Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Mulai dekat



...Jangan lupa vote, like & komen...


...Happy Reading...


.......


.......


.......


Di salah satu bilik kamar yang berada di mansion megah yang cukup jauh dari perkotaan terlihat seorang gadis tengah merapikan penampilannya dibalik cermin. Dengan rambut panjangnya ia kepang sedemikian rupa iapun memakai topi hitamnya.


Setelah itu iapun berjalan menuju walk in-closet kamarnya yang di tengah-tengah ruangan itu terdapat meja berukuran sedang, menggeserkan pot hiasan yang berada di atasnya hingga meja itu tiba-tiba saja terpisah menjadi dua bagian dan menunjukkan sebuah tangga menuju lorong gelap dibawah sana.


Perlahan gadis itu berjalan menuruni satu persatu anak tangga hingga ia menapaki anak tangga terakhir tiba-tiba saja secara ajaib meja yang tadi terbelah menjadi dua itu kembali seperti semula bahkan lampu kamarnya juga ikut padam menyisakan kesunyian ditengah malam ini.


Gadis yang tak lain adalah Zeline itupun terus berjalan menyusuri lorong dengan pencahayaan remang sambil mendengarkan seseorang yang tengah melaporkan sesuatu kepadanya dari balik earphone kecil yang terpasang di telinganya.


“Gue sampai sebentar lagi, terus awasi dia” ucapnya pada seseorang di sebarang sana yang mengiyakan ucapannya. Zeline sampai di ujung lorong itu dan membuka pintu satu-satunya yang berada di sana.


Lalu ia keluar dari sana yang mana ternyata ia keluar dari sebuah lemari di rumah kecil yang berada di tengah hutan jauh dari kediamannya. Tangan yang sedari tadi berada di saku hoodie nya kini mengeluarkan sebuah kunci motor, menaiki salah satu dari 4 motor besar di sana lalu menancapkan gasnya meninggalkan rumah minimalis ukuran 7×10 itu menuju suatu tempat.


Sepinya jalanan malam membuat Zeline cepat sampai ditempat tujuannya. Maka dari itu usai memarkirkan motornya dan membuka helm fullface ya iapun segera berjalan masuk kedalam sebuah Club yang berada di pusat kota.


Para penjaga pintu yang berada di sana ketika melihatnya lantas membungkuk hormat yang mana hanya diacuhkan olehnya. Begitu masuk kedalam ia lantas di sambut dengan suara dentuman musik yang memekang telinga juga bau alkohol yang menyengat ditambah lagi beberapa orang juga terlihat memperhatikan kedatangannya yang cukup menarik perhatian meskipun hanya menggunakan banu biasa-biasa saja.


Tanpa memperdulikan tatapan orang-orang kearahnya Zeline terus melangkahkan kakinya masuk lebih dalam lagi di club itu menuju lantai dua untuk menemui seseorang yang tadi berbicara dengan lewat saluran telpon.


“Dimana pria tua itu?“ tanyanya to the point dari belakang seseorang yang seketika tersentak kaget ketika mendengar suaranya.


“Ah.. Bos, dia baru saja masuk ke kamar mawar bersama 2 ****** nya,” sahut orang itu setelah memberi bungkuk kan penun hormatnya sambil menunjuk salah satu kamar club dengan gambar mawar di pintunya.


Tanpa menyahut ucapan anak buahnya itu Zeline pun mulai melangkah mendekat ke kamar itu dengan senyum miring yang menghiasi wajah cantiknya. Membuat Revan yang merupakan asisten sekaligus tangan kanan kepercayaan Zeline itu bergidik ngeri ditempatnya.


Brak!


Pintu itu di tendang oleh Zeline dengan kasar hingga terbuka lebar mengangetkan 3 orang yang tengah bercumbu berada di dalam sana terperanjat kaget akan tindakannya.


