
Sudah hampir satu jam Ana hanya terduduk dimeja belajar tanpa melakukan apa-apa. Matanya begitu sembab karena tadi menangis cukup lama didalam angkot. Ucapan Alan tadi terus-terusan membuatnya berpikir.
"Gue udah ngikutin apa yang lo mau. Lo seneng, kan? Kayaknya dari awal gue emang nyusahin buat lo. Sekarang gue harap lo bisa hidup tenang seperti ini tanpa adanya gue."
Ana geleng-geleng kepala saat ucapan Alan kembali ia ingat. "Enggak. Bukan kayak gini," ucap gadis itu sambil terus-terusan menggelengkan kepala.
Gadis khawatir saat melihat teman sekamarnya kembali aneh. Hingga ia takut untuk mendekati dan mengajak ngobrol seperti waktu itu. Teman sekamarnya itu sedikit berubah semenjak bertemu dengan Alan. Yang biasanya suka tidur berubah jadi rajin belajar. Yang biasanya jarang senyum jadi murah senyum. Yang biasanya tidak ada masalah jadi ada masalah. Gadis tahu Ana bingung harus melakukan apa karena ini pertama kalinya gadis itu berada disituasi seperti ini. Jujur saja Gadis punya banyak solusi, namun entah kenapa ia kembali takut pada sosok Ana. Seperti pertama kali mereka bertemu. Ana sangat menakutkan kala itu.
Wajah yang tadinya datar kini terbit sebuah bulan sabit. Segera Ana mendorong kursi dengan kakinya untuk mendekat pada Gadis. Ditiupnya telinga Gadis hingga gadis itu bergidik geli juga kaget. "Apaan? Ngagetin gue lo."
"Punya kertas kosong enggak. Sama pinjem pulpen warna kuning dong."
"Buat apa?" tanya Gadis yang penasaran dengan apa yang ingin Ana lakukan.
"Udah jangan banyak tanya. Ada enggak?"
Dengan wajah kesal karena Ana yang dengan seenaknya memerintah, Gadis tetap saja mengambilkan apa yang Ana minta. Kemudian memberikannya dengan tidak ikhlas pada Ana. "Pulpen kuningnya jarang gue pake. Tapi jangan dihabisin. Mau buat tugas," ucap Gadis yang hanya dijawab ok tanpa suara oleh Ana.
Dengan kertas hvs putih yang Gadis kasih, Ana pun mulai menggoreskan tinta kuning. Menuliskan sebuah cerita yang semoga membuat Alan paham.
~•~
Untuk kekasihku, Alan.
Ingin menebak jika dari Ana, namun Alan ragu apakah mereka masih sepasang kekasih. Saat dibuka, kertas putih itu penuh dengan goresan pulpen warna kuning yang sedikit menyakitkan mata. Lagi-lagi warna kuning itu mengingatkannya pada Ana. Tapi apa benar Ana menulis surat untuknya?
*Ada sebuah cerita tentang seekor itik yang terus berjalan namun tak kunjung menemukan sebuah cahaya. Dia seperti terkurung pada kegelepan. Lama kelamaan itik itu sangat suka akan kegelapan yang kian lama makin mencekam. Hingga suatu hari dia melihat sekelibat cahaya. Karena sangking nyamannya dengan kegelapan, itik itu tidak mendekati sekilabat cahaya melainkan bersenang-senang dikegelapan.
Melihat itik yang tidak tertarik akannya, cahaya itu mendekat. Berusaha membuat sang itik tertarik. Saat sudah dekat cahaya itu memperkenalkan diri, namanya Alan. Tapi itik sama sekali tak tertarik, dia tidak butuh cahaya. Kegelapan sudah membuatnya tenang. Untuk apa cahaya? batin itik berkata begitu.
Cahaya bernama Alan itu terus-terusan mencoba menarik perhatian itik dengan berbagai cara. Usaha cahaya itu akhirnya membuahkan hasil. Itik mulai tertarik dan tidak masalah jika cahaya itu selalu didekatnya. Karena yang itik rasakan begitu hangat kala cahaya itu didekatnya. Makin lama, itik berubah pikiran. Dia ingin cahaya itu tetap disisinya. Bukan hanya sebagai penerang dan sumber kehangatan, tapi juga sebagai teman untuk itik menjalani hidup sampai akhir.
Karena itu itik memberinya hadiah. Sebuah nama untuk cahaya yang begitu berarti. Kunang-kunang, itu hadiah dari itik.
Setelah itu apa kamu tahu bagaimana kelanjutan ceritanya*?
Ternyata Alan memang tidak sedang bermimpi. Ini benar-benar surat dari Ana. Entah kenapa mengetahui fakta jika Ana menulis surat untuknya terasa begitu lucu. Bahkan, dengan telitinya Ana menulis surat ini begitu rapi ditambah sebuah gambar itik dan kunang-kunang dipojok kanan bawah surat. Sangat-sangat lucu dan menyentuh hati.
Alan jadi penasaran dan ingin bertanya bagaimana kelanjutan cerita itik dan kunang-kunang kepada Ana.
~•~