
...Jangan lupa vote, like & komen...
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Dengan langkah lebarnya yang terkesan tergesa Dylan memasuki mansion megah keluarganya. Rahang tegasnya terlihat mengeras dan jangan lupakan pula wajahnya yang biasanya memancarkan keceriaan dan kehangatan itu berubah menjadi dingin seolah tak tersentuh.
Membuat beberapa pelayan rumahnya yang tadi panik karena mendengar kabar menghilangnya itu sedikit beringsut takut.
“Tu-tuan muda, anda dari mana saja? Nyonya dan Tuan sedari tadi terlihat sangat khawatir saat anda tiba-tiba saja menghilang bahkan ponsel anda tak bisa di hubungi.” Sang kepala pelayan di rumah besar itu menghentikan langkah kaki Dylan saat mendengar suaranya yang sedikit terbata.
“Dimana mereka?” menghiraukan ucapan sang kepala pelayan, Dylan justru bertanya dengan nada kelewat datar dan dingin.
Membuat sang pelayan bergidik ngeri karena baru pertama kali mendengar nada suara yang begitu tak bersahabat dari tuan muda mereka. Dengan sedikit terbata sang kepala pelayan itu menjawab.
“Me-mereka ada di atas, di ruang kerja Tuan be—” belum sempat ucapan pelayan itu selesai Dylan sudah lebih dulu berlalu pergi dari sana dan menaiki satu persatu anak tangga untuk menuju di mana ruang kerja sang ayah berada.
BRAK!
Pintu itu Dylan buka dengan sangat kasar hingga membuat 3 orang yang berada di dalam sana terlojak kaget, namun hanya bertahan beberapa saat saja sebelum Dylan mendapat pelukan penuh kekhawatiran bercampur lega dari sang Ibu; Clara.
“Sayang, kamu darimana nak? Syukurlah kamu baik-baik aja, Mama khawatir banget sama kamu” ucap Clara dalam pelukannya lalu melepaskannya setelah beberapa saat karena tak mendapat respon balik dari Dylan yang hanya diam masih dengan wajah dinginnya.
Mendorong pelan pundak sang ibu, Dylan menatap Galaksi dan Clara bergantian. “Apa aku anak biologis kalian?” pertanyaan Dylan itu mendapatkan respon keterkejutan yang amat sangat kentara dari Galaksi, Clara dan juga Daffin, sahabat Galaksi yang sedari tadi diam menyimak.
Bahkan Clara sampai memundurkan tubuhnya. “Dy-dylan, apa yang kamu tanyakan. Tentu saja kamu anak biologis Mama sama Papa.” ucap Clara sedikit terbata setelah berhasil mengendalikan keterkejutannya.
Berdecih pelan Dylan kemudian melemparkan beberapa lembar foto dan hasil tes DNA yang di berikan seseorang yang beberapa waktu lalu menculiknya pada sang ibu. “Anak biologis di mananya? Aku cuma anak yang kalian culik dari orang tua kandungnya di hari kelahirannya'kan?”
Tangan Clara gemetar dengan pupil mata yang membesar saat memegang kertas hasil tes DNA dan lembaran foto yang di lemparkan Dylan padanya. Matanya menatap tak percaya beberapa lembar foto yang jelas sangat ia sadari bahwa itu telah sengaja di rekayasa oleh seseorang.
Sementara Galaksi yang sedari tadi diam langsung merengkuh pundak Clara saat melihat tindakan kurang ajar Dylan kepada sang istri.
“Dylan jaga sikap kamu! Dia ibumu!” tekan Galaksi berujar dingin mencoba meredam emosinya pada sang putra.
“Ibuku? Dia hanya wanita asing yang menculik ku dari kedua orang tua kandungnya di hari kelahirannya. Begitupun dengan mu!” sarkas Dylan menatap nyalang Galaksi yang mengeram tertahan mendengar ucapan tak sopan santun Dylan.
PLAK!
