
Keesokan harinya, Kalandra kini sudah ikut duduk di meja makan di kediaman Galaksi untuk sarapan bersama membuat Dylan dan Alan memutar matanya malas karena tahu betul dengan alasan Kalandra datang ke sana.
Sementara, Anggota keluarga Galaksi yang lain terheran-heran dengan Kalandra yang sangat tumben sekali setelah kejadian beberapa tahun silam berlalu, pria itu mau ikut lagi sarapan bersama di kediaman mereka.
Namun diantara semua orang yang ada di sana, ada satu orang yang nampak sangat tak peduli dengan kehadiran Kalandra di sana, tentu saja; Zeline.
"Tambahlah lagi, kamu jarang-jarang ikut sarapan di sini lagi setelah sekian lama." Ucap Clara menaruh sepotong roti selai lagi di piring Kalandra yang sedari tadi hampir tak pernah melepaskan tatapannya kepada sosok Zeline yang duduk di kursi hadapannya.
Menolehkan kepalanya pada Clara, Kalandra tersenyum tipis, "Terimakasih, Tan, maaf ngerepotin."
"Eh? Gak ngerepotin kok, justru tante seneng kamu ikut sarapan di sini lagi." Kalandra kembali tersenyum tipis mendengar ucapan Clara.
"Kalau begitu, aku bakal sering ikut sarapan di sini ya, boleh?"
Dylan mendelik kearah sang sahabat, "Cih. Gak tahu malu lo!" cibir Dylan berdecih pelan seraya menendang pelan kaki Kalandra yang nampak tak peduli dan kembali menatap Zeline yang memakan sereal nya dengan khidmat.
Celine yang melihat hal itu lantas menyeletuk, "Biasa aja kali, Bang liatin adek aku nya, udah kek mau ngelubangin kepala adek aku aja." celetukannya sukses membuat yang berada di meja sana terkekeh.
Zidan yang duduk di samping sang Bibi, Celine menatap kearah Kalandra dan Bibi Zeline nya bergantian. "Aunty Line ini gimana sih? Biarin aja lah, Uncle Kala kayaknya suka sama Aunty Zeze." cetus anak laki-laki itu dengan polosnya membuat semua mata beralih kepadanya lalu terkekeh lagi.
Anak itu bisa-bisanya bicara seperti itu, macam orang yang sudah mengerti saja perihal suka-menyuka antar lawan jenis.
Di tengah suasana hangat itu, Zeline tiba-tiba saja berdiri dari duduknya setelah mengusap kedua sudut bibirnya menggunakan tisu, Kalandra yang memang memperhatikan Zeline sedari tadi pun ikut bangun dari duduknya.
"Ma, Pa, Semuanya aku selesai. Duluan, Assalamu'alaikum." ucap Zeline mencium masing-masing pipi kedua orang tuanya, tak lupa ia juga mengusak surai setiap keponakannya sebelum pergi dari sana untuk berangkat kerja.
Tentunya di ikuti oleh Kalandra yang juga ikut berpamitan dan segera menyusul Zeline yang sudah duluan keluar. Tapi, saat ia sudah di luar ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Zeline berserta mobilnya.
Membuat umpatan penuh nada kekesalan keluar dari bibir tipisnya. "Sialan! Cepet banget ilang ya."
Karena tak menemukan keberadaan Zeline, Kalandra pun memutuskan untuk pergi menunju kantornya.
.
.
.
Sudah beberapa hari berlalu dan selama itu pula Kalandra berusaha mendekati Zeline kembali dan untungnya selama itu ada sedikit kemajuan. Zeline mau berangkat dan pulang dari kantor bersamanya meski diawal ada paksaan dari dirinya, Ia pun kini sudah mengetahui dimana apartemen Zeline berada.
Kalandra masuk kedalam kantornya setelah tadi ia mengantarkan Zeline ke perusahaan gadis itu dan saat ia masuk kedalam matanya langsung menangkap keberadaan seorang gadis yang amat di kenalnya.
Tanpa memperdulikan keberadaan gadis itu Kalandra berjalan kearah meja kerjanya, duduk di kursi kebesarannya dan mulai membuka berkas-berkas yang harus di kerjakannya.
Elisha, gadis yang duduk di sofa ruang kerja perusahaan Kalandra itu beranjak dari duduknya saat sang pemilik ruangan datang dan berjalan menghampiri pria tersebut.
"Kalandra, malam ini kamu sibuk gak?" Tanyanya seraya duduk di kursi depan meja Kalandra.
