
...Jangan lupa vote, like & komen...
...Happy Reading...
.......
.......
.......
“Hah~ bosen banget~~ Celine kapan sih masuk sekolah lagi?” Gumam Jasmine menumpukan kepalanya di atas meja kelas.
Ini jam istirahat jadi teman-teman sekelasnya pergi berbondong-bondong ke kantin untuk mengisi perut mereka, tapi Jasmine yang biasanya semangat untuk pergi ke kantin kini hanya diam lesu di kelas seorang diri karena sang sahabat yang sudah dua hari ini tak masuk sekolah.
“Hmm gimana kalo gue bolos aja terus nyamperin Celine di rumah sakit, itung-itung jenguk Mama Clara juga.” monolognya lalu setelahnya ia menegakkan duduknya.
“Iya bener gitu aja, gue bakal pergi nyamperin Celine sekalian jenguk Mama Clara.” putusnya lalu beranjak dari duduknya kemudian berjalan santai menuju belakang sekolah, ia tak membawa tasnya. Biarlah itu gampang setelah sekolah bubar nanti ia bisa menyuruh asisten rumah tangga di rumahnya untuk membawa tasnya atau ia juga bisa menyuruh Luke membawakannya.
Tapi ketika Jasmine baru saja akan berbelok menuju halaman belakang sekolah itu, ia justru menghentikan langkahnya secara tiba-tiba dengan mata membulat kaget dan membekap mulutnya agar tak berteriak.
Sial matanya yang suci baru saja ternodai, bagaimana bisa mereka melakukan hal itu di sekitar lingkungan sekolah? Pikir Jasmine membalikkan tubuhnya membelakangi dua sejoli yang sedang saling memanggut bibir masing-masing dengan tangan si pemuda yang memeluk pinggang gadis itu dan tangan gadis itu mengalung apik di leher si pemuda.
Mana yang lebih membuat Jasmine kaget adalah karena ia mengenali siapa pemuda itu. “Brengsek, pantesan berminggu-minggu lalu dia tiba-tiba ngilang dan jauhin Celine ternyata karena dia udah punya cewek!! Terus waktu itu ngapain dia deketin Temen gue, bangsat?!!” Umpat Jasmine dalam hatinya sambil mengepalkan sebelah tangannya menahan amarah.
Melirik tajam kearah dua orang itu sebentar sebelum berlalu pergi dari sana. Karena hal itu pun, niat dia untuk membolos sambil menemui Celine terurungkan dan memilih pergi menuju kantin untuk mencari teman-teman dari pemuda yang di lihatnya itu.
...━━━━━ • ━━━━━...
*BRAK!
Suara gebrakan pada salah satu meja kantin membuat beberapa siswa/i mengalihkan atensi mereka pada asal sumber suara dengan raut wajah bingung dan kaget. Sedangkan dua orang pemuda yang tengah menikmati makanan mereka dengan tenang tadi kini sudah tersedak akibat kaget dengan suara gebrakan dari meja yang tengah mereka tempati.
“Uhuk! Uhuk!“ Jovan dan Kaisar terbatuk-batuk seraya menepuk-nepuk dada mereka yang terasa sesak dan segera meraih gelas minum masing-masing dan menegak isinya hingga tersisa hingga setengahnya.
Setelah menetralkan rasa sesak yang di dera akibat tersedak, kedua pemuda tampan itu pun lantas melemparkan tatapan tajam mereka kearah oknum yang telah menggebrak meja mereka. Tapi sedetik kemudian tatapan Kaisar langsung berubah lembut berbeda lagi dengan Jovan yang semakin melemparkan tatapan tajamnya pada seorang gadis yang berdiri dengan bersidekap dada dan tampang watadosnya.
“Maksud lo apa, Mine?! Lo mau kita mati keselek hah!” Jovan berucap dengan nada sedikit membentak gadis itu; Jasmine.
“Heh Van, jangan gitu! Jasmine mungkin gak sengaja gebrak meja kita.” Kaisar menyenggol lengan sang teman menegur, yang mana hal itu membuat Jovan kini melemparkan tatapan tajamnya kearah dirinya.
“Gak sengaja dari mananya!? Dia jelas-jelas sengaja! Lo gak usah belain dia deh.” Ketus Jovan emosi pada sang sahabat yang malah membela Jasmine, yang merupakan gadis pujaan pemuda tersebut.