“Cih menjijikkan!” cibiran itu terlontar dari mulut Zeline ketika melihat keadaan tiga orang di dalam sana sudah hampir naked tanpa sehelai benang pun. Melangkah masuk kedalam sana dengan tangan yang terlipat angkuh di depan dada Zeline menatap satu-satunya pria yang berada di sana hingga membuat pria itu dengan segera memakai kembali kemejanya yang telah terlepas.


“No-nona” ucapnya bergetar takut sambil bersimpuh di depan Zeline yang kini sudah mendudukkan dirinya di sofa pojok ruangan menatap datar pria paru baya di depannya.


“Jadi kepada siapa kamu menjual rahasia perusahaan ku?” pertanyaan bernada dingin nan datar itu membuat pria paru baya itu semakin bergetar takut apalagi ketika melihat pistol yang sedari tadi Zeline pegang di tangan kanannya.


“Pe-perusahaan J'Group” jawabnya gugup meremas celana bahan yang dikenakannya.


Bugh


Satu tendangan mendarat di rahang pria paru baya itu hingga tersungkur. “Sialan! Punya nyali darimana kau  menjual rahasia perusahaan hah?!” sentak Zeline menjambak rambut pria paru baya itu agar mendongkak menatapnya.


“Ss-saya terpaksa nona, me-mereka mengancam akan memberitahu segala perbuatan bejat saya kepada istri saya dan mengatakan akan membunuh anak saya jika saya menolak untuk membocorkan rahasia perusahaan anda” ucap terbata pria itu takut.


“Apa kau kira dengan menjual rahasia perusahaan maka hidup kau dan keluargamu aman, hah?!” tanya Zeline mempererat cengkramannya di rambut pria tua itu hingga meringis.


“Nona saya mohon jangan ganggu keluarga saya!” mohon nya memegang pergelangan tangan Pemimpin di perusahaan tempat bekerjanya.


“Ck! Singkirkan tangan kotormu tua bangka!” Dengan kasar Zeline menghempaskan kepala pria paru baya itu ke lantai dengan keras.


“Keluargamu tak akan pernah lepas dari kesalahan yang telah di perbuat olehnu. Aku akan membuat keluargamu menderita setelah kematianmu!” ucap Zeline bangun dari duduknya lalu langsung melepaskan satu tembakan di kepala pria paru baya itu yang seketika mati bersimbah darah di lantai ketika ia hendak memohon kepadanya.


Setelah itu matanya melirik kepada dua orang wanita yang masih berada di atas kasur yang kini berpelukan menatap takut kepadanya. “Bereskan perusahaan J'Group dan mereka malam ini!” titah Zeline menunjuk dua wanita itu mengunakan pistolnya ketika Revan telah masuk kedalam bersama beberapa anak buahnya yang lain. Lalu iapun keluar dari kamar itu dan berlalu pergi meninggalkan Club yang kini sudah lumayan tak terlalu ramai pengunjung.


...Zeline Zakeisha...


Malam telah menunjukkan pukul 2 dini hari setelah tadi menghabisi sampah perusahaannya kini Zeline dalam perjalanan menuju kembali ke rumah. Namun sebelum benar-benar pulang ia menyempatkan diri untuk mampir ke salah satu minimarket yang masih buka hanya untuk membeli sekaleng cola.


Setelah membayar cola ya Zeline tidak langsung pergi dari sana, melainkan ia duduk terlebih dahulu di bangku depan minimarket menikmati minumannya. Hingga setelah cukup lama berdiam diri di bangku minimarket dan colanya telah habis barulah ia beranjak pergi meninggalkan tempat itu.


Dan tanpa disadarinya seseorang telah memperhatikannya sejak masuk kedalam minimarket hingga ia pergi dari sana. “Habis darimana dia pada jam hampir 3 dini hari?” batin seseorang itu dari dalam mobil setelah melihat motor Zeline pergi menjauh dari sana.


