Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Kamu Zeline?



...Jangan lupa vote, like & komen...


...Happy Reading...


.......


.......


.......


Di keesokan harinya Dylan dan Erland datang ke rumah sakit di mana Kalandra di rawat setelah mendapatkan kabar dari adik sang sahabat yang mengatakan bahwa Kalandra telah siuman.


Tentunya dua orang itu langsung semangat dan buru-buru untuk segera datang menjenguk sang kawan, namun bagitu mereka sampai di kamar rawat Kalandra mereka justru harus menelan rasa kecewa karena Kalandra yang tak mengingat mereka.


"Kala, Gue Dylan. Masa iya lo lupa sama sahabat ganteng lo ini sih," ucap Dylan dengan segala kenarsisannya seperti biasa membuat Erland dan Kaisar yang mendengarnya memutar matanya malas.


"Dih najis, narsis banget lo!" julid Erland menggeser tubuh Dylan lalu menampilkan senyum lebarnya pada Kalandra yang menatap mereka datar bercampur bingung.


"Gue Erland sahabat terbaik lo sejak zaman SMP, gak papa kalo lo gak inget sekarang nanti juga lo inget lagi kok." ucap Erland menepuk bahu Kalandra pelan.


Sementara Dylan di belakangnya merotasikan matanya jengah. "Jangan percaya sama omongan dia, Kal. Dia mana ada jadi sahabat terbaik yang ada nyusahin bisanya." ucapnya dan mendapat delikan tajam dari Erland.


"Sialan! Gak sadar diri lo!" umpat Erland memukul bahu Dylan keras.


"Sorry, gue udah ngelupain kalian." Kalandra bersuara setelah dari tadi diam memperhatikan perdebatan kedua sahabatnya dengan senyum tipis.


"Hey, it's okay. Meski lo lupain kita, tapi kita juga bakal bantu lo buat inget lagi sama kita." ucap Dylan menghampiri Kalandra dan menepuk pundak sahabatnya itu pelan begitupun dengan Erland yang mengangguk menyetujui ucapan Dylan.


"Oh iya, ngomong-ngomong kalian kenal sama cewek yang namanya Zeline?" tanya Kalandra tiba-tiba saja teringat seorang gadis yang selalu ada di mimpinya saat ia koma beberapa hari lalu. Namun anehnya wajah gadis itu selalu buram di dalam mimpinya, belum lagi saat berada di dekat gadis itu ia selalu merasa nyaman dan rindu di waktu bersamaan seolah-olah mereka telah saling kenal lama.


Dylan, Erland maupun Kaisar yang mendengar pertanyaan Kalandra terdiam untuk sesaat dan saling melemparkan tatapan satu sama lain. "Uhmm ya, kita kenal, kenal banget malah." sahut Erland melirik Dylan yang tatapannya sudah berubah sendu.


"Kenapa emang? Lo inget siapa dia?" tanya Dylan membalikkan tubuhnya dan menjauh dari tempat tidur Kalandra untuk duduk di sofa samping Kaisar.


"Enggak, cuma selama gue koma dia selalu ada di mimpi gue tapi setiap gue mau liat rupa wajahnya selalu buram. Selama di mimpi itu gue nyaman banget sama dia tapi di waktu bersamaan gue selalu ngerasa rindu sama dia. Seolah dia ada di hati gue tapi raga dia jauh dari gue." jelas Kalandra menatap langit-langit kamar rawatnya sesaat sebelum mengalihkan pandangannya pada Dylan.


"Kalian punya foto dia gak? Atau kalian tahu rumah dia dimana? Gue pengen banget nemuin dia dan liat wajah dia kayak gimana," Dylan diam begitupun yang lain.


"Haruskah gue tunjukin? Gue cuma takut kalo setelah gue nunjukin foto adek gue lo tetep gak inget dia dan malah kesakitan karena nyoba buat nginget wajah adek gue kayak gimana." batin Dylan bimbang.


Di tengah keheningan itu tiba-tiba saja pintu kamar rawat Kalandra terbuka dan menampakkan sosok Dashha yang tersenyum cerah saat melihat Kalandra yang tengah duduk bersandar di kasurnya sambil menatap kearahnya dengan tatapan penuh tanya.


Dashha kemudian tanpa basa basi lagi langsung berlari dan memeluk tubuh Kalandra sambil terisak kecil, terharu karena akhirnya pria yang ia sukai itu akhirnya bangun juga dari masa komanya.


"Kamu akhirnya bangun juga, Kal. Aku khawatir banget sama kamu tahu! Kenapa tidurnya lama banget?!" ucap Dashha melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya dengan senyum pada Kalandra yang sama sekali tak merespon.


Kalandra menoleh pada kedua sahabatnya dan juga sang adik yang hanya diam. "Ini Zeline?" tanyanya membuat dahi Dashha mengerut heran sekaligus kesal.


Bukannya kabar yang ia dengar dari teman perawatnya yang bekerja di sini mengatakan kalau Kalandra hilang ingatannya? Tapi kok pemuda ini masih mengingat gadis ingusan sombong itu.


