
...Jangan lupa vote, like & komen...
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Sebuah motor berjenis Kawasaki Ninja ZX25R terlihat membelah jalanan pagi ini dengan kecepatan tinggi yang masih lenggang karena matahari belum benar-benar keluar dari balik persembunyiannya.
Gadis yang menunggangi kuda besi itu terlihat sangat marah terbukti dari raut wajahnya yang sangat dingin dan tak bersahabat. Pikiran gadis itu melayang pada saat ia terbangun dari tidur nyenyaknya dan mendapati bahwa dirinya berada di tempat asing juga keadaan pakaian yang sudah tak sama seperti saat terakhir kali ia kenakan.
Bugh!
Satu pukulan mendarat tepat di rahang tegas pria yang terlihat masih mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya dari tidur lelapnya.
“Bajingan sialan lo! Berani-beraninya lo ngasih obat tidur di makanan gue. Bahkan ngeganti baju gue seenaknya!” murka Zeline pada Jayden yang terdiam karena mendapatkan pukulan di saat ia baru saja terbangun dari tidurnya.
Untuk sesaat ia diam dan mengusap pipinya yang terasa panas bercampur perih akibat tamparan itu sebelum sedetik kemudian ia mengulas senyum miring dan mendongak menatap wajah memerah marah Zeline.
“Asal lo tahu aja gue gak campurin obat tidur di makanan lo tapi, di alat makan lo dan soal baju lo itu maid yang ganti. Jadi tenang aja gue ngapa-ngapain lo, lagipula gue cuma pengen ngerasain gimana rasanya tidur pelukan sama lo sepanjang malam kayak yang di rasain kekasih lo itu.” ucap santai Jayden membuat Zeline tambah marah.
Dan entah kenapa pikirannya kini tertuju kepada Kalandra, perasaannya memburuk ia tiba-tiba jadi takut saat bayangan wajah kecewa Kalandra terputar di benaknya ketika mengetahui bahwa ia tidur bersama pria lain. Meski mereka tak melakukan apa-apa seperti yang di katakan Jayden tapi tetap saja, Zeline takut.
Perasaan takutnya sama seperti rasa takutnya ketika keluarganya hancur dan kecewa padanya.
“Kanapa ngelamun? Mikirin gimana reaksi pacar lo pas tahu lo tidur bareng cowok lain, ya.” ujar Jayden membawa tubuhnya bersandar pada kepala ranjang sambil melipat kedua tangannya di dada memperhatikan Zeline yang kembali dari lamunannya.
“Terserah lo mau mikir apa. Tapi denger gue bakal ikut sama lo setelah satu bulan dan urusan gue di sini udah selesai seperti perjanjian yang kita omongin kemarin, jadi gue mohon tepatin itu dan selama itu pula jangan ganggu gue. Gue gak bakal kabur lo bisa pegang ucapan gue.” ucap Zeline setelah menetralisir amarahnya dan mengambil baju yang dipakai olehnya sebelumnya ke kamar mandi dan mengganti bajunya lalu pergi dari sana usai membawa handphone dan kunci motornya yang ada di nakas samping ranjang.
Meninggalkan Jayden tanpa sepatah katapun. “Baiklah gue bakal pegang ucapan lo. Tapi untuk gak gangguin lo selama itu gue gak bisa menjaminnya.” gumam Jayden menatap pintu kamarnya yang tertutup setelah kepergian Zeline.
.
.
Menghentikan laju kendaraannya tepat di garasi rumahnya Zeline pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan saat ia masuk ia ternyata telah di tunggu oleh sang Ayah juga ibunya yang tengah duduk santai dengan secangkir kopi di meja hadapan mereka masing-masing.
“Oh inget pulang ternyata. Habis darimana kamu dua hari gak pulang-pulang bahkan semalam waktu kakak kamu nelpon kamu bahkan bisa di hubungi?” ucap Galaksi yang lebih dulu menyadari kedatangannya dan melipat surat kabar yang tengah di bacanya lalu menatap kearahnya tepat di mata dengan tatapan dingin mengintimidasi.
Menundukkan kepalanya Zeline pun berucap pelan, “Maaf Ma, Pa.”