···


Keesokan harinya Zeline sudah seperti biasa mengenakan pakaian sekolahnya dengan tas ransel yang bertengger di bahu kirinya. Langkahnya ia bawa menuju meja makan yang kedua orang tua dan kedua kakaknya telah duduk manis di sana memakan sarapan pagi mereka.


Tapi karena ia tak mau ambil pusing dengan keberadaan Kalandra sahabat kakaknya sekaligus guru B. Inggris di sekolahnya, iapun memutuskan untuk duduk di tempatnya dan menyantap saparan paginya juga.


“Tumben kamu datang paling akhir?” tanya Clara memberikan roti selai kacang di piring Zeline.


“Telat bangun” sahutnya singkat menyuapkan potong rotinya kedalam mulutnya dan mendapat anggukan dari Clara.


“Ma, Pa, aku berangkat duluan” pamit Dylan beranjak dari duduknya mengambil tasnya lalu menyalami kedua orang tuanya.


“Yaudah hati-hati di jalannya sayang,” ucap lembut Clara yang dibalas anggukan dari Dylan. “Kal, gue duluan, ya?Assalamu'alaikum” ucap Dylan melambaikan tangannya pada Kalandra yang mengangguk kepalanya singkat dan berlalu dari sana.


Setelah kepergian Dylan kali ini Celine lah yang berpamitan dan beranjak dari tempat duduknya untuk menyalami kedua orang taunya. “Celine juga berangkat, assalamu'alaikum” ucapnya lalu menatap Kalandra yang juga menatapnya. “Bang Celine duluan, bye” kemudian berlalu meninggalkan ruang makan yang kini hanya tersisa Kalandra, Zeline dan kedua orang tuanya tentunya.


“Zeline juga berangkat, assalamu'alaikum” pamit Zeline beranjak dari tempat duduknya menyalami Clara dan Galaksi secara bergantian dan saat akan berlalu pergi tangannya tiba-tiba saja di cekal oleh Kalandra yang juga menyalami kedua orang tuanya.


“Tante, Om. Kala juga permisi. Terimakasih atas sarapan paginya” ucap Kalandra lalu berjalan menjauh dari sana setelah mendapat jawaban dari Clara dan Galaksi sambil terus menggenggam tangan Zeline yang hanya diam saja ketika di seret oleh Kalandra menuju mobil pemuda itu.


“Gue bisa berangkat sendiri,” ucap Zeline hendak keluar dari dalam mobil Kalandra.


“Gue sengaja dateng kesini, karena mau jemput lo” ucap Kalandra menghentikan gerakan Zeline yang akan membuka pintu mobil yang mana hal tersebut membuat gadis itu menolehkan kepalanya kepada pemuda yang duduk di depan stir kemudi.


Dengan alis terangkat sebelah Zeline bertanya heran, “Ngapain? Gue pikir kita gak sedekat itu sampai lo harus repot-repot jemput gue” heran Zeline melihat Kalandra yang mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


“Kalau gitu kita bisa mengenal lebih jauh“ enteng Kalandra melirik sekilas kearah Zeline. “ Dan pakai sabuk pengaman lo!” perintah Kalandra saat melihat Zeline yang belum mengenakan sabuk pengamannya.


Sambil memakai sabuk pengamannya Zeline menyahut, “Dih ogah gue kenal lebih jauh sama lo” sahut acuh Zeline menatap lurus ke depan tak memperdulikan Kalandra yang kembali melirik kearahnya


“Gadis ini.” desisnya dalam hati ketika mendengar jawaban Zeline. “Gue gak peduli, dan gue bakal tetep deketin lo” ucap Kalandra terdengar serius dengan ucapannya namun hanya di acuhkan oleh Zeline yang kini terlihat memejamkan matanya karena bosan melihat jalan yang bertambah ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang untuk memulai aktivitas mereka.


