Alana

Alana
Bab 57: Haruskah?



"Ana memang bukan anak saya!"


Mendengar Bu Sukmi yang mengatakan fakta pada Pram membuatnya terkejut. Boneka kunang-kunang yang awalnya ia dekap, kini jatuh. Ana tahu faktanya memang seperti itu, tapi mengapa Bu Sukmi mengingkari janji.


"ENGGAK! AKU BUKAN ANAKNYA PRAM!" teriak Ana membuat Pram dan Bu Sukmi menoleh padanya yang berdiri diambang pintu.


Bu Sukmi yang tidak mengira jika Ana mendengarnya lantas mendekat dan berusaha menenangkan. Tapi Ana menolak dan menyuruh untuk menjauh. Dia tahu jika ini pasti sulit untuk Ana menerimanya.


"Aku anaknya Bu Sukmi. Bukan anaknya Pram," ucap Ana lirih.


Melihat Ana yang menangis, Pram mendekati sang putri. Namun gadis itu menyuruh untuk Pram tetap diam. Pram tahu, ini pasti berat.


"Tapi itu memang faktanya Ana. Saya tidak mungkin mengada-ngada."


"ENGGAK! AKU BUKAN ANAK PRAM?"


~•~


Gadis membuka pintu kala mendengar ketukan dan panggilan dari luar. Kala ia buka ternyata Sukmi sedang berdiri di depan pintu. Menuruti perintah Sukmi, dia pun berjalan keluar kamar. Namun rasa penasaran begitu menyelimutinya hingga akhirnya dia menguping dibalik pintu.


"Ana. Ibu tahu, ini sulit untuk kamu. Tapi Ibu yakin Ana pasti bisa."


Beberapa saat tidak kunjung ada jawaban dari Ana. Gadis itu terus-terusan menyembunyikan dirinya dibalik selimut kuning. Hingga akhirnya dia membenarkan posisi tubuhnya untuk duduk. "Ibu, kan, udah janji buat bilang kalau aku ini anak Ibu."


Sukmi menarik kursi dari meja belajar Ana untuk duduk. "Ibu minta maaf. Tapi Ana..."


"Ana enggak boleh bicara kaya gitu. Iya, Ibu bakal tetap jadi Ibu kamu sampai kapan pun. Tapi faktanya Ibu memang bukan Ibu kandung kamu."


"Enggak. Ana enggak mau, Bu. Ibu bilang ke Pram biar Ana enggak nyusahin Ibu lagi?" tanya Ana yang kemudian berlutut di depan Sukmi sambil memegang tangan wanita paruh baya itu. "Ana janji. Ana bakal nurut sama Ibu. Ana bakal bersihin kamar sendiri, cuci baju sendiri, setrika baju sendiri, semua Ana lakuin sendiri. Ana gak bakal repotin Ibu. Ana juga bakal cuci piring setelah makan. Ana juga bakal..."


"Ibu ngaku kayak gitu bukan tanpa sebab," sela Sukmi. Wanita itu menyuruh Ana untuk duduk kembali ditempat tidur. Digenggamnya tangan Ana sambil menatap gadis itu dengan tatapan penuh kasih sayang. Dia ceritakan alasan mengapa dirinya mengatakan fakta pada Pram.


"Kamu ingat waktu kamu berusaha kabur dari Panti? Malam itu seorang pria nemuin kamu dan antar kamu pulang. Esoknya dia datang lagi. Dia cerita pernah ninggalin putrinya yang baru umur 1 bulan disebuah keranjang dengan selimut kuning di depan pintu panti. Waktu itu Ibu kaget dengar ceritanya yang begitu sama kala Ibu nemuin kamu. Tapi tadi malam Ibu sudah janji sama Ana, buat enggak ngasih kamu ke orangtua angkat. Jadi Ibu bilang kalau kamu anak Ibu dan Ibu bilang enggak pernah nemu bayi itu. Sejak saat itu dia jadi donatur panti disini. Dia sering cariin kamu, tapi Ibu bilang kalau kamu anaknya introvert. Enggak bisa ketemu sama orang yang enggak dikenal. Kamu ingat waktu pertama kali kamu lihat ada es krim 4 lapis di kulkas?"


Ana mengangguk. Kala itu ada 2 es krim 4 lapis di kulkas yang biasanya kosong tidak ada isinya. Sejak pertama kali mencoba es krim itu, Ana jatuh cinta hingga sering merengek meminta es krim 4 lapis pada Sukmi. Hingga akhirnya es krim itu menjadi favorit untuk penghilang mood Ana.


"Pram datang bawa es krim itu. Dia bawa banyak tapi Ibu disuruh sisahin 2 buat kamu. Katanya makan es krim 4 lapis itu, 1 aja enggak cukup."


"Terus, apalagi yang Ana enggak tahu?"


"Dari cerita itu kamu bisa simpulin kalau Pram ayah kamu. Pram pasti sudah cerita bagaimana dia ninggalin kamu disini. Satu lagi yang buat Ibu percaya."


"Apa?"


"Dia punya tes DNA. Hasilnya positif dia ayah kamu."


Setelah kepergian Sukmi, Ana terdiam. Terasa tidak ada kejanggalan dari semua yang baru saja dia dengar. Namun sulit untuknya mempercayai ini. Banyak hal yang tidak bisa diutarakan. Hingga Ana bingung, haruskah ia percaya akan semua itu?


~•~