
Setelah melihat Alana memasuki rumahnya. Dimas kemudian melanjutkan perjalanannya meninggalkan kompleks perumahan Alana. Senyuman tak pernah terlepas dari dari sudut bibirnya. Bagaimana tidak, setelah sekian lama akhirnya dia bisa membuat Alana jadi miliknya.
.
.
.
"Pagi Semua" Sapa Alana saat memasuki ruang makan.
"Pagi sayang" Jawab mereka kompak.
"Semalam gimana acaranya?" Tanya Wira sambil menikmati sarapannya.
"Loh kok bisa tau?" Tanya Alana kebingungan. Pasalnya semalam itu dia nggak pamitan ke orang rumahnya dan waktu balik pun nggak ada yang ngeliat dia, otomatis nggak ada yang tau dong Alana semalam keluar.
"Ya tau lah orang Dimas udah izin duluan ke Papa kamu" Terang Mia.
"Loh kok bisa sih?" Tanyanya masih belum mengerti.
"Bisa lah kan kemarin Dimas ke kantor Papa buat minta izin" Jawab Wira dengan santainya.
"Bentar-bentar jadi semalam aku keluar kalian tau?" Seru Alana yang diangguki kedua orang tuanya, "Terus kalian udah tau semua rencana Dimas?" Lanjutnya yang masih dijawab dengan anggukan kepala.
"Pantes aja semalam kok jalan aku kayak mulus gitu, sampai satpam pun nggak ada pas aku mau keluar" Serunya sambil mengingat kejadian semalam.
Baik Wira dan Mia hanya bisa tertawa mendengar penuturan putri semata wayang mereka itu. Jelas saja mana mungkin Alana bisa dengan lancar ninggalin rumah tengah malam kalau Dimas nggak minta izin terlebih dahulu.
#Flashback On
Saat hendak menikmati makan siang yang dibawakan oleh Mia (Ini emang kebiasaan mereka, meskipun Wira jarang dirumah namun tetap saja mereka akan makan siang bersama seperti saat ini) tiba-tiba suara ketukan pintu menghentikan aktivitas Wira.
"Maaf Pak ada seorang anak muda yang hendak bertemu Bapak dan Ibu" Seru Sekretaris Wira itu yang masih berdiri didepan pintu.
"Siapa?" Tanya Wira heran pasalnya dia tidak ada janji dengan siapapun, apa lagi seorang anak muda.
"Katanya dia Dimas Pak, temannya mbak Alana"
"Ya udah suruh masuk aja Din, oh iya sekalian buatin minum" Perintah Mia.
"Baik bu" Sahutnya meninggalkan ruangan Wira
Tanpa menunggu aba-aba dari Wira, Dina Pramesti meninggal ruangan itu. Tentu saja sekretaris cantik, muda, dan berpendidikan tinggi itu menuruti perintah Mia. Pasalnya selama 7 tahun bekerja dibawah pimpinan Wira, dia sangat tau bahwa bos laki-lakinya akan selalu setuju dengan apa yang dikatakan istrinya dan itu juga berlaku untuk hari ini.
Dimas pun memasuki ruangan kerja Wira dan langsung dipersilahkan duduk oleh Mia. Tak perlu waktu lama setelah Dimas duduk dihadapan mereka Dina membawakan mereka minuman dan cemilan kemudian meninggalkan tempat itu.
"Diminum nak" Seru Wira memecah keheningan.
"Baik om" Jawabnya sambil meminum tea yang ada dihadapannya.
"Jadi ada perlu apa nak Dimas sampai jauh-jauh dateng ke kantor om" Tanya Wira to the point.
"Sebelumnya Dimas mau minta maaf karena udah ganggu waktu makan siang om dan tante" Serunya sungkan sambil memperhatikan meja yang dihiasi dengan makanan tentu saja karena dia datang tepat jam makan siang.
"Udah nggak usah sungkan dan tegang gitu" Sahut Mia yang memperhatikan gelagap Dimas. "Papa sih kok auranya dingin gitu, inikan bukan kali pertama kita ketemu Dimas" Kini gantian Mia berbicara kepada suaminya.
"Eh, emang Papa kayak gitu mah?" Tanyanya yang diangguki Mia. "Hahaha maaf yah nak Dimas maklum kalau ketemu orang di kantor jadi kayak gini."
"Eh, nggak kok Om Tante. Jadi maksud kedatangan Dimas kesini mau minta izin ke Om dan Tante buat izinin Dimas ngajak keluar Alana tengah malam".
