Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Ingat



...Jangan lupa vote, like & komen...


...Happy Reading...


.......


.......


.......


Zeline menatap tajam Ares dan Emma yang sedang menundukkan kepala di depannya takut-takut di dalam kamarnya. Setelah tadi ia menyuruh Emma membeli obat kontrasepsi dan sudah meminumnya kini ia menatap dua orang kepercayaannya itu tajam.


"Kemarin siapa yang nyalain dupa di kamar ini?"


"Sa-saya sudah memeriksanya itu perbuatan Charl tangan kanan Tuan Jayden. Maaf Nona, kemarin kami terlalu lalai dan membiarkan Tuan Jayden kembali menjebak anda." ucap Ares bergetar.


"Ini kelalaian pertama dan terakhir kalian, jika kalian melakukannya sekali lagi maka bersiaplah untuk mengucapkan selamat tinggal pada dunia!!"


"Kami mengerti Nona. Kami berjanji tak akan melakukan hal yang sama untuk yang kedua kalinya." ujar Ares dan Emma serentak sambil bersimpuh di lantai dan semakin menundukkan kepala mereka takut.


"Ck. Karena ini, rencanaku gagal tapi tak apa kita masih bisa menjalankan rencana ini di kemudian hari dan saat itu terjadi haruslah berhasil. Dan lagi kita juga punya cukup waktu untuk membereskan semua orang kepercayaan pria itu di rumah ini ganti semuanya dengan orang kita lalu-"


Dor!


Bruk!


Seorang pelayan jatuh bersimbah darah dengan lubang di bagian tengah kepalanya akibat tembakan dari timah panas yang di lesatkan Zeline. "Di sini terlalu banyak telinga dan bibir yang akan membocorkan rencana kita, jadi segera bereskan mereka." ucap Zeline menatap dingin mayat itu sekilas sebelum menatap pada Ares dan Emma yang nampak sedikit terkejut karena mereka sama sekali tak menyadari ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka.


"Baik Nona, perintah akan segera di laksanakan!" Tegas keduanya kompak lalu Ares menarik mayat itu untuk di bersihkan.


"Emma?" panggil Zeline pada wanita itu yang tengah membersihkan bercak darah di lantai.


"Ya Nona?"


"Pastikan semua makananku adalah hal yang bisa mencegah kehamilan!"


"Baik Nona, saya akan memperhatikan hal itu." ucap Emma beranjak pergi dari kamarnya Zeline setelah selesai membersihkan bercak darah di sana.


Zeline menatap keluar jendela dengan dingin, "Akan ku pastikan tak ada satu benih pun milikmu yang tumbuh di rahimku! " batin Zeline. Kemudian ia melamun memikirkan dirinya yang sudah tak memiliki mahkota berharganya lagi.


.......


....  ~̠~̠Z̠e̠l̠i̠n̠e̠ ̠Z̠a̠k̠e̠i̠s̠h̠a̠~̠~̠ . ...


.......


Minggu di siang hari yang cerah Dylan terlihat sedang duduk santai di ayunan taman belakang mansion Galaksi sambil mengawasi putra kecilnya yang tengah bermain dengan sang istri; Acha. Berbicara tentang putranya, anaknya itu tahun ini akan genap menginjak usia empat tahun sama dengan usia pernikahannya dengan Acha.


Beruntung sekali mereka karena tepat pada satu bulan pernikahan mereka Acha dinyatakan hamil oleh dokter dan saat ini Acha sudah kembali hamil lagi anak kedua mereka.


“Sayang! Ayo ke dalam bawa Zidan kalian gak boleh terlalu panas-panasan nanti sakit.” Ajak Dylan beranjak dari duduknya saat merasakan hari yang semakin terik.


Acha menoleh lalu menganggukkan kepalanya dengan senyuman menggemaskan membuat Dylan menggigit pipi dalamnya menahan gemas.


Acha kemudian beralih menatap sang putra yang asik memberi makan ikan di kolam yang baru di bangun satu tahun lalu. “Zidan, ayo kita ke masuk rumah Papa udah manggil tuh.” ucap Acha membuat anak itu menoleh padanya lalu menoleh kearah sang ayah.


“Baiklah, Idan juga udah puas main sama ikannya.” ucap Zidan menyetujui ajakan sang Ibu lalu bangun dari duduknya tangan kecilnya kemudian terulur kearah Acha yang akan berusaha bangun. “Bunda ayo bangun, Idan bantuin.”