Mengabaikan ucapan Jovan Kaisar lebih memilih mengalihkan atensinya kembali pada Jasmine dan memasang senyum andalannya ketika tengah menggoda gadis-gadis di sekolahanya. “Ada apa, Mine kamu nyamperin kita, butuh sesuatu? Udah makan belum?” tanya beruntun Kaisar dengan penuh nada hangat membuat Jovan berdecih pelan seraya memakan kembali makannya yang masih tersisa banyak.
“Cih. Gak usah sok peduli deh lo. Gue nyamperin ke sini karena gue mau ngasih perhitungan sama temen tiang brengsek lo itu. Ternyata omongan lo waktu itu benernya yang bilang kalo Alan lebih brengsek dari pada kalian.” cerca Jasmine membuat Kaisar terdiam begitu pun dengan Jovan yang seketika menghentikan aktivitas makannya.
“Bilangin sama temen lo itu, Gak usah deketin Teman gue lagi! Dan kalo udah punya mending diem aja gak usah kegatelan cari cewek sana-sini! Temen gue bukan tempat pelampiasan di kala dia kesepian apalagi pelarian. Dasar brengsek!” ucap Jasmine kemudian berlalu begitu saja namun sebelum benar-benar menjauh dari tempat duduk dua pemuda yang masih terdiam di tempat mereka itu Jasmine pun kembali berucap.
“Dan lo, Kaisar! Gak usah deketin gue lagi!!” Kemudian benar-benar berlalu pergi dari kantin meninggalkan pertanyaan penuh tanda tanya dari beberapa siswa/i yang sengaja mendengar obrolannya.
Rahang Kaisar jatuh ketika mendengar ucapan Jasmine, sang pujaan hati. Lalu ia mendengus kesal dengan wajah masamnya sambil berlalu pergi dari sana meninggalkan makanannya yang belum habis dan juga Jovan yang masih asik makan.
“Alan Anjing! Dia yang ketahuan brengsek eh gue juga yang ikut kena imbasnya!” maki Kaisar keluar dari area kantin untuk mencari Alan.
...━━━━━━━━ Jangan lupa vote, like & komen.━━━━━━━━...
*Ting Tong
Suara bel apartemen atau lebih tepatnya pentehouse milik Dylan berbunyi membuat sang pemilik pentehouse dan gadis yang merupakan tunangannya itu saling melemparkan tatapan tanda tanya. Mereka tengah duduk di meja makan menikmati dinner malam sederhana mereka sebelum Acha si gadis itu memilih beranjak dari kursi tempatnya duduk untuk membukakan pintu untuk si tamu tak di undang.
*Cklek
Pintu di buka oleh Acha dan menampakkan seorang gadis dengan rambut panjangnya yang di biarkan tergerai indah memakai hoodie hitam bergambar kucing dan celana jeans berwarna senada tengah berdiri di depan sana dengan raut wajah datarnya.
“Eh.. Zeline? Ada apa malam-malam begini datang ke sini?” Tanya Acha sedikit terkejut dengan kedatangan Zeline karena jujur saja di antara kedua adik Dylan, Acha sangat kurang dekat dengan Zeline di tambah lagi kalau mereka bertemu di mansion ataupun di jalan Acha hanya akan melemparkan sapaan singkat pada gadis itu karena ya, Acha agak canggung dengan sifat Zeline yang dingin berbeda dengan kedua kakaknya yang lain.
“Ada, dia lagi makan malam sama kakak. Ayo, masuk aja biar Kakak panggilin dia,” ucap Acha tersenyum tipis dan membuka pintunya agar lebih lebar guna memberikan ruang pada Zeline agar bisa masuk ke dalam apartemen.
“Kalo kalian lagi makan malam beresin aja dulu makannya, aku nunggu Bang Dylan di balkon sana.” tunjuk Zeline kearah dinding kaca yang di luarnya terdapat satu sofa panjang dan single beserta satu meja di tengah sofa tersebut.
“Emm baiklah. Engga mau ikut makan malam bareng kita?”
“Gak, aku udah makan malam sebelum ke sini. Gak usah buatin aku minuman juga”ucap Zeline berjalan melewati Acha menuju tempat yang di tunjuknya tadi.
“Adik Dylan yang satu ini bisa baca pikiran yah? Baru juga gue mau nawarin dia mau di bikinin minuman apa enggak eh, dia malah udah nolak duluan aja.” batin Acha bermonolog menatap punggung Zeline yang menjauh darinya, lalu mengendikkan bahunya acuh.
