Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Hampir aja



...Jangan lupa vote, like & komen...


...Happy Reading...


.......


.......


.......


Sekitar pukul sebelas malam ketika semua orang sudah terlelap tidur mengarungi alam mimpi masing-masing, seorang gadis terlihat menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamarnya lalu menoleh ke kanan kiri hanya untuk memastikan jika orang-orang yang berada di mansion megahnya itu telah terlelap.


Setelah merasa semuanya aman perlahan gadis itupun keluar dari dalam kamar dengan mengendap-endap sambil menjinjing sepatunya. Dengan langkah yang penuh kehati-hatian juga waspada ia mulai menuruni satu persatu anak tangga untuk pergi ke garasi.


Namun naas ketika ia tengah berjalan melewati ruang tamu pintu mansion tiba-tiba saja terbuka lebar dan menampilkan sang kakak yang baru saja pulang dan memergoki kelakuannya.


"Celine? Mau kemana lo tengah malam begini?" pertanyaan yang penuh akan intimidasi itu menyapa indera pendengaran gadis yang tak lain adalah Celine, gadis itu terlihat mematung di tempatnya lalu menatap sang kakak dengan tangan yang berada di belakang badannya mencoba menyembunyikan sepatu yang dibawanya.


"Gak mau kemana-mana" ucapnya menggelengkan kepala ribut sambil tersenyum lebar.


Dengan tangan yang terlipat di atas perut Dylan menelisik penampilan Celine yang terlihat rapi dari atas sampai bawah dengan mata memicing tajam. "Lo mau balapannya?" pertanyaan yang terlontar dari mulut Dylan itu mampu membuat Celine menelan ludahnya susah payah.


"Damn! gue ketahuan"


"Kenapa diem? Gue bener, ya?" dengan menaik turunkan alisnya Dylan tersenyum mengejek kearahnya membuat gadis cantik itu menahan kesal karena melihat senyum menyebalkan sang kakak


"Iya, terus lo mau apa? Mau ngelaporin gue ke Mama sama Papa?" mengangkat sedikit dagunya menantang Dylan yang tersenyum miring ketika mendengar ucapan menantang darinya.


"Yakin pengen gue laporin?"


"Laporin aja, gue gak takut tuh, Gue juga bisa ngelaporin ke mereka kalau abang pulang tengah malem" ucap Celine tak kenal takut, membuat Dylan menghembuskan nafas kasar.


"Gak bakal gue laporin asal lo juga gak ngelaporin gue" ucap Dylan menatap sang adik yang tersenyum kearahnya sambil mengangguk setuju.


"Yaudah jadi sekarang gue udah bisa pergi,kan?" tanya Celine berniat melewati tubuh tinggi sang kakak yang malah merentangkan tangannya menghalang. Membuatnya mendongakkan menatap sang kakak penuh tanya namun yang ia lihat justru wajah Dylan yang tersenyum lebar kearahnya penuh arti.


"Gue cuma bilang gak bakal ngelaporin lo, bukan ngizinin lo buat pergi. Kecuali kalau elo......." Dylan menggantungkan ucapannya sambil tersenyum licik kearah Celine yang merenggut kesal.


"Kecuali apa?" ucap Celine tak sabar karena kakaknya ini terlalu mengulur waktunya untuk segera pergi ke tempat balap liar yang ia cari tahu sore tadi dari orang-orang suruhannya.


"Mobil kesayangan lo buat gue" ucap Dylan mengundang pelototan tak terima Celine.


"Gak! Gue bakal kasih apa aja kecuali mobil kesayangan gue" ucap Celine menggelengkan kepala tegas.


"Hmm.. Yaudah balik kamar!" titah Dylan berucap datar sambil berjalan melewati Celine yang terlihat merenggut kesal di tempatnya dan membalikkan badannya kearah Dylan yang sudah berada cukup jauh dari tempatnya.


"Gue gak mau!" ucap Celine penuh penekanan dan bersiap untuk kembali berbalik badan berjalan menuju pintu utama mansion. Namun baru juga ia memegang gagang pintu suara bariton milik seseorang yang amat sangat ia kenali membuatnya kembali membeku di tempat.


"Balik ke kamar kamu sekarang!! atau semua fasilitas kamu Papa tarik selama sebulan." ucap Galaksi yang entah sejak kapan berdiri di dekat pembatas lantai dua.


Perlahan Celine menengokkan kepalanya pada sang Ayah lalu beralih menatap Dylan yang terlihat berjalan melewati Ayahnya sambil melihat kearahnya dengan senyum mengejek. "Kok gue bisa punya Abang senyebelin dia sih! Jangan-jangan dari tadi dia sengaja dan tahu kalau Papa ada disana lagi?" batin Celine melayangkan tatapan mematikannya kearah Dylan yang justru memeletkan lidahnya tambah mengejek.