Hingga tanpa sadar Zeline malah ketiduran di sepanjang jalan menuju ke sekolah bersama sahabat kakaknya itu, sampai ketika mereka telah sampai di area parkiran sekolah yang sudah ramai oleh siswa-siswi yang telah berdatangan.


Sebenarnya mereka sampai di area sekolah sejak tadi namun sedari tadi mereka masih berdiam diri di dalam mobil. Dan semua ini di karenakan Kalandra yang tadi hendak membangunkan Zeline terkurung kan niatnya saat melihat wajah damai nan polos Zeline ketika tengah tertidur pulas membuat ia tak tega untuk sekedar membangunkannya. Bahkan pemuda itu sedari tadi tak melepas tatapannya barang sedetikpun dari wajah Zeline, dan tanpa ia sadar pula dirinya tersenyum tipis ketika melihat wajah damai itu.


Tangannya juga terlihat terulur untuk menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi sebagai wajah Zeline.


Yang mana karena gerakan kecilnya itu justru malah membuat Zeline terusik dalam tidurnya dan dengan perlahan membuka matanya hingga tatapan mereka berdua bertemu dan saling menyelami netra masing-masing.


“Bola mata dia gede banget, lucu” batin Zeline menatap bola mata Kalandra yang memang sedikit besar dari kebanyakan bola mata di dunia ini dengan warna hitam legam.


“Bulu mata yang indah” batin Kalandra yang lagi-lagi tanpa sadar tangannya kini bergerak mengusap lembut bulu mata Zeline yang masih terpesona dengan matanya.


Di tengah-tengah kegiatan mereka yang mengangumi rupa masing-masing tiba-tiba saja kaca mobil depan Kalandra diketuk oleh seorang pemuda yang menampilkan senyum bodoh di luar sana.


Membuat Zeline maupun Kalandra tersadar dan memalingkan wajah masing-masing karena terlalu lama bertatapan. “Ehem! Makasih tumpangannya, gue duluan” ucap Zeline berdehem canggung mencoba menetralkan rasa malu juga jantungnya yang tiba-tiba saja terasa berdegup lebih kencang dari biasanya.


Lalu segera keluar dari dalam mobil setelah mendapat anggukan dari Kalandra. Dengan langkah terburu-buru ia menghiraukan tatapan menggoda dari orang yang tadi mengetuk kaca mobil yang ditumpanginya.


Usai Zeline keluar dan pergi dari area parkir kini Kalandra pun mulai melangkahkan kakinya keluar dari dalam mobil sambil menatap datar seseorang yang berdiri di samping mobilnya masih dengan senyum bodoh dan tatapan menggoda.


“Apa?” tanya Kalandra berjalan angkuh melewati seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah sang adik, Kaisar.


“Eyyy~~ apa nih? lo lagi pdkt” goda Kaisar berjalan beriringan dengan sang kakak sambil miringkan kepalanya menatap wajah kakaknya yang masih terlihat datar.


“Gak” sahut Kalandra mencoba bersikap seperti biasanya karena jujur saja jantungnya sekarang ini tengah terpacu cepat saat melihat wajah cantik dan bulu mata lentik Zeline dari jarak yang sangat dekat. Padahal setahu dia jarak wajahnya dan Zeline itu tadi tak sampai sedekat itu sebelumnya.


“Ohhh~ ayolah ngaku aja~” goda Kaisar makin menjadi-jadi sambil menyenggol pundak sang kakak yang kini dapat ia lihat bahwa telinganya sedikit memerah


“Ck. Berisik lo! Sana pergi ke kelas lo aja” usir Kalandra menendang pelan betis Kaisar yang langsung berlari sambil tertawa terbahak-bahak.


“Nanti gue bilangin Mamaaa ahhhh~~” teriak Kaisar di sela-sela tawanya masih menggoda Kalandra yang hanya mampu mendengus di tempatnya.


...Thank you for reading...


.......


.......


.......


.......


...To Be Continued...