
...Jangan lupa vote, like & komen...
...Happy Reading...
.... ...
.... ...
.... ...
Tiga bulan kemudian setelah kejadian dimalam pesta tahunan perusahaan rekan kerja Jayden semuanya berjalan lancar seperti tak pernah terjadi apapun pada malam itu.
Bahkan masih membekas diingatan Jayden bagaimana raut khawatir Zeline saat ia kembali pada pagi hari di keesokannya, gadis itu menunggunya di ruang tamu sepanjang malam membuat ia merasa bersalah kepada gadis itu.
Dan sejak satu bulan yang lalu Zeline kini bekerja di perusahaannya karena keinginan gadis itu yang mengatakan bahwa ia tak ingin berjauhan dengan Jayden. Jayden yang mendengar alasan gadis itu tentu saja menyetujuinya dan bahagia karena akhirnya Zeline benar-benar jatuh dibawah kendalinya.
Seperti saat ini saja Zeline datang keruangan tepat saat jam makan siang dan mengajaknya untuk makan siang bersama seperti biasanya.
“Jay, ayo makan siang.” ajak Zeline begitu ia masuk kedalam ruang kerja Jayden di perusahaannya.
Jayden yang tengah sibuk membaca proposal tentang rencana produk terbaru yang akan di keluarkan perusahaannya mendongakkan wajahnya menatap Zeline yang menjabat sebagai sekertaris keduanya, setelah Charl.
“Ayo, kamu ingin makan siang di mana?” tanya Jayden menutup berkas yang tengah dibacanya seraya beranjak mendekati Zeline yang berdiri di depan meja kerjanya. Sementara mata Zeline terlihat melirik sekilas pada berkas di atas meja Jayden dan mengulum seringainya samar.
“Di kantin perusahaan aja, aku males keluar.” ucap Zeline mengaitkan tangannya pada lengan Jayden. Kemudian mereka pun pergi dari ruangan Jayden menuju kantin.
Tak lama setelah kepergian mereka seseorang masuk kedalam ruangan Jayden dan membawa proposal tadi menuju mesin photocopy yang berada di lantai 10 tempat ruangan Jayden berada.
Setelah menyalin semuanya orang tersebut kembali keruangan Jayden dan menyimpan proposal hasil photocopy an tadi di tempat semula, sedang proposal aslinya ia bawa entah kemana.
.
.
.
Malam harinya di saat semua orang telah terlelap kedalam mimpi indahnya, Zeline justru berjalan keluar kamarnya dan pergi menuju ruang baca yang berada mansion tersebut untuk menelpon seseorang.
“Bagaimana menyukai sesuatu yang tadi sore kuberikan?” tanyanya pada seseorang di sebrang sana yang terkekeh mendengar pertanyaan.
“Aku menyukainya, thanks.” balas orang di seberang sana sambil melirik sebuah map yang berisi berkas penting di atas meja ruang kerjanya.
“Bagus jika kau menyukainya, ingat kau harus mengeluarkan itu setelah ia mempublikasikannya dan buat klarifikasi untuk menjatuhkannya oke?”
“Aku mengerti, tak perlu mengajarkan hal itu. Ngomong-ngomong kenapa berita perselingkuhannya belum keluar juga?” tanya seseorang itu mengalihkan topik pembicaraan.
“Sebentar lagi. Tak ada yang akan ku bicarakan lagi jadi aku tutup telponnya.“ Zeline menutup sambungan teleponnya secara sepihak tanpa menunggu jawaban orang di sebrang sana.
Di keesokan paginya saat Jayden dan Zeline tengah menyantap sarapan pagi mereka Emma datang dari arah pintu depan dengan raut wajah gelisah.
“Ada apa?” Zeline bertanya ketika melihat raut wajah pelayan pribadinya itu.
“Nyonya didepan ada seorang wanita yang datang sambil menangis dan memaksa ingin masuk. Sekarang ia su-” ucapan Emma terhenti saat seseorang yang dikatakannya tiba-tiba saja sudah masuk dan berjalan kearah Jayden.
PLAK!
Suara tamparan mendarat tepat di wajah tampan pria itu yang tampak kaget karena perbuatannya. Bukan Jayden saja yang kaget tapi hampir semua orang di sana.
“Let's start this game,” batin Zeline dengan seringai kecilnya.
“Hey apa-apaan kamu ini?! Siapa kamu? Kenapa menampar suamiku?!” ujar Zeline dengan sorot mata tajam seraya bangun dari tidurnya.
“Jadi kamu istrinya?! Dengar suamimu ini sudah menghamili ku, aku datang kesini ingin meminta pertanggung jawabannya!” ucap Abby gadis yang menampar Jayden tadi.
Jayden melebarkan matanya terkejut menatap gadis yang berdiri di sampingnya. Sebelum sedetik kemudian ia berdiri dari duduknya dan mencengkram rahang gadis itu dengan sorot mata tajam dan dinginnya. Membuat Abby yang melihatnya bergidik takut tapi ia mencoba menghilangkan rasa takutnya saat melihat keberadaan Zeline di sana.
