
Sorry banget yah gue kemarin gue nggak update. Sumpah ini bukan maunya gue, tapi maklum lah sebagai mahasiswa juga masih punya tanggung jawab dengan tugas walaupun libur karena covid-19. Oh iya gue sangat prihatin dengan yang sedang terjadi, yuk sama-sama kita doain saudara-saudara kita diluar sana semoga tetap aman dan yang sedang sakit dapat diangkat penyakitnya 🙏🙏🙏
Nggak perlu lama-lama kita kembali ke topik cekidoooot
_______________________________________________
Alana yang ditarik Dimas dibawa kebelakang kampus, tepat dibawah pohon tempat dirinya kerap menenangkan dirinya dulu. Hanya saja sudah beberapa bulan dirinya tak kesini. Kalian tau lah sejak mengenal Alana, dirinya tak pernah lagi kesini.
Alana yang merasa canggung berada ditempat ini karena setelah sampai Dimas tak membuka suara, dia hanya terdiam sambil menutup mata, entah apa yang ada dipikirannya. Alana pun memutuskan angkat bicara untuk mengakhiri rasa canggungnya.
"Kak Dimas nggak ngerasa kelewatan gitu?" Tanya Alana hati-hati, dirinya takut akan menyinggung perasaan Dimas
"Kelewatan gimana?" Tanyanya bingung
"Itu tadi dikantin" Jawabnya
"Ohh maksud lo omongan gue ke Jesi?" Akhirnya Dimas mengerti arah pembicaraan gadis ini.
"Ternyata lo nggak berubah yah" Seru Dimas suara sangat pelan namun masih dapat didengar Alana
"Maksud Kak Dimas apa?" Tanya Alana bingung
"Nggak ada Al" Elaknya
"Nggak tadi gue denger Kak Dimas bilang sesuatu"
"Kamu salah denger Alana, udah nggak usah dibahas"
Alana pun memutuskan percaya omongan Dimas walaupun ada kecurigaan dihatinya
"Maksudnya apa sih, gue nggak berubah gimana? Kenapa omongan Kak Dimas seolah-olah dia udah kenal gue sebelum ini" Alana membatin
Dimas yang sadar bahwa Alana tak mempercayainya berusaha mengalihkan pembicaraan. Dimas pun meraih kedua pipi Alana dan berucap "Alana gue nggak kelewatan, gue cuman nggak suka kalau ada orang yang mau jahatin lo. Siapapun yang berani gangguin lo bakal berhadapan sama gue"
Alana menelan salivanya dengan susah payah. Posisi ini sangat membuat Alana tidak nyaman dan Alana semakin terkejut karena Dimas yang tiba-tiba saja mengecup dahinya. Ntahlah Alana tak menolak perlakuan Dimas, bahkan dirinya merasa bahwa ada rasa rindu yang sangat dalam bahkan tanpa sadar Alana memeluk Dimas.
Cukup lama Alana memeluk Dimas sampai air mata menetes dari sudut matanya. Dimas yang merasa bajunya basah langsung melihat wajah Alana.
Alana yang sadar langsung melap air matanya "Maaf kak, gue juga nggak tau kenapa bisa nangis kyak gini" Serunya jujur
Dimas yang bingung dengan Alana tentu saja menyembunyikan pertanyaan diotak untuk menenangkan Alana "Iya nggak papa kok"
.
.
.
Dilain sisi Sinta yang memang tak bisa diam dan khawatir dengan Alana memutuskan menghubungi sahabatnya itu.
To : Alana
Lo dimana Al?
Lo nggak papakan?
Lo masih sama kak Dimas?
Jawab dong Alana jangan buat gue khawatir gini!!!
"Kamu pasti lagi menghubungi Alana kan" Seru Kelvin yang menyadari kelakuan Sinta
"Nggak kok" Bohongnya
"Kamu nggak usah bohong sayang, kalau iya juga nggak papa kok" Seru kelvin sambil mengelus rambut kekasihnya
"I... iya, aku cuman khawatir sama Alana" Jujur Sinta
"Udah ada balasan belum?" Tanya lagi namun hanya mendapat gelengan dari gadis itu
"Sabar yah ntar juga dapet balasan"
"Iya vin, makasih yah udah ada buat aku"
"Udah kewajiban aku sayang"
.
.
.
Alana yang sadar dengan notif ponselnya terus berbunyi memutuskan membuka pesan yang ternyata dari sini. Setitik senyum terbit dari wajahnya membaca pesan Sinta
From : Sinta
Lo dimana Al?
Lo nggak papakan?
Lo masih sama kak Dimas?
Jawab dong Alana jangan buat gue khawatir gini!!!
"Lo kenapa senyum?" Tanya Dimas yang menyadari perubahan Alana setelah membuka pesannya
"Nggak papa kok kak. Ini si Sinta khawatir" Jawabnya tersenyum lebar kemudian mengetuk sesuatu di ponselnya
To : Sinta
Iya sayang gue oke kok, gue lagi bareng Kak Dimas.