Acha tersenyum mendengar ucapan Zidan dan menyambutnya, lalu setelah ia berhasil berdiri iapun mengusak rambut Zidan sayang bercampur gemas. “Terimakasih sayang,” ucap Acha lalu ia menggandeng tangan mungil Zidan untuk pergi menghampiri Dylan yang tersenyum melihat kedua permatanya.


“Sama-sama Bunda,” Zidan mendongak menatap Acha dengan senyum menggemaskannya.


Setelah sampai di depan Dylan, anak itupun langsung merentangkan tangannya minta di gendong. Dylan tentu menurutinya dan Zidan pun menguap saat ia sudah berada di gendong sang ayah.


“Oh putra Papa udah ngantuk ternyata ya?” Zidan menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban matanya sudah menutup.


Dylan kemudian melihat pada Acha, “Ayo kamu juga harus istirahat,” tutur Dylan meraih tangan sang istri dan tepat ketika mereka berbalik seorang pelayan muncul dari ambang pintu.


"Permisi, Tuan muda, Nyonya muda maaf mengganggu waktunya tapi di depan ada Tuan Kalandra yang ingin menemui anda Tuan muda." ucap pelayan itu membuat kening Dylan mengkerut heran, "Tumben anak itu ke sini? Ada apa?" batinnya.


"Yaudah siniin Zidan nya biar aku gendong dia ke kamarnya. Kamu temuin Kalandra,“ ucap Acha mengulurkan tangan hendak mengambil alih tubuh Zidan yang sepertinya sudah terlelap.


“Zidan berat sayang, kamu juga lagi hamil besar nanti kenapa-napa lagi jadi biar pelayan aja. Kamu istirahat sana.” Dylan menggelengkan kepalanya lalu menyuruh pelayan tadi yang masih berdiri di sana agar mendekat dan menyerahkan Zidan kepada pelayan itu. “Pergi tidurkan Tuan muda kecil, setelah itu tolong bawakan dua gelas kopi dan beberapa cemilan ke ruang tamu.” perintah Dylan.


Kemudian setelahnya Acha dan pelayan yang membawa Zidan pun pergi, begitupun dengan Dylan yang mulai berjalan menuju ruang tamu.


Dari kejauhan dapat Dylan lihat punggung Kalandra yang tengah duduk seperti tengah memikirkan sesuatu di sofa ruang tamu sana. Lalu begitu ia sampai di samping Kalandra Dylan pun menepuk pelan pundak pemuda tersebut.


“Apa kabar, Bro? Tumben datang ke sini gak bilang-bilang, ada apa?” Sapa Dylan mengejutkan Kalandra.


Kalandra tersenyum sangat tipis hampir tak terlihat, “Baik. Eumm gak ada apa-apa,cuma pengen...”


“Pengen apa?” Dylan mengernyitkan dahinya penasaran dengan ucapan Kalandra yang menggantung.


“Permisi, Tuan muda ini Kopi dan cemilannya.” pelayan datang dengan nampan di tangannya lalu meletakkan dua cangkir kopi dengan biskuit sebagai cemilannya.


Dylan hanya menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan si pelayan dan memberi gestur untuk segera beranjak dari sana pada sang pelayan lewat tatapan matanya.


Usai sang pelayan pergi meninggalkan Dylan dan Kalandra yang hanya berdua di ruang tamu, Kalandra terlihat sedikit menarik nafasnya pelan lalu menghembuskannya sebelum menatap tepat di mata Dylan dengan tatapan yang sulit di jelaskan oleh Dylan.


“Dy, gue pengen liat photo adek lo, Zeline.” ucap Kalandra penuh harapan membuat Dylan sedikit terhenyak.


“Tiba-tiba? Bukankah selama ini lo udah liat Zeline kayak gimana rupanya, bahkan kalian ke mana-mana selalu bersama kan?“ Dylan berucap dengan nada yang terdengar sinis, kemudian meraih cangkir kopinya lalu menyesapnya pelan seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


“Dia bukan Zeline, Dia Dashha, bukan?“ mendengar ucapan Kalandra Dylan sedikit heran, “Apa dia sudah mengingatnya?”


Dylan pun menganggukkan kepalanya kecil untuk menanggapi ucapan Kalandra. “Lo yakin, pengen liat photo Zeline?“ Dylan menatap serius pada Kalandra, ia tak ingin menyakiti Kalandra dengan memaksa pemuda itu untuk mengingat sesuatu secara paksa karena nanti, pasti kepala pemuda itu akan berdenyut sakit bahkan mungkin hingga pingsan seperti kejadian waktu itu saat Kalandra yang memaksa mengingat peristiwa dulu.