"Ngapain masih di sana?! Cepet balik ke kamar Celine!!" ucapan bernada dingin juga tegas dari Galaksi membuat Celine tersadar dari beradu tatap sengit dengan sang kakak. Lalu dengan langkah lunglai dan wajah tertekuk Celine berjalan kembali menuju kamarnya melewati sang Ayah yang masih setia menatapnya dan ketika melewati Dylan yang juga hendak masuk kedalam kamarnya dengan kesal Celine menendang tulang kering Dylan hingga membuat sang empu meringis sambil menatapnya nyalang.


"Celine!!" desis Dylan kepada Celine yang juga menatapnya.


"Apa!!" sentak Celine ngarang.


Dan ketika Dylan hendak melayangkan makian kepada Celine suara dingin Galaksi membuat keduanya bergegas memasuki kamarnya masing-masing. "Masuk kamar!" sela Galaksi dari belakang dengan nada tak bersahabat nya.


.


.


.


Satu bulan telah berlalu semenjak Celine kepergok akan balapan liar dan selama itu pula Celine pindah di Jakarta. Kehidupannya tak banyak yang berubah hanya kebiasaannya yang sering Clubbing dan balap liar itu sedikit terkurangi karena sang Ayah yang selalu berhasil memergokinya.


Dan kehidupannya di sekolah pun tak terlalu membosankan, yah kalian tahu Celine sekarang sudah menjadi langganan BK bersama kedua sahabatnya yang lain.


Seperti sekarang ini ia tengah menggambari satu persatu bilik di toilet sekolahnya menggunakan Pilox yang entah ia dapatkan darimana bersama Jasmine yang tengah sibuk merapihkan rambut panjang yang sengaja ia warni kemarin dan tadi pagi saat ia sampai di sekolah pun langsung mendapat teguran dari guru dan mengancamnya dengan akan memotong rambutnya itu jika tidak di warnai seperti semula, Namun namanya juga Jasmine jadi ia mana peduli.


“Warna rambut gue yang sekarang bagus kan, Cel?” tanya Jasmine setelah berhasil mengepang sebagian rambutnya sambil menatap Celine dari balik cermin wastafel.


“Hmm... Lumayan nanti gue juga mau ganti warna rambut lah” ucap Celine membalikkan badannya menatap Jasmine dari pantulan cermin, lalu mendekat dan mencuci tangannya.


“Yaudah yuk balik kelas nanti si pak botak ngomel-ngomel lagi” ucap Celine setelah mengeringkan tangannya dan melempar pilox yang tadi digunakannya ke tong sampah. Kemudian mereka berdua pun berjalan menjauh dari toilet untuk kembali ke kelas.


Namun saat mereka tengah melewati lorong sepi menuju kelas 12 IPS tiba-tiba saja dari arah berlawanan seorang pemuda muncul sambil berlari dan seketika menabrak bahu Celine cukup keras hingga membuatnya dan si penabrak itu jatuh tersungkur mencium lantai.


“Aduhh... Woy kalau jalan liat-liat ngapa!?” cetus Celine mencoba bangun dari posisi duduknya sambil menepuk-nepuk rok belakangnya di bantu oleh Jasmine.


“Sorry gak keliatan, abisnya lo punya badan bocil bener,” ucap si pemuda itu yang juga bangun dari acara jatuhnya sambil menepuk belakang celananya yang juga kotor terkena debu.


“Heh! Badan segede ini lo katain bocil? Lo kali yang kelebihan kalsium makannya ke tiang plus rabun” cecar Celine menegadahkan kepala untuk melihat pemuda yang berdiri menjulang di depannya.


Pemuda itu terlihat mengalihkan pandangannya kepada Celine dengan menunduk. “Siapa nih cewek? Lumayan juga” batinnya ketika menatap keseluruhan wajah Celine yang berada tepat di depannya. Terlihat cantik sekaligus imut jika dilihat dari ketinggian ini.


“Heh, biasa aja dong lo liatin temen gue. Gue tahu temen gue tuh cantik jadi biasa aja dong liatnya” celetuk Jasmine memecah lamunan pemuda di depan Celine ketika pemuda itu menatap intens wajah sang sahabat.


“Cih, cantik darimananya temen lo ini, udah pendek jelek lagi” sarkas pemuda itu memalingkan wajahnya kearah lain.


Celine yang mendengar dirinya dikatain jelek plus pendek jelas tak terima dong, secara tinggi badannya ini termasuk tinggi jika dibandingkan dengan cewek-cewek lain diluar sana. “Yak tiang! Siapa yang lo katain jelek sama pendek hah? Asal lo tahu aja ya gue ini termasuk jajaran cewek tinggi dan inceran cowok-cowok di luaran sana.” ketus Celine pada pemuda itu dan ketika pemuda itu akan membalas ucapan Celine dari arah belakang sana dua orang pemuda lain muncul dengan gaya yang hampir sama dengan pria yang berdiri di depannya yaitu urak-urakan.