Zeline bingung, alasan apa yang sekiranya harus ia lontarkan kepada kedua orangtuanya itu. Sudah terlalu sering ia berbohong saat tak sengaja ketahuan seperti ini meski tak sesering sang Kakak.
Melihat raut wajah menyesal putri bungsunya Clara yang tadi duduk sambil membaca majalah pun beranjak dari duduknya dan menghampiri putrinya itu.
“Mama maafin kamu, tapi katakan dulu kamu pergi ke mana? Jangan suka ngilang tiba-tiba Zeline, Mama khawati_ bukan kita semua khawatir sama kamu. Mama gak mau kejadian lima tahun silam terulang lagi, Zeline.” ucap lembut Clara mengusap kepala putrinya yang masih menunduk dan ekspresi wajahnya berubah menjadi sulit untuk diartikan.
“Maaf Ma, tapi kejadian lima tahun silam itu bakal terulang lagi. Tapi bedanya, kali ini aku bakal pamitan sama kalian.”
“Maaf“ Hanya kata itu yang kembali terucap dari bibir tipis berwarna plum Zeline.
Tahu tak akan mendapat jawaban atas pertanyaannya Galaksi maupun Clara hanya menghela nafas mereka pelan. “Hm sudahlah kalo begitu, sana pergi mandi sebentar lagi kakak-kakak kamu bakal turun buat sarapan bersama.” ucap Galaksi melembut dan mendapat anggukan dari Zeline.
...┈┈┈┈․° ☣ °․┈┈┈┈...
Dengan kemeja biru muda polos yang membalut tubuhnya atletis nya dan celana jeans hitam Kalandra turun dari kamarnya menuju meja makan untuk bergabung sarapan bersama kedua orangtuanya dan adiknya.
Pagi ini karena ia tak memiliki jadwal apa-apa ia memutuskan untuk pergi menemui Zeline di kediamannya. Ia ingin menanyakan perihal seseorang yang mengangkat panggilannya tadi malam pada gadis itu.
“Pagi Ma, Pa.” sapa Kalandra sesampainya di maja makan dan menarik kursi samping Kaisar.
Sementara Septian dan Kaisar hanya melirik penampilan Kalandra sekilas terutama Kaisar yang terlihat malas sangat karena seperti biasa, Kakaknya itu pasti tak pernah menyapanya di pagi hari. Kalau pun menyapa dirinya itupun kalau Kakaknya sedang kesambet saja.
“Rumah Dylan,” sahut Kalandra terdengar acuh seperti biasa namun senyum tipis di wajahnya tak bisa terelakkan.
Mendengar nama itu membuat senyum jahil Kaisar terbit. Waktunya menggoda Kakaknya. Monolog Kaisar dalam hati. “Mau nemuin Bang Dylan ya, atau Adeknya yang Kulkas, Bang?” Celetuk Kaisar menaik turunkan alisnya menggoda pada sang Kakak yang kini menatapnya tajam.
Sedangkan, Stella dan Septian terkekeh pelan saat mendengar godaan yang dilemparkan Kaisar pada kakaknya itu. “Gue mau jenguk Tante Clara dia baru keluar dari rumah sakit kemarin,” sahut Kalandra mengambil roti selai yang di sodorkan Stella padanya.
“Oh oh tahu nih gue, mau kasih kesan baik di depan camer ya'kan, Bang?” ucap Kaisar lalu mengalihkan tatapannya kepada kedua orangtuanya.
“Ma, Pa, kayaknya kita harus siap-siap buat lamaran karena, Bang Kala ini pasti bakal langsung dapet restu dari orang tuanya Bang Dylan buat lamar putri bungsu mereka.”
“Aaa kamu bener Kai, Abang kamu ini mau ambil hati camernya jadi harus siap-siap dari sekarang iya'kan, Pa?” tanya Stella pada sang suami yang menganggukkan kepalanya setuju.
Sementara Kalandra hanya mendengus sambil mengunyah rotinya kesal, ini masih pagi kenapa pula kedua orangtuanya ini malah bekerja sama dengan Kaisar untuk menggodanya. Padahal kan ia memang sudah memiliki kesan baik di mata kedua orangtua gadis yang di sukainya itu bahkan mungkin ia sudah mengantongi restu itu. Sedangkan untuk lamaran... Oh ayolah gadisnya itu masih sekolah jadi mana mungkin ia melamar gadis itu dalam waktu dekat.