“Gue yakin, Dy. Please izinin gue liat wajah adek lo.” mohonnya membuat Dylan terlihat menimbang untuk beberapa saat hingga akhir menganggukkan kepalanya menyetujui.


“Yaudah, ayo ikut gue.”


Dylan beranjak dari duduknya diikuti oleh Kalandra. Langkahnya ia bawa menuju kamar sang adik yang berada di lantai atas lalu mengambil kunci dari laci nakas yang berada di samping pintu kamar bercat coklat itu.


*Cklek


Suara pintu terbuka menampilkan sebuah kamar dengan nuansa hangat tapi elegan. Pandangan Kalandra mengedar memperhatikan setiap sudut kamar Zeline yang di cat dengan kombinasi warna abu-abu dan putih. Sampai matanya terhenti pada meja nakas yang di atasnya terdapat berbagai bingkai foto, kaki jenjangnya ia bawa mendekat pada meja nakas di sudut ruangan lalu tangannya terulur mengambil salah satu bingkai foto seorang gadis yang tengah duduk di taman sambil menundukkan kepalanya membaca sebuah buku di pangkuannya.


Raut wajah gadis itu nampak dingin tak ada senyum sedikit pun tapi siapapun orang yang melihatnya pasti akan memuji paras cantiknya itu. Dan tanpa sadar gejolak rindu di hatinya terasa membuncah di dadanya kemudian ia menaruh kembali bingkai foto itu di tempat semula.


Kemudian saat ia akan mengambil bingkai foto yang lain, tiba-tiba saja kepala berdenyut sakit membuat ia reflek memegang kepala sementara tangannya yang lain menopang tubuhnya pada meja untuk menahan bobot tubuhnya. Kepalanya terasa berputar dengan potongan-potongan memori yang berputar di dalam kepalanya bagaikan kaset rusak dan rasa sakit pada kepalanya semakin menjadi membuat Dylan yang sedari tadi memperhatikan Kalandra langsung menghampiri pemuda tersebut.


“Kala! Hey lo kenapa? Di mana obat lo?!” panik Dylan, ia jadi menyesal karena membawa Kalandra ke kamar sang adik di mana foto-foto Zeline yang sengaja di simpan semua di dalam sana.


“Sstt sakit Dy....” lirih Kalandra meringis seraya meremas surainya kencang dan setelahnya Kalandra pun ambruk tak sadarkan diri membuat Dylan dengan segera membopong badan bongsor pemuda itu keluar dari kamar Zeline menuju kamar yang ada di sebelah.


.


.


.


“Eunghh...“ lenguh Kalandra perlahan membuka kedua kelopak matanya dan mengerjap pelan menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retinanya.


Kemudian ia merubah posisinya menjadi duduk diatas ranjang sambil memegang kepalanya yang terasa berputar.


*Cklek


Pintu yang di buka dari luar mengalihkan rasa pusing Kalandra dan menatap seseorang yang masuk ke dalam kamar tersebut. Dylan yang masuk untuk melihat keadaan Kalandra bernafas lega karena akhirnya pemuda tersebut siuman juga setelah tak sadarkan diri selama setengah jam.


“Huft~ akhirnya lo bangun juga. Gimana keadaan lo? Masih pusing,” tanya Dylan menyodorkan segelas air mineral yang ada di atas nakas pada Kalandra yang menerimanya lalu meneguk air putih itu hingga tersisa hanya setengahnya.


“Gue inget semuanya, Dy.” Bukannya menjawab Kalandra malah membuat pernyataan tanpa menatap Dylan yang nampak sedikit terkejut. Namun sedetik kemudian Dylan pun mengangguk singkat sambil tersenyum tipis.


“Syukur lah kalo gitu,”


Lalu suasana di dalam kamar itupun hening untuk beberapa saat sampai Kalandra beranjak dari tempat tidurnya membuat Dylan mengernyit, “Lo mau langsung pulang? Emang lo udah gak apa-apa?” tanya Dylan.


Kalandra menganggukkan kepalanya, “Gue udah gak papa, pergi dulu. Assalamu'alaikum.” ujar Kalandra sambil berlalu  pergi tanpa menunggu balasan dari Dylan yang heran karena melihat Kalandra yang nampak seperti terburu-buru. 


“Dia beneran mau balik? Keeliatan buru-buru amat keknya.” Batin Dylan memiringkan sedikit kepalanya tapi setelahnya mengangkat bahunya acuh.


...Thank you for reading...


.......


.......


.......


.......


...To Be Continued...