
...Jangan lupa vote, like & komen...
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Setelah membaringkan tubuh mungil Zeline di atas ranjang king size-nya, Jayden pun memanggil pelayan perempuan di kediamannya untuk menggantikan pakaian yang di kenakan Zeline dengan piyama tidur sementara ia pergi ke ruang kerjanya untuk menelpon seseorang.
Usai dengan urusannya di ruang kerja Jayden kembali ke kamarnya dan melihat Zeline yang sudah berganti pakaian tengah tertidur nyaman di kasurnya. Berjalan mendekat kearah Zeline tatapannya teralihkan pada benda pipih persegi panjang di atas nakas yang terlihat menyala dan bergetar mengeluarkan suara.
Membuat ia meraih benda itu lalu melihat sebuah username dengan nama 'BangKal😒' tertera di sana. Awalnya ia mengeryitkan dahinya saat melihat username itu sebelum keryitan itu di ganti dengan sebuah seringai di bibir tipisnya.
Pikirannya berkelana haruskah ia menjawab panggilan ini atau mengabaikannya saja? Tapi bukankah akan terdengar menyenangkan jika ia menjawab panggilan itu, pasti nanti dua orang ini akan bertengkar dan itu hal yang bagus untuknya.
“Ck. Akhirnya kamu angkat juga panggilan aku kamu habis ngapain sih lama amat jawab telponnya?” decakan seorang pria di sebrang telpon sana menjadi pembuka pembicaraan panggilan itu dan Jayden hanya diam sambil terus memasang senyum miringnya dan tatapan matanya yang tertuju pada wajah damai Zeline di atas tempat tidur.
Sementara seseorang yang berada di sebrang sana mengerutkan alisnya saat setelah 1 menit berlalu tak mendengar sahutan dari orang yang dirinya telpon.
“Zeline? Babe? Kamu di sana kan?” panggilnya sambil melihat layar ponselnya memastikan bahwa ia masih terhubung dengan Zeline.
Mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang yang di tempati Zeline, Jayden membawa tangannya membelai pipi Zeline hingga sampai di bibir plum gadis itu. Kemudian kepalanya terunduk untuk mengecap bibir gadis itu masih dengan ponsel gadis itu menempel di telinganya namun, saat jarak bibirnya dengan bibir Zeline hanya tinggal beberapa senti kepalanya tertahan oleh suara yang berasal dari ponsel di genggamannya.
Ahh sial dirinya lupa bahwa ia tengah menerima telpon, menjauhkan kembali kepalanya Jayden kemudian memasang kembali senyum miringnya sebelum menjawab ucapan orang itu.
“Zeline lagi tidur dia kelelahan setelah kegiatan yang tadi kami lakukan,” sahutnya membuat seseorang di sebrang sana diam membeku saat mendengar suara pria asing yang menjawab panggilannya pada Zeline.
Kepalanya berputar menerka-nerka siapa orang ini dan kegiatan apa yang di maksud oleh pria itu. “Siapa lo? Kenapa handphone Zeline ada di lo,” nada bicara orang itu berubah dingin juga datar bahkan wajahnya di sebrang sana sudah mengeras dan terlihat amat dingin.
“Hahaha.. Menurut lo?” sahut Jayden terkekeh pelan menanggapi pertanyaan pria di sebrang nya.
“Jawab aja sialan! Siapa lo?!”
“Tanya aja sama kekasih lo nanti, gue mau istirahat juga bye.“ ucap Jayden mematikan sambungan itu sepihak tanpa menunggu balasan dari orang di sebrangnya.
Salah satu sudut bibirnya tertarik menjadi sebuah seringai membayangkan hal apa yang akan terjadi setelah ini nanti. Kemudian iapun menekan tombol power handphone tersebut untuk mematikannya namun, belum sempat ia mematikannya sebuah panggilan telpon kembali masuk kini dari nomor dan username yang berbeda.
'Line'Sister' username itu tertera di layar benda pipih tersebut. Namun ia memilih mengabaikannya dan mematikan handphone tersebut hingga layarnya benar-benar berubah menjadi gelap dan menyimpan benda itu di laci nakas.
