Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Acha?!



...Jangan lupa vote, like & komen...


...Happy Reading...


.......


.......


.......


Hari ini Dylan sudah bisa melakukan aktivitasnya lagi seperti biasa dan ya kebiasaannya yang selalu bangun kesiangan itu masih melekat dalam dirinya. Lihat saja sekarang ia berjalan dengan cepat menuruni anak tangga tanpa melihat apapun di depannya pikirannya hanya satu yaitu segera sampai ke Kampus di karenakan hari ini ada ulangan.


“Jangan lari-lari Dylan, nanti jatuh!” tegur Clara yang tengah bersantai di ruang keluarga sambil membaca majalah itu berucap ketika melihat Dylan yang terburu-buru menuruni tangga.


Dylan menghampiri sang ibu lalu mengecup pipinya cepat, “Iya Mama, Dylan berangkat dulu Assalamu'alaikum” ucap pemuda itu kemudian berlari menuju garasi secepat kilat.


Clara yang melihat kelakuan anaknya itupun hanya bisa menggelengkan kepalanya, “Dasar kebiasaan” batinnya lalu kembali membaca majalah yang berada di pangkuannya.


Membutuhkan waktu sekitar 25 menit bagi Dylan untuk bisa sampai di area kampusnya. Setelah memarkirkan kendaraan yang digunakannya Dylan segera berlari masuk ke dalam gedung fakultasnya, dan karena ia terlalu buru-buru membuat ia tak terlalu memperhatikan sekitarnya jadinya tanpa sengaja dirinya menyenggol seseorang yang tengah membawa setumpuk buku-buku tebal hingga buku itu jatuh berceceran.


Membuat seseorang yang membawa buku itu lantas mengumpat kesal kepadanya. Yang mana hal itu membuat Dylan segera berjongkok untuk membantu seseorang yang tak sengaja ia senggol itu membereskan kembali buku-buku bawaannya. “Sorry gue gak sengaja, lagi buru-buru soalnya” ucap Dylan di sela ia mengumpulkan buku-buku yang berceceran


“Cih. Ya kalau lagi buru-buru juga liat-liat juga kali! Atau jangan-jangan mata lo di dengkul lagi! Makanya gue yang segede gaban gini aja masih lo tabrak” ucap gadis itu menggerutu kesal dengan tangan yang sibuk mengumpulkan kembali buku-bukunya.


“Kan gue udah bilang sorry” ucap Dylan sekali lagi memberikan buku yang berada di tangannya pada gadis itu sambil mengadahkan kepalanya untuk menatap wajah gadis di depannya. Yang ternyata gadis itu juga mengadahkan kepalanya menatap kearahnya, membuat netra mereka bertemu untuk beberapa detik mereka saling bertatapan dalam, menyelami netra masing-masing sebelum sedetik kemudian Dylan dan gadis itu berteriak secara bersamaan.


“Anjing! Ternyata elo” maki gadis itu


“Kemana aja lo ******!” ucap Dylan ikut memaki namun setelah itu keduanya pun saling berpelukan sambil tertawa. “Hey kemana aja lo pendek? Hilang gak ada kabar selama bertahun-tahun dan sekarang tiba-tiba nongol ke Jailangkung aja lo” ucap Dylan melepaskan pelukannya.


PLAK


Geplakan di belakang kepala Dylan dapatkan dari gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Acha Septriasa Marcella, sahabat masa kecilnya hingga SMP-nya dulu.


“Heh sekarang gue udah tumbuh tinggi ya!” ucap Acha galak yang mana membuat Dylan menatapnya intens dari atas sampai bawah kemudian menganggukkan kepalanya sambil terkekeh.


“Hmm emang sekarang lo tambah tinggi dikit tapi masih kalah tinggi dari gue,” ucap Dylan yang terdengar mengejek diakhir


“Sialan lo!” dengus Acha mengangkat buku-buku yang tadi berceceran di lantai namun sudah tersusun rapih kembali itu untuk membawanya ke perpustakaan. Dylan yang melihat Acha kesusahan membawa buku-bukunya dengan inisiatifnya sendiri mengambil sebagian buku itu.


“Ini mau di kemanain?” tanya Dylan berjalan di samping Acha.


“Perpustakaan, udah siniin tadi lo bilang lagi buru-buru kan?” ucap Acha berusaha meraih kembali buku yang ada di tangan Dylan namun tapi bisa karena tenaganya kurang kuat untuk menahan beban hanya dengan satu tangan.


“Udahlah gak papa biar gue bantuin, lagian gue udah telat banget kalau pun pergi ke kelas sekarang yang ada nanti gue kena hukuman” balas Dylan amat sangat santai ia tak peduli jika nanti ia tak mempunyai nilai ulangan kali ini.


