Alana

Alana
Chapter 21



"Sayang kamu jangan terlalu kelelahan ntar tumbang" Sahut Selvi yang melihat Dimas belakangan ini tak memiliki istirahat sama sekali.


"Bunda tenang aja yah abang kuat kok" Jawabnya tersenyum untuk menenangkan Selvi. Sebenarnya memang dirinya sudah tak kuat hanya sebagai seorang yang saat ini tempat bersandar Bundanya dirinya tak mungkin terlihat lemah.


#FlasbackOff


"Jadi beberapa hari ini semua udah berjalan normal. Ayah udah bangun dari komanya, produk yang diluncurkan sukses dan para investor kembali lagi ke perusahaan. Makanya beberapa hari yang lalu gue izin ke bokap nyokap untuk balik ke Jakarta nemuin lo" Terangnya jujur.


Alana yang mendengar itu semua tak dapat menyembunyikan semburan merah di pipinya. Rasa bahagia dan malu bercampur menjadi satu.


"K... kok nemuin gue sih kak" Sahutnya kikuk yang dapat ditangkap Dimas


"Hahaha kok mukanya kek gitu"


"Ihh nyebelin banget sih" Sahut Alana kesal untuk menutupi malunya


"Eh kok salting? cieee" Godanya lagi


"Tau ah gue mau pulang" Ngambek Alana


kemudian berdiri hendak beranjak namun tangannya dicegat Dimas


"Jangan ngambek dong. Maaf yah becanda kok" Pinta Alana


"Nggak" Jawabnya acuh


"Plisss yah. Emang nggak kangen sama gue?"


Alana terdiam kemudian kembali duduk ditempat semula.


"Jadi gimana kondisi om sekarang" Tanya Alana mengalihkan pembicaraan


"Alhamdulillah udah baik kok. Terima kasih yah"


"Buat apa kak?"


"Lo udah percaya sama gue" Dimas memberikan senyuman tulus miliknya namun luntur setelah mendengar penuturan Alana


"Idih pede banget" Alana dapat melihat wajah Dimas yang berubah. Ini sangat lucu menurutnya hingga tawa Alana tak bisa tertahan dan menggelegar. Dimas yang melihat itu spontan membalas perlakuan Alana dengan menggelitik gadis itu hingga meringis.


"Hahahaha udah hahahha udah... Maaf hahaha maaf nggak diulangin hahaha" Mohon Alana yang tak tahan digelitik hingga setetes air mata keluar


"Nggak mau lo berani ngerjain gue" Sahut Dimas tetap menggelitik Alana


"Hahaha beneran udah hahah plisss"


Dimas yang merasa kasihan akhirnya menghentikan aksinya


Mereka pun mulai berbincang santai seputar kesibukan Alana beberapa waktu belakangan ini hingga kejadian Alana bisa menggantikan dirinya mengajar anak-anak jalanan itu.


Alana mulai menceritakan semua dari awal semenjak dirinya masuk rumah sakit sampai dapat bertemu anak-anak itu. Hanya saja kali ini Alana tak membahas penyebab dia kehujanan baginya itu tidak penting atau lebih tepatnya Alana takut menghadapi kenyataan kalau yang ada dipikiran benar. Dirinya sudah bahagia dengan kehadiran Dimas saat ini. Saking asiknya mereka bertukar cerita ternyata hari sudah semakin malam terbukti dengan bunyi suara perut Alana yang sedang berdemo. Spontan Alana merutuki perutnya yang membuat malu dihadapan Dimas. Dimas yang mendengar itu hanya tersenyum dan mengajak Alana ke dapur.


"Kita mau ngapain kesini kak?" Tanya Alana bingung


"Gue bakal masakin lo sesuatu" Jawabnya enteng dan mendapat pandangan tak percaya dari Alana


"Emang bisa?" Tanya Alana mengutarakan isi pikirannya


"Lo duduk aja terus liat sendiri"


"Ah gue nggak percaya ntar rasanya aneh lagi. Sini biar gue aja yang masak" Minta Alana


"Nggak usah ini sebagai permintaan maaf gue karna udah ninggalin lo"


Alana yang saat ini memperhatikan bagaimana Dimas memasak sangat kagum. Ternyata pria jutek ini dapat memasak bahkan lebih rapih dari dirinya walaupun rasanya belum Alana ketahui.


