
...Jangan lupa vote, like & komen...
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Usai makan siang bersama keluarga Alan, Kanaya adik perempuan satu-satunya Alan itupun mengajak Celine untuk pergi ke kamarnya, sementara orang tua gadis muda itu pergi keluar, entahlah Celine tak tahu mereka pergi keluar ke mana ia tak ingin tahu takut di bilang kepo sama camer.
Sedang, Alan hanya menghela nafasnya pasrah saat lagi dan lagi Celine-nya di monopoli oleh sang adik. Jadi pemuda itu memutuskan untuk bermain video game saja di ruang tengah seorang diri tadi sempat menelpon kedua temannya tapi keduanya tengah sibuk, jadi ya sudahlah.
Di saat ia baru saja menyelesaikan satu putaran bermain game tiba-tiba saja dari arah pintu utama rumahnya datang seorang gadis yang masuk sambil meneriakkan namanya.
"Alannn, aku kangen~~" seru gadis itu dengan mendayu dan langsung menubrukkan tubuhnya pada Alan yang masih fokus pada layar TV. Hingga membuat pemuda itu kaget dan ambruk seketika di atas karpet karena tak siap.
"Anjing! Game gue!" umpat Alan kaget sembari matanya melirik tajam pada orang yang sudah memeluknya tanpa aba-aba.
Saat tahu siapa yang memeluknya seketika itu pula Alan mendorong gadis itu dari atas tubuhnya hingga pelukkan gadis itu terlepas. Raut sedih langsung tercetak di wajah gadis itu, "Alan kok kamu dorong aku sih? Abis itu kamu juga kenapa ngumpatin aku!" ujar gadis itu duduk di sebelah Alan yang membenarkan duduknya sambil kembali menyambar stik gamenya.
"Lagian lo ganggu. Ngapain ke sini? Gak ada kelas emang,"
Ivana, gadis yang tadi menubruk Alan mencibikkan bibirnya sok lucu. "Mau main lah, aku kangen tahu sama kamu karena, belakangan ini sibuk terus sama tugas kuliah. Lagi pun hari ini aku gak ada jadwal kelas." ucap Ivana bergelayut manja di lengan Alan.
Alan menarik lengannya karena tak leluasa bergerak, "Sial! Ni cewek ngangguin aja sumpah gak liat apa gue lagi main?!" gerutu Alan dalam hati.
"Ish Alan! Kok kamu gitu sih! aku tuh kangen sama kamu pengen manja-manjaan!" Ivana merebut stik game dari tangan Alan lalu melemparkannya hingga ke pojok ruangan.
Alan menghembuskan nafasnya kasar, dia capek sumpah ngadepin sifat Ivana ini dan memilih beranjak dari sana untuk pergi ke kamar sang adik yang berada di lantai bawah dekat dengan tangga menuju lantai atas.
Mengabaikan Ivana yang berteriak sambil bangun dari duduknya untuk mengikuti Alan. Dan saat gadis itu ikut masuk kedalam kamar yang ia ketahui kamar adik Alan matanya melotot karena melihat Celine ada di sana.
Dengan langkah lebar ia menghampiri Celine yang duduk beralaskan karpet berbulu di kamar Kanaya tengah membantu gadis muda itu mengerjakan tugas sekolahnya dan di samping Celine juga ada Alan yang duduk sambil menyandarkan kepalanya di bahu sempit gadis itu.
Srett
Ivana menarik lengan Celine kasar dan membuat gadis itu berdiri di hadapannya. Tatapan tajam Ivana tertuju pada Celine yang nampak acuh.
"lo! Ngapain lo ada di rumah cowok gue hah!!"
"Siapa cowok lo?"
"Alan. Siapa lagi?"
"Dih? Bukannya udah putus dari dua setengah tahun yang lalu ya? Kok ngaku-ngaku"
"Gue sama Alan gak pernah putus, ya! Kita bahkan udah ngerencanain buat tunangan!"
Alan yang mendengar perdebatan itu bangun dari duduknya lalu menarik lembut lengan Celine untuk berdiri agak di belakangnya sedikit. Tatapannya dingin nan tajam mengarah pada manik coklat tua Ivana.
