Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Aku Mencintaimu



...Jangan lupa vote, like & komen...


...Happy Reading...


.......


.......


.......


Motor sport dengan warna biru tua itu terparkir di tengah-tengah hutan yang gelap malam ini. Itu motor yang digunakan Kalandra untuk pergi ke tempat yang di maksud Zeline di telpon tadi. Ia sengaja membawa motor supaya lebih cepat sampai di tempat terakhir kali ia di ajak oleh si gadis ke rumahnya yang berada di tengah hutan tempo lalu, saat gadis itu di keroyok.


Beruntungnya ia masih ingat jelas jalannya jadi ia tidak sampai tersesat di hutan yang malam ini terlihat sangat gelap karena tak ada bulan yang membantu menerangi.


Tok tok tok


Kalandra mengetuk pintu kamar berbahan kayu di lantai dua rumah minimalis itu sebelum melongokkan kepalanya kedalam kamar dan senyumnya terbit saat mendapati kekasihnya ada di sana tengah berdiri dan memandang keluar jendela.


Kalandra pun berjalan menghampiri Zeline lalu memeluk dari belakang gadis itu hingga membuat si gadis tersentak kecil, kening Kalandra menggeryit kala merasakan itu dan menatap dari samping wajah menawan Zeline.


"Kamu ngelamun? Sampek kaget pas aku peluk padahal aku tadi ketuk pintu loh," ucap Kalandra mengusap lembut tangan Zeline yang terlipat di perutnya.


"Hmm enggak, Happy birthday Bang." ucap Zeline tersenyum tipis sambil menoleh ke samping bertatap dengan Kalandra hingga menyebabkan jarak wajah antara mereka sangat dekat.


"Makasih dan happy anniversary juga," Kalandra mengecup kening Zeline sayang.


"Anniversary?" kernyitan hadir di kening Zeline, jujur saja ia tak ingat kapan mereka resmi berpacaran dulu karena yah kalian pasti tahu lah... Kan waktu itu mereka jadian karena Kalandra yang memaksa.


"Kamu gak inget?"


Zeline menggeleng polos membuat Kalandra terkekeh kecil lalu mengecupi setiap inci wajah gadis itu. "Hari jadi kita itu tanggal 06 februari dan hari ini tepat hari jadi kita yang ke 6 bulan, aku sengaja waktu itu ngajak kamu jadian tanggal 6 supaya biar sama kayak ultah aku." jelas Kalandra lalu merongoh saku celana jeans nya mengambil sesuatu sebelum kemudian memasangkan sebuah kalung perak ke leher jenjang Zeline.


"Sesuai dugaan aku, kalung ini bakalan lebih cantik kalau di pakai sama kamu."


Zeline menunduk melihat kalung yang menggantung di lehernya sambil tersenyum tipis. Lalu iapun teringat akan kado yang sempat di belinya untuk pemuda itu.


"Kado ulang tahun buat kamu, aku harap kamu menyukainya." ucap Zeline, setelah meraih paperbag kecil yang ada di meja kecil samping mereka dan menyodorkannya kepada Kalandra.


Senyuman Kalandra tertarik lebar, "Apapun yang kamu kasih aku pasti akan menyukainya," ucap Kalandra membuka paperbag itu dan mendapati ada sebuah kotak berukuran sedang di dalamnya.


"Boleh aku membukanya?" Dan mendapat anggukan kepala dari Zeline.


Membuka kotak itu yang mana ternyata di dalamnya adalah sebuah jam dengan mereka rolex. "Makasih, By." Kalandra berucap tulus dan memeluk Zeline.


Lalu tanpa melepaskan pelukannya Kalandra kembali berucap, "Zeline, boleh aku minta hal lain sebagai hadiah ulang tahun aku?" tanyanya dan di balas deheman pelan oleh Zeline.


"Aku ingin kamu janji sama aku, kalau gak akan pernah pergi dari aku dan selalu ada di setiap ulang tahun aku di tahun-tahun berikutnya, bisa?"


Ucapan Kalandra itu membuat Zeline terdiam seribu bahasa tak tahu harus menjawab apa. "Apa yang harus gue jawab. Kalaupun gue ngeiyain ya, gue pasti bakal ingkarinnya juga." Batinnya.


Tak mendengar jawaban apapun dari Zeline selama 3 menit Kalandra pun mulai melepaskan pelukannya dan berganti memegang kedua pundak Zeline untuk menatap manik kembar coklat tua milik Zeline dengan tatapan penuh harap.


"Kamu bisakan nge wujudin permintaan aku?" tanya lembut Kalandra membuat Zeline benar-benar bambang sebelum kemudian menganggukkan kepalanya dan balas menatap mata Kalandra.


"Iya, aku janji." ucap Zeline membuat senyum Kalandra tersenyum bahagia.


.


.


.


“Apa yang bakal terjadi setelah gue pergi dari sini?” menolognya pelan menatap sekeliling halaman belakang rumahnya yang di tumbuhi dengan berbagai sayuran dan bunga yang sangat terawat.


“Emang kamu mau pergi ke mana, dek?” Suara lembut yang familiar menyapa indra pendengar Zeline yang seketika menoleh kearah sumber suara dan mendapati sangat ibu dengan balutan piyama tidur satin merah batanya kini duduk di sampingnya.