Setelah itu hening sampai pada akhirnya mereka sampai di perpustakaan dan Dylan menemani sekaligus membantu Acha menyusun buku-buku yang di bawanya di rak. “Jadi selama ini lo kemana?” tanya Dylan memecah keheningan sambil sibuk menyusun buku di rak bagian atas sedangkan Acha bagian bawah.


“Germany, gue pindah ke sana karena perusahaan bokap gue kena masalah serius jadi ngeharusin gue sekeluarga harus pindah ke sana. Sorry gak kasih tahu lo” sahut Acha mendongkak melihat Dylan yang menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.


“Gak Papa kali, lagian waktu itu kita masih kecil. Terus gimana sekarang perusahaan bokap lo udah gak ada masalah lagi?“


“Udah,” menganggukkan kepalanya sambil menegakkan tubuhnya ketika sudah beres menyusun buku-buku yang di suruh dosennya rapikan. Menoleh pada Dylan yang ternyata juga sudah menyelesaikan pekerjaannya.


“Hmm bagus kalau gitu, jadi sekarang lo sama bonyok lo udah pindah kesini lagi?” tanya Dylan berjalan keluar perpustakaan beriringan dengan Acha.


Acha diam sebelum menjawab pertanyaan laki-laki di sampingnya, “Gak. Mereka masih di sana gue balik kesini karena gue kabur dari rumah” balas Acha jujur membuat Dylan menoleh padanya kaget


“Lo kabur?! Kenapa?”


“Karena gue gak mau di jodohin, makanya gue kabur” ucap Acha menghela nafasnya jengah ketika mengingat saat ia berdebat dengan kedua orang-tua nya yang memaksanya untuk bertunangan dengan anak dari rekan bisnis mereka.


“Puftt! Jaman sekarang masih ada orang main jodoh-jodohan?” Dylan menahan tawanya agar tak keluar ketika mendengar ucapan Acha.


Acha mendengus, “Iya kan? Bonyok gue kuno banget pake acara jodohin anaknya, kayak gue ini kagak laku aja maen di jodoh-jodohin“


“Tapi kayak lo emang gak laku, Cha” ledek Dylan membuat gadis di sampingnya itu memukul bahunya kesal. Ngomong- ngomong mereka berjalan menuju kearah kantin Fakultas.


“Emang lo di jodohin sama siapa?” tanya Dylan kembali setelah menghentikan tawanya.


“Anak rekan bisnis Daddy gue,” sahut Acha yang diangguki oleh Dylan. “Kenapa gak coba lo terima aja? Mungkin anak rekan bisnis bokap lo ganteng” usulnya yang mendapat gelengan kepala dari Acha.


Dan akhirnya langkah mereka berhenti pada bangku kosong yang berada di tengah-tengah kantin. “Lo mau makan apa?“ tanya Dylan membuat Acha berpikir.


“Apa ajalah yang penting bisa bikin perut gue kenyang, soalnya dari pagi gue belum sarapan” ucap gadis itu pada Dylan yang mengangguk mengerti “Kalau gitu gue samain aja kayak punya gue” ucapnya kemudian berlalu dari sana meninggalkan Acha yang mendudukkan bokongnya di kursi.


Selagi menunggu Dylan yang tengah memesan makanan Acha membuka handphonenya dan melihat isi tabungannya yang mulai menipis, “Hah~ kayaknya gue harus cari kos-kosan sama cari kerja” gumamnya lalu menutup kembali handphonenya.


“Lagian kok lo bego banget sih Cha! Kabur cuma bawa uang tabungan sendiri sedang kartu kartu yang dikasih ma ortu lo gak di bawa, jadi gini kan” gumamnya menggerutu meruntuki kebodohannya.


Karena terlalu sibuk dengan segala gerutunya membuat ia tak sadar kalau Dylan sudah kembali dan menyodorkan sepiring nasgor favoritnya, dan tanpa sengaja mendengar gumamnya itu. “Kenapa lo?“ tanya Dylan mengagetkan Acha yang tersentak kecil ketika mendengar suaranya.


“Ah gak papa, ngomong-ngomong lo dari fakultas mana?” Acha menggelengkan kepalanya seraya bertanya dan menyuapkan nasi gorengnya.


“Bisnis lah, ini aja kan kita lagi ada di gedung fakultas bisnis gimana sih lo” ucap Dylan mengerlingkan matanya malas, sedang Acha hanya menyengir kuda.


“Lo juga ambil jurusan bisnis?” tanya Dylan saat ia sadar jika baru pertama kali melihat Acha di gedung fakultasnya. “Gak, gue ambil jurusan Hukum” sahutan Acha membuat Dylan menganggukkan kepala mengerti.


Oke jadi gedung fakultas Bisnis dan Hukum itu satu bangun jadi tak heran jika anak bisnis dan psikolog sering berkumpul di kantin yang sama.


“Dari kapan lo balik dan masuk universitas ini?” Dylan lagi-lagi bertanya sambil melahap makanannya dan menatap Acha yang terlihat khidmat memakan nasgor nya.