"Kita udah putus dua setengah tahun yang lalu! Jadi lo lebih baik jaga batasan lo karena sekarang lo cuman temen biasa gue gak usah campurin urusan gue lagi! Asal lo tahu gue muak sama sikap lo! Dan satu hal yang harus lo pelajari lagi soal bedain mana Cinta, mana Obsesi!" ujar Alan penuh penekanan dan nada intimidasi hingga membuat Ivana termagu dengan badan yang sedikit bergetar karena, baru pertama kalinya ia mendapat perlakuan seperti ini dari Alan.
"Sekarang mending lo keluar dari rumah gue! Dan jangan pernah datang ke sini lagi!!" bentak Alan mengusir Ivana yang matanya mulai berkaca-kaca.
"A-alan kenapa kamu kayak gitu sama aku? Aku cinta sama kamu! Kamu juga cinta sama aku kan?" ucap Ivana meraih tangan Alan yang terulur menunjuk pintu keluar.
"Gue gak pernah cinta sama lo! Gue cuma nganggap lo sebatas sahabat gue! Tapi lo selalu maksa gue buat jadiin lo pacar gue dan waktu itu gue terpaksa!!" Alan menghempaskan tangannya yang di pegang Ivana kasar. "Gue tegasin sekali lagi sama lo, Gue gak pernah cinta sama lo! Jadi berhenti gangguin hidup gue! Sekarang pergi!!"
Ivana yang sudah menitikkan air mata itupun mengusap air matanya kasar dan menatap tegas Alan dan Celine bergantian. "Aku gak peduli kamu cinta sama aku atau engga sekarang, tapi yang jelas aku akan pastikan kamu bakal tetap jadi milik Ivana Avril Melvia SEORANG!" Ucap gadis itu lalu pergi dari sana dengan rasa sakit di dadanya dan obsesinya untuk memiliki Alan hanya untuk dirinya seorang.
Meninggalkan tiga manusia yang mendengar ucapannya menggelengkan kepalanya tak percaya plus ngeri. "Bener-bener cewek gila!" gumam Kanaya sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya ngeri.
.
.
.
Jayden menutup pintu dan menguncinya sebelum menghampiri Zeline yang tengah membelakangi pemuda tersebut. Zeline menyadari hal itu namun ia berusaha untuk tak peduli, justru ia malah terheran dengan wewangian yang berasal dari dupa yang entah sejak kapan berada di lemari panjang dekat pintu.
Belum lagi entah perasaannya saja atau ac kamarnya yang tak berfungsi kini suhu ruangan di dalam kamar itu terasa sangat panas bagi Zeline. "Ck! Kenapa di sini tiba-tiba gerah banget? Belum lagi sejak kapan gue ataupun pria brengsek ini suka pasang dupa?" batin Zeline.
Kemudian tak berapa sesaat setelah ia membatin sambil mencoba menghiraukan rasa panas di tubuhnya, tiba-tiba saja ia menyadari satu hal bahwa ia lagi-lagi kembali masuk ke dalam jebakan licik Jayden setelah pemuda itu berbisik, "Malam ini kamu tak akan bisa menghindar lagi Zeline~~" Jayden memeluk tubuh ramping Zeline dari belakang dan menjilat ujung telinga Zeline dengan sensual hingga membuat gadis itu menggeliat geli dan bulu kuduknya meremang.
"Sial Badan gue makin panas?!" batin Zeline menggeliat tak nyaman dalam pelukan Jayden.
Lalu perlahan kesadaran Zeline mulai terkikis dengan seiring hawa nafsunya yang naik kepermukaan dan mengendalikan tubuhnya. Bahkan kini Jayden telah mendorong tubuhnya hingga terlentang di atas ranjang dengan pemuda itu yang berada di atasnya, mengukung.
Jayden itu mulai mencumbu leher jenjang Zeline, Sementara gadis itu yang hanya bisa pasrah meski di sisa kewarasannya ia berusaha menolak tapi tak bisa. Saat piyama tidurnya mulai di lepas oleh Jayden Setetes air mata jatuh dari ujung mata Zeline. "Gue terjebak lagi! Gue benci diri gue." gumam Zeline di sisa kesadarannya dalam hati sebelum sepenuhnya dirinya dikendalikan oleh hawa nafsunya.
.
.
Sementara Ares dan seorang gadis yang seperti di perintahkan oleh Zeline saat di mobil tadi pagi tengah menunggu perintah selanjutnya dari Zeline yang tak kunjung memberi tanda.