"Kenapa?" Bukannya menjawab Kalandra justru malah balik bertanya. Elisha mengulum bibirnya sedikit sebelum berkata.
"Lusa kan pernikahan kita, jadi temen-temen aku pada ngadain pesta lajang buat kita malam ini. Aku pengen kamu ikut di pesta itu karena aku udah ngeiyain ajakan mereka. " ucap Elisha membuat Kalandra melirik nya tajam.
"Kamu bisa ajak temen-temen kamu juga kok, " sambungnya tak menyadari lirik tajam Kalandra kepadanya.
"Gue sibuk. Gak bisa dateng, lagipula siapa lo membuat keputusan atas nama gue?" Kalandra bangun dari duduknya untuk membuat kopi di pojok ruangannya yang terdapat dapur kecil.
Elisha mengikuti pergerakan Kalandra dan tangannya terkepal di bawah meja. "Aku calon istri kamu, jadi-"
"Gue gak pernah nganggap lo calon istri gue. Semua yang gue lakuin cuma nurutin perintah nyokap gue aja." Kalandra memotong ucapan Elisha yang terdiam.
"Huft~ oke gakpapa kalau kamu gak anggap aku sebagai calon istri kamu, tapi Kala, aku mohon kamu maunya dateng malam ini ke acara pesta lajang yang di buat temen-temen aku. Aku udah terlanjur ngeiyain kalo kamu bakal dateng," ucapnya dengan tatapan memelas.
Kalandra diam, jika ia mengiyakan permintaan gadis di ruangannya itu maka rencana dirinya untuk pergi dinner dengan Zeline akan batal. Di tambah lagi Zeline sudah mengiyakannya ajakan dirinya dan untuk mendapatkan persetujuan Zeline itu sangatlah susah.
Memutar tubuhnya menghadap gadis yang masih duduk di kursi depan mejanya Kalandra akhirnya menghembuskan nafasnya kasar.
"Gue tetep-"
"Kalau kamu menolaknya, aku bakal ngaduin ke Mama kamu!" Elisha tiba-tiba saja mengancam tak seperti biasanya. Kalandra lagi mendengus kesal.
"Malam ini gue gak bakal ngebiarin lo ketemu sama gadis yang belakangan ini selalu lo temui itu. Tcih, entah darimana munculnya gadis tak tahu diri itu." batin Elisha penuh kedengkian saat mengingat kejadian beberapa hari yang lalu di mana ia tanpa sengaja melihat Kalandra memeluk seorang gadis yang tak ia kenal dan bahkan Kalandra memperlakukan gadis itu sangat lembut, berbanding terbalik dengan perlakuan pria itu terhadap dirinya.
"Oke fine! Gue dateng, jam berapa?"
"Yes! akhirnya dia mau. Rencana yang udah gue dan temen-temen gue susun malam ini pasti bisa terealisasikan." Batin Elisha tersenyum licik di dalam hati.
"Jam 7 malam di penthouse Agam, alamatnya nanti aku kirimin." Ucap Elisha penuh keantusiasan.
"Oke, gue udah tahu tempatnya lo bisa keluar sekarang. " Kalandra berjalan kembali kearah kursi kerjanya sambil membawa kopinya.
Elisha sebenarnya masih ingin di sana tapi sepertinya Kalandra sangat tak ingin ia ada di sana jadi ia pun memilih untuk menurut dan pergi dari ruangan Kalandra. "Kalau begitu aku pergi dulu. Jangan sampai terlambat nanti malam." Elisha berucap sambil beranjak pergi dari ruangan Kalandra yang hanya mendehem sebagai balasan.
.
.
.
Setelah menunggu sekitar lima menit akhirnya Zeline keluar dari lobi kantor menghampiri Kalandra yang langsung menegakkan tubuhnya saat melihat gadis itu dan membukakan pintu mobil untuk gadis tersebut.
"Ekhem! Kamu mau langsung pulang atau-"
"Pulang." Zeline menyela seraya menatap keluar jendela mobil saat kendaraan roda empat itu mulai melaju, menjauh dari perusahaan Zeline.
Di tengah perjalanan hanya ada keheningan di dalam mobil itu sebelum akhirnya Kalandra membuka suara memecah keheningan di antara mereka.
"Emm Zeline," Panggil Kalandra mendapat balasan dari Zeline dengan deheman tapi gadis itu tak menoleh kearahnya.
"Hmm?"
"Itu.. Soal dinner kita malam ini kayaknya itu harus di undur deh,"
"Oh Oke." balas Zeline acuh tak acuh membuat Kalandra menoleh sekilas kepadanya.