Clara menatap putri bungsunya itu sambil menaikan sebelah alisnya. “Kamu mau pergi ke mana, dek?” tanyanya kembali.


Zeline memalingkan wajahnya menatap bunga mawar putih di depannya yang berjarak kurang lebih 1,5 meter dari tempat duduknya saat ini, kemudian menggelengkan kepalanya.


“Enggak ke mana-mana,” bohongnya lalu menyesap pelan teh yang sedari tadi di pegangnya hingga tandas tak tersisa.


“Mama mau teh? Biar aku buatin sekalian nyimpen cangkir teh aku,”


Menggelengkan kepalanya Clara membawa tangannya untuk menarik kepala Zeline agar bersandar di pundaknya, lalu mengusap lembut rambut sang putri dengan sayang.


“Kamu tahu? Dari ketiga anak yang Mama punya, kamu adalah putri Mama yang selalu menyimpan segala sesuatu yang kamu rasakan sendirian tanpa mau membaginya kepada orang lain. Bahkan terkadang pun tindakanmu bisa lebih dewasa daripada kedua kakak kamu.” ucap Clara, membuat Zeline menikmati setiap momen saat ini.


“Jadi Zeline sesekali ceritalah sama Mama, gimana hari kamu berjalan bahkan kamu yang ternyata pacaran sama Kalandra aja Mama tahu ya dari dua kakak kamu, Jadi coba sekarang kamu ceritain sama Mama gimana ceritanya kamu bisa pacaran sama Kalandra.” Clara menunduk guna melihat sedikit raut wajah Zeline yang sedikit bersemu merah.


“Eum itu... Ma tiba-tiba Adek inget kalo belum ngerjain PR minggu kemarin, jadi ceritanya lain kali aja, ya.” ucap Zeline bangun dari duduknya dan mengecup cepat pipi sang ibu sebelum berlari ke dalam rumah.


Di malam harinya ketika langit telah berubah menjadi gelap, Zeline dengan gesitnya menyusup ke dalam kamar Kalandra dan berdiri di samping ranjang di mana Kalandra yang terlihat begitu lelap dalam tidurnya dengan raut wajah yang kentara sangat lelah.


Zeline pun berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan wajah Kalandra yang tidur dengan posisi menyamping, senyum tipis terbit di bibir tipisnya dan sebelah tangannya terangkat untuk mengelus pelan surai Kalandra.


“Kamu capek banget ya hari ini? Sampek lagi tidur aja alis kamu menukik ke gini.” lirih Zeline mengelus kerutan alis Kalandra yang mana hal itu membuat alis si pemuda merelaks.


“Bang, ada hal yang mau aku bilang sama kamu soal janji yang kamu minta kemarin, maaf aku gak bisa nepatin janji itu, karena aku sebentar lagi bakal pergi jauh dari sini. Aku gak tahu seberapa lama aku akan pergi tapi yang jelas setelah aku pergi aku harapan kamu tidak membenciku, aku tak mengharapkan kamu juga untuk menunggu setelah kepergianku. Aku hanya ingin selama aku pergi kamu harus selalu sehat dan bahagia tentunya...“ Terjadi jeda untuk beberapa saat setelah Zeline mengatakan itu tangannya pun masih setia mengusap lembut surai Kalandra tanpa mengganggu tidur sang kekasih.


“Hah~ aku tahu kamu mungkin tak mendengarkan ucapanku tadi karena kamu tengah tidur tapi aku juga berharap kamu mendengar semua yang ku ucapkan tadi terutama ucapanku yang satu ini karena aku tahu kamu pasti sangat ingin mendengar aku mengatakannya. Kalandra Septiana Aldebaran Aku mencintaimu, sangat.” Setelah mengucapkan satu kalimat itu dan membubuhkan kecupan cukup lama di kening sang kekasih Zeline pun kemudian segera beranjak pergi dari sana tanpa menimbulkan suara.


Meninggalkan Kalandra yang ternyata sudah terbangun sejak Zeline datang menyusup ke dalam kamarnya. Perlahan kedu kelopak mata si pemuda terbuka dan menatap jendela besar yang juga merangkap sebagai pintu balkon kamarnya lekat sebelum bangun dari tidurnya dan berjalan ke sana.


“Aku tidak akan pernah membencimu, Zeline, tak akan! Justru aku akan selalu mencintaimu dan akan terus menunggumu hingga kembali, tak peduli seberapa lama apapun kamu pergi.” Kalandra berucap dalam hati sambil melihat keluar jendela balkon dari balik tirai  babyblue tipis di kamarnya.


.


.


.


Zeline menatap malam yang semakin larut dari balik jendela pesawat yang ditumpanginya dengan tatapan yang sulit diartikan. Di samping ada Jayden yang duduk sambil menyesap anggur merahnya.


Malam ini ia benar-benar pergi, pergi meninggalkan semuanya. "Eratin sabuk pengaman kamu sayang, pesawat udah mulai take-off." ucap Jayden sambil mengeratkan sabuk pengaman Zeline sementara Zeline nampak tak peduli.


Tepat saat pesawat benar-benar meninggalkan bandara tanpa bisa dicegah satu tetes air mata jatuh dari pelupuk mata Zeline sambil berucap lirih didalam hati. "Ma, Pa, Abang, Kakak Maaf. Bang Kala maafin aku yang gak bisa nepatin janji."


...Thank you for reading...


.......


.......


.......


.......


...To Be Continued...