Ares mulai gelisah di dalam kamarnya dan melirik sekilas pada gadis yang duduk di tepi kasurnya yang terlihat sedikit gugup. "Nona, kenapa anda belum juga memberi tanda? Apa terjadi sesuatu?" batin Ares menatap lantai marmer dengan gelisah.
Hingga malam mulai mendekati fajar Ares belum juga mendapat tanda perintah dari Zeline membuat ia dengan segera membawa kembali gadis yang di jadikan untuk pengganti Zeline menuju tempat persembunyian lagi.
.
.
Esok harinya saat matahari telah naik dari upuk timur dan masuk melalui celah gorden kamar Zeline dan Jayden. Setelah percintaan tadi malam Zeline tidak tertidur tapi ia terjaga semalaman dan membiarkan Jayden memeluk dirinya dari belakang.
"Happy morning dear, thank you for last night which was very amazing." ujar Jayden mengecup rambut Zeline seraya semakin merapatkan tubuhnya dan Zeline yang tak berbalut busana apapun di balik selimut.
Kemudian setelah itu ia beranjak dari kasur karena tak mendapat respon apapun dari Zeline. Sebelum pergi menuju kamar mandi ia melihat wajah Zeline yang tertidur dengan damai dan mengusap sayang surai gadis itu pelan lalu, setelahnya iapun benar-benar beranjak menuju kamar mandi.
Begitu pintu kamar mandi tertutup Zeline pun membuka kelopak matanya lalu meneteskan airmatanya lagi dan menahan suara isakan tangisnya. "Gue cuma pengen ngasih mahkota berharga gue cuma buat orang yang paling gue cintai dan yang jadi suami gue. Tapi bukan banjingan kayak lo! Elo udah ngerenggut itu dari gue, Jayden lo bajingan!" ucap Zeline dalam hati terus memaki Jayden.
Sampai lima belas menit kemudian pintu kamar mandi terbuka dan Zeline kembali memejamkan matanya berpura-pura tidur kembali. Jayden melihat Zeline sekilas sebelum pergi menuju walk in closet di kamar itu untuk memakai bajunya karena hari ini ia harus pergi terbang menuju U.S untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya di perusahaan pusat miliknya.
Setelah selesai bersiap ia kembali menghampiri Zeline lalu mengusap kepala gadis itu dan mengecupnya, "Aku berangkat. Istirahatlah dan aku harap aku segera mendapat kabar baik dari mu." bisiknya sebelum pergi keluar dari kamar.
Zeline mendudukkan dirinya di atas kasur dengan kedua lutut yang di tekuk setelah kepergian Jayden lalu tangannya mengambil lampu tidur di atas nakas samping tempat tidurnya sebelum kemudian ia melemparkan lampu tersebut kearah pintu hingga menimbulkan suara pecahan yang keras.
"Kau tidak akan mendapat kabar baik apapun dariku!! Yang ada hanya kabar buruk tunggu saja itu, brengsek!!" umpat Zeline lalu beberapa saat kemudian Emma masuk dengan panik ke dalam kamarnya ketika mendengar suara pecahan kaca.
"Nyonya!! Ya ampun, anda tidak apa-apa?" pekik Emma menghampiri Zeline yang nampak berantakan belum lagi kamar gadis itu juga sama berantakannya dengan keadaan gadis itu.
Zeline tak menanggapi pekikan Emma justru ia malah mencekik leher wanita itu saat wanita itu sudah berada di sampingnya. "Pergi beli obat Kontrasepsi sekarang juga! Ingat jangan sampai anak buah pria bajingan itu tahu. Kau mengerti?!!" ucap Zeline penuh ancaman apalagi sorot matanya terlihat mengerikan membuat Emma maupun Ares ataupun anak buahnya yang lain yang memang sudah bekerja bertahun-tahun untuk gadis itu langsung menganggukkan kepalanya mengerti meski nafasnya benar-benar tercekat sekarang.
Cengkraman di leher Emma terlepas dan wanita itu dengan cepat melaksanakan tugas Zeline. Hingga tak lama kemudian beberapa pelayan yang lain masuk ke dalam kamar Zeline untuk membersihkan kekacauan di kamar itu sedangkan Zeline membersihkan dirinya.
Baiklah sedikit informasi agar kalian tidak bingung, Ares dan Emma sebenarnya tangan kiri Zeline yang sengaja ia susupkan untuk berada di sisinya selama ia berada di sini.
...Thank you for reading...
.......
.......
.......
.......
...To Be Continued...