
...Jangan lupa vote, like & komen...
...Happy Reading...
.......
.......
....... ......
"Halo Ma?" suara serak khas orang bangun tidur menyapa pendengaran seseorang di sebrang telpon dari pemuda yang saat ini masih terbelung dalam selimut di salah satu kamar unit apartemen miliknya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 08.45
Wanita yang dipanggil Mama oleh pemuda itu terdengar menghela nafas panjang di sebrang telpon sana. "Jam berapa ini Dylan? Cepat bangun!" seru Clara di ujung telpon sana dengan menghela nafas lelah dengan kelakuan putra sulungnya yang selalu bangun kesiangan.
Saat ini dirinya bersama sang suami tengah berada di luar kota karena urusan pekerjaan dan mereka baru saja sampai di hotel tempat menginap mereka untuk beberapa hari ke depan setelah selesai melakukan rapat dengan Client nya.
Setelah tadi ia selesai membersihkan tubuhnya dia dengan buru-buru mengambil ponselnya untuk membangunkan Dylan karena pasti putranya itu tidak akan bangun sebelum ada seseorang yang membangunkannya, dan lihat tebakannya benar anaknya itu masih belum bangun hingga saat ini.
"Dy-" ucapan Clara tertahan di tenggorokan ketika indra pendengarnya menangkap suara ketukan pintu dan suara perempuan asing dari balik sambungan telponnya dengan sang putra.
Tok tok tok
"Dylan lo udah bangun, belum? Gue mau berangkat ke kampus nih, buat sarapan lo udah gue siapin di meja makan ya" ujar Acha dari balik pintu kamar Dylan sebelum pergi tanpa peduli di dalam sana Dylan mendengarnya atau tidak karena, ia sudah hampir terlambat masuk ke kelasnya pagi ini.
Sementara di dalam kamar Dylan yang masih setengah sadar itu kini memilih mendudukkan tubuhnya di atas kasur sambil menyandarkan punggungnya di headboard kasur masih dengan telpon genggam yang menempel di telinganya. "Suara siapa itu? Semalam kamu gak pulang ke rumah?" tanya Clara dengan nada penuh selidik ketika suara perempuan itu tak terdengar lagi dan pertanyaannya barusan itu mampu membuat Dylan tersadar sepenuh-penuhnya.
Menegakkan cara duduknya Dylan pun menjawab pertanyaan sang ibu dengan nada gugup. "Anu... Itu i-iya Ma semalem Dylan gak pulang ke rumah tapi ke apart"
"Oh lalu, tadi suara siapa? Kamu di apartemen sendirian kan" pertanyaan masih dengan nada penuh selidiknya itu masih terlontar dari Clara pada Dylan yang kini tengah memutar otaknya mencari alasan yang tepat.
"Umm itu maid, ya maid"
"Tapi maid yang selalu dateng ke apartemen kamu itu cuma datang di hari selasa aja Dylan, dan hari ini hari Kamis jika kamu lupa. Jadi katakan! siapa itu?! kamu bawa gadis ke apartemen?"
Ucapan Clara kali ini membuat Dylan meneguk ludahnya susah payah. "Sial! Gue harus jawab apa?" batin Dylan kembali berpikir mencari berbagai macam alasan untuk menjawab pertanyaan Clara
"Eng-engga Ma, Dylan gak bawa gadis ke apart. Yang tadi itu beneran maid yang selalu dateng ke apart, cuman Dylan manggil dia hari ini buat dateng" alibi Dylan setelah terdiam beberapa detik.
"Oh begitukah? Kalau begitu cepat bangun, hari ini kamu ada kelas kan" ucap Clara pada akhirnya meski sedikit tak percaya dengan jawaban Dylan yang diam-diam menghela nafas lega di balik telpon.
"Umm yaudah, kalau begitu Dylan tutup telpon ya, sampai jumpa Ma. Jangan lupa pulang nanti bawa oleh-oleh buat Dylan, assalamu'alaikum." tut* sambungan telpon itupun ia akhiri setelah mendapat jawaban dari sang Ibu.