Lalu iapun membuka kemeja motif garis vertikal di tubuhnya itu dan membuangnya asal membuat ia menjadi shirtless. Dirinya kemudian ikut naik keatas ranjang yang di tempati Zeline dan memeluk gadis itu dari samping. Sebelum ia ikut tidur dirinya mencondongkan sebagian tubuhnya kearah Zeline, megukung gadis itu guna ******* kecil bibir plum gadis itu yang tadi tak jadi ia rasakan.
.
.
.
.
Kalandra terduduk di balkon kamarnya dengan pikiran yang berkecamuk tangannya terlihat mencengkram handphonenya erat. Mengingat kembali ucapan pria asing yang tadi menjawab panggilan telponnya terhadap Zeline.
“Sial gue gak bisa berpikir jernih. Kegiatan apa yang di maksud pria itu!?”
Terlalu sibuk dengan pikirnya Kalandra sampai tak menyadari jika seseorang kini telah masuk ke dalam kamarnya dan tengah berjalan menghampirinya.
“Kal?” panggil orang tersebut dengan nada lembut dan menyentuh pundak tegap Kalandra yang bersandar pada badan kursi. Yang mana panggil yang diiringi dengan sentuh di pundaknya itu membuat Kalandra sukses tersentak dan menoleh kearah si pelaku.
Wajah terkejutnya itu berubah setelah melihat siapa yang mengagetkannya dengan tatapan tajamnya. Membuat orang itu menarik tangannya dengan cengiran kudanya.
“Ngapain lo di sini?” ketus Kalandra pada orang itu yang mengambil tempat di kursi di sampingnya yang terhalang meja kecil untuk duduk.
“Ketus amat lo, Kal kek yang lagi pms. Gue kan cuma pengen main sama lo, lagian bosen gue, si Dylan kan lagi sibuk nyiapin keperluan dia yang mau pergi keluar negeri sama mbak tunangannya.” ucap orang itu yang tak lain adalah Erland sang sahabat yang hilang kabar entah ke mana belakang ini.
“Omong-omong tadi lo lagi ngelamunin apa, sampek kaget kek gitu?” Pertanyaan Erland itu memicu ingatan Kalandra kembali pada hal tadi dan membuat pemuda itu kembali melamun dengan segala pikirannya yang penuh dengan pertanyaan.
Melihat Kalandra yang kembali diam melamun membuat Erland memutar matanya dan menggebrak meja.
BRAK!
“Ye malah ngelamun lo! Mikirin apaan sih?”
Kalandra sedikit tersentak oleh gebrakan Erland dan menghembuskan nafasnya berat sambil mengadahkan kepalanya menatap langit yang telah berubah menjadi jingga.
“Gue mikirin Zeline,“ lirihnya
Erland mendelik tak percaya saat mendengar ucapan sahabat dingin satunya itu. “Ini bener sahabat dingin gue kan? Kok kek orang lainnya?” pikirnya terheran-heran tak percaya.
Tangannya terlihat terulur menyentuh kening Kalandra mengecek apa sahabatnya itu sehat atau tidak. Dan baru juga 3 detik punggung tangannya bertengger di kening sang sahabat pemuda itu langsung menepis kasar tangannya.
“Gue gak sakit bodoh!“ umpat Kalandra membuat Erland terkekeh.
“Gue cuma gak percaya aja lo bisa mikirin cewek sampek keliatan galau kek gini, asal lo tahu, ini tuh kejadian langka dari seorang Kalandra si cowok es yang gak pernah peduli sama siapapun tapi sekarang malah nge galauin seorang cewek.“ ucap Erland berlebih-lebihan yang hanya di tanggapi rollingan mata malas oleh Kalandra, yah meski sebagian ada benarnya juga sih.
“Tadi gue nelpon dia, tapi yang angkat justru cowok gak di kenal dan tuh cowok bilang Zeline lagi tidur karena kelelahan setelah ngelakuin suatu kegiatan.” curhat Kalandra membuat Erland mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti sambil mengusap-usap dagunya.