Nggak usah khawatir berlebihan oke, gue nggak papa
send
"Lo deket banget yah sama Sinta dibanding yang lain" Tanya Dimas penasaran karena dia memang tak tau mengenai Sinta
"Jadi Sinta ini temen yang dulu sering lo ceritain yah" Batin Dimas
Alana memang dulu sering menceritakan pasal sahabat kecilnya namun tak pernah menyebut gadis itu dengan nama asli selalu julukan "tomboy" dan itu yang Dimas ketahui
"Cuman waktu SMP sinta pindah ke luar negeri ikut orang tuanya terus balik pas gue ke.... " Omongan Alana tergantung, Alana menimbang apakah harus bercerita atau tidak
"Ke apaan Al?" Tanya Dimas was-was, dirinya memang penasaran apa yang terjadi waktu itu
"Ke jenjang SMA" Putus Alana menyembunyikan hal yang menimpanya dulu
Secercah kekecewaan muncul dari wajah Dimas namun ditutupnya "Oh gitu" Jawabnya
.
.
.
Sinta yang melihat balasan Alana pun tersenyum. Seketika rasa khawatir dihatinya lenyap
"Dia nggak papa kak" Serunya
"Syukur deh, Alana udah balas?"
"Iya" Jawabnya sambil bergelantungan manja ke tangan Kelvin
"Manjanya mulai deh" Seru Kelvin mengacak poni Sinta
"Ihhh jangan diberantakin" Protes Sinta namun Kelvin hanya tertawa
Tiba-tiba 2 orang temannya datang menghampiri mejanya
"Uh sayang" Goda Aldo sambil mencontohkan gerakan Sinta dengan memeluk Alfin. Alfin pun membalas dengan mengacak rambut Sinta
Sinta yang merasa dirinya tengah digoda oleh dua seniornya ini tentu saja menyembunyikan wajahnya
"Huh Pacaran mulu" Seru Alfin
"Syirik aja lo berdua" Seru Kelvin
"Makanya sana cari pacar. Jangan kayak homo jalan berduaan" Lanjutnya sambil tertawa terbahak dan Sinta pun ikut tertawa
"Sialan lo yah" Protes Aldo
"Emang kurang ajar nih si Kelvin. udah pacaran depan umum, sekarang katain kita berdua homo" Seru Alfin menggebu-gebu, tak terima dengan pernyataan Kelvin
"Makanya nggak usah gangguin orang, mending lo berdua cabut. Ganggu aja!" Seru Kelvin tak merasa bersalah
"Cabut yuu ada bucin takut nih ntar berubah jadi macan lagi kalau diganggu" Ejek Aldo kemudian berlari disusul oleh Alfin
"Sialan yah lo berdua" Teriak Kelvin sambil melempar kacang yang ada ditangannya namun tak mengenai kedua orang itu
"Nggak kena hahahah" Ejek mereka berdua lagi kemudian benar-benar pergi
Kelvin yang tak terima tentu saja berduri hendak mengejar kedua temannya namun tangannya ditahan oleh Sinta.
"Udah yah nggak usah dikejar, mereka juga palingan becanda doang" Seru Sinta namun Kelvin masih berdiri
"Temenin aku yah" Lanjutnya
"Iya deh. Kamu nggak tersinggung kan sama omongan mereka" Kelvin pun duduk kembali
"Nggak kok lagian mereka kan sahabat-sahabat kamu, dan aku tau kali yang becandaan dengan enggak" Terang Sinta
.
.
.
Dilain tempat Ridho yang baru saja sampai pekarangan rumah Ika langsung diajak untuk masuk ke dalam rumah itu
"Yuk Do, masuk" Ajaknya
"Nggak usah deh Ka, gue mau balik aja lagian nyokap gue tadi chat katanya gue diminta anterin belanja" Jawab Ridho
"Ya udah deh, gue masuk duluan" Ika pun keluar dari mobil milik Ridho itu
Setelah Ridho melihat Ika telah memasuki Rumah, dirinya kemudian menancap gas meninggalkan tempat itu dan tujuannya mencari Alana. Ridho memang berbohong akan mengantarkan mamanya. Ntahlah kenapa Ridho bisa berbohong padahalkan kalau jujur juga Ika nggak mungkin marah, toh mereka nggak memiliki hubungan apapun.
.
.
.
.
.
**Akhirnya gue hadir lagi nih sama meraka.
Oh iya mana nih tim #DirumahAja,
Dan tim #BiarKamiYangaKerja
Gue pengen tau nih, soalnya gue tim #DirumahAja, kalau kalian gimana?
Yuk tinggalin komentar kalian.
Jangan lupa juga untuk like yah kalau suka dan berikan rating kalian seberapa sukanya kalian dengan novel Alana
See youu guys 🙋🙋🙋**