Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Kado untuk Kalandra



...Jangan lupa vote, like & komen...


...Happy Reading...


.......


.......


.......


“Dek, kakak udah urus surat pindah sekolah kamu, kakak juga udah suruh kepala sekolah buat tutup mulut soal ini,, kamu tinggal beresin sisa urusan kamu yang lain.” ucap Ravin di sebrang telpon sana yang baru saja kembali dari sekolah tempat Zeline menuntut ilmu.


“Hmm Makasih Kak,” balas Zeline yang saat ini tengah duduk di balkon rumahnya menikmati langit yang telah berubah warna menjadi jingga karena hari yang sudah beranjak sore.


Di sebrang sana Ravin tersenyum lembut, “Sama-sama, lagipula ini juga termasuk tugas Kakak sebagai asisten pribadi kamu, Dek.”


“Emm yaudah Kakak tutup dulu telponnya ya? Berkas kepindahan kamu kakak simpen di kamar kamu yang ada di rumah tengah hutan, seperti biasa.”  ucap Ravin kemudian dan mendapatkan deheman sebagai balasan dari Zeline sebelum kemudian sambungan telpon itu terputus.


“Gak kerasa dua minggu lagi gue bakal pergi dari sini—ninggalin semuanya.“ Monolog Zeline dalam hati menatap lurus ke depan dengan pandangan sendu.


.


.


.


Celine, Jasmine, dan Zeline terlihat berjalan beriringan menapaki koridor-koridor sekolah yang nampak masih sepi karena hari yang masih pagi, dengan posisi Zeline yang di hampit oleh gadis yang lebih tua.


Celine pun berujar kepada sang Adik yang sedari tadi diam menyimak percakapan tak bermutunya dengan Jasmine. “Dek, lo udah nentuin kado apa yang bakal lo kasih buat Bang Kala?”


Pertanyaan Celine pada Zeline sukses menciptakan kerutan samar di dahi gadis itu, melihat kerutan di dahi sang adik tentunya Celine dapat menangkap bahwa adiknya itu sudah pasti tak mengetahui perihal ulang tahun kekasihnya yang sebentar lagi.


Menghela nafasnya pelan Celine pun kembali berujar dengan cibiran diakhir kalimatnya.“Rabu depan, Bang Kala ultah. Lo gimana sih tanggal ultah pacar sendiri kok kagak tahu,”


“Ohh kira-kira kado apa yang harus gue kasih buat dia?” Zeline balik bertanya membuat Celine dan Jasmine menepuk jidat mereka pelan seraya menggelengkan kepala mereka.


“Ya lo tinggal kasih kesukaan Bang Kala aja,“ ujar Celine menatap sang adik yang diam tak menyahut, dan lagi itu menciptakan helaan nafas pasrah keluar mulut Celine. “Jangan bilang lo juga gak tahu kesukaan Bang Kala itu apa?” tebak Celine yang mendapat gelengan dengan wajah polos Zeline.


“Yaampun Zee... Gue aja nih ya yang bukan siapa-siapa Pak Kala tahu apa kesukaan dia!” ucap Jasmine agak ngegas dan memberikan tatapan tak percayanya pada Zeline.


“Ya elo jelas tahu lah! Elo kan masuk grup fans sekolah Bang Kala yang ngestalker segala sesuatu tentang Bang Kala.” ucap Celine menimpuk belakang kepala Jasmine yang cengengesan.


“Tapi itutuh berguna banget tahu, gue aja udah nentuin kado apa yang bakal gue kasih buat Pak Kalandra yang tampan ke anime keluar dari dunia gepeng.” ujar Jasmine menatap Celine sekilas lalu kembali menatap Zeline.


“Lo mau gak, list kesukaan dan yang gak disuka Pak Kala?” tawar Jasmine kepada Zeline yang diam seperti tengah menimbang sesuatu. Sebelum akhirnya mengangguk kecil sebagai respon dan menghentikan langkahnya saat ia sudah sampai di depan kelasnya. “Gue sampai, bye.” ujar Zeline kemudian berlalu meninggalkan dua sahabat itu masuk ke dalam kelasnya.


...┈┈┈┈․° ☣ °․┈┈┈┈...


Sepulang sekolahnya, Zeline membawa langkah kakinya untuk pergi ke pusat perbelanjaan dan sekarang ini ia tengah menelusuri setiap lantai mall yang sudah ia pijaki sejak setengah jam yang lalu sambil terus menscroll layar handphonenya yang menampilkan room chatnya dengan Jasmine yang mengirimkan list yang tadi pagi di bicarakan gadis tersebut.


Dan dari sekian banyaknya barang kesukaan Kalandra Zeline belum menemukan sesuatu diantara itu semua yang cocok untuk di berikan kepada kekasihnya tersebut. Hingga pada akhirnya iapun memutuskan untuk masuk ke salah satu toko jam yang berada di lantai tiga mall.


Matanya bergulir kesana-kemari mencari sekiranya jam tangan yang bagus untuk Kalandra dan model itu belum di miliki oleh pemuda tersebut. Sekitar lima belas menit ia mengelilingi toko tersebut akhirnya matanya tertuju pada salah satu jam yang berada di sana. Dan seorang pelayan toko yang tak jauh berdiri dari dirinya pun menghampirinya.


“Ada yang bisa saya bantu, dek?” tanyanya ramah pada Zeline yang langsung menunju salah satu jam tangan yang berada di rak depannya.


“Berapa harga yang ini?” tanyanya membuat sang pelayan tersenyum.