Kemudian keryitan tercetak di dahinya. “Kegiatan apa yang lo maksud?” ucap Erland yang di balas gelengan oleh Kalandra.
“Aduh kok pikiran gue malah ke hal yang negatif sih.” Erland merutuki pikiran netihk nya dalam hati.
Menghembuskan nafasnya pelan Erland menepuk pundak Kalandra, “Jangan mikir negatif dulu Kal, mungkin maksud tuh cowok mereka habis jalan-jalan dan Zeline kecapean karena itu.” ucap Erland mencoba memberi aura positif kepada Kalandra yang hanya diam.
Di tengah pembicaraan mereka itu lagi-lagi seseorang masuk tanpa izin ke dalam kamar Kalandra hanya saja kali ini si pemilik kamar menyadari hal itu dan menoleh ke arah dalam kamarnya.
“Kalandra suprise!” pekik seorang gadis menyembul dari pintu balkon pemuda itu yang hanya memasang wajah datarnya tanpa ekspresi.
Melihat raut tanpa ekspresi Kalandra senyuman di wajah gadis itu perlahan memudar dan berjalan menghampiri Kalandra lalu memeluk manja dari belakang pemuda itu menghiraukan Erland yang terlihat seperti tengah berpikir mengingat sesuatu saat melihat gadis itu.
“Kamu kenapa sih, Kal? Gak senengnya aku ada di sini?” ucap gadis itu sedikit di manja-manjakan.
Melepaskan pelukan gadis tersebut Kalandra pun beranjak dari duduknya. “Iya gue gak suka lo ada di sini," balas Kalandra membuat wajah gadis itu kian di tekuk sedih.
“Jadi bisa lo keluar dari kamar gue__ Dashha?” usir Kalandra membuka lebar pintu kamarnya.
“Tap-”
“Keluar!” ucap Kalandra kali ini dengan suara yang sedikit tinggi.
Dan akhirnya gadis yang tak lain adalah Dashha itupun pergi dari sana dengan langkah lunglai.
.
.
.
.
Sementara itu di kediaman keluarga Galaksi terlihat Celine yang menggerutu dengan umpatan-umpatannya yang tak sepatutnya di ucapkan olehnya, saat untuk yang ke sekian kalinya dirinya menghubungi sang adik agar segera pulang namun gadis itu tak juga mengangkatnya bahkan semua pesan teksnya pun tak ada tanda di baca sama sekali oleh sang adik,
Hingga di tengah gerutuannya itu suara deru mobil mengalihkan atensinya dan dengan segera Celine berlari ke teras mansion guna melihat siapa yang datang.
Dan saat melihat itu adalah mobil sang kakak membuat ia menyinggungkan senyum sumringahnya lalu berlari menubruk tubuh sang kakak dengan pelukan.
“Abanggg gue kangen sama lo, akhirnya lo mau pulang ke sini lagi.” ucap Celine terendam di balik pelukan Dylan yang sedikit terkejut karena pelukan tiba-tibanya namun setelahnya membalas pelukan adiknya itu.
“Gue juga, maaf karena emosi gue sampek bikin Mama masuk rumah sakit dan bikin lo khawatir sama nasib keluarga kita.” ujar Dylan lembut mengusap belakang kepala Celine.
“It's okay Bang, gue emang sempet kecewa sama tindakan lo itu tapi gue bisa ngertiin karena lo tahh kenyataan itu bukan langsung dari mulut kedua orang tua kita tapi dari orang lain. Gue juga kaget dan gak percaya kalo lo sebenarnya bukan kakak kandung gue, tapi gue sayang banget sama lo jadi jangan ninggalin rumah lagi dan mudah percaya sama omongan orang yang gak di kenal nya, Bang.” ucap Celine melepaskan pelukannya pada Dylan dan pemuda bersurai coklat tua itu menganggukkan kepala sebagai respon.
