
"Nggak! Jangan hiksss. Kamu nggak boleh ninggalin aku hikss"
"Huhhh huhhh huhhh... Kenapa aku bisa mimpi seperti tadi? Siapa bocah laki-laki itu? Kenapa semuanya terasa nyata?" Ucapnya pada diri sendiri
Alana kembali terngiang dengan mimpinya barusan. Semua terasa nyata seperti hal itu pernah terjadi sebelumnya tapi kenapa Alana tak mengingat apapun. Dimimpinya dia melihat seorang anak yang berbicara padanya hendak pergi meninggalkannya namun wajah bocah itu tak terlihat dengan jelas. Menurut Alana ini mimpi yang sangat aneh.
.
.
.
Alana yang baru saja menyelesaikan kelasnya langsung mencari keberadaan teman-temannya yang dia ketahui tengah berada di kantin.
"Sin, yang lain pada kemana?" Tanya Alana saat dia menemukan Sinta seorang diri saat ini
"Tuh, sama pada pesan makanan" Jawabnya sambil menunjuk segerombolan orang yang hendak memesan makanan
"Oh, gue kesana bentar yah. Mau pesen juga laper nih" Alana pun meninggalkan Sinta setelah mendapat persetujuan dari gadis berambut sebahu ini.
Setelah mengerti Alana hendak kembali ke tempat teman-temannya namun kali ini dia sangat tidak waspada.
"Jes jes tuh Alana udah menuju ke sini" Seru Vita sambil menoel tangan Jesi
"Eh, kalian mau pada ngapain?" Tanya Mitha yang bingung
"Udah lo diem aja. Buruan Jes udah deket tuh" Kata Vita menggebu-gebu
Jesi yang dari awal udah ngerencanain ini semua tentu saja mengerti maksud omongan Vita. Namun sayang hanya Mitha seorangdiri yang tak tau rencana mereka berdua. Langsung saja semakin Alana mendekati mereka, Jesi juga semakin siap dengan rencananya.
"Awwww" Teriak Alana yang saat itu hampir terjatuh namun ditangkap oleh Dimas
Dimas yang sudah ada sejak tadi dan tengah duduk bersama teman-temannya tentu saja memperhatikan gerak-gerik Alana sejak tadi. Sehingga saat Alana hampir terjatuh dirinya dengan sigap berlari untuk menangkapnya.
Untuk sekian detik baik Alana dan Dimas tak ada yang bergerak mereka saling tatap satu sama lain dengan posisi yang sama. Hingga mereka akhirnya sadar dan Dimas membantu Alana berdiri dengan benar.
"Lo nggak papa kan Al?" Tanyanya Khawatir
"Nggak papa kok kak makasih"
"Lo yah Jes, Seneng banget ngerjain anak orang" Bentak Dimas
"Apasih lo main bentak gue. Emang dianya aja yang jalan nggak pake mata" Bela Jesi pada dirinya sendiri
"Halah nggak usah ngeles deh lo. Gue liat semuanya"
"Emang lo ada bukti" Seru Jesi masih kekeh dirinya tak bersalah
"Iya Dim, lo nggak boleh main asal tuduh dong" Bela Vita
"Lo Diem yah! Gue nggak ngomong sama lo" Bentak nya yang ditujukan ke Vita. Vita yang melihat amarah Dimas pun akhirnya tak dapat berkutik
"Gue ingetin sekali lagi sama kalian yah. Alana tuh milik gue, gue nggak mau ada seorang dari kalian yang berani nyentuh dia, apalagi sampai nyakitin dia. Dan lo Jes ini peringatan terakhir kalinya NGERTI LO!!!" Dimas kali ini benar-benar marah besar sampai tak ada yang berani untuk menenangkan baik itu temannya sendiri.
Dimas kemudian menarik Alana bersamanya. Dapat terlihat jelas ekspresi emosi yang ditampakkan Jesi dirinya sampai ngehentak-hentakkan kaki dan mengacak rambutnya frustasi. Jesi sangat malu dibentak didepan umum oleh seorang Dimas.
.
.
.
Dilain sisi Ridho yang saat ini baru saja memasuki area kantin mendapati pemandangan yang sangat menyayat hatinya. Dirinya sampai tak kuasa melihat itu semua, hingga akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan kantin.
Ika yang melihat kepergian Ridho langsung saja menyusulnya dirinya sangat tau bahwa Ridho saat ini sangat sakit hati. Oleh karena itu Ika memutuskan untuk menghibur Ridho
"Do tungguin gue" Teriak Ika dari belakang.
Ridho yang mendengar namanya disebut tentu saja menghentikan langkahnya. Ika yang melihat itu langsung berjalan mendekati Ridho
"Apaan Ka" Tanyanya
"Nggak usah ngomong disini yah, kita cari tempat buat nenangin hati lo" Sahut Ika
Ridho yang mengerti maksud Ika langsung mengangguk dan berjalan beriringan mencari tempat yang cocok untuk mereka berbincang.
