
...Jangan lupa vote, like & komen....
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Saat ini Kalandra, Luke dan Zeline tengah berada disalah satu kios penjual nasi goreng udang untuk mengisi perut terlebih dahulu karena jam yang sudah menunjukkan pukul 19.20 WIB. Setelah beberapa saat yang lalu mereka keluar dari rumah hantu ketiganya memutuskan untuk pergi makan terlebih dahulu sebelum lanjut mengeksplor wahana lainnya.
Dan suasana disekitar ketiganya terasa sangat canggung apalagi bagi kedua pemuda yang sejak keluar dari rumah hantu menjadi tak banyak bicara. Mereka berdua terlalu malu dengan diri mereka sendiri karena selama didalam rumah hantu keduanya malah berteriak paling kencang dan ketakutan ketimbang Zeline bahkan ekspetasi Kalandra tentang Zeline yang akan memeluknya takut pun lenyap seketika karena yang terjadi justru malah sebaliknya.
"Ekhem! Habis ini kita mau coba wahana apalagi?" tanya Luke memecah keheningan mencoba menepis perasaan canggung yang meliputi ketiganya ingat hanya Kalandra dan Luke saja yang merasa canggung karena pada kenyataannya Zeline sama sekali terlihat biasa saja dan tak peduli, hanya saja Zeline tengah mencoba menahan gejolak rasa ingin menertawakan kedua pemuda di depannya itu hanya untuk menghormati keduanya.
"Rollercoaster" sahut Zeline membuat kedua pemuda itu menelan nasgor mereka dengan susah payah. Keduanya takut ketinggian.
"Tapi kalo berdua takut diem aja dipinggir biar gue naik sendirian" imbuh Zeline setelahnya saat menyadari ke terdiaman Kalandra dan Luke.
"Engga-engga! Kita gak takut. Kita bakal ikut lo naik" ucap keduanya serempak dengan ribut dan hanya dibalas anggukan kepala dari Zeline.
Sesuai perkataan Zeline tadi kini ketiganya sudah duduk anteng di kursi penumpang rollercoaster yang siap meluncur dalam beberapa detik lagi dan wajah kedua pemuda yang duduk di bangku belakang Zeline terlihat sangat sangat. Kedua pemuda itu saling merapalkan doa keselamatan dalam hati mereka masing-masing.
Hingga rollercoaster itu meluncur kedua pemuda itu berteriak nyaring ketakutan dan hal itu justru suskes membuat Zeline tertawa. "Kalian bener-bener payah!" teriak Zeline pada kedua pemuda di belakangnya yang terdiam untuk sesaat ketika mendengar tawa dan ucapannya sebelum akhirnya kembali berteriak namun perasaan keduanya terasa bahagia karena berhasil membuat sang pujaan hati bisa tertawa lepas.
Setelah ketiganya turun dari rollercoaster Kalandra dan Luke segera berlari menuju WC umum untuk memuntahkan isi perut mereka yang terasa diaduk belum lagi kepala keduanya terasa pusing. Membuat Zeline yang melihatnya iba dan dengan inisiatifnya pergi membeli dua botol air mineral untuk keduanya dan berdiri tak jauh dari pintu WC umum khusus laki-laki itu menunggu Kalandra dan Luke keluar.
Sampai beberapa saat kemudian kedua pemuda itu keluar dengan keadaan sedikit lemas dan Zeline pun menghampiri keduanya. "Nih" ujar Zeline menyodorkan dua botol mineral tadi kepada Kalandra dan Luke yang terduduk di kursi taman yang jauh dari wc umum tadi.
"Makasih, Ze." ucap keduanya sambil membuka tutup botol tersebut dan meneguknya.
"Udah enak'kqn? Atau kita balik aja?"
"Udah mending. Jangan pulang dulu lah Ze kita belum coba wahana lainnya" sahut Luke yang mendapat anggukan setuju dari Kalandra.
"Beneran? Muka lo berdua keliatan pucet soalnya"
"Gak papa kita baik-baik aja, ayo kita pergi naik komedi putar." ucap Kalandra seraya bangun dari duduknya dan menggandeng tangan Zeline untuk pergi tentunya diikuti oleh Luke. Sampai pada akhirnya ketiganya pun hampir mencoba menaiki setiap wahana dan kuliner disana hingga pukul sepuluh malam barulah ketiganya memutuskan untuk pulang.