“*****! Jaga ucapanmu kapan aku menidurimu sampai membuatmu hamil benihku!” bentak Jayden tepat di depan wajah Abby.
“Di pesta perayaan rekan kerjamu tiga bulan lalu! Jangan pura-pura lupa tuan, Aku bahkan memiliki buktinya!” ucap Abby menunjukkan foto mereka berdua diatas ranjang tanpa sehelai benang pun dan hanya tertutupi oleh selimut putih.
Jayden membulatkan matanya saat melihat foto itu, “Kapan wanita ini memfotonya?” Tanya Jayden dalam hati lalu menatap Zeline yang sudah menampilkan raut dinginnya seperti dulu bahkan lebih dingin.
“Oo jadi malam itu kamu menghilang tiba-tiba bahkan tak kembali karena sibuk dengan selingkuhan mu?” tanya Zeline terdengar dingin.
Jayden menggelengkan kepalanya sambil menghampiri Zeline, “Enggak, enggak gitu malam itu aku mabuk berat dan menarik dia karena aku pikir dia itu adalah kamu. Zeline aku mohon percaya sama aku,” Entah Jayden sadar atau tidak bahwa sekarang justru ia tengah memohon kepada Zeline yang tersenyum miring didalam hatinya melihat tingkah Jayden.
Tangan Zeline yang digenggam oleh Jayden dihempaskan, “Ceraikan aku dan tanggung jawabkan perbuatan mu pada gadis itu!” ucap Zeline dengan nada datar.
Jayden menggelengkan kepalanya tegas. “Tidak! Sampai kapanpun aku takkan pernah menceraikanmu, apalagi harus bertanggungjawab atas kejadian yang menimpa ****** itu!”
Plak!
Tamparan dilayangkan oleh Zeline pada pipi Jayden, “Wanita yang kamu sebut ****** itu tengah mengandung anakmu dan itu adalah hasil dari perbuatan bejat mu. Kamu harus tanggungjawab atas hal itu, Jayden!“ bentak Zeline membuat sorot mata Jayden berubah tajam.
“Kalau begitu aku akan bertanggungjawab asal kamu tetap menjadi istriku!” ucap Jayden membuat Zeline menatapnya tajam.
“Lo mau madu gue!”
“Ya! Kalau kamu masih tetap maksaku untuk tanggungjawab kepadanya!“ Jayden menunjuk Abby yang diam.
Tak lama setelah keputusan final itu, telpon dibalik saku jas Jayden berbunyi dan menampilkan panggilan dari direktur perusahaannya.
“Ada apa?“ tanya Jayden to the point.
“Bos gawat! Rahasia perusahaan bocor dan sekarang saham perusahaan tiba-tiba turun, bahkan beberapa investor tiba-tiba mencabut kontrak kerja sama dengan kita tanpa alasan.” jelas direktur disebrang sana dengan panik.
“Apa! Bagaimana bisa? Aku ke perusahaan sekarang, cari tahu siapa yang membocorkan rahasia perusahaan kita dan penyebab investor mencabut kontrak kerjasama dengan kita!” perintah Jayden berjalan tergesa-gesa menuju keluar mansionnya mengabaikan kejadian pertengkaran tadi.
Abby menatap Zeline kemudian membungkukkan badannya, “Aku sudah mengirim foto-foto tadi ke stasiun TV seperti perintah mu,Nona.”
“Bagus kalau begitu tinggal menunggu bagaimana kehancuran pria itu dalam menghadapi masalah yang datang bertubi-tubi ini. Dan lihat se frustasi apa dia saat mengetahui orang kepercayaannya lah yang menghianatinya.” ucap Zeline mendudukkan tubuhnya di kursi meja makannya.
“Duduklah, kita lanjutkan sarapannya.” ujar Zeline pada Abby yang menganggukkan kepalanya.
“Sebentar lagi, perusahaan itu akan menjadi milikmu.“ Zeline berucap ditengah sarapan paginya bersama Abby yang tersenyum miring mendengar ucapan Zeline.
.
.
.
Marvin menggoyangkan gelas wine nya dengan pelan sambil menatap sebuah tayangan berita di televisi dalam ruangannya. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai, “Benar-benar kejam, dia memberikan pukulan bertubi-tubi dalam sekali gerakan.” ucapnya tertuju pada dalang yang membuat Jayden jatuh seperti itu.
“Tapi aku menyukai gayanya, setelah ini Pria itu juga akan mendapat tuduhan plagiat dariku.” ucap Marvin tersenyum puas.
Beberapa hari kemudian masalah yang datang kepada Jayden makin bertambah, dan Jayden terlihat sangat frustasi dengan hal itu apalagi tak ada satu orang pun yang membantunya orang kepercayaannya bahkan mengkhianatinya.
Jayden mengacak rambutnya kasar, penampilannya yang berantakan selama beberapa hari ini membuat ia tak terlihat seperti seorang pemimpin perusahaan yang berwibawa.