.
.
.
Sinta yang melihat Dimas tengah membentak Jesi tentu saja hendak menghampiri mereka namun ada sebuah tangan yang menahan dirinya.
"Kamu jangan ikutan yah, udah ada Dimas yang nolongin Alana" Kata pria itu
"Iya aku tau sayang. Tapi kamu nggak ngelihat tuh si Dimas ada disana, Jesi dan temannya nggak bakal bisa gangguin Alana. Percaya sama aku yah" Jelas Kelvin. Sebenarnya dia bukan mau melarang Sinta menolong Alana, hanya saja bagi Kelvin selama Dimas ada disana semua masalah terselesaikan tanpa bantuan dari mereka.
"Iya deh" Putus Sinta kemudian kembali duduk memperhatikan dari jauh dengan didampingi Kelvin.
"Sayang mereka mau kemana" Tunjuk Sinta yang melihat Dimas menarik Alana meninggalkan area itu
"Udah palingan Dimas mau nenangin emosinya" Jawab Kelvin santai
"Terus Alana" Seru Sinta dirinya masih khawatir
"Tenang aja, gue tau Dimas. Dia pasti jagain Alana kok. Udah yah kamu temenin aku makan aja" Jelas Kelvin santai, dia tau Dimas tak mungkin melakukan apapun terhadap Alana dan itu sudah jelas.
.
.
.
"Kita duduk disini aja yah" Pinta Sinta setelah mereka berada di tempat yang cukup sepi sehingga tak ada yang akan mendengar pembicaraan mereka. Dan itu disetujui oleh Ridho
"Jadi lo mau cerita nggak sama gue?" Tanya Ika membuka pembicaraan.
"Emmm" Sahut Ridho kebingungan musti cerita atau tidak
"Udah santai aja lo bisa percaya kok sama gue" Seru Ika yang melihat ada keraguan dari wajah Ridho
"Oke. Jujur gue nggak bisa lihat Alana sama Dimas, lo liat sendiri kan tadi sorot mata Alana seperti mengartikan bahwa cintanya ke Dimas tuh dalem banget dan bahkan gue mungkin nggak bisa masuk didalamnya. Gue ngerasa semua yang udah gue lakuin selama ini tuh sia-sia tau nggak sih lo" Cerita Ridho menggebu-gebu
"Do lo sayang nggak sama Alana?" Tanya Ika lembut sambil menenangkan Ridho
"Kan lo juga tau"
"Ya udah kalau lo sayang, mesti lo perjuangin dia dong bukan malah balik belakang terus pergi"
"Gue bukannya nggak mau perjuangin Alana tapi lo liat sendiri kan tadi mereka pelukan didepan umum. Emang gue nggak sakit lihat itu semua"
"Yang lo liat tadi tuh nggak sepenuhnya bener"
"Maksud lo?" Tanyanya heran
"Jadi tuh tadi Alana dikerjain sama si Jesi terus Dimas nolongin deh" Jelasnya enteng
"Terus Alana nggak kenapa-napakan?" Tanyanya mulai merasa bersalah karena tak ada saat Alana butuh
"Gue juga nggak tau, kan gue ngejar lo disini. Tapi gue yakin kok Alana pasti baik-baik aja"
"Oh iya lo kan cowok, lo nggak boleh menye-menye soal perasaan lo. Persoalan Alana terima dengan nggak tuh urusan belakangan yang jelas sekarang lo mesti ungkapin semuanya! Jangan sampai diduluin, ntar nyesal lo"
"Hmmm gue pikirin dulu deh saran lo. Tapi thanks yah"
"Siap" Jawab Ika
"Oh iya nggak ada gitu hadiah buat gue" Lanjutnya dengan menaik turunkan sebelah alisnya
"Hah hadiah apaan?"
"Kan gue udah dengerin curhatan lo nih. Jadi lo mesti kasih gue hadiah"
"Hmm oke deh, lo maunya apa?
"Traktir gue makan yah tapi nggak disini , gue laper nih tadikan gue harusnya makan dikantin tapi karna ngejar lo. Gue nggak jadi makan deh"
Ridho terdiam sejenak untuk berpikir hingga akhirnya dia menyetujui permintaan Ika "Oke deh" Jawab Ridho
Mereka berdua pun berjalan ke arah cafe dekat kampus untuk makan siang. Sesampainya disana Ika dan Ridho mulai memesan makanan. Selagi menunggu makanan yang baru saja dipesan, mereka berdua mulai bertukar cerita baik itu tentang kesukaan, hoby, idola dan masih banyak lagi hal yang mereka bahas.
.
.
.
.
.
**Akhirnya selesai juga, gimana kalian setuju nggak dengan chapter ini?
Silahkan tinggalkan komentar, like kalau suka dan berikan rating kalian seberapa sukanya kalian dengan novel Alana
❤❤❤❤**