Alana

Alana
Chapter 30



Dimas, Aldo, Kalvin, Vano dan Alfin sedari tadi tengah menyelesaikan tugas mereka masing-masing mulai dari menata lampu, mendekor taman, mengatur meja kursi serta memesan makanan yang disukai Alana, dan masih banyak yang lainnya.


"Gimana udah semuakan?" Tanya Dimas sambil melihat jam dipergelangan tangannya yang menunjukkan hampir tengah malam.


"Iya udah semua deh kayaknya" Sahut Vano sambil melihat pekerjaan teman-temannya.


"Good" Balas Dimas.


"Eits... Belum selesai semua" Tutur Aldo dengan santainya.


Mendengar penuturan Aldo, mereka bertanya-tanya dengan saling melempar pandangan satu sama lain. Dan menjawab dengan gelengan kepala tanda tak mengetahui.


"Apa yang belum Do? Kan semuanya juga udah selesai" Kelvin angkat bicara mewakili teman-temannya.


"Iya emang persiapan surprise nya udah semua. Tapi masa nggak ada yang mau dikasih surprise" Terang Aldo mengambil ponselnya dari saku celana.


"Astaga, bener kata Aldo hampir aja kita lupa hubungin Alana" Seru Alfin yang pertama kali mengerti maksud Aldo itu.


"Oh iya bener, gue juga nggak kepikiran tadi" Sahut Vano juga.


"Tumben lo bisa diandelin, biasanya juga nggak" Canda Dimas yang diikuti tawa oleh Kelvin, Valo, dan Alfin. Sedangkan Aldo mengacuhkan mereka dan hanya mendial salah satu nomor di ponselnya yang mereka yakini pasti nomor Alana.


Dilain sisi Alana yang saat ini tengah tertidur pulas terganggu oleh deringan ponselnya yang menggema diseluruh ruangan kamarnya. Ini sudah kesekian kalinya Alana mematikan sambungan telfon itu. Namun tetap saja ponselnya berbunyi kembali.


Hingga akhirnya Alana mengangkat telfon tersebut "Apaan sih ganggu tidur orang" Kata pertama yang keluar dari mulut Alana setelah mengangkat panggilan yang dia pun tak tau dari siapa. Alana cukup malas untuk membuka mata dan melihat nama sang penelfon.


"Gawat Al, lo harus segera kesini!" Balas orang dari seberang sana. Dari nada bicaranya terlihat jelas kalau dia sedang panik.


"Ih, apaan sih. Nelfon tengah malam terus nyuruh gue kesana" Balas Alana setelah melihat nama Aldo sebagai sang penelfon ditengah malam.


"Gue nggak becandaan Alana, Dimas kecelakaan"


Alana saat itu benar-benar syok mendengar mendengar penuturan Aldo. Persekian detik Alana terdiam, pikirkannya cukup kacau. Bibirnya serasa keluh untuk sekedar bertanya bagaimana keadaan Dimas.


"Alana lo denger gue kan?" Aldo menyadarkan Alana dari pikiran kosong nya.


"Sekarang dia dimana?" Hanya kalimat itu yang muncul dikepalanya saat ini.


"Kita masih di taman X. Lo harus kesini sekarang!"


"Oke gue ke sana. Tungguin gue"


Setelah itu Alana memutuskan sambungan telfonnya. Dia bergegas mengganti piyama Tidurnya dan tak lupa untuk memasan taksi online. Alana benar-benar panik bahkan dirinnya keluar dari rumah tanpa memberi tahukan sang pengisi rumah, takut-takut kalau ada yang mencarinya. Hingga akhirnya taksi tersebut terparkir di depan rumahnya.


"Ke Taman X pak" Seru Alana setelah memasuki taksi.


"Baik bu" Balas supir taksi itu sekenanya.


Selama perjalanan Alana benar-benar menghawatirkan keadaan Dimas. Alana hanya bisa berdoa dalam hati bahwa Dimas tak kenapa-napa. Saking khawatirnya dia bahkan tak menyadari ada yang ganjal dalam telfon Aldo tadi.


.


.


.


"Gimana, Dia bakan kesini kan? Tanya Kelvin mewakili teman-temannya.


Aldo hanya menjawab dengan mengangkat tangannya sambil mempertemukan jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf O.


"Udah beres, yuk kita sembunyi" Ajak Dimas dan diangguki yang lain.


"Ingat tugas masing-masing yah!" Tutur Dimas lagi.