...ʐɛʟɨռɛ 𝚉𝚊𝚔𝚎𝚒𝚜𝚑𝚊...
Di salah satu kamar rawat inap rumah sakit terlihat seorang gadis yang telah berbaring selama kurang lebih lima bulan itu akhirnya membuka matanya perlahan. Kemudian mengedipkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retina matanya sebelum menatap ke seliling ruangan bercat putih itu.
Lalu setelahnya iapun berusaha menggerakkan tangannya yang terasa kaku dan mencoba untuk duduk di atas bangsal dengan gerakan perlahan, sampai di tengah ia berusaha mendudukkan tubuhnya itu seseorang membuka pintu kamar rawatnya dan memekik terkejut ketika melihat dirinya yang telah sadarkan diri.
"IVANA SAYANG!! Anak Mama akhirnya kamu bangun juga nak!" ucap seseorang itu yang ternyata adalah ibunya dan segera membantunya untuk duduk sebelum akhirnya gadis yang bernama Ivana itu mendapat pelukan erat dari sang ibu yang sedikit terisak harus karena ia telah bangun dari tidur panjangnya.
"Mama, maaf Ivana tidur terlalu lama dan buat Mama khawatir" lirih gadis dalam dekapan sang ibu dan membalas pelukan ibunya itu tak kalah erat.
"Gak papa sayang, yang penting kamu bangun lagi dan milih buat ninggalin Mama" ucap Sang Ibu sambil melepaskan pelukannya dan mengusap sudut matanya yang basah.
Ivana, gadis itu tersenyum seraya mengusap air matanya juga lalu menatap ke seliling ruangan kembali seolah mencari seseorang. "Papa mana,Ma?" tanyanya ketika tak mendapati keberadaan Ayahnya di sana, dan belum sempat Ibunya itu menjawab pintu ruangannya lagi-lagi kembali terbuka dan menampilkan seseorang yang baru saja ia tanyakan itu muncul di sana bersama seorang Dokter dan satu Suster.
"Papa!" pekiknya membuat sang empu terkejut begitu pun dengan Dokter dan Suster.
"Anak Papa! Akhirnya kamu siluman juga sayang." ucap sang Papa seraya memeluk putri semata wayangnya itu dan mengelus belakang kepala anaknya sayang.
"Maaf Pa, aku bikin kalian berdua khawatir" ucap Ivana kembali sambil membalas pelukan sang Papa.
"Gak papa, asal lain kali jangan kayak gini laginya?" ucap Papanya lembut dan melepaskan pelukannya pada Ivana yang menganggukkan kepalanya sebagai balasan.
"Ekhem! Kalau begitu bolehkah saya memeriksa kondisi putri bapak dan ibu sebentar?" tanya sang dokter berdehem sambil tersenyum tipis kearah kedua orang tua pasiennya yang menganggukkan kepalanya seraya mempersilahkannya untuk memeriksa putri mereka dengan senyum bahagia.
Lalu setelah dokter selesai memeriksa bagaimana keadaan Ivana sang dokter pun tersenyum hangat. "Kondisi putri anda benar-benar sudah stabil besok juga ia sudah di perbolehkan pulang, hanya saja banyak-banyaklah berolahraga agar otot-otot anda tak terus-terusan kaku seperti sekarang ya." ucap sang dokter membuat Ivana dan kedua orang tuanya menganggukkan kepalanya mengerti.
"Terimakasih dokter, karena telah mau membantu dan merawat anak kami selama koma." tutur Ibu Ivana tersenyum dengan tulusnya kepada sang dokter yang menganggukkan kepalanya. "Sama-sama lagipula itu sudah menjadi tugas kami sebagai petugas kesehatan untuk membantu orang-orang yang berada pada kondisi yang tidak baik." balas sang dokter tersenyum.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, masih ada pasien yang harus saya kontrol." ucap dokter itu berpamitan sebelum berlalu keluar kamar rawat Ivana bersama sang suster setelah mendapat anggukan dari Ivana dan kedua orang tua gadis tersebut.
Usai kepergian dokter kini kedua orang tua Ivana duduk dikedua sisi Ivana di atas bangsal. "Ma, Alan mana? Kok dari tadi aku gak liat dia" tanya Ivana menoleh pada sang ibu.
