekali-sekali lo juga harus percaya sama orang lain” Timpal Aldo yang tau betul bagaimana watak seorang Dimas. Yang mana semuanya harus sempurnah dan tak ada salah sedikitpun. Tipikan orang yang sudah memiliki jadwalnya sendiri dan kalau ada satu saja berantakan maka semuanya juga bakal ikutan berantakan.


“Nggak bukan gitu maksudnya tapi” Seru Dimas memberi pembelaan untuk dirinya.


“Udah kita juga tau kok Alana penting buat lo. Makanya kita nggak mungkin buat acara lo nggak sempurnah. Bener nggak guys” Kali ini Alfin yang sedari tadi hanya jadi pengamat pun mulai angkat bicara.


“Yoi bro” Jawab mereka serempak menanggapi pertanyaan Alfin.


Dimas hanya dapat tersenyum melihat teman-temannya ini. Ternyata dirinya salah karena hanya bergantung pada diri sendiri dan pada Aldo untuk beberapa saat. Dimas tak pernah berfikir bahwa banyak orang diluar sana yang sangat peduli padanya. Terbuktikan sekarang Kelvin, Alfin, Vino dan jangan lupakan Aldo mau membantunya berkeliling mall yang besar ini selama berjam-jam. Meskipun tak mengatakannya namun sepertinya Dimas mulai akan lebih terbuka pada teman-temannya ini.


“Lo semua pasti pada laper kan” Tebak Dimas yang dijawab anggukan kepala dari mereka.


“Ya uda sekarang kita cari makan, gue yang teraktir” Lanjutnya.


“Wuisss mantap, ternyata Dimas tau juga balas budi. Kirain gue kita bakan dibiarin kelaparan hahaha” Celetuk Aldo dengan santainya.


“Yoi gue kira kita bakal langsung ditinggalin kayak biasa” Timpal Kelvin.


“Emang biasa gue kyak gitu?” Tanya Dimas dengan polosnya.


“Lo nggak nyadar Dim? Seru Vano dan Dimas hanya menggeleng dengan polosnya. Vano hanya dapat menepuk jidatnya mengingak kelakuan Dimas selama ini.


“Lo semua apaan sih, ngomong langsung to the point aja kali” Seru Dimas jengah.


“Lo tuh yah selama ini datang kalau ada maunya. Terus kalau udah nyelonong deh pergi” Seru Alfin.


“Emang gue gitu banget yah?” Tanyanya yang masih tidak sadar dan diangguki yang lainnya.


“Fix lo semua yang bego” Serunya dengan santai.


“Woy enak aja lo. Kita semua juga kayak gini karna tau lo itu sebenarnya baik cuman kelakuan lo aja yang suka seenaknya” Sahut Kelvin.


Mendengar penuturan temannya barusan, fix Dimas sadar dengan kelakuan bodohnya selama ini. Emang dasar dirinya yang tak pernah memperhatikan lingkungannya. Makanya dia tidak sadar bahwa lingkungannya sekarang adalah yang terbaik buat dirinya sendiri. Mungkin ini memang waktu yang tepat untuk dia berubah.


“Udah ah gue laper nih” Celetuk Aldo merusak suasana hati Dimas yang sedang tersentuh namun tak mereka sadari.


“Yuk makan di sana aja gimana?” Usul Vino sambil menunjuk ke arah salah satu restoran yang ada disekitar mereka.


“Wah pas banget. Gue lagi pengen makan enak, itung-itu gratis” Sahut Alfin sambil cengengesan.


“Dasar lu, pinter banget manfaatin suasana” Sindir Vino.


“Loh kok jadi gue” Seru Alfin


“Kan...” Seru Vino terpotong.


“Udah ah nggak usah ribut lo berdua, ngabisin tenaga aja tau nggak. Sekarang kita kesana aja” Potong Kelvin.


Mereka semua pun memasuki restoran yang baru saja ditunjuk oleh Vino. Restoran yang didominasi warna coklat dan crem ini bernuansa privat. Jarak meja yang satu dan lainnya cukup jauh, cocok lah bagi mereka yang ingin meeting atau bercengkrama dengan keluarga serta teman mereka namun tak ingin terganggung dengan orang lain.


.


.


.


Dilain tempat Alana yang baru saja tiba diantar oleh Dimas tengah bersantai diruang keluarga sambil menonton drama korea kesukaannya. Sebenarnya ini sudah kesekian kalinya dia tonton. Namun tak tau mengapa Alana tak pernah bosan memutarnya berulang-ulang. Baginya drama yang menampilkan profesi Dokter atau bernuansa rumah sakit sangat keren. Apalagi adegan seorang dokter yang sedang mengoperasi pasiennya dan terlihat jelas bagian pembedahannya. Seperti sekarang saat Park Ji-Sang yang diperankan oleh aktor tampan Anh Jae-Hyun melakukan operasi yang seharusnya dilakukan oleh Yoo Ri-Ta “Goo Hye Sun”. Kalian pasti bisa menebak apa judul drama ini. Yup apalagi kalau bukan drama berjudul “Blood (2015)”. Namun bukan hanya itu sederet drama lain seperti Doctor Stranger (2014), Doctors (2016), Descendants Of The Sun/DOTS (2016), Hospital Ship (2017) dan Romantic Doctor Teacher Kim (2016) menjadi drama yang kerap kali dia putar. Tapi buka berarti Alana tak menonton drama dengan genre lainnya.


"Pasti kamu lagi nonton Blood lagi kan" Tebak Mia.


Mendengar itu Alana langsung berbalik mencari asal suara yang dia yakini milik mamanya "Loh mah, Alana kirain mama lagi keluar soalnya tadi aku panggilin nggak nyahut"


"Iyalah kan tadi mama abis sholat, kamu udah sholat kan?" Tanya Mia.


"Udah kok mah" Jawabnya kembali melihat ke layar Tv.


"Ya udah mama ke dapur dulu yah, mau masak" Sernya yang diangguki Alana. Kemudian Mia berjalan meninggalkan Alana untuk melanjutkan tontonannya.


.


.


.


.


.


**Yuhuuuu siapa nih yang kelakuannya sama kayak Alana?


Yuk tulis dikolom komentar


Oh iya siapa taukan, ada dari kalian punya rekomendasi drama korea bergenre dokter yang bagus buat Alana tonton, selagi ngisih waktu luang.


Jangn lupa juga untuk like yah


See You ❤❤❤🙋**