Zeline Zakeisha

Zeline Zakeisha
Pulang



Jayden membulatkan matanya terkejut saat melihat halaman mansion terdapat beberapa mobil mewah dan ia lebih di kejutkan lagi dengan keadaan di dalam mansion yang ramai oleh orang-orang yang tidak ia kenal tengah melakukan pesta amer hingga bau alkohol hampir memenuhi seisi mansion belum lagi ada beberapa orang yang terlihat tengah asik bercumbu tak tahu malu.


Dengan raut majah semakin murka Jayden mengedarkan pandangannya ke seisi mansion mencari keberadaan Zeline. “ZELINE ZAKEISHA! DIMANA LO ****** SIALAN!” maki Jayden berseru sambil masuk lebih dalam lagi kedalam rumahnya.


Sementara Zeline di lantai dua sana terlihat menyunggingkan senyum miringnya, “Kenapa?“ Zeline menyahut acuh dari tangga terakhir lantai dua.


“Lo! Apa-apaan dengan semua yang terjadi di sini hah?! Gue lagi berjuang buat perusahaan gue gak bangkrut tapi lo malah hambur-hamburin uang.” bentak Jayden pada Zeline yang nampak acuh.


“Dan ini! gue gak akan pernah menandatangani ini!! ” Jayden melemparkan map coklat surat perceraian yang sudah di tandatangani Zeline kepada gadis itu.


Zeline melihat map yang jatuh di bawah kakinya, “Tak apa jika tak ingin menandatanganinya gue punya cara lain buat lepas dari lo, misalnya--” Ucapan Zeline tergantung namun tangannya terulur kearah Jayden yang berdiri di tangga kedua dari lantai atas.


Mendorong bahu itu cukup kuat hingga pemuda itu membulatkan matanya terkejut dan limbung kebelakang karena tak siap hingga berakhir dirinya jatuh menggelinding kebawah dari tangga.


Jayden meringis keningnya terlihat mengeluarkan darah matanya tertuju kepada Zeline yang berjalan dengan santai menuruni anak tangga lalu tangan gadis itu terulur kearah seseorang yang Jayden kenal, itu Ares yang memberikan sebotol minuman beralkohol tingkat tinggi kepada gadis itu.


Zeline berjongkok di depan Jayden yang terbaring mengenaskan di bawah kaki gadis itu yang menatapnya dengan sorot mata dingin dan aura membunuh yang pekat. Sementara orang di sana nampak tak peduli dan terus melanjutkan pesta mereka.


Zeline mengeluarkan pisau lipat tumpul dan berkarat dari saku celana jeans denimnya, “Kamu salah jika bermain-main dengan ku.” mengarahkan pisau itu pada lengan Jayden lalu menusukkan pisau tersebut hingga membuat Jayden menjerit tertahan.


Mencabut pisau yang menancap beberapa saat di lengan Jayden Zeline kemudian menuangkan botol minuman alkohol tarik di atas luka Jayden hingga membuat Jayden kembali meringis. Terus melakukan hal itu berulang kali hingga kini Jayden sudah terlihat lemas karena mulai kehabisan darah akibat luka tusukan dan sayatan yang di ciptakan Zeline di tubuh pemuda itu.


Ares yang melihat Jayden sudah nampak mengenaskan di lantai sana dengan darah di sekitar  tubuh pemuda itu bergidik ngeri. “Nona benar-benar meluapkan semua perasaan bencinya kepada pria ini.” batinnya.


Di ujung ruangan sana terlihat Abby dan Marvin yang melihat semua kejadian Zeline yang mengeksekusi Jayden dengan bergidik sama ngerinya seperti Ares bahkan Abby terlihat menahan mual karena melihat darah itu.


“Dia benar-benar mengerikan, beruntung aku tak mengusiknya.” gumam pelan Marvin yang mana masih terdengar oleh Abby yang menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan pria di sampingnya.


Zeline menegakkan tubuhnya mengambil sapu tangan untuk mengelap tangannya lalu mengeluarkan pistol yang di selipkan di balik punggungnya.


