
“Zeline sekarang ceritakan di mana kamu selama ini? Alasan apa yang membuat kamu pergi, sampai orang-orang suruhan kami tak dapat menemukan mu.” ujar Clara yang saat ini duduk di sofa ruang keluarga bersama dengan Acha dan Celine yang baru saja sampai beberapa saat lalu setelah mendapat telpon dari Kakak iparnya.
Zeline yang duduk diantara Clara dan Celine hanya diam dengan senyum tipis di bibirnya. Membuat Celine yang melihatnya dengan tak berperasaan memukul belakang kepala Zeline kesal.
“Kenapa malah tersenyum sok misterius begitu!? Cepat ceritakan apa yang terjadi selama 9 tahun ini dan pergi kemana kamu?!!” ucap Celine sewot dan mendapat delikan tajam dari Zeline yang terlihat lebih dingin dan tajam dari 9 tahun yang lalu.
Namun, Celine bukannya takut ia justru merasakan perasaan senang dari lubuk hatinya karena setelah sekian lama ia akhirnya bisa melihat lagi delikan kesal Zeline padanya.
“Swiss, Belanda, and Hawaii. Aku pergi ke tiga kota itu,” ucap Zeline terdengar tak memuaskan untuk tiga orang wanita di sana. "Banyak yang terjadi selama itu tapi akan lebih baik kalian tak perlu mengetahuinya.” lanjutnya dalam hati.
“Lalu apa alasan kamu pergi, Dek?” tanya Acha penasaran karena tak puas mendengar ucapan Zeline tadi.
“Kalian tak perlu tahu. Aku senang bisa kembali dan melihat kalian baik-baik saja juga bahagia.” ucap Zeline lagi tak memuaskan rasa ingin tahu tiga orang di sana.
“Aku sedikit lelah, bisa aku pergi ke kamarku?” tanya Zeline dan mendapat anggukan dari Clara.
“Huft~~ tak apa jika kamu tak ingin mengatakan hal yang sebenarnya. Beristirahat lah maid sudah membereskan kamarmu tadi,” Clara mengusap rambut sebahu Zeline yang tersenyum kecil bangkit dari duduknya untuk pergi ke kamar, tapi sebelum benar-benar pergi ia menyempatkan untuk mengecup pipi sangat ibu.
“Baiklah aku istirahat dulu, jika Papa dan Abang Dylan pulang makan malam nanti, panggil aku, ya?” Acha, Celine dan Clara menganggukkan kepala kompak mendengar ucapan Zeline.
Zeline menutup pintu kamarnya, menatap ruangan yang pernah ia tempati selama 17 tahun sebelum kemudian pergi, kakinya ia bawa menelusuri kamarnya yang tak berubah sedikit pun, mungkin hanya ada beberapa barang yang di tambahkan di dalam kamarnya.
Merebahkan tubuhnya di atas kasur Zeline menatap langit-langit kamarnya datar, sampai beberapa menit kemudian ia tak sengaja terlelap.
.... ...
.... ~̠~̠Z̠e̠l̠i̠n̠e̠ ̠Z̠a̠k̠e̠i̠s̠h̠a̠~̠~̠ ....
.... ...
Sore harinya Zeline tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan melihat kearah jam yang sudah menunjukkan pukul 06.04 sore. Kemudian ia pun bergegas untuk pergi membersihkan tubuhnya karena sebentar lagi waktunya makan malam, dan pastinya Papa beserta Kakaknya saat ini sudah sampai di mansion.
Usai memakai baju, Zeline pun turun dari kamarnya menuju ruang makan.
“Ck. Sayang, gak usah ngebohong aku gak suka itu! Apalagi kamu ngebohong dengan bawa-bawa Adik aku.“ ucap Dylan yang berjalan di depan Zeline bersama Acha menuju ruang makan juga.