“Kebetulan lo pulang sekarang, lo tau Mama keluar rumah sakit hari ini mungkin sekarang lagi di jalan. Lo harus minta maaf sama Mama, asal lo tahu aja waktu Mama di rawat di rumah sakit dia terus nanyain keberadaan Abang mulu,” ucap Celine membuat rasa bersalah Dylan kian bertambah.
“Padahal yang bikin Mama drop sampek masuk rumah sakit itu gue tapi selama di rawat pun Mama masih inget sama gue. Emang sebesar itu ya kasih sayang Mama kek gue? Dasar gak tahu terimakasih lo Dy,”
Menoleh ke samping sang Kakak Celine mendapati sang Kakak ipar berdiri di sana dengan senyum hangatnya. Membuat ia langsung berhambur memeluk wanita itu. “Kak Acha lama gak ketemu, Celine kangen apalagi sama masakan kak Acha.” ucap Celine manja yang di balas kekehan pelan oleh Acha.
“Kakak juga kangen sama kamu, kenapa gak pernah main lagi ke Panthouse Abang kamu,” balas Acha membuat Celine mengerucutkan bibirnya seraya melepaskan pelukannya.
“Aku kapok, takutnya kalian lagi ngelakuin hal yang sama kayak waktu itu,” ucapan Celine membuat Dylan dan Acha yang mendengarnya mengerjapkan mata mereka dan saling melemparkan lirikan saat mengingat kembali hal memalukan itu.
“Kenapa pake di ingetin sih Line” rutuk Acha dalam hati.
“Ah udahlah yuk masuk, kita tunggu Mama sama Papa di dalem lagian mau sampai kapan kita di sini terus.” ajak Celine menarik lengan Dylan dan Acha ke dalam Mansion.
Dan saat Celine dengan kedua kakanya itu sampai di ruang tengah keluarga Celine kembali teringat dengan sang adik yang belum juga pulang sejak kemarin malam.
“Bang, lo udah hubungin Zeline gak hari ini?” tanya Celine pada Dylan yang menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaannya.
“Belum, emang kenapa dia belum pulang?” Dylan balik bertanya pada sang adik yang duduk di tengah-tengah dirinya dan Acha.
“Belum, sejak kemarin malam pas dia pulang dari Apart Abang dia gak pulang entah pergi ke mana. Tadi aja dia gak masuk sekolah gak tahu tuh anak pergi ke mana, mana nih nya Bang dia udah lima hari gak masuk sekolah sama sekarang pas aku tanya di telpon tadi siang dia cuma jawab ada urusan yang harus dia urus terus matiin panggilannya gitu aja. Huh! Sok sibuk sekali bocah satu itu” jelas Celine dengan diakhir penjelasannya mecibir sang adik.
Mendengar penjelasan Celine pikiran Dylan kini berputar mencari jawaban. Adiknya yang satu itu memang sibuk akhir-akhir ini karena ulahnya tapi yang jadi pertanyaannya hanya satu apa gadis itu mengenal seseorang yang menculiknya terakhir kali itu? Pikirnya.
Di tambah lagi tadi siang saat ia tengah sibuk packing barang-barang yang akan di bawanya untuk berangkat menuju Amerika bersama pemuda yang memberitahunya tentang identitas aslinya itu menelpon dirinya dan mengatakan bahwa mereka batak pergi dan mengatakan padanya bahwa semua ucapan tempo lalu hanyalah omongan belaka untuk menghancurkan ketenangan keluarganya.
Jelas saja hal itu membuat Dylan marah, ia di bodohi dan karena hal itu ia menyebabkan Ibu kesayangannya itu sampai masuk rumah sakit.
Meski sebenarnya ada sedikit hal yang mengganjal hatinya saat tiba-tiba pemuda itu mengatakan hal itu seolah ada seseorang yang memintanya untuk mengatakan hal itu. Tapi entahlah ia tak tahu siapa orang di balik itu yang jelas sekarang ia harus meminta maaf pada sang ibu. Juga mungkin berterimakasih pada sang adik yang sudah mencerahkan pikirannya saat di pentheouse kemarin.
...Thank you for reading....
.......
.......
...To Be Continued...