"Mama gak tahu, udah dua minggu dia gak pernah dateng lagi kesini nengokin kamu. Mungkin dia lagi sibuk sayang, besok pas kamu keluar rumah sakit dia pasti dateng kesini." balas sang ibu membuat Ivana menganggukkan kepalanya mengerti dengan senyuman. Sedangkan dalam kepalanya ia sudah bertanya-tanya kemana perginya Alan, Kenapa pemuda itu tak pernah menengoknya lagi sejak dua minggu terakhir, dan apa Alan kembali dekat dengan gadis sialan yang menyebabkan dirinya seperti ini lagi. Pikirannya berkecamuk.
...~͓̽~͓̽Z͓̽e͓̽l͓̽i͓̽n͓̽e͓̽ ͓̽Z͓̽a͓̽k͓̽e͓̽i͓̽s͓̽h͓̽a͓̽~͓̽~͓̽...
Celine mendongakkan kepalanya menatap langit malam yang bertaburkam bintang dari atas kap mobil yang tengah didudukinya bersama Alan, pemuda yang membawanya kesebuah puncak untuk menikmati pemandangan malam ini di atas ketinggian.
Matanya sesekali melirik kearah Alan yang duduk di sampingnya dengan senyum kecil. "Ada apa? Ngapain lo curi-curi pandang gitu sama gue?" tanya Alan mengejutkan Celine yang kepergok tengah mencuri pandang kepada pemuda itu membuat gadis cantik itu jadi salah tingkah seraya memalingkan tatapan matanya kearah lain.
"Gak ada, gue cuma heran aja" balas Celine menggantung membuat Alan mengernyitkan dahinya penasaran.
"Heran kenapa?" tanya Alan kembali yang mana pertanyaannya kali ini tak langsung disahuti oleh Celine. "Gue heran kenapa gue bisa jatuh sama pesona lo." Celine menyahuti dalam hati sambil kembali melirik Alan sekilas.
"Kenapa lo ngajak gue kesini?" sahut Celine setelah terdiam selama beberapa detik, yang mana sahutannya itu membuat Alan tersenyum tipis.
"Karena lo spesial dan gue pengen ngabisin banyak waktu sama lo," sebelum dia kembali. Lanjut Alan dalam hati dengan tatapan mata yang kini tertuju pada sisi wajah Celine yang nampak amat sangat cantik dari samping sini.
Dan jawaban Alan itu sukses membuat jantung Celine kembali berdebar kencang. "Maksud lo, gue spesial sebagai teman atau apa? Apa boleh gue nganggap ucapan lo itu sebagai ungkapan rasa suka lo lebih dari sekedar teman?" batin Celine menatap lampu-lampu penduduk kota yang menyala indah jika dilihat dari ketinggian.
*Ting!
Suara notifikasi pesan dari handphone Alan membuat pemuda itu membuka handphonenya untuk mengecek siapa yang telah mengiriminya pesan itu.
"Lan, Dia siuman."
From: Jovan
Pupil mata Alan melebar terkejut ketika selesai membaca pesan singkat yang dikirimkan Jovan sang sahabat kepadanya. "Kenapa harus sekarang?"
Celine yang melihat tak sengaja melihat wajah tegang bercampur terkejut milik Alan mengerutkan keningnya heran dan membuat ia melontarkan pertanyaan kepada pemuda tersebut.
"Kenapa?"
Mendengar pertanyaan itu seketika Alan kembali tersadar dari keterkejutannya, lalu menggelengkan kepalanya sambil memasukkan handphone nya itu kedalam saku jaket yang ia kenakan. "Gak papa, cuma SMS dari operator." jawab Alan beralibi.
"Ayo nikmati malam ini dan jadiin ini kenangan terindah buat kita berdua." celetuk Alan tiba-tiba setelah ia sempat terdiam untuk beberapa saat dan mendapat anggukan kepala dari Celine yang tersenyum manis menyembunyikan perasaan tak nyamannya kepadanya.
"Kenapa lo bicara seolah malam ini adalah malam terakhir kita berdua, Lan?"
"Kalau besok gue berubah, itu cara gue buat ngelindungin lo dari Dia, Line."
...Thank you for reading...
.......
.......
.......
.......
...To Be Continued...
...Eh, btw aku mau nanya sama kalian, lebih setuju...
...Zeline x Kalandra?...
...Zeline x Luke?...
...Or...
...Zeline x Jayden?...
...Kalian lebih suka Zeline jadinya sama yang mana?...
...Dan kalian juga lebih setuju Alan jadinya sama siapa?...
...Alan x Celine...
...Or...
...Alan x Ivana...