Kemudian iapun beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya selama beberapa saat, sebelum akhirnya turun ke bawah untuk sarapan dan pergi ke kampus.
......Zeline Zakeisha......
Sekarang ini semua murid kelas XII IPS 4 tengah berkumpul di lapangan dengan seragam olahraga yang melekat di tubuh mereka masing-masing di karenakan kelas pertama mereka adalah mata pelajaran olahraga.
Dan saat ini adalah jam bebas di mana semua murid bisa melakukan olahraga apapun yang mereka inginkan karena inti pelajaran mereka telah selesai di ajarkan oleh guru olahraga mereka.
Celine yang memang paling suka dengan olahraga pun kini terlihat tengah bermain Voli bersama beberapa teman kelasnya. Sementara Celine menikmati permainannya maka berbeda halnya dengan Jasmine yang justru memilih duduk santai di bawah pohon dekat lapangan setelah diberi waktu bermain bebas oleh gurunya.
Di tengah dirinya menikmati waktu bersantai nya dengan bersandar pada batang pohon sambil memperhatikan permainan Celine tiba-tiba saja seseorang duduk di sampingnya dan menyapanya.
"Hai, gue boleh duduk di sini?" kata seorang pemuda yang telah duduk di sampingnya itu membuat ia menoleh pada pemuda itu sambil memutar mata malas.
"Ngapain izin elo kan udah duduk di sana" jengah nya memilih menatap kembali ke depan daripada menatap wajah pemuda yang ia ketahui adalah sahabat masa kecil Celine ketika di sini dulu.
Pemuda yang tak lain dan tak bukan adalah Kaisar itupun terkekeh kecil ketika mendengar ucapan Jasmine. "Lo gak ikutan?" tanya Kaisar memulai topik pembicaraan pada gadis yang telah menarik perhatiannya sejak pertemuan pertama mereka beberapa hari yang lalu.
"Mager, lagian gue gak suka olahraga" sahut Jasmine tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.
Kaisar menolehkan kepalanya menatap wajah menawan Jasmine dari samping, dan dengan senyum tipis iapun berucap. "Terus lo sukanya apa?"
Mendengar pertanyaan Kaisar lantas membuat Jasmine melirik pemuda itu sekilas sebelum menyahut, "Gak ada" sahut acuh Jasmine membuat senyum tipis Kaisar semakin terlihat.
"Ah masih sih? Kok gue gak percaya lo gak punya kesukaan apapun" ucap Kaisar dengan nada sedikit menggoda dan mencondongkan sedikit wajahnya kepada Jasmine.
Sampai ketika netranya dan pemuda itu bertubrukan tiba-tiba saja Jasmine merasakan bila jantungnya berdegup dengan kencang dan pipinya berubah menjadi merah merona. "Sial! Ni cowok kalau di liat dari deket ganteng banget" batin Jasmine.
Bugh
Sebuah bola voli dari arah lapangan terpental mengenai kepala Kaisar yang seketika mengaduh dan acara tatap-tatapannya dengan Jasmine pun buyar dalam sekejap.
"Yak! Siapa yang lempar bola ke kepala gue?! Gak punya mata ya lo!" bentak Kaisar menolehkan kepalanya sambil melotot tajam melihat kearah si pelaku.
Dengan langkah santai dan wajah tanpa dosanya seorang gadis yang amat Kaisar kenal terlihat berjalan mendekat kearahnya dan Jasmine sambil memungut kembali bola Voli yang tadi menggelinding ke sisi lapangan.
"Gue. Mau apa lo" sahutan bernada songong dari gadis yang tak lain adalah Celine itu membuat Kaisar hanya mampu berdecak.
"Mine, ayo kantin." ajak Celine pada Jasmine yang menganggukkan kepalanya sambil berdiri dari duduknya untuk mendekat kearah Celine.
Namun ketika ia hendak melangkahkan kakinya menjauh lengannya justru di tahan oleh pemuda yang tadi duduk di sampingnya membuat ia mau tak mau menolehkan kepalanya dengan salah satu alis yang terangkat seolah bertanya 'Apa'
"Gue minta nomor handphone lo dong" ujar Kaisar dengan senyum tampannya.
