Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Maksa



...Jangan lupa vote, like & komen....


...Happy Reading...


.......


.......


.......


Keesokan paginya dihari minggu yang cerah ketika Zeline sampai dimeja makan untuk sarapan suasana di sana terasa sedikit berbeda dari biasanya apalagi semua tercetak jelas di wajah Dylan dan sang Ibu yang nampak datar dan memancar aura dingin tak seperti biasanya.


Membuat ia melihat kearah Celine dengan pandang bertanya yang dibalas gelengan kepala pelan.


"Aku berangkat, assalamu'alaikum." ucap Dylan beranjak dari duduknya ketika ia menyelesaikan sesi sarapannya dan melenggang keluar rumah begitu saja tanpa mencium tangan kedua orang tuanya seperti biasa.


"Wa'alaikumsalam, Hati-hati bang!" sahut Celine sedikit menaikan oktaf bicaranya. Hingga kini di meja makan itu hanya tersisa Celine, Zeline dan kedua orang tua mereka.


"Jam makan siang nanti kalian harus sudah ada di rumah kita bakal kedatangan tamu." Clara berucap dengan nada seperti biasanya lalu beranjak dari duduknya bersama Galaksi yang juga ikut beranjak mengikutinya pergi menjauh dari meja makan.


"Huft~ gue benci suasana tadi" ucap Celine menghembuskan nafasnya lega setelah tak merasakan aura ketegangan dan dingin disekitar area meja makan.


"Memangnya ada apa?" tanya Zeline menatap sang kakak sekilas.


"Gue juga gak tahu, tapi dari percakapan terakhir mereka pas gue dateng kesini Bang Dylan ngebantah permintaan Mama untuk pertama kalinya dengan nada tegas dan dingin banget" sahutnya membuat Zeline mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Kayaknya masalah itu" batin Zeline sambil menyuapkan makanan terakhirnya.


"Gue selesai, duluannya Ze. Ada janji." ucap Celine meraih kunci motor dan jaketnya yang tersampir di kursi kemudian berlalu dari sana meninggalkan Zeline yang juga beranjak untuk kembali ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil dan handphonenya.


Setelah itu iapun kembali turun dan berjalan menuju kearah garasi rumahnya. "Nona anda akan keluar juga?" tanya supir pribadinya saat melihat sang majikan yang berada di garasi.


"Hmm.. Aku akan keluar sendiri" ucap Zeline datar sambil masuk kedalam mobil berjenis lamborghini veneno roadster yang baru saja dibelikan Kakeknya beberapa harinya lalu. Membawa mobil itu keluar dari garasi dan halaman rumahnya yang luas menuju tempat sang kakak yang ia yakin pergi ketempat itu lagi.


...Zeline Zakeisha...


Butuh waktu satu jam setengah bagi Zeline sampai dipantai yang terlihat sepi dengan ombak yang sedikit besar menabrak karang-karang yang berada di sana. Menuruni mobilnya Zeline terlihat mengedarkan matanya menatap sekeliling mencari sosok sang kakak dan setelah menemukan keberadaan kakak tercintanya itu iapun berjalan mendekat menghampiri sang kakak dengan sebelah tangan yang memegang sekeresek minuman kaleng.


"Ini masih pagi ngapain lo disini sendirian Bang?" tanya Zeline ketika telah sampai tepat disamping sang kakak dan mendudukkan tubuhnya. Membuat Dylan yang tengah melamun sambil memandangi hamparan laut biru itu tersentak kaget seraya menolehkan kepalanya kearahnya.


"Ze-zeline?! Kenapa lo bisa ada disini?" tanya Dylan dengan sisa rasa keterkejutannya pada sang adik yang tengah membuka sekaleng minuman dari dalam keresek yang dibawanya lalu meneguknya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sang kakak dengan senyum miringnya.


"Menurut lo, Bang?" Zeline balik bertanya membuat Dylan mendengus dan memalingkan wajahnya kearah depan lagi. "Yah gue tahu."


"Kenapa? Mikirin sama omongan Mama yang mau jodohin lo sama rekan bisnisnya?" tanya Zeline membuat Dylan kembali menengok padanya untuk sesaat.


"Yah, Gue bener-bener gak habis pikir sama Mama yang tiba-tiba aja ngejodohin gue sama rekan bisnisnya" ucap Dylan penuh kekesalan membuat Zeline terkekeh pelan.


"Saran gue mending lo terima perjodohan itu, Bang. Atau... lo bakal nyesel karena udah nolak perjodohan ini." ucap Zeline membuat Dylan menatapnya tak percaya.


"Oh ayolah Dek. Yang bener aja, gue dijodohin sama Mama buat memperkuat hubungan kerjasama dia sama rekan bisnisnya!"


"Ck. Sok tahu lo Bang! Kalau lo terima perjodohan ini dan udah ketemu sama siapa calon yang dijodohin sama lo. Gue yakin seratus persen lo bakal berterimakasih sebanyak-banyaknya sama Mama karena udah jodohin lo sama tuh cewek!"


