
perkenalan
*Alana
*Harris
*Ravid
*Dela
*Jenita
*Angga
****
Suasana pagi hari sangat indah, ditambah angin sepoi-sepoi sepoi yang berhembus,membuat seorang pria remaja semangat untuk bangkit dari kasur yang memberikan kenyamanan itu.
"—Hmmmm—" pria itu menggeliat,memberikan sedikit rasa lega kepada rangka tubuhnya yang sejak kemaren berteman dengan kasur dan selimut.
"—Harris!! Hari ini kamu berangkat pakai taxi ya—??" terdengar suara seorang ibu dari lantai bawah.
Pria remaja itu bernama Harris Davidson,anak tunggal dari pasangan Herman Davidson dan Lina Davidson.Pria itu merupakan salah satu pria yang beruntung karena selain anak tunggal,ia juga memiliki kedua orang tua yang kaya raya dan penuh pengertian.
Ya...meskipun kedua orang tuanya terkenal sibuk dengan berbagai pekerjaan,namun ia tidak pernah merasa kurang kasih sayang sedikitpun.
—"Memangnya mobil aku kemana Ma—??" tanya pria yang bernama Harris itu.
"—Mobil kamu dipakai sama Papa—!!" Ibu Lina menjawab sembari mengoleskan slai kacang di atas roti untuk menu sarapan nya pagi ini.
"—Kok Papa nggak pakai mobil dia Ma—??" Tampak Harris menuruni tangga lengkap dengan seragam sekolahnya.
Pria itu memang tampan,berkulit sawo matang,rambut lurus dengan sisiran ke arah kiri,hidung mancung,tingginya sekitar 176 cm,serta mempunyai alis tebal dan bibir yang seksi.
"—Mobil Papa kamu di servis—!!" Ucapan ibu Lina terdengar sedikit tidak jelas,karena mulutnya dipenuhi oleh roti slai kacang yang dipersiapkanya tadi.
"—Hfff—" Harris menghembus nafas kesal sambil memegang salah satu kursi di meja makan,"—Mama pergi dulu!! Pagi ini ada meeting!!"— Ibu Lina bergegas meninggalkan anaknya yang masih terpaku disamping meja makan.
Dia menatap kearah meja makan sejenak,lalu duduk disalah satu kursinya.Dia mengambil dua buah roti di atas meja makan tersebut,mengoleskan salah satu bagian roti dengan selai coklat kesukaannya,lalu menambahkan satu buah roti lainnya di atas roti yang telah diberi olesan coklat.
Setelah menghabiskan satu porsi roti selai coklat kesukaannya itu,Harris pun mengambil segelas susu dan meminumnya.Segelas susu itu pun habis hanya dalam beberapa kali tegukan.
Putra bapak Davidson ini memang terkenal dengan kerapiannya,hal itulah yang membuat dia begitu digemari para cewek disekolahnya.
Meskipun terkenal banyak penggemar di sekolahnya,Harris sama sekali bukanlah cowok playboy,bagaimana tidak,sikapnya yang terlalu cuek dan dingin membuat para cewek terkadang berfikir mundur,ya...masih ada beberapa cewek yang nekat mendapatkan cintanya.
Kini Harris sudah berdiri di luar gerbang rumahnya,menunggu kedatangan taxi online yang sudah dipesannya beberapa menit ketika berada di meja makan.
"—Kamu begitu cantik—!!" gumamnya menatap layar handphone.
"—Kita mau kemana Mas—??" pertanyaan sopir taxi membuat Harris terkejut dan segera memasukkan handphone kedalam sakunya,"—SMA kebanggsaan Pak—!!".
Lima belas menit berada di dalam taxi,membuat Harris kini sudah berada di depan gerbang sekolahnya.
Mungkin jika dilihat pemandangan didepan gerbang SMA kebangsaan itu terkesan sedikit lebay,bayangkan saja saat Harris keluar dari mobil para siswi sudah berjejeran didepan gerbang sambil menunjukkan berbagai eksperi yang begitu sangat astagfirullah.
—"Tumben naik taxi—??" Seorang pria yang sedikit lebih pendek merangkul bahu Harris.
"Mobil gue dipakai bokap!!".
"Ke kelas yuuk!!".
Kedua cowok tampan itu pun meninggalkan gerbang sekolah yang masih dipenuhi oleh deretan cewek cewek alay,menuju kearah kelas mereka.
Harris duduk dikelas 11 IPA 2,bisa dikatakan dia baru memasuki kelas 11.Tahun ini merupakan tahun ajaran baru,dimana para siswa datang ke sekolah hanya untuk melihat suasana kelas baru mereka,belum mengikuti proses pembelajaran.
Tentang cowok yang merangkul bahu Harris digerbang sekolah tadi,ia teman dekatnya Harris,sebutan lainnya bisa dikatakan sahabat.namanya Ravid Raison,putra bapak Smir Raising,teman bisnis bapak Davidson.Orangtua mereka sama sama memiliki sebuah perusahaan besar,dan beberapa perusahaan cabang.
Ravid memiliki tinggi 172 cm,sedikit lebih pendek daripada Harris,kulit sawo matang,rambutnya sedikit ikal,tapi intinya kedua cowok itu sama sama memiliki banyak penggemar,bedanya hanya satu yaitu Harris yang terlalu dingin sementara itu Ravid penuh perhatian.
Meskipun penuh perhatian, bukan berarti dia cowok yang suka mempermainkan banyak cewek.Ravid sudah memiliki pacar,namanya Dela.
Ravid dan Dela sudah berpacaran selama kurang lebih dua tahun.Dela teman sekelas Ravid saat SMP,dan mereka mulai berpacaran semenjak duduk dikelas 9 SMP.Dela berasal dari keluarga sederhana,dia lembut dan penuh perhatian,sikap itulah yang membuat Ravid tertarik dan berani menyatakan cintanya.
Lalu bagaimana dengan Harris?? Apakah dia belum pernah berpacaran??.
Harris sudah pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis saat kelas 10,tapi hubungan mereka kandas hanya dalam waktu dua bulan.
Saat itu Harris tengah sibuk bermain basket,tapi matanya selalu saja melirik kearah kursi penonton,semua orang sudah memperingatkan Harris untuk fokus,termasuk pelatihnya,tetapi mata Harris tetap saja melirik kearah kursi penonton.Ternyata saat itu dia sedang mencari keberadaan sang pacar.
Sudah selesai Harris bermain basket, keberadaan sang pacar belum juga ditemukan,saat Harris berjalan melewati daerah perpustakaan disanalah Harris bertemu dengan pacarnya.Bukan kebahagiaan yang ada saat itu,tapi rasa sakit yang begitu dalam,dia benar benar tidak tau apakah ini mimpi atau benar kenyataan, perempuan yang selama ini dia banggakan bermesraan dengan cowok lain didepan matanya.
"Besok siswa baru udah mulai sekolah ya??" Ravid membuka pembicaraan mereka saat didalam kelas.
—"Mana Gue tau—!!" Harris begitu terkenal dengan sikap ketusnya.
—"Gue dengar adik kelas kita saat SMP sekolah di sini juga—".
—"Adik kelas?? Mungkinkah itu Lo??—".