“Kenapa masalah datang terus-terusan tanpa henti ke gue? Apa yang udah gue lakuin?” tanya Jayden pada angin sambil terduduk di karpet ruang kantornya dan menyandarkan punggungnya pada sofa.
Tak lama setelah itu suara ketukan pintu terdengar mengalihkan atensi Jayden yang tengah merenung. “Masuk,” ucapnya dan masuklah seorang pria berpakaian formal dengan tas kerja di tangannya.
Melihat pria itu Jayden mengernyitkan dahinya karena ia mengenali pria itu yang merupakan pengacara keluarganya. Membenahi sedikit penampilannya agar lebih terlihat rapi Jayden mempersilahkan Pria itu agar duduk di sofa.
“Tuan Edward ada apa anda kesini? Saya rasa, saya belum menghubungimu.”
“Anda memang belum menghubungi saya tapi istri anda nona Zeline dia yang menghubungi saya beberapa hari yang lalu untuk membantunya menyerahkan ini kepada anda.” ucap Tuan Edward menyerahkan map coklat dari dalam tasnya kepada Jayden.
Jayden menerimanya dan dahinya tambah mengkerut saat melihat tulisan surat perceraian dari kertas di dalam map itu.
“Apa-apaan dengan surat perceraian ini?! Zeline setuju untuk tak bercerai dengan ku saat itu!” murka Jayden meremas surat perceraian di tangannya marah.
“Tapi, Nona Zeline sudah menandatangani itu.. Lihat” Tuan Edward menunjuk salah satu sisi tempat tanda tangan yang sudah terisi.
“Ck! Aku tak akan menandatangani ini! Aku akan berbicara dengannya terlebih dahulu ini mungkin ada kesalahpahaman.” ujar Jayden memasukkan kembali surat itu kedalam map.
Tuan Edward menganggukkan kepalanya, “Baiklah jika seperti itu, dan ini tolong anda tangan di sini.” ucap Tuan Edward mengeluarkan beberapa lembar surat dari dalam tasnya keatas meja tamu.
Jayden membaca terlebih dahulu surat yang di tunjukkan kembali oleh sang pengacara. Matanya melotot, “Apa ini? Surat pengalihan seluruh aset perusahaan kepada Abby Margarete?”
Edward menganggukkan kepalanya, “Ya, Nona Zeline yang mengajukan hal ini kepada saya dia bilang karena anda tak ingin bertanggung jawab atas janin di dalam kandungan Nona Abby sebagai bentuk konsekuensinya anda akan mengalihkan seluruh aset anda kepadanya.”
Jayden membanting surat itu keatas meja, “Omong kosong! Aku bahkan menyetujui untuk bertanggung jawab bagaimana bisa Zeline mengatakan hal itu dan lagi sejak kapan kamu menjadi begitu menuruti segala perintah Zeline, kamu pengacara keluarga ku bukan pengacaranya!”
“Maaf tuan tapi, sejak setahun yang lalu saya berhenti menjadi pengacara keluarga anda dan beralih menjadi pengacara Nona Zeline... Bahkan Tuan Besar mengetahui keberhentian saya dan saat ini pengacara keluarga anda sudah bukanlah saya lagi.” jelas Tuan Edward.
“Jadi tuan saya mohon anda sebaiknya cepat menandatangani surat pengalihan aset ini. Jika tidak saya akan menggunakan cara kasar!” Dengan tegas Edward berkata raut wajahnya nampak ramah namun senyum di bibirnya sangat lah dingin.
“Tidak! Aku tak akan menandatangani surat ini!” tolak Jayden tak kalah tegas.
Tuan Edward tersenyum lalu melihat keluar jendela besar dalam ruangan Jayden dari tempat duduknya, membuat Jayden ikut melihat kearah pandang Tuan Edward. ”Di atas gedung sana ada penembak jitu, jika anda tak ingin menandatanganinya maka... Dor!”
“Kalian mengancam ku, sialan!” umpat Jayden menggerakkan giginya tak habis pikir juga emosi.
“Tanda tangani atau anda...” ucapan Tuan Edward berhenti saat melihat Jayden yang kini menandatangani surat pengalihan aset itu.
“Kalau begitu saya permisi terimakasih karena sudah bekerjasama.” pamit Tuan Edward membereskan surat-surat pengalihan aset tadi kedalam tasnya kemudian berlalu meninggalkan Jayden yang mengacak surainya kasar sambil mengumpat.
“Fuck! Zeline gue terlalu ngeremehin lo?! Gue pikir empat tahun ini lo udah jatuh di bawah gue tapi ternyata?!” Jayden membanting guci di samping sofa tak bisa berkata apa-apa lagi serayameraih kunci mobilnya untuk kembali ke mansionnya dengan membawa map coklat berisi surat perceraian tadi.
...Thank you for reading...
...Don't forget to vote, like ...
...and comment! ...
.......
.......
.......
.......
...To Be Continued...