“Lima hari yang lalu”


“Oh... Terus lo tinggal dimana? Di rumah lama lo?”


“Enggak gue nginep di hotel, rumah lama gue udah lama di jual jadi rencananya gue mau nyewa kos-kosan karena kalau gue nginep di hotel mulu bisa-bisa gue gak bisa makan lagi”


“Hah nyewa kos-kosan? Kenapa lo gak beli apart aja biar gampang” ucap Dylan mengerutkan keningnya heran saat mendengar penuturan Acha. Pasalnya anak itukan sama tajirnya kayak dia jadi buat apa nyewa kos-kosan kalau dia bisa beli apartemen atau rumah sekali pun. Pikirnya.


“Mau gue juga gitu tapi sial pas kabur waktu itu gue cuma bawa kartu tabungan gue doang sedangkan kartu kartu lainnya gue tinggal.” tutur Acha mendengus diakhir.


Kali ini Dylan menganggukkan mengerti “jadi karena ini,” batinnya lalu sebuah smirk tercetak jelas bibir tipisnya. “Hmm.. Gimana kalo lo tinggal di apart gue aja” ucap Dylan menawarkan bantuan yang mana membuat Acha mendongak menatap kearah dengan mata berbinar.


“Serius??” tanyanya antusias yang dibalas anggukan oleh Dylan. “Eh tapi... Gak usah deh nanti malah ngerepotin lo lagi” imbuhnya menggelengkan kepalanya menolak.


“Kenapa? Gak ngerepotin kok, lo kan tinggal di apartemen gue bukan cuma numpang tinggal doang, tapi sekalian jadi babu gue di sana“ ucap Dylan tersenyum manis kearah Acha yang justru terlihat menjengkelkan dimata gadis itu. Ternyata benar firasatnya Dylan tak akan mungkin menawarinya bantuan kalau tak ada hal lain yang menguntungkannya. “Udah gue duga, si Dylan pasti gak pernah mau rugi” batin Acha sembari menatap sinis Dylan.


“Ogah lah, mending gue cari kos-kosan dan kerja di cafe atau dimana daripada harus ngebabu sama lo” ketus Acha membuat Dylan terkekeh.


“Ya udah sih gue gak maksa, padahal kalau lo mau gue bisa gaji lo setara manajer di perusahaan bokap gue” ucap Dylan menggindikkan bahu acuh dan kembali menyantap makanannya.


Sementara Acha dibuat terdiam berpikir, “Gila kalau kayak gitu mah berarti gue bisa cepet kaya” batin Acha memekik terkejut pasalnya, gaji manajer di perusahaan ayahnya Dylan itu 12 juta keatas itupun tergantung di manajemen mana orang itu menjadi manajer.


Berdehem pelan Acha kemudian menegakkan cara duduknya sambil menatap lurus Dylan. “I-itu setelah gue pikiran lagi gak buruk juga jadi babu lo” ucap Acha membuat Dylan menaikan sebelah alisnya dan tersenyum miring samar.


“Apa?” bingung Dylan pura-pura tak mengerti.


“Gue mau jadi babu lo!” ucap Acha cepat membuat Dylan tersenyum puas.


“Oke, siang nanti gue tunggu lo di parkiran kita pergi ke hotel tempat lo nginep buat ambil barang-barang lo” ucap Dylan membuat Acha menganggukkan kepalanya. Dan setelah itupun Dylan beranjak dari duduknya, “Dan mulai hari ini lo udah resmi jadi babu gue dan harus nurutin semua perkataan gue” sambung Dylan yang lagi membuat Acha menganggukkan.


Lalu setelah itu Dylan pun menatap seisi kantin yang mulai ramai kemudian berteriak “HELLO GUYS, HARI INI KALIAN BISA MAKAN SEPUASNYA DI KANTIN KARENA CEWEK YANG DUDUK DI DEPAN GUE BAKAL TRAKTIR SEMUA MAKANAN KALIAN!!!” teriak lantang Dylan membuat semua mahasiswa/i yang berada di kantin fakultas itu bersorak senang dan segera memesan makanan yang mereka inginkan.


Berbeda lagi dengan Acha di gadis yang di maksud oleh Dylan itu kini sudah merenggut ditempatnya sambil menatap tajam Dylan. “Sialan lo Dylan!” desisnya menatap tajam nan garang pada Dylan yang masang wajah tanpa dosa.


“Gue pergi dulu ya. Jangan lupa bayarin makanan gue” ucap Dylan kemudian melenggang pergi meninggalkan kantin yang nampak ramai dan berisik. Acha? Dia sudah dibuat meradang dengan sikap semena-mena Dylan.


“Dylan ******! Saldo tabungan gue abisssssss” jeritnya ketika melihat bon seluruh makanan orang-orang yang berada di sana.


...***Thank you for reading...


.......


.......


.......


.......


...To Be Continued***...