Ketika Acha kembali ke meja makan ia melihat Dylan yang ternyata telah menyelesaikan makan malamnya. “Siapa?” tanya Dylan seraya mengelap sudut bibirnya menggunakan tissue dan menengok ke arah belakang sekilas.
“Zeline, sana samperin dia nungguin di balkon.” sahut Acha menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya dan memberi intruksi menggunakan dagunya pada Dylan agar pergi menemui Zeline.
Satu alis Dylan terangkat sebelah saat mendengar perkataan Acha lalu memilih beranjak dari duduknya seraya membatin penuh tanya. “Mau ngapain dia ke sini?”
Menghampiri Zeline yang terlihat menatap kosong meja di depannya. Tanpa kata ataupun sekedar menyapa Dylan langsung mendudukkan tubuhnya di samping Zeline yang langsung menyadari kehadirannya terbukti dengan gadis itu yang seketika membuka percakapan di antara mereka.
“Lo serius, Bang?” pertanyaan to the point itu sedikit membingungkan Dylan saat mendengarnya sebelum kemudian tersadar ke mana arah pertanyaan sang adik.
“Tentu aja. Gue pengen ketemu sama orang tua kandung gue meski cuma sama Papa gue doang, setidaknya gue tahu kalo dia itu bokap kandung gue.” Ucap Dylan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dan mendongakkan kepalanya menatap langit malam ini yang terlihat cerah dengan sinar bulan purnama yang tergantung di langit sana.
“Please Bang, pikirin lagi. Kalo sampai lo pergi ke sana ada kemungkinan lo gak bakal balik lagi ke sini. Lo bahkan belum ketemu sama Mama dan Papa buat minta maaf” lirih Zeline menundukkan kepalanya.
Menolehkan kepalanya pada Zeline, Dylan menarik senyum tipisnya. “Gue bakal balik ke sini lagi, jangan khawatir. Gue juga bakal temuin Mama kalo dia udah siuman dan kondisinya udah lebih baik kayak semula.” ucap Dylan membawa tangannya untuk mengusap surai Zeline sayang.
“Huft~ kalo kayak gitu terserah lo, Bang. Kapan lo berangkat? Lo bawa kak Acha juga?”
“Lusa gue berangkat, buat Acha tentu aja gue bakal bawa dia. Dia kan calon istri gue jadi, gue harus kenalin dia sama Papa kandung gue.”
Setelah itu, tak ada sahutan apapun dari Zeline yang terlihat terdiam memikirkan sesuatu. Mereka terdiam cukup lama sebelum akhirnya Zeline membuka suaranya lagi. “Bang, lo tahu alasan kenapa Mama nyembunyiin bahkan gak ngebiarin lo ketemu sama Papa kandung lo?” tanya Zeline menoleh pada Dylan yang juga ikut menoleh padanya dengan sebelah alisnya yang terangkat, bertanya.
“Karena kalo sampai lo ketemu sama Papa kandung lo, lo gak bakal bisa balik lagi sama Mama dalam itu keadaan lo hidup ataupun tak bernyawa. Lo gak tahu aja kalo sebenarnya ibu kandung lo meninggal bukan karena Mama tap-” ucapan Zeline harus terhenti ketika suara Acha dari dalam sana memanggil nama Dylan.
“DYLAN! ADA TELPON BUAT LO!” teriak Acha dari ambang pintu balkon. Membuat Zeline maupun sang empu nama menoleh padanya.
“Dari siapa?” tanya Dylan seraya beranjak dari duduknya hendak menghampiri Acha yang membalas pertanyaannya dengan gelengan kepala.
“Gak tahu, dia nelpon lewat telpon rumah.” ucap Acha saat Dylan telah berdiri tepat di depannya. Sebelum beranjak pergi guna mengangkat telpon untuknya Dylan sempatkan menoleh pada sang adik yang kini ikut beranjak dari duduknya dan berjalan kearahnya.
“Lo angkat aja telponnya, gue juga mau balik karena udah larut malem.” ucap Zeline tanpa menghentikan langkah kakinya dan berlalu dari sana tanpa mendengar jawaban dari Dylan maupun Acha.
.
.
.
“Sial! Siapa orang-orang ini?!” umpat Zeline memacu motornya lebih kencang lagi guna menghindari beberapa motor dan mobil yang terlihat mengikutinya sejak ia keluar dari kawasan apartemen sang kakak.
...***Thank you for reading...
.......
.......
.......
.......
...To Be Continued***...