Galaksi melayangkan tamparan keras di pipi Dylan karena sudah tak tahan menahan emosinya. “Jaga ucapan mu Dylan! Kamu bahkan tak tahu apa-apa tentang kebenarannya. Jika bukan karena ibumu yang kamu sebut wanita asing ini, mungkin hari itu kamu sudah kehilangan nyawamu sama seperti ibu kandungmu!” bentak Galaksi pada Dylan yang memegangi pipinya yang terasa perih bercampur panas akibat dari tamparan sang Ayah.
Clara yang terdiam mematung dengan salah satu tangan membekap mulutnya itu, tak menyangka rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat bersama keluarga besarnya tentang Dylan kini terbongkar.
Perlahan matanya memanas bulir-bulir air mata yang sangat jarang ia tunjukkan itu kini jatuh satu persatu membasahi wajah cantiknya yang mengkriput karena di makan usia.
“Dylan, foto-foto ini hanya rekayasa belaka. Mama tak pernah menculik mu apalagi membunuh ibumu... Justru—” ucapan yang di selingi isakan tangis itu tercekat di tenggorokan Clara. Pikiran wanita yang hampir memasuki usia kepala lima itu melayang kembali pada kejadian 23 tahun yang lalu.
Ckitt!!
“Ada apa, pak? Kenapa tiba-tiba berhenti?” tanya Clara di kursi penumpang belakang mobil pada sang sopir yang tiba-tiba saja mengerem mendadak.
Pria paruh baya yang menjadi sopir pribadi Clara itu menoleh pada sang atasan, “Akh maaf Nona, di depan mobil ada seorang wanita yang tiba-tiba menghadang mobil kita, apa anda tidak apa-apa?” ucap supir itu seraya menunjuk ke bagian depan mobil.
Mengikuti arah tunjukkan sang sopir Clara pun melihat kearah depan namun ia tak mendapati siapapun di sana. “Aku tidak apa-apa. Tapi dimana wanita itu?” tanya Clara pada sang sopir dan saat sopir itu akan menolehkan kepalanya kembali melihat kearah depan tiba-tiba saja wanita yang dilihat sopir itu sudah berada di samping pintu kemudi sambil menggedor-gedor kaca jendela mobil.
Membuat Clara dan Sang sopir kembali kaget, apalagi penampilan wanita itu terlihat sangat berantakan dan penuh dengan noda merah seperti darah.
Duk duk duk!
“To-tolong! tolong buka pintunya! saya mohon.” ujar wanita itu dengan panik dan terus melihat kearah hutan sebrang jalan.
Sang sopir terlihat gugup dan kembali melihat kearah Clara, “Nona haruskah saya membukanya?” tanya sopir itu takut-takut.
Clara memperhatikan sebentar wanita asing yang masih menggedor jendela mobilnya itu, dari penampilan yang dapat di lihat oleh Clara keadaan wanita itu terlihat jauh dari kata baik-baik saja, karena dari mulai kening yang masih mengeluarkan darah dan pakaiannya yang berlumuran noda darah itu membuat penampilan wanita itu terlihat mengerikan.
Sampai di saat ia tengah menelisik penampilan wanita itu tatapannya terjatuh pada sesuatu yang berada di tangan wanita itu yang terlihat seperti tengah menggendong bayi.
“Tuan saya mohon, tolong buka pintunya.” pintar Wanita itu kembali.
Clara yang saat itu mulai sedikit kasihan juga penasaran dengan apa yang tengah di gendong wanita itupun membuka pintu belakang mobil tempat di mana ia duduk. Dan saat ia hendak melangkahkan kakinya guna keluar dari dalam mobil, wanita itu justru sudah lebih dulu mendorong sesuatu yang berada di gendongnya itu kepada Clara.
“Apa! Hey?!” ucap Clara terkejut dengan apa yang di berikan wanita itu ternyata adalah seorang bayi. Dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah penampilan wanita itu kini terlihat sangat jelas di mata Clara.