"Ter-" kalimat Zeline yang hendak melanjutkan ucapannya terpotong oleh suara dering ponsel Dylan yang berada di saku celana pemuda itu. Membuat kedua kakak beradik itu saling melemparkan tatapan sebelum akhirnya Dylan meronggoh ponselnya guna melihat siapa yang telah menelponnya.


Yang mana ketika Dylan melihat layar benda pipih itu menampilkan user 'My Girl♡' dengan segera pemuda itu mengangkatnya dan menempelkan benda pipih itu pada daun telinganya.


"Hal- APA! Lo dimana gue kesana sekarang?!" belum sempat Dylan menyapa ucapannya dari sebrang telponnya itu justru membuat ia menjadi panik dan dengan terburu-buru segera bangun dari duduknya untuk pergi menuju mobilnya tanpa memperdulikan Zeline yang masih berada di sana tengah menatap kearahnya dengan bingung.


"Tetep sembunyi di sana dan tunggu gue!" ucap Dylan mematikan sambungan telponnya seraya menghidupkan mesin mobilnya dan melakukannya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Zeline yang diam seorang diri menatap kepergiannya dengan datar.


"Ck. Dasar Abang gak ada akhlak! Pamit dulu kek ini malah ngacir pergi gitu aja ninggalin gue sendirian disini." Zeline berujar kesal sambil meneguk minumannya lalu menggadahkannya kepala keatas dengan mata tertutup kearah langit biru dan kedua tangannya bertumpu kebelakang menahan bobot tubuhnya, mencoba menikmati cahaya matahari yang kian menghangat dan naik semakin tinggi seiring berjalannya waktu menuju siang hari.


Untuk beberapa saat Zeline diam dalam posisinya itu sebelum sebuah dering ponsel miliknya mengalihkan perhatiannya. Dengan malas iapun meronggoh ponselnya dari balik saku jaket kulit hitam yang dipakainya dan melihat nama 'Annoying people' tertera dilayar ponselnya itu membuat ia memutar matanya malas sebelum mengangkatnya dengan ogah-ogahan.


"Hmm?" gumamnya membuat seseorang yang berada di sebrang sana berdecak.


"Ck. Lo dimana? Tadi gue cariin ke rumah lo, lo nya malah gak ada." ucap orang di sebrang sana yang tak lain dan bukan adalah Kalandra.


"Idih lagian siapa juga yang nyuruh lo buat cari gue di rumah? Dan dimana gue sekarang, lo gak perlu tahu!" ketus Zeline yang entah kenapa kini jantungnya kembali berdenyut lebih kencang dari biasanya setelah mendengar suara Kalandra. "Sial! Perasaan ini datang lagi!" umpat Zeline dalam hati.


Entahlah Zeline merasa beberapa hari belakangan ini ketika ia tengah berada di dekat atau mendengar suara Kalandra jantungnya itu selalu berdenyut lebih kencang dari biasanya seperti ia akan terkena serangan penyakit jantung jika saja berada lama-lama dekat dengan pemuda yang selalu mengganggu hari-harinya itu.


"Gue serius Zeline! Lo dimana? Ada hal yang mau gue omongin sama lo" ucap Kalandra mengeram kesal.


"Gak bisa! Ini cuma bisa diomongin langsung, Ze."


"Ck. Oke fine. Lo mau ketemu dimana?"


"Cafe xxx, gue tunggu lo di sana, sekarang juga!" lalu sambungan telepon itupun diputuskan secara sepihak oleh Kalandra yang mana membuat Zeline mendelik sebal menatap layar ponselnya."Orang ini benar-benar ya!"desis Zeline dalam hati seraya beranjak dari duduknya menuju mobilnya terparkir untuk pergi meninggalkan pantai sepi itu.


...Zeline Zakeisha...


Tring~


Suara bel yang berada di atas pintu Cafe berbunyi ketika Zeline membuka pintu tersebut dan masuk, matanya terlihat mengedar ke seluruh penjuru cafe mencari sosok keberadaan Kalandra.


Sebelum akhirnya matanya itu berhenti pada satu titik yang berada diujung ruangan Cafe samping jendela besar yang tak terlalu terlihat mencolok. Dimana, seorang pemuda dengan kemeja biru muda kotak-kotak tengah duduk sambil asik memainkan ponselnya.


Kemudian iapun membawa tungkai kakinya berjalan kearah dimana pemuda itu berada, dan tanpa permisi ataupun menyapa ia langsung mendudukkan tubuhnya di sebrang kursi yang berhadapan langsung dengan pemuda itu yang sontak mengalihkan tatapannya dari layar ponsel kepadanya.


Seulas senyum tipis terukir dibibir Kalandra ketika mendapati Zeline telah datang kemudian ia pun mematikan layar ponselnya seraya memasukkan benda pipih itu kedalam saku kemejanya.


"Mau pesan makanan dulu gak?" tanyanya pada Zeline yang melihat keluar jendela dengan tatapan datar.