"Bukan, Kalandra, aku-" Tiba-tiba Dashha menghentikan ucapannya saat ia baru sadar dengan situasi saat ini. "Tunggu kalo Kalandra ingat namanya seharusnya ia juga ingat wajahnya bukan? Tapi dia cuma ingat namanya tidak dengan wajahnya, gue bisa manfaatin ini." batin Dashha mengulas senyum liciknya tipis.


"Iya, aku Zeline. Pacar kamu!" ucap Dashha membuat tiga orang yang berada di dalam sana membulatkan matanya tak percaya.


Tangan Dylan terkepal erat, "Sialan! Berani-beraninya dia ngaku-ngaku jadi adek gue!!"


Sementara Kalandra langsung menatap wajahnya intens, "Lo beneran Zeline? Dan apa yang lo bilang tadi... kita pacaran?" Kalandra menunjuk dirinya sendiri bingung.


"Iya, aku Zeline pacar kamu, bahkan kita udah pacaran dari lama." Dashha mengangguk tegas dengan senyum manisnya, namun bagi orang lain yang tahu kenyataan apa yang di ucapkannya dapat melihat senyum licik yang amat memuakkan.





"Gak perlu, Makasih. HP gue yang sekarang udah cukup." tolak Zeline tanpa menatap sang lawan bicara sedikitpun.


Jayden tersenyum miring dan secepat kilat mengambil handphone Zeline yang tergeletak di atas meja lalu membantingnya ke lantai dengan keras dan menginjaknya hingga tak berbentuk. Zeline jelas kaget dan menatap handphonenya nanar, anjing! Umpat Zeline dalam hati.


Tangan Jayden kemudian mencengkram dagu Zeline kasar, menarik dagu itu untuk mendongak menatapnya. “Dengar. Sekarang lo ada di bawah kendali gue jadi turutin semua kemauan gue dan jadilah gadis baik! Jangan kira karena gue baik sama lo maka lo bisa seenaknya, Zeline. Jadi mulai sekarang lo harus selalu inget posisi lo di sini. Atau gak, keluarga sialan lo itu abis di tangan gue!!” ucap Jayden melepaskan cengkeramannya kasar dan berlalu pergi meninggalkan Zeline yang mengepalkan tangannya erat.


Matanya kemudian turun kearah lantai menatap naas pada handphonenya yang rusak parah bahkan itu tak bisa hanya sekedar untuk di perbaiki. Lalu matanya melirik handphone baru yang tergeletak di atas meja.


“Dia bener-bener ngebatasin pergerakan gue, harusnya gue ikutin usulan Bang Revan dulu yang nyuruh gue buat bunuh dia.” Zeline menghela nafas pelan lalu beranjak dari duduknya untuk pergi ke kamarnya.. Ah bukan lebih tepatnya penjaranya.


.


.


.


Empat tahun kemudian...


Zeline menatap keluar jendela mobil yang tengah melaju membelah ramainya jalanan kotak Swiss, di sampingnya ada Jayden yang tengah menyesap rokoknya sambil membaca e-mail di laptop yang ada di pangkuan pemuda itu.


Jika kalian bertanya sedang apa Zeline di Swiss maka jawabannya hanya satu, ia di paksa oleh Jayden untuk menemani pemuda itu melakukan perjalanan bisnis di sini.


“Tuan, kita sudah sampai.” sang supir menghentikan mobil mewah itu di depan villa megah tempat mereka menetap untuk seminggu di sini.


Zeline tanpa kata langsung turun dari mobil mengabaikan Jayden seperti biasanya. Jayden ikut turun dari dalam mobil dan berjalan mendekati Zeline untuk merengkuh pinggang ramping tersebut sambil berjalan masuk ke dalam Villa.


Saat sudah berada di dalam Jayden berjalan menuju kamar utama villa itu sementara Zeline diam di ruang tengah. Ketika akan menaiki anak tangga menuju kamar utama langkah Jayden berhenti kala mendengar suara Zeline.


“Jay, aku ingin menetap di sini.” ucap Zeline membuat Jayden membalikkan badannya.


“Boleh saja, asal kamu mau menuhin persyaratan dariku, bagaimana?” Jayden melipat tangannya di dada dan menatap  lekat Zeline yang terlihat tengah berpikir.


“Oke, apa syaratnya?”


“Menikah denganku dan beri aku keturunan.”


“Bagaimana?” tanya Jayden saat melihat Zeline yang hanya diam tak menjawab.


Setelah terdiam untuk beberapa saat memikirkan ucapan Jayden akhirnya Zeline menganggukkan kepalanya setuju, meski di dalam hatinya ia merasa sedikit keraguan.


“Baik, tapi setelah aku memberimu keturunan untukmu biarkan aku kembali kepada keluargaku dan lepaskan aku sepenuhnya, bagaimana?” Mencoba bernegosiasi dengan Jayden yang kini diam tengah berpikir.


Menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis akhirnya Jayden pun mengiyakan permintaan Zeline. “Okey, aku setuju.“


Lalu setelah mendapat jawaban itu Zeline langsung berbalik menuju kearah kamarnya dengan di bantu oleh pelayan yang mengurus Villa itu. Melihat kepergian Zeline, Jayden menyunggingkan senyum miringnya.


“Aku tak'kan melepaskanmu semudah itu Zeline..”


...Thank you for reading...


.......


.......


.......


.......


...To Be Continued...