“Itu harganya Rp541.865.000 juta dek, karena ini baru keluar beberapa hari yang lalu dari brand Rolex dengan model Cosmograph Daytona, apa anda berminat?”


Mendengar penjelasan dari sang pelayan Zeline tampak sedikit berpikir sejenak sebelum menganggukkan kepalanya. “Saya akan membelinya, tapi bisakah kalian membuat ukiran nama di belakang jam tangan tersebut?”


“Oh tentu saja kami bisa mengukirkannya untuk anda. Anda bisa menuliskan nama yang ingin anda ukir di kertas ini.” tanya sang pelayan sambil menyodorkan notes kecil beserta penanya.


Zeline pun meraih kertas tersebut dan menuliskan beberapa kalimat, lalu memberikannya kepada sang pelayan. “Baik kalau begitu tunggu sebentar ya? Saya akan menyiapkan pesanan anda, selama menunggu anda bisa duduk di kursi sana setelah melakukan pembayaran.” ucap sang pelayan menunjuk kursi panjang dengan meja kecil yang berada di pojok dekat kasir. Lalu setelah mendapat anggukan mengerti dari Zeline pelayan tersebut pun pergi.


Sekitar tiga puluh menitan Zeline menunggu sambil memainkan ponselnya pesanannya itupun akhirnya datang yang tentunya Zeline mengeceknya terlebih dahulu ukiran yang di mintanya sesuai atau tidak. Dan setelah memastikan ukiran tersebut sesuai dengan apa yang diinginkannya Zeline pun berlalu dari sana untuk pulang.


Jayden tentunya tersenyum lebar sementara Zeline memasang muka terdatar yang dirinya bisa pada Jayden. “Kebetulan sekali kita bertemu di sini, babe. Kamu ingin pulang?” tanya Jayden melirik paperbag kecil yang ada di tangan Zeline.


“Hmm” Zeline mendehem sebagai balasan sambil menekan tombol di samping pintu lift, memilih mengabaikan Jayden yang kini berdiri bersebelahan dengannya dan di belakang pemuda tersebut berdiri seorang pria berpakaian formal yang dapat di pastikan jika pria tersebut merupakan asisten pribadi Jayden.


Selama menunggu pintu lift terbuka Jayden terus memperhatikan wajah Zeline yang masih nampak cantik meski tanpa ekspresi di wajahnya dari pantulan pintu lift.


Tak lama setelahnya pintu kotak besi yang bisa berjalan itupun terbuka dan Zeline segera melangkahkan kakinya memasuki kotak besi tersebut yang tentunya di ikut Jayden. “Sudah menyelesaikan semua urusanmu itu?” tanya Jayden setelah pintu lift itu tertutup dan mulai membawa raga mereka menuju ke basement tujuan mereka.


“Sedikit lagi, bersabarlah.” ucap Zeline terdengar malas. Dan mendapat anggukan pelan dari Jayden.


“Cepat-cepatlah selesaikan urusanmu itu, aku sudah tak sabar ingin membawamu pergi bersamaku.” ucap Jayden menatap lurus pantulan dirinya dari dinding lift, namun ucapannya itu tak di gubris sama sekali oleh Zeline.


.


.


.


Pulang dari mall kini Zeline tengah duduk seorang diri di halaman belakang mansion sambil sesekali menyesap coklat panas yang di seduhnya tadi.


Melamun di sepinya malam dengan pikiran yang melayang entah kemana, bahkan saking larutnya ia sampai tak menyadari seseorang kini telah duduk di samping dirinya ikut memandangi langit malam yang gelap tanpa bintang ataupun bulan.


“Jangan ngelamun, dek ntar kesambet loh,” tegur Dylan membuat Zeline tersentak kecil dan menoleh kearahnya.


“Sejak kapan abang di sini?”


“Lima menit yang lalu. Kamu ngelamun apa sih? Sampai gak sadar kalo abang nyamperin kamu,”


“Gak ngelamunin apa-apa,”


“Ck, bohong ya keliatan banget.” cibir Dylan mengusak rambut Zeline yang diikat satu. “Terus kenapa jam segini belum tidur?”


“Ini masih sore bang, baru jam delapan malam.” Zeline memutar matanya jengah dan dibalas kekehan kecil oleh Dylan.


Lalu setelah itu hening, tak ada percakapan apapun lagi di antara mereka selama 20 menit. Sampai Zeline akhirnya yang memecah keheningan di antara mereka.


“Bang”


“Hmm?”


“Janji sama aku, kalo abang gak bakal bantah ucapan Mama dan Papa, gak bakal percaya sama ucapan orang lain sekalipun orang itu nunjukin bukti dari ucapannya kalo belum abang sendiri yang mastiin, abang gak boleh percaya sama orang itu. Abang juga harus janji,kalo Abang bakal jaga keutuhan keluarga ini sekuat abang. Bisa abang janji sama ucapan aku?”


Zeline menatap Dylan yang diam dengan pandangan yang sulit diartikan menatap dirinya.


“Iya Abang janji. Tapi Dek, kenapa kamu tiba-tiba ngomong kayak gitu?”


Zeline hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya kecil dan kembali menatap langit malam seraya menyesap coklat panasnya yang mulai dingin.


“Aku sayang sama kalian semua, Bang.” Zeline berucap lirih namun masih dapat terdengar oleh Dylan yang menatap Zeline dalam.


“Kenapa lo ngomong kayak gitu, dek? Seolah-olah lo bakal pergi jauh dari kita semua.” batin Dylan entah kenapa menjadi tak tenang.


...Thank you for reading...


.......


.......


.......


.......


...To Be Continued...