Alana

Alana
Bab 58: Adik Kakak?



Karena bakatnya yang suka menguping pembicaraan, Ana jadi tahu jika malam ini dia akan dibawa ke rumah orang tua angkat. Mendengar itu Ana yang baru berumur 9 tahun merasa takut. Dirinya tidak ingin pergi dari panti yang sudah ia tinggali sejak kecil.


Lantas saja tanpa berpikir, Ana berjalan keluar panti hingga bertemu pada jalan raya yang begitu besar. Ini sungguh tempat yang asing bagi Ana. Melihat banyaknya kendaraan yang lalu lalang, Ana pun terus berlari. Hingga kakinya tersandung oleh sebuah batu cukup besar yang mengakibatkan dirinya terjatuh. Ana pun menangis kesakitan juga ketakutan.


"Yaampun, adik gapapa?" tanya seorang laki-laki berumur 28 tahun yang mendekati Ana. Dia berjongkok dan melihat lutut anak itu berdarah. Segera Pram membawa anak itu menepi disebuah warung untuk mengobati luka pada lutut Ana.


Sudah berkali-kali Pram menanyai dimana rumah anak itu. Namun Ana tak kunjung menjawab karena ketakutan masih menghantuinya. Pram pun berusaha menenangkan tangis yang kian mulai reda dengan mengelus puncak kepala Ana. Melihat Ana dia jadi ingat akan peri kecilnya yang mungkin kini sudah sebesar anak yang ia tolong.


"Nama adik siapa?"


Ana menghapus air mata dengan tangannya dan menatap Pram. Kala menatap mata itu, rasa takut Ana mulai hilang. Yang ada Ana merasa aman, nyaman, hingga tak sadar ia memeluk Pram. Lalu melanjutkan tangisnya mengingat hal yang membuatnya kabur dari Panti.


Pram pun membiarkan anak itu memeluknya sambil terus mengelus puncak kepala agar untuk menenangkan. Ada rasa aneh kala anak itu memeluknya. Seperti ada sebuah rasa yang sudah lama tidak ia rasakan dan sekarang kembali. "Om, harus panggil anak cantik ini dengan nama apa? Puteri? Princess? Peri? Atau Cantik?"


"Nama aku Anandya Pramasti. Biasa dipanggil Ana."


Degg!!


~•~


Tadi malam Pram mengantar anak kecil yang mengaku namanya Anandya Pramasti ke sebuah panti. Namanya sudah membuat ia ingat akan kejadian 9 tahun lalu. Hingga dirinya merasa yakin kala anak itu membawanya ke panti.


Sepertinya dia tidak salah. Anak kecil yang ia tolong adalah peri kecil yang pernah ia tinggal disebuah panti 9 tahun yang lalu. Pram tidak menyangka anak itu sudah tumbuh besar hingga bisa memeluknya.


Memang dia belum siap untuk menjadi seorang ayah bagi peri kecilnya. Namun entah kenapa rasa ingin tahu membuatnya kembali pada panti itu. "Dulu, saya pernah tinggalin peri kecil saya yang baru umur 1 bulan disebuah keranjang dengan selimut kuning. Saya taruh keranjang itu didepan pintu panti. Sekarang umurnya pasti sudah seperti Ana."


"Saya sudah bilang kalau Ana itu anak saya. 9 tahun yang lalu saya juga enggak pernah menemukan keranjang berisi peri kecil milik anda."


~•~


Menghabiskan sore hari dengan makan es krim 4 lapis dengan Alan saja sudah membuat Ana senang. Entah kenapa Alan selalu hadir diwaktu yang tepat untuk membuatnya tersenyum kala mood sedang buruk.


"Sengaja tadi beli banyak, biar sekalian buat adik-adik kamu."


"Anak-anak tuh sukanya susu, bukan es krim."


"Yah, kamu enggak bilang."


"Gapapa. Mereka juga suka, kok. Makasih, yah."


"Sebenarnya bukan saya yang beliin, tapi Pram. Dia suruh saya antar es krim ke sini."


Mendengar nama Pram, Ana jadi teringat akan sebuah fakta yang masih belum bisa ia percaya. Ada beberapa hal yang membuat Ana tak ingin mempercayai fakta itu. Pertama, dia sangat marah akan orang tua yang meninggalkannya disini. Kedua, dia begitu syok dengan fakta itu. Ketiga, dia tidak bisa menerima jika faktanya dirinya dengan Alan adalah adik kakak. Apakah Alan tahu akan fakta itu?


"Alan," panggil Ana membuat Alan menoleh. Melihat wajah Alan yang makan es krim dengan menatapnya penuh kasih, membuat Ana ragu untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Kemarin ada orang yang ngaku kalau dia orang tua aku," ucap Ana dengan raut wajah sedih.


"Wahhh. Bagus dong."


Akankah Alan mengucap kalimat yang sama kala ia tahu jika mereka adalah adik kakak?


~•~