Beberapa saat kemudian terlihat seorang gadis turun dari sebuah taksi. Dia adalah Alana gadis yang mereka tunggu-tunggu. Dari kejauhan terlihat bahwa Alana sedang celingak-celinguk mencari keberadaan mereka.


"Alana" Seru Aldo memanggil Alana yang sedang membelakanginya.


Alana terkejut kemudian membalikkan badannya "Kak Aldo ngagetin aja" Protes Alana "Dimana kak Dimas?" Tanya Alana setelah sadar akan tujuannya kesini.


Alana tak sedikit pun curiga. Dia hanya mengiyakan ajakan Aldo tanpa bertanya. Saat mereka telah sampai ditempat tujuan Alana baru menyadari bahwa tempat ini sangat gelap bahkan Dimas tak ada disana.


"Kak, kak Dimasnya mana?" Tanya Alana sambil mengedarkan pandangannya. Merasa tak mendapat jawaban, Alana berbalik kebelakang tempar Aldo tadi berdiri namun Aldo pun menghilang. Alana mulai menyadari ada keganjalan tapi tak tau apa itu.


Saat Alana masih berkecamuk dengan fikirannya. Tiba-tiba muncul cahaya lilin-lilin tak jauh dari posisinya yang semakin mendekat sambil terdengar nyanyian lagu selamat ulang tahun. Alana masih terdiam mencoba mengerti apa yang sebenarnya terjadi. "Bukannya Dimas kecelakaan? Kok kelihatan sehat-sehat aja? Ini ada apa sih" Begitulah isi fikiran Alana.


"Selamat ulang tahun Alana Sasmita Kusuma" Tutur Dimas masih dengan kue ulang tahun dengan lilin yang masih menyala.


"Ini ada apa sih?" Tanya Alana masih bingung.


"Lo lupa yah sama ulang tahun sendiri" Tebak Dimas.


"Ya ampun gue bener-bener lupa kak" Seru Alana sambil mengecek tanggal yang ada diponselnya.


"Selamat ulang tahun Alana Sasmita Kusuma" Ulang Dimas.


"Terima kasih kak" Jawabnya sambil tersenyum manis.


"Sekarang lo buat permohonan terus tiup lilinnya" Seru Dimas sambil menyodorkan kue tar yang iya pegang repat diwajah Alana.


Setelah membuat permohonan dan meniup lilin ulang tahun. Tiba-tiba taman yang awalnya remang-remang kini berubah menjadi terang benderang. Lilin-lilin menghiasi danau, balon warna-warni disekitar mereka, lampu berkerlap-kerlip dan tak lupa sebuah meja makan untuk dinner.


"Dinner bareng gue?" Tawar Dimas sambil mempersilahkan Alana untuk duduk disalah satu kursi yang dia tarik


Alana hanya membalas dengan senyuman. Dia berjalan mendekati Dimas dan duduk ditempat yang disiapkan Dimas. Kemudian Dimas juga ikut duduk di hadapan Alana.


"Kak Dimas kok bisa tau ulang tahun gue?" Tanya Alana penasaran.


"Gue tau semua tentang lo Alana" Jawab Dimas langsung. Yang berhasil membuat senyum dari wajah Alana tak habis-habisnya.


"Ihh kak Dimas, gue tanya serius" Protes Alana


"Gue juga serius Alana" Jawab Dimas yakin.


Alana benar-benar salah tingkah dibuatnya. Tak habis-habisnya, sekarang lantunan musik romantis mengiringin mereka berdua.


Dimas berdiri dari posisinya mendekati Alana "Dansa with me?" Tawar Dimas yang membuat detak jantung Alana tak karuan.


Kini jarak diantara mereka berdua semakin menepis. Bahkan detak jantung keduanya dapat terdengar. Dengan dihiasi kerlap kerlip bintang dapat terlihat kebahagian dari wajah mereka berdua. Bahkan mungkin bagi Alana ini ulang tahunnya yang paling spesial.


"Alana, tutup mata lo bentar" Pinta Dimas mengakhiri dansa mereka.


"Iya kak" Jawab Alana.


"Buka mata lo" Seru Dimas yang diikuti Alana.


.


.


.


.


.


Ada apaan tuh yah? 🤔


Oh iya gue juga mau ucapin Selamat Berpuasa bagi yang menjalan.


Tetap jaga kesehatan, tingkatkan imun dan yang paling penting selalu mengingat kepada sang pencipta.


Oh iya gue bakal up cepet kalau likenya banyak yah❤❤❤


See you🙋