"Gak usah buang-buang waktu, ada apa?" balasan Zeline membuat Kalandra tersenyum mengerti lalu mengangkat tangannya memanggil waiters. Membuat Zeline yang melihatnya mendengus "Terus gunanya lo nanya ke gue apa, bodoh?!" umpat Zeline yang hanya diabaikan oleh Kalandra yang sibuk memesan beberapa makanan beserta minumannya.


"Anak gadis dilarang mengumpat Zeline." ucap Kalandra lembut namun terkesan tegas sambil mencolek hidungnya. Yang mana tangannya itu langsung ditepis kasar oleh Zeline yang menghembuskan nafasnya kasar.


Kemudian hening mulai menyelimuti meja mereka untuk beberapa saat sebelum waiters yang tadi sempat dipanggil Kalandra kembali bersama pesanan pemuda tersebut.


"Ayo makan siang dulu abis itu baru kita bicara" ucap Kalandra mendorong sepiring Easy Grilled Chicken & Summer Mashed Potatoes kehadapan Zeline yang mengernyitkan dahinya sambil menatap makanan yang disodorkan Kalandra lalu menatap bergantian makanan itu dan Kalandra.


"Darimana pria ini tahu makanan kesukaan gue?" batinnya bermonolog lalu melihat minuman yang dipesankan Kalandra lagi-lagi adalah minuman kesukaannya.


"Gue tahu gue ganteng, tapi jangan natap gue terus juga kali. makan, makanan lo!" ujar Kalandra percaya diri membuat Zeline mendengus geli sebelum mulai menyantap makanan dihadapannya itu tenang.


.


.


.


Setelah menyelesaikan sesi makan siang mereka, akhirnya Kalandra membuka suaranya tentang hal apa yang ingin ia bicarakan dengan Zeline. "Gue suka sama lo!" ungkap Kalandra dengan nada tegas dan wajah serius menatap Zeline, memperhatikan respon seperti apa yang akan diberikan Zeline kepadanya.


Sementara Zeline sendiri malah menjatuhkan rahangnya tak percaya. Apa-apaan ini! Pikirnya. "Hah? Ini yang lo bilang cuma bisa di omongin secara langsung? Ck. Bener-bener buang waktu!" ucap Zeline seraya bangun dari duduknya untuk beranjak pergi namun tak jadi karena lengannya ditahan oleh tangan Kalandra yang juga bangkit berdiri.


"Gue serius Zeline. Gue pengen lo jadi pacar gue!" ucap Kalandra membuat Zeline memutar matanya malas. Benar-benar sial! Tak tahukah Kalandra sebenarnya Zeline tengah mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila.


Gadis itu sebenarnya tak tahu apa yang tengah ia alami sekarang, apalagi setelah mendengar pernyataan cinta dari sosok yang selalu membuat detak jantung sukses menggila belakangan ini. Tapi di samping itu entah mengapa Zeline merasa seperti ada jutaan kupu-kupu yang menggelitiki perutnya, ada perasaan bahagia ketika Zeline mendengar ungkapan Kalandra padanya.


Tapi mengabaikan semua perasaan itu Zeline pun menghembuskan nafasnya pelan sebelum akhirnya memasang wajahnya yang paling datar untuk mendongak menatap tepat dimata Kalandra yang juga tengah menatapnya. "Gue ga-"


"Mulai detik ini lo pacar gue dan gue gak nerima penolakan!" putus Kalandra memotong ucapan gadis itu yang bisa ia tebak pasti akan menolaknya.


Zeline membulatkan matanya ketika mendengar keputusan Kalandra. Sial apa-apaan pemuda didepannya ini memutuskan semuanya sendiri tanpa mau mendengar ucapannya sampai selesai.


"Gak bisa gitu dong, Bang! Gue-" ucapan Zeline lagi-lagi terpotong ketika tanpa tahu malu Kalandra mengecup bibirnya kilat ditengah-tengah cafe yang ramai akan pengunjung, hingga membuat matanya kembali membulat lebar dan pemandangan itu sangatlah lucu dimata Kalandra. "Gue benci penolakan,Zeline." ucap pemuda itu lembut namun sarat akan penekanan sambil tangannya mengusap surai panjang Zeline yang tergerai.


Dan kini perlahan namun pasti rona merah mulai menjalari kedua pipi Zeline membuat gadis itu dengan segera berlalu begitu saja ketika merasakan pipinya yang kian memanas. "Sialan! I-ini... Arghhh" Zeline berteriak frustasi didalam hati ketika ia sudah masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya pergi menjauhkan dari area cafe dengan degupan jantung yang semakin menggila. Rasanya seperti jantung itu akan loncat keluar dari tempatnya.


Sedangkan Kalandra yang ditinggalkan seorang diri didalam cafe hanya mampu terkekeh gemas melihat reaksi lucu gadis dingin yang kini sudah menjabat sebagai kekasihnya. Meski dengan sedikit memaksa.


...Thank you for reading...


.......


.......


.......


.......


...To Be Continued...