"Kamu gak marah'kan? Aku tadinya juga gak mau ngebatalin dinner kita tapi, Elisha gadis itu mengancamku agar ikut dengannya ke pesta lajang yang di buat teman-temannya jadi aku terpaksa harus pergi ke sana malam ini." Jelas Kalandra sesekali melirik Zeline yang hanya diam tak melihat kearahnya.
"Hmm, itu wajar lusa kalian sudah akan menikah. Lebih banyaklah berinteraksi dengan calon istri mu itu, jangan terus membuang waktu dengan ku." ujar Zeline membuat Kalandra menoleh cepat kearah gadis itu berbarengan dengan ia yang menghentikan mobilnya karena sudah sampai di gedung apartemen tempat Zeline tinggal.
"Aku mana ada buang-buang waktu ketika sedang bersamamu, yang ada ketika aku tengah bersama Elisha itu yang justru membuang waktu ku."
Zeline menghembuskan nafasnya pelan. "Hah~ sudah lah, terimakasih tumpangannya. Semoga kamu bersenang-senang malam ini." ucap Zeline seraya turun dari mobil mewah Kalandra lalu berjalan masuk ke dalam gedung apartemen tersebut tanpa menoleh kebelakang sedikit pun.
Meninggalkan Kalandra yang masih diam di tempatnya sambil menatap punggung Zeline yang perlahan mulai menghilang dari pandangan Pria tersebut.
.
.
.
Malam harinya Kalandra benar-benar datang ke tempat di mana pesta lajang yang di ucapkan Elisha berada, Kalandra tak datang sendiri ia mengajak Dylan dan Erland untuk menemaninya karena, oh ayolah kalian pasti tahu Kalandra malas bersosialisasi dengan orang yang tidak ia kenal makanya ia mengajak kedua sahabatnya tersebut.
Ketika mereka sampai ketiga pria yang sudah berkepala tiga itu langsung di giring oleh teman-teman Elisha menuju balkon luas penthouse, mereka tengah melakukan BBQ.
Elisha yang tadi tengah asik mengobrol dengan teman-temannya pun langsung beranjak pergi menghampiri Kalandra saat melihat calon suaminya itu datang ke sana.
"Kamu datang!? Terimakasih." ucap Elisha penuh keantusiasan sambil memegang tangan Kalandra yang langsung menariknya karena risih.
Elisha yang mendapat penolakan halus dari Kalandra sedikit kecewa, namun dengan segera ia menutupi hal itu dengan mengalihkan pandangannya kepada dua sahabat Kalandra.
"Selamat malam Dylan, Erland, terimakasih karena sudah mau datang ke sini." sapanya dengan ramah dan melambaikan tangannya kepada dua pria tersebut.
Dylan mengangguk kepalanya dengan senyum kecil sebagai balasan sementara Erland balas melambaikan tangannya dengan senyum tak kalah ramah kepada gadis itu.
"Malam Elisha, Sama-sama. Lagipula kami datang ke sini untuk menemani Kalandra."
Lalu setelah sapa menyapa itu mereka semua menikmati acara pesta lajang tersebut dengan ceria, namun hanya ada satu orang saja yang sejak kedatangannya ke sana terus menerus memasang muka datar tak berminat bahkan pria itu hanya duduk sendirian di salah satu sofa yang ada tak jauh dari kerumunan.
Kalandra, pria yang terus menampilkan muka tak minatnya itu pikirannya sekarang ini tengah berkelana kepada sosok gadis yang sore tadi dia temui.
"Apa yang sedang Zeline lakukan sekarang?" tanyanya dalam hati entah kepada siapa.
Sampai di tengah ia sibuk melamun itu Elisha datang menghampirinya dan duduk di sebelahnya seraya menyodorkan segelas jus jeruk kepada pria itu.
"Ini. Kenapa kamu hanya duduk sendirian di sini? tak ikut bergabung dengan yang lain."
Kalandra melirik gadis di sampingnya sekilas sambil tangan menerima jus yang di sodorkan gadis itu. "Gue gak minat," balas Kalandra membuang wajahnya kearah lain seraya meneguk jus yang di berikan Elisha. Ia sedikit haus omong-omong.
Sementara Elisha yang melihat Kalandra meneguk jus pemberiannya menarik salah satu sudut bibirnya samar keatas, menyeringai.
"Bagus, hanya tinggal menunggu efeknya bekerja." batin Elisha.
...Thank you for reading...
...Don't forget to vote, like ...
...and comment! ...
.......
.......
.......
.......
...To Be Continued...