Di mana di bagian lengan juga kaki wanita itu terdapat beberapa luka sayatan dan luka yang seperti luka tembakan. Melihat kondisi wanita itu tentu saja membangkitkan rasa kemanusiaan Clara dan hendak menarik wanita itu agar masuk ke dalam mobilnya untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.
“Hey, aku akan menyelamatkan putramu tapi, ayo masuk terlebih dahulu kita harus pergi ke rumah sakit untuk mengobati luka-luka mu sebelum kehabisan banyak darah.” ucap Clara menggapai tangan wanita itu.
“Tidak! Nona, saya hanya berharap anda bisa menyelamatkan putra saya dan melindunginya, itu saja. Saya mohon” harap wanita itu dengan tatapan penuh harapan pada Clara lalu mengecup sekilas kening bayi yang berada di gendong Clara sebelum berlari dengan sedikit pincang masuk ke dalam hutan.
Untuk sesaat Clara terdiam sambil menatap lurus ke mana wanita itu pergi dan menghilang di balik pepohonan dan gelapnya malam. Sebelum mengalihkan tatapannya kearah bayi yang sepertinya baru satu minggu lahir itu tengah terlelap tidur dengan tenang dalam gendongannya.
Melihat keterdiaman sang nona, membuat pria paruh baya itu bersua. “No-nona haruskah saya mengejarnya?”
“Tak perlu, ayo lajukan kembali mobilnya. kita harus cepat-cepat pulang ini sudah hampir dini hari.” Menggelengkan kepalanya seraya menutup pintu mobil dan mendapat anggukan kepala dari sang supir.
“Baiklah Nona.”
....•*•.•*•.•*•.•*•.•*•.•*•....
Mobil Lamborghini milik Kalandra berhenti tepat di depan pintu masuk utama mansion megah kediaman Galaksi.
“Makasih makan siang dan malamnya juga udah nganterin gue balik dengan selamat.” ucap Zeline menatap kearah Kalandra yang juga tengah menatapnya dan hendak keluar dari mobil pemuda itu.
Tapi belum sempat ia membuka pintu mobil, pemuda itu lebih dulu menahan pergerakannya membuat ia menaikan sebelah alisnya heran; bertanya.
“Sebelum lo masuk ke dalam, boleh gue minta sesuatu dari lo?” tanya Kalandra menatap tepat mata Zeline sedikit gelisah karena takut mendapat tolakan dari gadis itu seperti biasanya.
Namun seperti biasa pula sebelum Zeline sempat menyetujui permintaannya, Kalandra sudah lebih dulu menarik belakang kepala Zeline dan mendaratkan bibir tipisnya di atas kening gadis itu yang membulatkan matanya terkejut.
Lalu setelah itu iapun sedikit menjauhkan wajahnya dan beralih menatap netra Zeline yang telah tersadar dari keterkejutannya. “Good night and sweet dream, honey.” ucapnya lalu mengecup ujung hidung Zeline, sebelum membukakan pintu mobil di belakang Zeline.
“Hmm, Gue masuk, Hati-hati di jalan” Zeline berujar senormal mungkin agar tak terdengar gugup dan bergegas untuk segera masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Kalandra yang menatap punggung sempitnya dengan senyum tipis.
“Sekeras apapun lo berusaha ngebantah dan nolak kenyataan bahwa lo juga udah jatuh cinta sama gue. Gue bakal terus buat lo jatuh sejatuh-jatuhnya sama gue.” Batin Kalandra kemudian menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan mansion keluarga Galaksi.
Sementara Zeline, begitu ia masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya dengan rapat-rapat ia memegang dada kirinya yang terasa berdegup dengan begitu kencang. “Kalandra sialan! Gue benci sama lo.” Zeline berucap dalam hati dan tanpa ia sadari saat mengucapkan itu dengan kedua sudut bibir yang tertarik keatas.