“Alan! Lo ini ngajak bolos tapi ngapa ninggalin sih” gerutu salah satu pemuda yang memiliki wajah tampan dan sedikit cantik secara bersamaan.


“Lo berdua aja yang lelet, males gue nungguin lo berdua” sahut pemuda yang diketahui bernama Alan itu menyahut.


Sedangkan Celine yang melihat si pemuda yang tadi baru saja datang itu memicingkan matanya. “Ni cowok kayaknya gue kenal deh?” batinnya sambil terus menelisik setiap bentuk wajah pemuda itu dan ketika pemuda itu menolehkan kepalanya kearah dirinya dan melakukan eye contact seketika keduanya melebarkan matanya terkejut.


“Celine?!/Kaisar?!” ucap keduanya serentak membuat ketiga orang lainnya menatap mereka heran saat kini keduanya berpelukan melepas rindu.


“Heh.. Sejak kapan lo balik?” tanya Kaisar begitu melepaskan pelukannya.


“Udah sebulan, emang Abang lo gak pernah cerita kalau gue balik? Dan selama gue sekolah di sini kok kita baru ketemu sekarang sih” heran Celine saat melihat raut terkejut dari wajah tampan Kaisar.


“Hah? Abang gue tahu?! Dia kok gak bilang-bilang sama gue sih, kan gue juga kangen sama lo” dengus Kaisar. “Emang dasar abang sialan!” maki Kaisar dalam hati.


Sedangkan Kalandra yang mendapat makian dari sang adik tiba-tiba saja bersin di ruang kelas yang tengah diajarnya. “Siapa yang yang baru aja maki gue dari belakang?” monolognya dalam hati sambil mengusap hidungnya yang terasa gatal.


Kembali lagi kepada Celine dan Kaisar, “Kalian berdua saling kenal?” lagi Jasmine nyeletuk ketika melihat Celine yang begitu akrab dengan seseorang yang belum pernah dilihatnya, mewakili rasa penasaran kedua pemuda lain di antara mereka.


Celine menolehkan kepalanya kepada Jasmine lalu tersenyum lebar, “Yoi, kita bukan cuma sekedar kenal tapi kita ini adik kakak beda emak sama bapak” ucap Celine merangkul pundak Kaisar yang justru terlihat termagu di tempatnya ketika menatap wajah manis namun terlihat dingin milik Jasmine.


“Siapa ni cewek? cakep bener” batinnya menatap Jasmine tanpa berkedip.


Tak mendapat respon dari Kaisar akhirnya Celine pun menolehkan kepalanya dan mendapati wajah bodoh Kaisar. Membuat ia mengerlingkan matanya malas ketika melihatnya.


“Tuh usap iler lo dah mau netes,” malas Celine melepaskan rangkulannya pada pundak Kaisar yang seketika mengusap ujung bibirnya. Namun ia tak mendapati apapun di sekitar bibirnya membuat ia langsung menatap kesal Celine yang sudah tertawa melihat tingkah bodohnya.


“Sialan lo!”


“Udah ah, gue mau ke kelas. Bye Kai” ucap Celine melambaikan tangannya berpamitan sambil menyeret lengan Jasmine meninggalkan ketiga pemuda yang menatap kepergian keduanya.


Hmm sepertinya Celine lupa bahwa tadi ia tengah berdebat seorang pria kelebihan kalsium yang mengatainya pendek. Tapi biarlah, lebih baik Celine lupa daripada nanti malah jadi panjang urusannya.


“Lo kenal deket sama tuh cewek?” tanya seorang pemuda berahang tegas sambil menyenggol pundak Kaisar yang masih menatap kearah perginya Celine dan Jasmine yang perlahan menghilang.


Kaisar menoleh lalu menganggukkan kepalanya, “Iya gue deket sama dia sejak SD karena dia sering main ke rumah bareng abangnya. Dan gara-gara dia kakak gue ngeadik tiriin gue” ucap Kaisar terdengar miris diakhir.


“Hahahaha kasian banget lo, yang sabar ya bro!” ucap kembali pemuda itu yang bisa kalian panggil, Jovan. “Dahlah ayo ngantin nanti keburu istirahat lagi” ajaknya merangkul pundak kedua sahabatnya menuju ke kantin belakang sekolah.


“Siapa nama dia?” tanya Alan yang sedari tadi diam akhirnya bersuara seraya melepaskan rangkulan Jovan pada pundaknya.


“Celine Vivianka Ga-” Kaisar tiba-tiba saja menghentikan ucapannya, hampir saja ia keceplosan kalau tidak habis sudah ia di tangan Celine.


“Ga?” tanya Alan menyipitkan matanya saat Kaisar menghentikan ucapannya yang sepertinya belum selesai.


“Gak ada, nama dia Celine Vivianka” Galaksi” lanjutnya dalam hati. Dan setelah itu Alan pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan.


.


.


.


𝙏𝘽𝘾