Alana

Alana
Bab 51: Terima Kasih



Perut Ana berbunyi tanda jika ia lapar. Selama 5 menit berdebat dengan pikiran, akhirnya tubuh Ana bergerak menuju kantin yang penuh sesak. Untuk sampai di depan penjual soto ayam saja Ana harus terdorong ke kanan dan ke kiri. Hingga akhirnya Ana menggunakan jurus kekerasannya yang langsung membuat siswa-siswi lain memberinya jalan. Maksud Ana bukan kekerasan fisik, kekerasan saat menimbulkan suara. Ana tidak habis pikir banyak adik kelas yang takut akan suara yang ia buat seolah senior sedang melabrak.


“Soto ayam 1.”


“Soto ayam 1.”


Karena ucapan mereka sama, keduanya saling menatap hingga Ana yang menang karena pelaku satunya langsung mengalihkan pandangan. Nyatanya berdiri dengan jarak 6 cm dengan Alan setelah 1 minggu lamanya membuat tubuhnya kaku hingga panas dingin. Besar sekali keinginan Ana untuk menyapa. Namun dari gestur Alan yang tidak nyaman membuat nyalinya menciut.


“Pak, saya enggak jadi.” Kepergian Alan membuatnya menjadi pusat perhatian dua bola mata Ana. Hingga kepala gadis itu hampir berputar 360° hanya untuk melihat badan Alan yang menghilang dari kerumunan.


Tenggorokkan Ana terasa kering hingga membuatnya tidak bisa meneriaki nama Alan agar cowok itu kembali dan bersedia menyuapinya. Dipastikan jika Alan yang menyuapi, lidah Ana tidak akan terbakar. Kuah soto juga tak akan berani menjadi noda diwajahnya.


Mengingat kenangan itu membuat Ana menjadi sedih hingga nafsu makannya hilang. Sekarang, Ana hanya butuh Alan.


~•~


Tangan Alan masih tidak bisa diam. Keringat terus keluar meski terus Alan hapus dengan tisu. Hampir saja tangan itu akan menggenggam tangan kecil milik Ana. Jujur, saat Ana menatapnya, Alan ingin sekali menarik gadis itu dalam pelukannya untuk waktu yang cukup lama. Mengingat tatapan itu membuatnya ingin melupakan rasa ragu ini dan mengatakan pada Ana “tolong buang rasa ragu saya!”


Jarak yang telah dia buat juga membuatnya tersiksa. Dia ingin melangkah mendekat menarik tangan Ana agar kembali padanya. Namun rasa ragu masih menyelimutinya. Apalagi ucapan Ana yang terus-terusan terngiang ditelinganya.


Satu minggu berdebat dengan diri sendiri untuk mencari jawaban apakah ia harus maju atau mundur. Alan ingin memilih mundur karena ucapan Ana terakhir kali agar gadis itu tidak merasa malu. Tetapi melihat Ana yang terus-terusan menunggunya datang membuatnya ingin memilih maju. Pada akhirnya kedua jawaban itu malah membuatnya berada diambang penyiksaan.


“Jangan pernah pilih jawaban kalau kamu masih ragu.” Pesan Papanya membuat Alan harus bertahan diambang penyiksaan hingga rasa ragu itu hilang dan dia bisa memilih jawaban yang tepat.


~•~


Postingan yang Gadis tunjukkan membuatnya ingat akan kejadian tadi saat di kantin. Video dengan durasi 15 detik yang terlihat sangat amatir itu memperlihatkan dirinya dan Alan yang tidak saling sapa layaknya orang tidak kenal. Enggak ada namanya pasangan tanpa permasalahan. Karena manusia memang tak luput dari salah. Meski kami nggak tahu apa yang terjadi pada kalian, kami alanalovers akan tetap berdoa dan menunggu kabar baik dari kalian. 1 minggu tanpa asupan kemesraaan kalian membuat kami bingung harus melakukan apa. Dan jika masalah kalian ada sangkut pautnya dengan akun ini, kami mohon maaf. Tidak ada maksud untuk membuat akun ini. Kami hanya senang saja melihat kedekatan kalian dan berharap selamanya kalian bersama. Cepat berbaikan, yah.


Ana menutup mulutnya setelah membaca caption dari postingan itu. Asumsinya tentang akun itu terlalu dangkal. Seharusnya saat ia melihat sisi negatif maka ia harus mencari sisi positif.


“Jangan ngomong sembarangan,” kata Ana sambil memukul lengan Gisel.


“Misal, An. Masih misal.”


“Enggak akan pisah!”


“Ya, deh. Ntar kalau lo udah punya anak bisa lihatin momen uwu kalian ke anak sampai cucut cicit. Puas?”


“Punya anak sama siapa dulu?”


“Sama Alan-lah.”


Jawaban Gadis membuat Ana tersenyum dan memberi kedua jempolnya. Sekarang Ana mengerti. Bukan Alan yang seharusnya datang. Tapi dia yang harus datang pada Alan dan berkata “jangan buat jarak kita makin jauh!”


Berkat akun alanalovers Ana bisa menyadari jika ini kesalahannya. Dia sendiri yang membuat dirinya tersiksa akan jarak yang dibuat oleh Alan. Karena itu Ana mengucapkan “terima kasih.”


“Kalau mau komen jangan pake akun gue,” kata Gadis saat Ana sudah mengirimkan komen dengan 2 kata itu.


“Trus pake akun sapa? Gue kan enggak punya instagram.”


“Ya setidaknya lo kasih tuh keterangan kalau lo yang ucapin. Kalau gitu adminnya mikir gue gila.”


“Gue enggak paham. Lo ubah sendiri,” kata Ana mengembalikan handphone Gadis lalu pergi keluar kamar.


“Dasar lo. Mangkannya main instagram dong!”


~•~