“Jay, sebenarnya aku ingin menyiksamu lebih lama, tapi melihat wajahmu benar-benar membuat ku muak jadi ucapkan selamat tinggal pada dunia dan susul ayahmu di neraka!” ucap Zeline mengarahkan moncong pistolnya pada Jayden yang nampak sudah begitu pasrah dengan nasibnya.


“M-maaf, aku benar-benar s-salah berurusan dengan mu-” DOR! Jayden mati seketika setelah satu peluru di tembakkan oleh Zeline kepada pria itu.


Matanya lalu terarah pada orang-orang di dalam ruangan itu dan memberi gesture pada Emma dan Ares untuk membereskan mereka semua. “Pastikan semua tikus di sini mati tak tersisa dan bakar tempat ini!” ucap Zeline dingin berjalan keluar meninggalkan Ares dan Emma yang dalam sekejap langsung menjalankan perintah dari Zeline bersama beberapa anak buah mereka.


Marvin dan Abby ikut berjalan keluar mengikuti Zeline dan suara tembakan yang saling bersahutan mulai terdengar di mansion itu yang seketika berubah menjadi tempat penuh darah.


“Pergilah! Saat ini kita tak memiliki hubungan apapun lagi.” usir Zeline pada dua orang yang berjalan mengekor dirinya.


“Aku akan tetap menjadi temanmu! Hubungi aku jika kau butuh sesuatu.“ ucap Marvin tak peduli dengan ucapan Zeline dan berjalan menuju mobilnya.


“Ikut dengan ku, Abby?” Dan mendapat anggukan dari Abby yang membungkuk tubuhnya sekilas pada Zeline sambil mengucapkan terimakasih.


.


.


.


Beberapa tahun kemudian setelah kejadian itu kini Zeline terlihat menatap datar gedung-gedung pencakar langit dari balik jendela besar apartemennya sambil menyesap wine yang menjadi candu untuknya selama satu bulan ini.


Matanya menyorot dingin dan melihat kearah undangan pertunangan yang dirinya terima sekitar sebulan yang lalu dari Ravin.


Ting tong!


Bel apartemen berbunyi membuat Zeline mau tak mau harus beranjak pergi membukakan pintu untuk tamu yang tak punya sopan santunnya bertamu ke apartemen nya di tengah malam seperti ini.


“Tcih! Untuk apa kau datang ke sini lagi?” dengan Zeline berbalik berjalan masuk ke dalam rumahnya menuju meja bar kecil di apartemen nya setelah membukakan pintu untuk sang tamu.


“Memastikan kau sudah berhenti minum atau belum dan lihat kau belum menghentikan minummu.”ucap orang itu menatap beberapa botol di atas meja bar yang sudah kosong.


Toleransi Zeline terhadap minuman beralkohol memang tinggi, ia bisa mempertahankan kesadarannya hingga 5 botol dan setelahnya ia akan mabuk.


Dan di meja sudah terdapat 5 botol yang habis. Pria bersurai pirang dan sudah akan menjadi ayah itu menahan pergerakan Zeline yang hendak kembali menuangkan minuman yang dapat mengambil kesadaran itu ke dalam gelas.


“Ck! Tak akan!” menepis tangan Marvin yang menghela nafasnya.


“Kau minum-minum seperti ini apa karena mengetahui pria itu yang sudah bertunangan?” tanya Marvin yang kurang lebih selama enam tahun dekat gadis itu ia tahu bahwa gadis yang sudah ia anggap sebagai adik itu masih menyimpan rasa pada seseorang beberapa tahun silam.


Gerakan Zeline yang akan meneguk vodkanya berhenti sejenak sebelum meneguk minuman itu hingga tandas.


“Tidak. Aku bahagia mendengar dia akhirnya memiliki seseorang yang bisa membuatnya bahagia. “ senyum miris terpatri di wajah datar nan dingin Zeline.