Keluarganya ini benar-benar menyebalkan, terutama adiknya ini, gerutu Kalandra dalam hati. Melihat raut wajah sang kakak yang kesal dan tambah datar membuat Kaisar bersorak bahagia dalam hati. Misi menggoda Kakaknya pagi ini berhasil seperti biasa.
“Aku selesai, Ma, Pa aku berangkat.” ucap Kalandra beranjak dari duduknya setelah meneguk air minumnya dan sebelum pergi ia menendang lumayan keras tulang kering sang adik yang seketika menjerit kesakitan sambil menatapnya tajam.
.
.
Saat Kalandra akan memasuki mobilnya tiba-tiba saja sebuah tangan menahan pergerakannya. “Kalandra, kamu mau ke mana pagi-pagi gini di hari libur?” tanya seorang gadis yang menahan pergerakannya itu dengan kerutan kecil di antara alisnya.
“Bukan urusan lo, Minggir!” Kalandra melepaskan genggaman gadis itu pada pergelangan tangannya.
Dashha; gadis itu mencibikkan bibirnya saat Kalandra melepaskan paksa genggamannya. Namun ia tak habis akal ia menghalangi pintu mobil yang akan di buka oleh Kalandra dengan tubuhnya membuat Kalandra menatapnya sinis.
“Aku ikut boleh?” tanyanya mengedipkan matanya mencoba bertingkah lucu, namun bukannya terlihat lucu di Kalandra justru mengernyitkan alisnya jijik.
“Gak! Minggir lo!” ketus Kalandra menggeser tubuh Dashha dengan mudah lalu masuk ke dalam mobilnya.
Di saat ia tengah memasang seatbelt dan mentranster mobilnya pintu penumpang samping kemudinya di buka oleh Dashha dan gadis itu ikut masuk lalu duduk anteng di sana sambil menatap kearah depan.
Menghembuskan nafasnya kasar Kalandra menatap gadis disampingnya itu dingin nan tajam. “Turun!” usirnya dengan nada menekan menahan kekesalannya.
Namun gadis itu justru menggelengkan kepalanya tegas. “Gak mau! Aku mau ikut sama kamu Kal, kita udah lama gak jalan bareng buat habisin waktu berdua setelah aku pulang dari Prancis.” ucap Dashha menoleh pada Kalandra yang kini mencengkram kuat stir mobilnya.
“Gue mau ketemu cewek gue! Jadi lebih baik lo turun dan pergi dari rumah gue!” tekan Kalandra masih mencoba bersabar.
Mendengar hal itu membuat tekad Dashha menjadi semakin bulat, ia tak suka dengan Kalandra yang memiliki kekasih apalagi gadis yang beberapa waktu lalu ia temui itu nampak tak mencintai Kalandra. Jadi ia memutuskan untuk merebut Kalandra kembali padanya.
“Bagus kalo gitu, ayo gue pengen kenal lebih deket sama pacar lo itu, kitakan sahabat Kal jadi gue harus tahu cewek yang lo pacarin itu dia sayang atau gak sama lo jadi gue harus ikut. Siapa tahu gue bisa jadi sahabat dia juga.” ucap Dashha beralih menatap kearah depan seraya menyandarkan punggungnya pada jok mobil sambil melipat tangan.
Melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, Kalandra akhirnya hanya bisa pasrah dengan membiarkan Dashha ikut bersamanya. Ia sudah terlambat jadi lebih baik ia segera berangkat apalagi sebelum pergi ke rumah kekasihnya itu ia akan mampir terlebih dahulu di toko kue dan toko bunga.
Merasakan mobil yang mulai berjalan meninggalkan pekarangan rumah Kalandra, Dashha bersorak dalam hati. Saat sampai nanti dan bertemu dengan gadis itu Dashha akan menempelkan dirinya untuk selalu dekat dengan Kalandra agar gadis itu tak memiliki kesempatan.
...Thank you for reading...
.......
.......
.......
...To Be Continued...