
"Do, boleh bicara bentar gak" Seru Dimas yang datang ntah dari mana.
Ridho dan teman-temannya yang semula sedang bercanda, menghentikan obrolan mereka. Semua mata mereka tertuju kepada Dimas.
"Do, kita cabut dulu yah" Seru Dirga yang mengerti keadaan diikuti Ari dan Andre.
Setelah kepergian Dirga, Ari dan Andre. Dimas langsung mengambil tempat disamping Ridho.
"Lo mau ngomongin apa ka?" Tanya Ridho to the poin. Dia yg sedang patah hati tentu saja malas berbicara, apalagi orang otu Dimas.
"Gue cuman mau bilang, tolong jangan jauhin Alana yah" pinta Dimas
Ridho yang mendengar permintaan Dimas langsung mengerutkan dahinya tanda tidak mengerti. Dimas yang menangkap itu semua langsung melanjutkan kalimatnya.
"Alana sedih karena lo ngejauh dari dia. Dia ga pengen lu jauh" Lanjut Dimas
"Bukannya bagus yah buat hubungan lo ka, kalau gue jauhin Alana. Otomatis lo ga harus ada saingan" Seru Ridho yang masih tidak mengerti alasan Dimas memintanya barusan
"Ga ada yang perlu gue takutin Do. Gue cuman gak bisa ngeliat Alana sedih karna salah satu sahabatnya ngejauhin dia" Jawab Dimas kemudian terdiam sejenak
"Lagian gue ga pernah nganggep lo saingan, gue justru berterima kasih sama lo karna lo udah ngejagain Alana saat gue ga ada, lo juga selalu baik perhatian sama Alana" Lanjut Dimas
"Lo ga cemburu gue deket ama Alana?" Tanya Ridho keheranan
"Tentu saja gue boong kalau jawab ngga. Tapi ada hal yang jauh lebih penting dari rasa cemburu gue. Yaitu kebahagiaan Alana, apapun itu selama Alana bahagia, gue juga pasti bahagia. Bahkan jika suatu saat Alana ninggalin gue dan milih lo" Dimas menarik nafas sejenak kemudian melanjutkan kalimatnya.
"Bahkan jika saat itu terjadi, gue ga bakal marah sama kalian. Gue bakal bahagia untuk kebahagiaan Alana walaupun gue bakal sakit hati. Tapi asal laki-laki nya itu lo Do, gpp karna gue percaya lo dapat buat Alana bahagia" Lanjut Dimas
Ridho tercengang mendengar penjelasan Dimas barusan. Bagaimana tidak, mana ada laki-laki yang iklasin ceweknya deket sama cowok lain asal cewek itu bahagia. Bahkan dalam kamus Ridho "apapun yang menjadi miliknya tidak boleh disentuh orang lain"
"Oke sekarang gue paham kenapa Alana lebih milih lo ketimbang gue yang selalu ada buat dia. Gue ga bakal jauhin Alana lagi tapi lo juga sesekali harus izinin kami hangout mana ada temen yang ga jalan bareng" Balas Ridho.
"Iya gpp, asal lu bisa jagain cewek gue" Seru Dimas untuk mengingatkan bahwa Alana miliknya
"Santai aja, ga bakal lecet sama gue" Jawab Ridho sambil tersenyum. Suasana yang sebelumnya tegangan kini hilang entah kemana.
"Thanks bro, gue cabut dulu" Seru Dimas sambil berdiri dan memberikan kepalan tangannya yang diterima baik oleh Ridho.
.
.
.
#Kantin kampus
Alana beserta teman-temannya sedang berjalan memasuki kantin kampus yang saat ini sedang di penuhi mahasiswa kelaparan dan juga yang hanya sekedar melepas penat mengikuti perkuliahan sebelumnya. Keempat gadis cantik itu kemudian mengedarkan pandangannya mencari tempat kosong namun tak menemukannya. Hingga terdengar suara tak asing di telinga Alana.
"Guys sini aja duduk bareng kita, masih ada tempat yang kosong kok" Teriak Ridho yang spontan membuat keempat gadis itu menoleh ke arahnya.
"Al, lo mau kemana. kok pergi kan gue udah manggil lo gabung" Seru Ridho, ya tangan yang menggenggam tangannya sekarang adalah Ridho. Alana bahkan kaget dengan sikap Ridho.
"Lo udah ga mahar sama gue, lo udah ga ngindarin gue?" Tanya Alana yang di jawab anggukan oleh Ridho.
"Tapi sekarang lo yang ngindarin gue, lo bahkan ga mau duduk di kantin bareng gue" Jawab Ridho yang berpura-pura dengan muka sedihnya.
"Ishhhh... itukan karna lo duluan yang ngindarin gue" Jawab Alana tak terima.
"Iya deh maaf yah gue udah jauhin lo. Tapi ngga lagi janji" Balas Ridho sambil mengangkat 2 karinya layaknya orang berjanji.
"Awas yah kalau boong" Seru Alana yang dibalas anggukan kembali oleh Ridho.
Mereka berdua pun berjalan mendekati teman-temannya yang lain. "Cieee udah baikkan" Celetuk Sinta saat Alana baru saja mengambil posisi di sebelahnya.
"Iya dong kita kan bestie jadi ga mungkin diem-dieman lama, yakan Do" Seru Alana sedikit sombong menunjukkan kebahagiaan nya, yang tentunya di iyakan Ridho.
"Ohhh jadi sekarang sama bestie nya Ridho doang, kita ga diitung" Balas Nadiya pura-pura ngambek.
"Iya nih udahlah ngambek kita" Tambah Ika.
"Ngga gitu guys, bukan kekn gitu maksu gue. Gue tuh cuman" Sebelum menyelesaikan kalimatnya Alana terhenti karna teman-temannya langsung tertawa melihat tingkah Alana yang bingung cara menjelaskannya.
"Gpp Al, kita becanda doang kok. Ya kan Sin Nad" Lanjut Ika yang di jawab dengan anggukan oleh kedua wanita itu.
"Udah-udah kalian mau pesen apa, kali ini biar gue yang pesenin kalian. Kapan lagikan gue mau jadi babu lo bertiga" Seru Sinta.
Akhirnya Alana, Ika dan Nadiya menyebutkan pesanannya kemudian tak berselang lama pemilik warung membawakan pesanan mereka berempat. Sambil makan mereka tak lupa untuk bercanda gurau membahas hal yang tidak jelas. Mulai dari kelas sebelumnya yang sangat membuat otak mereka panas, hinggal hal hal konyol yang di keluarkan andre. Alana sangat bahagia saat ini dia bahkan tertawa lepas sampai tidak menyadari ada wanita yang melihat mereka dari jauh dengan tatapan tidak senang.
"Awas aja lo Al, lo bakal gue buat menderita. Lo ga berhak bahagia, lo udah ngerebut Dimas dari gue" Seru wanita tersebut kemudian meninggalkan kantin tersebut.
Namun bukan wanita jahat itu saja. Lelaki dengan senyuman tulusnya juga melihat kebahagiaan Alana yang sangat dia sukai. Tawa yang selalu dia nantikan akhirnya terbit kembali, rasanya melihat Alana seperti ini saja sudah lebih dari cukup.
.
.
.
.
.
Akhirnya selesai juga chapter ini. Lama banget yah sumpah gue sibuk banget, pengennya sih cerita ini tamat tapi bingung juga. Apa kita buatin konflik dulu baru tamat. Gimana mau happy ending atau sad ending? Biar beda harusnya sih sad ending tapi balik lagi kekalian sih.
Silahkan tinggalkan komentar buat yang mau akhirnya cerita ini kek gimana