Tapi matanya justru menjadi berkaca-kaca dan lelehan air mata mulai keluar dari pelupuk matanya membuat sungai kecil di pipinya yang tak terlalu cubby. Lalu ia menumpukan kepalanya di lipatan tangan di atas meja menatap kosong kearah Marvin.


“Bodoh banget gue, padahal gue sendiri yang nyuruh dia buat cari kebahagiaannya sama orang lain tapi gue malah gak rela dan nangis kayak orang idiot di sini.”


Marvin tidak berkata apa-apa sudah berkali-kali ia mendengar dan melihat Zeline seperti ini dalam sebulan. “Zeline, lo juga bisa cari kebahagiaan lo sendiri sekarang, karena dia juga udah bahagia. Jangan siksa diri lo sendiri dengan cara ke gini.“ ucap Marvin mengusap surai sebahu Zeline yang di cat biru tua.


“Kebahagiaan gue adalah dia. ” lirih Zeline matanya mulai berat sekarang. Marvin yang melihat hal itupun akhirnya memilih untuk menggendong Zeline menuju kamar gadis itu.


Membaringkan tubuh Zeline yang sepertinya sudah terlelap karena pengaruh alkohol yang di minumnya. “Marvin, dia masih jadi pusat kebahagiaan gue dan gue belum bisa ngelepas dia tapi gue yang sekarang gak pantes buat dia.” gumam Zeline dalam tidurnya membuat Marvin yang hendak beranjak dari sana setelah menyelimuti Zeline urung.


“Zeline entah kenapa, gue punya keyakinan kalau dia juga masih ngejadiin lo pusat bahagianya, gue juga yakin kalau dia pasti bakal nerima lo apa adanya.” lirih Marvin mengusap puncak kepala Zeline lalu mengecup singkat kening gadis itu sebelum akhirnya pergi dari apartemen Zeline untuk kembali ke kediamannya.


.


.


.


Kalandra menatap pepohonan di luar sana dengan hampa, saat ini ia tengah berada di rumah sederhana milik Zeline yang berada di tengah hutan. Rumah ini sudah menjadi tempat favoritnya ketika sedang banyak pikiran, tertekan dan merindukan gadisnya, Zeline.


Satu bulan yang lalu dirinya di paksa oleh sang ibunda tercinta untuk bertunangan dengan anak dari temannya dan sekitar dua mingguan lagi pernikahan mereka akan di adakan.


Ia benar-benar terpaksa di usianya yang sudah menginjak kepala tiga dirinya masih belum menikah juga padahal adiknya; Kaisar sudah akan memiliki putra pertamanya bersama Jasmine adik iparnya. Karena hal itu pula yang membuat Mamanya memaksa dirinya untuk segera menikah dan jangan menunggu seseorang yang tak pasti keberadaan dan keadaannya bagaimana.


Kalandra mendengus sebal, saat mengingat kembali ucapan Mamanya saat memaksanya untuk menerima perjodohan itu.


“Jika kamu tak menerima perjodohan ini Mama akan bunuh diri!”


Itu perkataan Mama Kalandra saat memaksanya, menggunakan nyawanya hanya untuk Kalandra menyetujui keputusannya.


“Zeline, kapan kamu pulang? Sampai kapan aku harus menunggu? Aku benar-benar sangat merindukanmu” batin Kalandra menatap matahari yang mulai tenggelam diupuk barat.


“Cepat kembali Zeline, aku tak mau menikahi orang lain selain kamu.” batinnya kembali lalu berjalan kearah lemari pakaian di sana mengambil kaos yang biasa di gunakan Zeline dan baunya sama seperti tubuh gadis itu.


Kemudian ia berjalan menuju ranjang mulai memejamkan matanya sambil memeluk kaos Zeline membayangkan jika yang saat ini ia peluk benar-benar adalah gadis itu.


»»————>  <————««


^^^Semuanya mohon maaf kalo chapter ini kurang nge feel ya guys😭🙏^^^


...Thank you for reading...


...Don't forget to vote, like ...


...and comment! ...


.......


.......


.......


.......


...To Be Continued...