“Aku mana bohong sih! Aku ngomong jujur, emang tadi kamu gak liat di kamar Zeline ada dia yang lagi tidur?” Acha berucap yakin membuat Dylan menghembuskan nafasnya lelah.
“Engga ada! Udah gak usah bicara omong kosong lagi.” ucap Dylan menatap tajam Acha yang seketika mendengus karena suaminya itu tak mau percaya padanya.
Zeline mempercepat sedikit langkahnya sampai berjalan tepat di belakang Dylan, tangannya terulur menepuk bahu Dylan agar menoleh ke belakang.
Merasakan tepukan di bahunya Dylan pun menoleh ke belakang dan matanya langsung membelalak saat melihat sosok yang amat sangat ia rindukan hingga membuat ia terdiam kaku.
“Long time no see, brother.” Sapa Zeline dengan senyum kecilnya.
Acha yang melihat keterdiaman sang suami pun akhirnya malah mencubit pinggang Dylan hingga pria dewasa itu meringis dengan kesadaran yang kembali keraganya.
“Sstt.. Sakit, Yang!” ringis Dylan mengusap pinggangnya yang di cubit oleh Acha sambil menoleh pada Sang istri.
“Hehe.. Lagian malah bengong, liat ini beneran Zeline aku gak bohongkan?” Acha merangkul pundak Zeline.
Dylan kembali menatap Zeline, “Ini beneran kamu, dek?“ tanya Dylan masih tak percaya ia takut sosok yang berada didepannya itu hanyalah halusinasi belakanya saja, akibat terlalu merindukan sang Adik.
“Ck. Ternyata sifat bodoh lo masih ada juga, ya?” hardik Zeline melipat kedua tangannya di dada sebelum akhirnya tubuhnya di terjang oleh pelukan erat dari Dylan.
“Setelah sembilan tahun gak ketemu, sifat kurang ajar lo masih melekat juga ternyata!” Dylan memukul pelan belakang kepala Zeline sebelum mengusap dan mengecup puncak kepala gadis itu yang terkekeh pelan.
“Udah, Bang. Gue laper ayo pergi ke ruang makan.” Zeline melepas pelukan melepas rindu mereka lalu berjalan terlebih dahulu bersama Acha yang tersenyum bahagia. Meninggalkan Dylan yang menatap punggung kedua wanita itu yang perlahan menghilang karena berbelok ke arah ruang makan berada.
“Zeline, kembali. Apa yang harus gue lakuin sekarang? Memberitahu Kalandra yang pasti setelah mendengar kabar ini akan membatalkan pernikahannya atau tidak memberitahunya sama sekali?” Batin Dylan berkecamuk.
.......
.... ~̠~̠Z̠e̠l̠i̠n̠e̠ ̠Z̠a̠k̠e̠i̠s̠h̠a̠~̠~̠ ....
.... ...
Keesokan harinya, seperti biasa kediaman Galaksi akan memulai hari mereka dengan sarapan keluarga di meja makan, hanya saja kali ini semua anggota benar-benar ada di meja makan tak seperti beberapa tahun belakangan ini di mana saat itu Zeline tidak ikut makan bersama mereka.
Semalam saat akan makan malam Zeline mendapat pelukan penuh rindu juga dari Sang Papa, yaitu Galaksi, dan pria paruh baya itu juga memaksa Zeline agar tidur di bersama dengan pria paruh baya itu berserta Sang istri di kamar utama mansion.
“Hari ini, aku mau pulang.” ucap Zeline memecah keheningan di meja makan itu, hingga membuat hampir semua pasang mata di sana tertuju kepadanya yang masih asik dengan sarapan serealnya.
“Pulang ke mana? Kamu kan udah pulang ke rumah kamu, Dek.“ tanya Galaksi menatap putri bungsunya itu meminta penjelasan.
“Pulang ke rumah aku sendiri, maksud ku.. ”
“Kamu punya rumah sendiri? Di mana?“
“Gak jauh dari kantor, tempat kerja aku... ”
“Tapi—”
“Aku akan sering-sering mampir, aku janji!” Zeline memotong ucapan Clara yang ingin mencegahnya untuk pergi dari kediaman Galaksi.