Celine yang masih di sana dan melihat hal itupun memutar bola matanya malas, hais dasar modus. Pikirnya tertuju pada Kaisar.
"Kasih aja Mine, biar cepet." suruh Celine tak ingin membuang waktu dan mendapat anggukan dari Jasmine yang kini mengulas senyum kecil sambil menyodorkan telapak tangannya yang lain pada Kaisar.
"Yaudah mana handphone lo?"
"Nih"
Kaisar dengan secepat kilat menyodorkan handphonenya pada Jasmine yang langsung menerima ponselnya dan mengetikkan sesuatu di handphonenya untuk beberapa saat sebelum mengembalikan handphonenya padanya dan setelah itu iapun pergi berlalu bersama Celine meninggalkan Kaisar yang tersenyum sumringah ketika menatap nomor Jasmine di ponselnya.
Dan setelah mendapatkan apa yang diinginkannya iapun beranjak dari sana untuk pergi ke kelasnya kembali dengan senyum lebar yang masih terpatri di wajah tampan rupawannya.
.........
Bel istirahat telah berbunyi sejak lima menit yang lalu dan selama itu pula Zeline duduk di sofa ruang guru bahasa Inggrisnya sambil menatap datar beberapa makanan di depannya.
"Kenapa masih diem? Ayo makan, atau lo mau gue suapin?" ucap pria yang merupakan guru bahasa Inggrisnya itu sambil menatapnya dengan tatapan sedikit menggoda.
Mendengar penuturan pria yang menurutnya sangat menyebalkan itu Zeline pun mengambil salah satu menu makanan yang berada di atas meja dan menyantapnya sambil menatap sebal kearah pria itu. Kalandra
"Mau lo apasih? Sejak pagi keliaran disekitar gue mulu" ucap Zeline menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, jengah dengan kelakuan Kalandra sejak tadi pagi ditambah lagi Luke si kakak kelasnya itu juga ikut-ikutan berkeliaran di dekatnya membuat ia risih saja.
Mengukir senyumnya Kalandra menyodorkan sesendok pasta ke depan mulut Zeline, “Lo udah tahu jawabannya, Zeline” ucapnya dengan mata memberi isyarat pada Zeline untuk menerima suapannya.
Menatap sejenak pasta yang disodorkan Kalandra sebelum akhirnya Zeline pun menerima suapan itu meski dengan raut wajah amat terpaksa. Yang mana hal itu membuat Kalandra melebarkan senyum tampannya yang bisa meluluhkan puluhan hati wanita di sekolah tempatnya mengajar.
“Kalau gue tahu, ngapain gue harus cape-cape nanya sama lo” balas Zeline mengerlingkan matanya sambil mengunyah sisa makanan yang berada di mulutnya.
“Waktu di mobil,gue udah bilang kan” sahut Kalandra kembali yang kini membuat Zeline terdiam sambil memutar kembali ingatannya di beberapa hari yang lalu. Dan begitu ia ingat, ia lagi-lagi memutar matanya malas “Kan waktu itu juga gue udah bilang 'gue ogah deket sama lo'" ucap Zeline meneguk minuman yang berada di atas meja sebelum bangun dari tempat duduknya untuk beranjak pergi dari sana.
Sementara Kalandra terus mengamati pergerakannya tanpa mau menahan kepergiannya dari sana. Namun sebelum Zeline benar-benar keluar dari pintu masuk ruangannya, Kalandra sempat mengatakan sesuatu “Tapi gue maksa!” ucapnya bersamaan dengan pintu yang benar-benar tertutup.
Tapi Kalandra yakin bahwa Zeline mendengar dengan jelas ucapannya itu. “Awalnya gue cuma penasaran sama kehidupan pribadi lo, Zeline. Tapi sekarang gue bener-bener tertarik sama lo.” batin Kalandra dengan senyum tipis di bibir tipisnya.
Thank you for reading
.
.
.
.
To Be Continued