"Om sama Tante jangan berfikiran negatif dulu. Jadi gini besokkan ulang tahun Alana jadi Dimas sama teman-teman Dimas udah buat rencana buat ngasih suprise ke Alana nanti malam".
Mendengar penuturan Dimas barusan, Mia langsung mengecek tanggal yang ada di ponselnya dan benar saja besok adalah ulang tahun Alana. "Bener Pah, besok ulang tahun putri kita. Astaga Mama hampir aja lupa, untuk nak Dimas datang" Tutur Mia.
Sambil tersenyum Dimas angkat suara "Jadi gimana Om Tante" Tanya Dimas dengan perasaan cemas takut tak mendapatkan izin dari mereka.
"Bolehin aja Pah, Mama yakin kok sama nak Dimas."
Dengan wajah gembira "Baik Om, makasih. Tapi ada satu hal lagi yang harus Dimas sampaikan"
"Apa itu?"
"Jadi rencana setelah surprise ulang tahun Alana. Dimas bakal nembak Alana dan aku mau izin terlebih dahulu ke Om Tante, boleh nggak Dimas ngajak Alana pacaran"
Untuk sekian detik Wira dan Mia dibuat terkejut dengan penjelasan Dimas. Bayangkan saja dari sekian banyaknya yang pernah mendekati Alana. Dimas lah orang pertama yang meminta izin ke mereka dan ntah mengapa Wira melihat keseriusan dibalik mata Dimas.
"Kamu kenapa bisa menyukai anak saya?" Tanya Wira mulai mengintrogasi bukan karena tidak yakin, namun dia perlu memastikan bahwa dia tidak mengambil keputusan yang salah dan Mia hanya diam mengerti pembicaraan kali ini lebih cocok antara para pria. Dia cukup mengamati mereka saja.
"Saya tidak punya alasan untuk menyukai Alana Om. Karena menurut saya ketika kita mencintai seseorang dengan sebuah alasan maka ketika alasan itu hilang, perasaan kita juga hilang"
Wira mengangguk-anggukan kepalanya. Mengerti bahwa yang dikatakan Dimas itu memang benar. Dia sangat menyukai Alana tanpa alasan.
"Apa kamu sudah cukup mengenal Alana untuk memantapkan hati. Karena setelah ini saya tidak akan mengizinkan kamu menyakiti ataupun meninggalkan Alana"
"Saya sangat yakin dengan perasaan saya Om. Mungkin Om nggak tau tapi saya udah mengenal Alana jauh sebelum ini"
Terlihat raut kebingungan oleh Wira, pasalnya setau dia Alana dan Dimas kenal di kampus dan itu berarti baru hampir setahun "Maksud kamu gimana? Bukannya kalian baru kenal setahun belakangan ini?"
"Jadi saya kenal sama Alana sejak dia masuk SMP dan saya jadi ketua panitia mos (masa orientasi siswa) waktu itu om. Semejak itu saya dan Alana semakin dekat..... "
#Flashback Off
"Papa... Papa" Panggil Alana membuyarkan lamunan Wira
"Ah iya kenapa sayang?" Tanyanya.
"Nggak papa sayang, udah kamu makan cepet ntar telat lagi" Mengalihkan pembicaraan.
"Beneran, Papa nggak papa?" Selidik Alana.
"Papa nggak kenapa-napa sayang, udah kamu makan aja" Kali ini Mia angkat bicara.
"Iya deh"
"Jadi kamu sama Dimas gimana sayang" Tanya Mia kali ini
"Alana ditembak bah sama Dimas semalam" Sahutnya sangat ceria.
Melihat pemandangan itu Wira bersyukur bahwa keputusannya kemarin adalah hal yang tepat. Alana bahagia bersama Dimas. Dimas juga sayangat menyayangi Alana dan akan menebus kesalahannya.
"Kamu baik-baik yah sama Dimas. Kalau dia macem-macem bilang ke Papa" Seru Wira.
.
.
.
.
.
A : **Duh Alana kok jahat kan tadi hampir ketahuan tuh masa lalu mereka yah kan kan.
Net : Bukan Alana yang salah thor tapi lo yang buat ceritanya jadi kayak gini. Kan kita pada penasaran.
A : Weits tenang-tenang kan sengaja biar ceritanya panjang hehehe (platak)
Garing yah gays, maaf lagi belajar.
Oh iya pada penasaran sama visualnya kan, gue bakal up di chapter berikutnya tungguin aja yah.
See you guys ❤❤❤🙋**