“Dek, kamu di sini baru semalem dan ini juga rumah kamu jadi, tetep tinggal di sini ya?“ bujuk Celine menatap Zeline dengan pandangan memelas setelah menyuapi Aileen putri tungalnya yang baru berumur 2½ tahun.
“Gak bisa, kerjaan aku numpuk di rumah Kak.” tolak Zeline dengan tegas berbarengan dengan ia yang menyelesaikan sarapan paginya.
Zeline beranjak dari duduknya lalu menatap satu persatu anggota keluarga nya sampai berhenti tepat di mata Dylan yang juga menatapnya. “Aku pulang dulu, aku janji bakal sering mampir ke sini. Dan aku harap kalian semua tidak memberitahu orang luar tentang aku yang sudah kembali, ya?” kalimat terakhir Zeline terdengar tidak seperti sebuah permintaan tapi sebuah perintah.
Tatapan mata yang masih beradu dengan Dylan itu terlihat sangat tegas dan dingin, sebelum kemudian tatapan Zeline juga jatuh pada Alan. Setelah itu Zeline punya mencium punggung tangan kedua orang tuanya sebelum kemudian berlalu pergi dari mansion itu.
Melihat kepergian Zeline, Alan dan Dylan kompak menundukkan kepalanya.
“Sepertinya gue gak bisa kasih tahu, Kalandra tentang ini.” Batin Dylan.
“Padahal gue mau ngasih tahu Kaisar supaya dia ngasih tahu hal ini ke Bang Kalandra.” Batin Alan.
.
.
.
Kalandra menghembuskan nafasnya pelan saat ia telah selesai mencoba baju pernikahannya bersama Elisha; calon istrinya/tunangannya.
“Udah selesai kan? Gue harus balik ke kantor.” ucap Kalandra dingin seperti biasa kepada gadis yang berdiri di sampingnya. Mereka saat ini sudah berada di luar butik tempat mereka tadi fitting baju.
Elisha menganggukkan kepala sebagai respon dengan senyum menawannya. Melihat anggukan dari gadis di sampingnya Kalandra pun hendak melangkahkan kakinya menuju parkiran terurung karena, cekalan dari Elisha di lengannya menghentikannya.
Kalandra menoleh dengan sebelah alis terangkat menatap Elisha. “Sebentar lagi makan siang, gimana kalau kita makan siang bareng?” tanya Elisha lembut.
“Tidak, makan siang sendiri saja!” tolak Kalandra mencoba melepaskan cekalan Elisha lengannya yang justru semakin mengerat.
“Pliss, aku mohon, kita berdua belum pernah makan siang bersama. Aku mohon, sekali iniiii saja?“ rayu gadis itu memohon dengan tatapan memelasnya.
“Oke, sekali ini saja!” final Kalandra dengan dengusan ogah-ogahannya, melepas cekalan di lengannya seraya berjalan menuju parkiran di mana mobilnya terparkir dengan Elisha yang mengikutinya dari belakang.
Setelah keduanya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area parkiran butik, tanpa keduanya sadari di dekat pohon rindang yang ada di pinggir jalan terdapat pasang mata yang memperhatikan dari dalam mobil sejak mereka keluar dari butik.
Senyum getir terlihat dibibir tipisnya setelah mobil Kalandra tak dapat ia lihat lagi, “Dia akan bahagia, gue juga harus ikut bahagia ngeliat hal itu'kan?” tanyanya dengan miris kepada dirinya sendiri sambil meremas kuat stir kemudi-nya.
Lalu, menyalakan mesin mobilnya guna pergi dari sana menuju apartemennya.
...Thank you for reading...
...Don't forget to vote, like ...
...and comment! ...
.......
.......
.......
.......
...To Be Continued...