Kemudian saat ia membalikkan badannya hendak pergi menuju kamarnya dan telah bisa mengendalikan detak jantungnya ia baru menyadari bahwa suasana rumahnya begitu mencekam dan dingin tak seperti biasanya.
Membuat ia mengkerutkan dahinya heran juga penasaran, apa terjadi sesuatu di sini selama ia pergi? Pikirnya bertanya-tanya. Sampai langkah kakinya berhenti akibat sang kepala pelayan yang bisa kita panggil; Bi Ratih menghalangi jalannya.
“Ada apa?” tanya Zeline dengan nada seperti biasa menatap lamat-lamat raut wajah wanita paruh baya itu.
“Non, Nyonya tiba-tiba aja drop dan di bawa ke rumah sakit tadi sore,” ucap Bi Ratih menyampaikan pesan yang sedari tadi sore ingin ia sampaikan kepada Nona muda keduanya.
“Apa? Drop?!” mata Zeline membulat sempurna saat mendengar perkataan Bi Ratih tentang keadaan Ibunya. “Apa yang terjadi sama Mama sampai buat dia drop? dan kenapa gak ada yang kasih tahu gue?!” Tangan Zeline mencengkram kedua bahu Bi Ratih kuat meminta penjelasan.
“Sa-saya gak tahu pasti kronologinya Nona, tapi saat tadi siang ketika Tuan Muda kembali setelah tiba-tiba menghilang entah kemana dan pergi menemui Nyonya dan Tuan Besar di ruangannya. Saya mendengar keributan di sana dan setelah itu Tuan muda pergi kembali dari sini dengan wajah dinginnya, saat itu pula Tuan Besar turun dengan Nyonya yang berada di gendongnya” jelas Bi Ratih takut dan menahan ringisannya akibat cengkeraman Zeline pada bahunya menguat.
“Terus kenapa kamu gak ngasih tahu saya?!”
“Saya sudah mencoba menghubungi anda sedari sore tadi, Nona. Tapi anda tak pernah mengangkatnya” ucap Bi Ratih membuat Zeline teringat akan handphone nya yang tertinggal di tas sekolahnya. “Sial gue lupa itu!” batin Zeline merutuki dirinya sendiri dalam hati.
“Terus Kak Celine udah kamu kasih tahu?” tanya Zeline kemudian dan melepaskan cengkramannya pada bahu Sang kepala pelayan yang menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Lalu setelah itupun, Zeline pergi meninggalkan Bi Ratih menuju kamarnya dan mengambil handphonenya yang tertinggal di tas sekolahnya. Dan yah begitu ia menyalakan handphone nya banyak notifikasi panggilan tak terjawab dari kedua kakaknya dan juga panggilan dari telpon rumah.
Kemudian tanpa berpikir panjang lagi Zeline pun segera pergi dari kamarnya setelah menyambar jaket beserta kunci motor miliknya yang berada di laci nakas samping tempat tidurnya. “Sial! sesuatu yang buruk pasti telah terjadi, gue bodoh banget sampe ninggalin handphone gue kayak gini” batin Zeline sambil menuruni tangga dengan terburu-buru dan telpon genggamnya yang menempel pada daun telinganya; menghubungi seseorang.
“Pergi ke rumah sakit keluarga gue sekarang dan cek keadaan Nyokap gue! setelah itu kasih tahu gue gimana keadaannya di markas dan kumpulin semua bawahan lo yang gue suruh buat jagain Bang Dylan!” titah Zeline saat sambungan teleponnya dengan seseorang di sebrang sana tersambung. Lalu tanpa menunggu jawaban dari orang di sebrang telponnya ia langsung memutuskan sambungannya.
Setelah menaiki motor sport hitam miliknya Zeline segera melajukan motornya itu keluar bagasi dengan kecepatan tinggi dan pergi entah kemana yang jelas bukan menuju rumah sakit.
...Thank you for reading...
.......
.......
.......
.......
...To Be Continued...