Selesai memasak, Dimas langsung menghidangkan 2 porsi pasta yang dari tampilannya saja sudah menggoda selera Alana


"Dicobain Al"


Alana langsung saja membawa sesuap pasta yang baru saja Dimas masak dan Alana benar-benar terkejut. Masakan Dimas sangat enak bahkan rasanya tak kalah dengan restoran mewah yang biasa Alana kunjungi.


Alana yang baru saja turun dari mobil Dimas langsung memasuki pekarangan rumahnya.


Dilain sisi Ridho sangat khawatir, sejak sore dirinya menghubungi Alana namun sang empuh tak ada kabar hingga malam. Ntah sudah berapa puluh kali dia menelfon tapi tak diangkat dan semua pesannya tak ada yang dibalas. Ridho bahkan sempat menghubungi semua orang yang berhubungan dengan Alana namun tak ada yang mengetahui keberadaan gadis itu.


"Al, kamu kemana aja?" Tanya Mia yang mendapati Alana baru saja memasuki rumah


"Maaf Bunda tadi Alana nggak sengaja ketemu Dimas di taman. Terus kita ngobrol ampe lupa waktu" Terang Alana


"Iya nggak papa. Oh iya tadi Ridho ke rumah nyariin kamu"


"Aduh Alana lupa ngabarin Ridho" Alana menepuk jidatnya teringat janjinya dengan Ridho tadi siang


"Ya udah kamu ganti baju dulu terus ngabarin Ridho. Kasian dia nyariin kamu tadi"


"Iya mah"


Alana pun beranjak meninggalkan Mia yang melanjutkan menonton sinetron kesukaannya. Maklum ibu-ibu kerjaannya nonton sinetron.


Selesai berganti pakaian Alana langsung meraih ponselnya ternyata ada 40 panggilan tak terjawab, 25 pesan yang belum dibaca dan semua itu dari Ridho. Alana benar-benar terkejut setelah melihat ternyata handphonenya memang berada dimode silent, pantas saja Alana tak mendengar panggilan dari Ridho.


Alana akhirnya memutuskan mendial nomor Ridho. Untuk sekian detik hanya terdengar bunyi nsp yang Ridho pasang


"Hallo Alana lo nggak papa kan" Tanya Ridho langsung. Alana sadar bahwa saat ini Ridho benar-benar Khawatir kepadanya.


"Iya Do. Gue nggak papa kok, maaf yah tadi gue lupa ngabarin lo biar nggak jemput" Sahut Alana merasa bersalah.


"Emang lo abis kemana aja kok nggak ngejawab telfon gue?"


"I... Itu anu" Jawab Alana gugup. Sebenarnya pertanyaan ini sangat dihindari Alana. Dirinya bingung harus menjawab apa. Alana takut jujur dan menyakiti Ridho.


"Anu apa sih Al. Gue nggak ngerti"


"Anu itu gue ketemu teman lama terus ke Rumahnya buat ngobrol" Jawab Alana jujur. Dirinya memang tidak berbohong kan soal ketemu temannya dan ke rumah orang itu untuk mengobrol walaupun Alana tidak mengatakan orang itu adalah Dimas.


"Oh ya udah lain kali kamu kalau ada apa-apa kabarin gue. Biar nggak panik gini" Putus Ridho berusaha mempercayai omongan Alana. Walaupun dia sadar ada yang janggal


"Iya Do maaf yah. Gue matiin yah udah mau tidur soalnya"


"Oke happy nice dream"


Alana kemudian menaruh ponselnya di meja samping tempat tidurnya namun saat dirinya hendak memasuki alam bawah sadarnya terdengar bunyi notif.


From : Dimas 😉


Gue udah nyampe rumah


To : Dimas 😉


Alhamdulillah


Ya udah istirahat gih


From : Dimas 😉


Iya. Mimpi yang indah cantik


Alana tak membalas pesan terakhir dari Dimas dirinya hanya melihat pesan terakhir itu sambil tersenyum sendirian.


Hari ini dia sangat bahagia setelah sekian lama tak bertemu. Pria idamannya itu kembali lagi untuk dirinya.


Alana bahkan sampai tak mengingat tentang Ridho yang sedang menunggu dirinya menerima kehadiran Ridho.


**Gue bingung deh mau nyatuin Dimas dan Alana. Terus Ridho mau digimanain?


Kasian aja gitu sama karekter dia yang udah selalu ada buat Alana


Jangan lupa like kalau kalian suka dan silahkan tinggalkan komentar kalian biar gue tau mau digimanain nih karakter Ridho**