
“Sejak kejadian di kantin waktu itu lo enggak lagi mau ngomong sama gue. Lo masih marah?”
Akhirnya hari ini Gisel memberanikan diri untuk menanyakan perihal yang sudah 1 minggu menghantuinya. Sejak kejadian itu, Ana jadi aneh. Selalu menghiraukan ucapannya bahkan tidak lagi memberikan satu senyum pun. Dari yang Gisel tahu, Ana marah karena dia yang terus-terusan membahas akun alanalovers. “Gue janji, deh. Ga bakal bahas akun alanalovers,” ucap Gisel sambil membentuk huruf v dengan jari tengah dan telunjuk.
Ana tersenyum. Dia benar-benar childis, hingga bisa terjadi hal seperti ini. Andai saja dia bisa berpikir lebih positif. “Gue yang minta maaf. Enggak seharusnya gue kayak gini. Btw, gue udah buat akun itu jadi official.”
Ucapan Ana membuat mata Gisel terbuka tak percaya. “Sumpah?”
“Jadi kemarin gue dilihatin sama Gadis postingan terbaru mereka. Setalah paham gue bilang makasih pakai akun Gadis. Nah, habis itu Gadis nge-dm akun itu buat ngejelasin dan adminnya minta diofficial-in karena udah banyak akun yang mirip muncul. Yaudah deh, gue official-in.”
“Gila!!” ucap Gisel sambil bertepuk tangan seperti memberi ucapan selamat saja, “jadi, sekarang lo udah bisa nerima akun itu?”
“Setelah gue pikir-pikir akun itu fine-fine aja sih. Gue jadi merasa bersalah sama akun itu karena udah beranggapan negatif. Gue juga ngerasa bersalah sama lo, sama Alan juga,” ucap Ana menundukkan kepala sambil memberikan wajah sedih. Gisel yang melihat itu pun paham dan memberikan solusi untuk sahabatnya agar bisa berbaikan dengan sang kekasih.
"Gak ada salahnya cewek ngejar cowok. Asal dalam batas wajar. Karena kemungkinan cowok juga udah capek kalau harus terus-terusan ngejar cewek. Hilangin ego hanya karena cewek harus dikejar. Kalau lo masih berpendirian sama kalimat itu, kemungkinan lo sendiri yang bakal sengsara."
~•~
Sehari penuh Ana mencari Alan di sekolah, namun dirinya tak kunjung dengan orang yang sangat ia rindukan. Saat Ana bertanya pada Gisel, gadis itu berkata jika Alan membolos sekolah setelah istirahat kedua. Tentu saja Ana kaget karena yang dia tahu Alan bukan tipe murid yang suka bolos.
Gisel bilang jika Alan dan beberapa teman sekelasnya masih berada di warung yang tidak jauh dari sekolah. Cuma butuh 10 menit Ana sampai di warung itu. Kaki Ana ragu untuk melangkah memasuki warung yang penuh sesak dengan cowok dan banyak asap yang mengepul. Betul saja, Ana sampai batuk-batuk memasuki warung itu hingga menjadikannya pusat perhatian semua orang didalam warung.
"Ana? Lo ngapain disini?" tanya Galih yang kaget melihat kehadiran Ana. Cowok itu terus-terusan menyenggol lengan Alan dengan sikunya. Namun cowok itu seperti tidak tertarik dengan kehadiran Ana.
Alan langsung menarik tangannya dengan keras membuat Ana merasa jika Alan benar-benar marah padanya. Bahkan mata yang biasanya penuh kasih sayang itu, kini layaknya menyirat kebencian. Sebegitu tidak inginkah Alan melihatinya?
"Ngapain narik gue?" Ucapan saya yang biasanya pun sudah tergantikan. Apa secepat itu Ana tergantikan posisinya?
"Alan kenapa jadi beda?" tanya Ana dengan suara pelannya. Namun hal tak terduga membuat Ana begitu terkejut. Untuk pertama kalinya Alan membentaknya.
"Bukannya lo?"
Meski Alan hanya berucap seperti itu, mata Ana sudah memerah. Gadis itu mencoba untuk tetap tegar di depan Alan. Jangan sampai air matanya keluar sekarang.
"Gue udah ngikutin apa yang lo mau. Lo seneng, kan? Kayaknya dari awal gue emang nyusahin buat lo. Sekarang gue harap lo bisa hidup tenang seperti ini tanpa adanya gue."
Nyatanya Ana tidak bisa untuk tetap tegar. Air mata lolos begitu saja. Dia nangis bukan untuk dikasihani oleh Alan.
Melihat angkot yang lewat, Ana langsung melambaikan tangannya. Masuk dan duduk dibagian paling belakang angkot sambil menatap Alan yang berdiri melihati kepergiaannya. Semakin jauh angkot berjalan, Alan tak kunjung bergerak. Akhirnya Ana hanya bisa diam dalam kesedihan yang teramat menyakitkan ini.
Setelah angkot yang ditumpangi Ana jauh dari pandangannya, Alan kembali masuk ke dalam warung. Kedatangannya disambut oleh kehebohan teman-temannya. Cowok itu hanya diam dan menghiraukan ucapan teman-temannya.
Galih menepuk pundak Alan. Dia tahu jika hubungan sahabatnya dengan sang pacar sedang tidak baik. "Pada dasarnya lebih baik cowok yang ngejar cewek. Itu udah kodratnya. Coba lo bayangin, kalau Ana yang ngejar lo sampai buat lo risih, pasti kelihatannya jelek, gak pantes, karena emang bukan kodratnya. Hilangin rasa ragu lo, karena lo udah tahu jawabannya."
~•~